Bukan Salahku Menjadi Madu

Bukan Salahku Menjadi Madu
rini pergi


__ADS_3

suasana mendadak hening dan serius. alih - alih serius belajar, mereka justru mati - matian menahan nafas. Kedatangan Evelyn yang bergabung ke lingkup belajar mereka rupanya berhasil membungkam mulut cerewet ke 4 bocah itu. sesekali mereka hanya saling lirik dan merbicara dengan bahasa tubuh.


" kebelet kentut, nyet " bisik haikal di telinga iqbal, ekor matanya melirik Evelyn yang juga melirik ke arahnya.


iqbal hanya mendengus. bocah itu kembali fokus ke buku.


haikal berdecak " serius nyettt " bisiknya lagi membuat iqbal memejamkan mata karena fokusnya terganggu.


" tinggal ke toilet apa susahnya sih !" sungutnya dengan berbisik.


haikal lantas melirik Evelyn yang melotot tajam ke arahnya. rupanya walaupun dia berbisik tetap saja bisa di dengar oleh yang lain.


" lo liat noh, dewi neraka melototin gue terus dari tadi " adunya melirik takut ke arah Evelyn


" ya lagian, elo berisik terus dari tadi.." omel iqbal sekuat tenaga meredam suara sepelan mungkin.


haikal menarik - narik lengan baju " temenin yokk "


Kesal, iqbal membanting bolpoint " mau ke toilet bentar " bocah itu bangkit berdiri dengan haikal mengekor di belakang.


bruuuuuutttttttt


haikal mengerang nikmat saat angin di perutnya berhasil keluar.


plak


iqbal menggeplak kepala haikal " baunya,,, amit - amit sumpah ! " kesalnya menutup hidung


haikal terkekeh " nggak boleh loh protesin kentut "


" huuuekkkkk,, huueeekkk " di belakang mereka berdua, tepatnya di dalam dapur terdengar Landung muntah - muntah.


haikal dan iqbal beradu pandang, mereka lantas keluar dari bilik toilet.


" kenapa mbak ? " tanya iqbal keheranan.


" siapa tadi yang kentut ? " Landung berkacak pinggang.


dua bocah itu saling tunjuk membuat Landung kian kesal saja..


" kalian ini jorok sekali.. kentut ndak permisi "


" yeee, mana ada kentut bisa ngomong.. sarap lu " gerutu haikal si pelaku kentut


" seenggaknya pintunya di tutup,, semprul " omelnya mengacungkan sepatula ke wajah haikal.


haikal nyengir kuda dengan mengacungkan dua jari. " maap mbak,, "


Landung menatap jengkel kedua remaja itu. ingin sekali rasanya, memuntahkan isi perutnya ke wajah mereka. gadis itu terus menggerutu dan kembali ke pekerjaannya walaupun perutnya masih saja mual.


" lohh, udah lama kal ? " sapa rini yang baru masuk ke dapur.


" sehabis pulang sekolah langsung ke sini mih " jelasnya meraih punggung tangan rini untuk di cium.


" belum makan siang dong ? " tanya rini dengan tangan sibuk menuang ayam ke mangkuk


haikal tersenyum masam, dan itu membuat rini terkekeh. " makan dulu gih, ajak yang lain juga "


" yahh jadi ngerepotin mih " haikal menggaruk tengjuknya yabg tidak gatal.


iqbal mencibir " heleh, sok sungkan.. Najis "


rini tertawa kecil, tangannya menabok lengan iqbal. rini mendorong punggung dua bocah itu untuk duduk di ruang makan.


" shak,,, ajak temenmu makan ! " rini berseru, melongokkan kepala di balik dinding.


" iya mih,, " sahut shakty, bergegas mengemasi buku.


kini mereka semua sudah duduk di ruang makan. Landung dan rini lantas menyiapkan beberapa hidangan di atas meja. haikal sampai meneteskan air liur kala mendapati hidangan lezat di depannya. maklum, dia ini bukan berasal dari keluarga berada yang bisa makan dengan berbagai macam lauk dan daging.


