Bukan Salahku Menjadi Madu

Bukan Salahku Menjadi Madu
Eps. 57


__ADS_3

" EVELYN ! GUE BERSUMPAH AKAN BALAS ELO SETELAH GUE KELUAR DARI SINI. JANGAN PIKIR ELO BISA HIDUP TENANG. ELO BAKAL NYESEL UDAH NGELAKUIN INI KE GUE ! "


Evelyn menoleh ke belakang, menatap datar ke arah cindy yang berteriak kesetanan di dalam jeruji besi di belakangnya. sedangkan lika hanya terduduk, menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong.


" Berisik ! " Arthur memukul jeruji besi dengan tongkatnya.


" cewek gila " celetuk iqbal


haikal terkekeh, melirik sebentar ke arah cindy yang masih meronta - ronta bahkan gadis itu berusaha menggapai aparat kepoilisisan, hendak mencakar.


" baru nyadar ? dari dulu kali " sahutnya.


ifal menggeleng dengan tawa kecil, cowok itu menuding Shakti yang bersedekap menatap dingin ke arah kakaknya yang menggandeng Evelyn keluar dari kantor,


" galau dia ! "


" resiko jadi orang ketiga " sahut iqbal


kening brandon mengerut " orang ketiga ? " tanyanya bingung.


" nggak usah diurusin ! " kilah haikal, merangkul pundak Brandon, menyeret cowok itu keluar dari kantor .


iqbal menepuk pundak Shakti " sabar bos ! kalau jodoh enggak akan kemana "


shakti tak menggubris, cowok itu menatap kesal ke arah Evelyn yang tak meliriknya sama sekali. kaya enggak memperdulikan wajah kusut shakti menyaksikan keromantisan kakaknya memperlakukan Evelyn dengan lembut.


shakti mendesah