Keluarganya sederhana, ayahnya cuma petani biasa dan tukang ojek. Bisa sekolah di sekolah elit berkat beasiswa. karena bergabung dengan sirkel shakty yang notabene dari kalangan atas, dia jadi ketularan sultan. kadang kala enggak jajan. kadang kala juga nggak makan siang. jadi seringnya kalau jajan, shakty yang traktir. kadang juga makan siang di rumah shakty karna memang rumahnya dekat. yah, mereka sesolid itu.. nggak ada maksud ngerendahin atau bagaimana.. mereka memang saling berbagi satu sama lain.


" ve,, mamih masak ayam kecap banyak loh ! " curhatnya menuang dua paha ayam kecap ke piring Evelyn


Evelyn tak menyahut, gadis itu langsung melahap daging itu membuat wajahnya belepotan..


rini terkekeh , tangannya bergerak mengelap bibir Evelyn dengan tissue " pelan - pelan,, nggak ada yang minta kok "


" rakus dia mih " ledeknya dengan kekehan.


" awwwsss " pekik shakty mengusap tangan bekas gigitan Evelyn


ctakkk


shakty menyentil bibir Evelyn " drakula "

__ADS_1


Evelyn tak terima gadis itu menjambak rambut shakty dengan brutal mengundang gelak tawa seisi ruangan. rini geleng - geleng kepala, melihat sikap anarkis keduanya yang seperti tom and jerry.


" aku pulang ! "


semua yang berada di ruang makan menoleh ke arah dimana kavian yang berjalan beriringan dengan laura.


" kaki kamu kenapa ra ? " rini berjalan menghampiri pasangan itu


" tadi nggak sengaja keserempet mih " terang laura


" ya ampun,,, kamu nggak papa kan? " rini mengelus bahu laura, mengamati setiap inci bagian tubuh menantunya.


laura tersenyum " nggak papa kok mih, tadi udah ke dokter. cuma syok aja tadi sempet pingsan " jelasnya lagi.


rini bernafas lega " syukurlah, ya udah makan bareng dulu yuk ! "


laura mengangguk, wanita itu lantas mengekor rini di belakang.


" hati - hati hon, " kavian merengkuh pinggang laura menuntun istrinya duduk bergabung bersama 5 bocah SMA itu.


dengan sigap, kavi meraih piring di atas meja dan menyendokkan nasi dan beberapa lauk. dengan telaten, laki - laki itu menyuapi istrinya .


pemandangan romantis itu tak luput dari perhatian lima bocah itu . Evelyn mencoba bersikap cuek, walaupun dalam hati gadis itu merasa nggak nyaman dengan situasi ini. mengingat statusnya sebagai istri kedua jelas menjadi Boomerang di setiap ke adaan.


apalagi dia di kerumuni oleh teman - teman shakty, membuatnya kian merasa malu dan canggung.


Shakty sendiri yang sudah terbiasa dengan pemandangan itu terlihat cuek dan acuh. berbeda dengan ke tiga temannya yang saling beradu pandang, berghibah ria dengan wajah julid sejulidnya.


ifal melirik ke arah Evelyn yang memasang wajah datar dan dingin seolah gadis itu tak terganggu sedikitpun.


ifal menggeser tubuh sedikit meped ke arah gadis itu. " elo nggak cemburu liat suami elo bermesraan dengan wanita lain?" bisiknya tepat di telinga Evelyn.


" bukan urusan lo... diem ! " sahutnya dengan nada dingin


haikal dan iqbal menahan tawa, walaupun berbicara dengan berbisik nyatanya masih bisa di dengar oleh yang lain.


" awwwsss " pekik ifal merasakan perih pada pinggangnya yang dicubit oleh shakty.


ifal menatap jengkel ke arah shakty yang menatap penuh peringatan ke arahnya.


" aku udah kenyang sayang " laura mendorong sendok yang disodorkan oleh kavian. kavian tersenyum, menurut meletakkan piring ke atas meja yang masih tersisa sedikit makanan.


Evelyn meremas ujung kaosnya, merasakan gelenyar nyeri yang menjalar ke dadanya.


Evelyn menghela nafas, kepalanya menggeleng dengan senyum getir. apa yang ia harapkan ? dari awal dia sudah mengetahui bahwa pasangan itu teramat bucin dan harmonis. kedatangannya di rumah ini hanya dianggap seperti parasit oleh suaminya. dan lebih parahnya, ia di anggap sebagai batu penghalang berjayanya rumah tangga pasangan itu.


Evelyn menyuap makanan dengan teergesa - gesa. Ingin sekali menghabiskan makanannya karena sudah merasa tak nyaman dengan suasana ini.


setelah menghabiskan makanan, Evelyn menenggak habis air minumnya. Gadis itu menggeser kursi untuk bangkit berdiri dan meninggalkan ruang makan tanpa mengatakan sepatah katapun.


shakty menghela nafas, matanya mengikuti punggung Evelyn yang hilang di balik ruang kamar. bocah itu merasa kian iba dengan gadis itu. melihatnya bersedih, entah mengapa hatinya ikut mencelus.


÷÷÷


tok tok tok.


Landung membuka pintu kamar Evelyn saat suara ketukan menggema di ruang kamar tersebut.


rupanya, si art yang sekarang merangkap menjadi dayang pribadi Evelyn, setiap hari selalu singgah di kamar nona mudanya untuk melakukan aktivitas rutin sebelum tidur.


Mulai dari relaksasi pemijatan dan lulur tubuh, menata pakaian di lemari yang setiap harinya berantakan karena nona mudanya itu acapkali mengacak - acak isi lemari. mengoles cream ke wajah, bahkan memijat Evelyn sebelum tidur.


kecekatan dan ketelatenan Landung ternyata membuat perubahan banyak pada Evelyn. gadis itu terlihat lebih segar dan terawat. wajahnya kian glowing dan Mulus kuadrat malahan.


rini tersenyum kecil, melihat menantu mudanya itu sedang tengkurap diatas kasur.


" ve "


Evelyn hanya menoleh sekilas. lalu gadis itu kembali fokus ke layar ponselnya.


rini mendudukan pantatnya di ranjang kasur. melirik sebentar apa yang gadis itu lihat di ponsel. rini tersenyum madu saat menyadari gadis itu kini membaca artikel tentang dakwah islami, entah ajaran dari siapa sehingga bocah bengal itu berubah wujud menjadi gadis yang manis dan lebih banyak diam.


perlahan, tangan rink bergerak mengelus lembut rambut terawat Evelyn. " belum tidur sayang ? "


" belum ngantuk " jawab Evelyn masih tetap menatap ke layar ponsel.


" ada yang mau mamih omongin, boleh minta waktunya sebentar sayang ?"


" ckkk,, ngomong aja " decak Evelyn tanpa menoleh


rini tersenyum lalu menatap ke arah Landung yang juga menatap ke arahnya


" besok mamih mau nyusul papih ke london, ada masalah di perusahaan papih disana"


cepat Evelyn menoleh dengan kening mengerut " lama ? "

__ADS_1


" nggak tau sih, mungkin lama.. nunggu perusahaan di sana stabil dulu " jelasnya masih tetap mengelus rambut Evelyn.


Evelyn meletakkan ponsel, gadis itu beringsut duduk berhadapan dengan rini. evelyn menatap dalam manik mata mertuanya yang selalu menatap lembut ke arahnya. ada rasa nggak rela, dan juga ada rasa kehilangan.


selama tinggal di rumah ini, rini lah orang pertama yang menunjukkan kasih sayang kepadanya. walaupun dia nggak pernah welcome bahkan acapkali bersikap dingin, namun wanita baya itu tetap bersikap lembut dan peduli.


Evelyn memang masih kesal sekali perihal dirinya yang hanya di jadikan sarana penghasil anak, tetapi dia nggak menampik kasih sayang mertuanya begitu tulus dan alami.


Evelyn menggigit bibir menahan sesak yang teramat menyesakkan dada. gadis itu menunduk menyembunyikan matanya yang memanas " pergi aja ! " ucapnya datar


rini berkaca - kaca matanya. walaupun gadis itu terlihat tegar, namun wanita itu bisa melihat kerapuhan dan kesedihan gadis itu.


" maaf ya sayang, mamih,, mamih sebenarnya nggak tega ninggalin kamu.. tapi,, kasihan papih kalau harus tinggal sendirian di luar negeri "


Evelyn terkekeh gadis itu menyugar rambut ke belakang " gue bukan siapa - siapa,, repot bangat elah.. emang gue pikirin " sinisnya membuang muka nyaris sekali embun matanya jatuh.


rini menghela nafas nggak tersinggung sama sekali dengan sarkasan Evelyn " mamih nggak mau kamu kesepian, ve."


rini menepuk pundak Eve " jaga diri baik - baik ya. mamih cuma khawatir kamu ngerasa sendirian dan terlunta. mamih janji kalau disana urusannya sudah selesai, mamih bakal langsung pulang ke indo "


Evelyn mengangguk, " nggak papa kok, ada Landung,, ada juga yang lain. banyak temennya, aku nggak sendiri.. nggak usah lebay.. aku bukan bocah tk yang kudu di temenin "


rini terkekeh lalu mencubit gemas pipi Evelyn " ya udah tidur.. udah malem.. "


" berangkat jam berapa ? " tanya Evelyn menghentikan langkah rini


" mungkin ba'da subuh " ucapnya wanita itu lalu berbalik berjalan hendak menyambangi pintu.


" mih "


tubuh rini menegang mendengar Evelyn memanggilnya dengan embel - embel mamih. cepat rini menoleh dengan pipi yang sudah basah.


" boleh peluk ! " Evelyn mendekat menghampiri rini yang berdiri di ambang pintu.


tanpa berkata apapun, rini langsung merengkuh tubuh Evelyn. wanita itu mencium puncak Evelyn bertubi - tubi menumpahkan keharuan dengan senyum merekah.


keduanya tergugu dengan tubuh saling berpelukan, Landung sampai meneteskan air mata menyaksikan pemandangan langka di depannya karena memang sedari dulu Evelyn nggak pernah welcome dengan rini. bahkan gadis itu selalu bersikap dingin jika berdekatan dengan wanita itu.


÷÷÷


bibir shakty mengerucut melihat ibunya sibuk kesana kemari mengemasi barang dan meletakkannya ke mobil.


" kenapa sih, mamih harus ikut " protes shakty dengan mata yang sudah berkaca - kaca.


rini tertawa kecil melihat bayi besarnya merajuk, " kasihan papih sayang.. kamu jangan bandel .. jaga juga Evelyn !"


" dihhh,,, suaminya sono yang suruh jagain " shakty menatap jengkel ke arah kavian yang sedari tadi diam.


kavian memutar bola matanya jengah " dia sudah besar mih, bukan anak kecil yabg harus di emong."


rini menghentikan aktivitasnya " dia istrimu kav, jelas dia tanggung jawab kamu sepenuhnya "


kavian berdecak " nggak janji loh.. "


" kav " rini melotot tajam ke arah kavian.


" deal,, tapi beri aku saham 50 % "


shakty mencibir " dasar matre "


kavian meninju bahu shakty membuat bibir si bungsu mengerucut. bocah itu bahkan berhambur memeluk ibunya dengan rengekan manja.


laura terkekeh melihat keduanya yang jarang sekali akur, sedangkan rini hanya menggelengkan kepala sambil mengusap pipi shakty yang mengandar dibahu.


" Evelyn belum bangun ? " tanya rini celingukan ke dalam.


" belum mih, " jawab shakty. bocah itu masih memeluk rini dengan posesif enggan sekali melepas ibunya pergi.


rini menyimpulkan senyum, tangannya bergerak mengusap kepala bungsunya saat rerdengar bocah itu sesenggukan " mamih nggak lama kok.. nanti kalau disana urusannya udah selesai mamih pasti pulang "


" hati - hati ya mih " rini melerai pelukan berganti memeluk laura yang juga sudah berkaca - kaca.


kavian mencium kening rini begitu lama seakan dirinya juga enggan melepaskan kepergian rini.


rini mengusap pipi sulungnya, bibir nya tersenyum dengan lelehan air mata yang perlahan jatuh.


" mamih tau, ini berat kav. tapi,, mamih mohon jaga dia untuk mamih. dia sudah ku anggap seperti putriku sendiri "


kavian menghela nafas, kepalanya mengangguk pelan dengan seukir senyum tipis.


astrid memeluk besannya dengan erat, berusaha bersikap mellow walaupun dalam hatinya bersorak gembira. karena dengan begitu, dia akan leluasa mengatur rumah mewah ini.


setelahnya, bergantian tuti dan Landung serta bik siti yang mengantar kepergian majikannya dengan pelukan.


rini melambaikan tangannya di balik kaca mobil saat mobil yang jake bawa melesat dari area parkir. rini tak bisa menahan tangisnya kala harus berpisah dengan anak dan menantunya, walaupun hanya sementara tetap saja rasa tak rela tetap mendominasi.

__ADS_1


__ADS_2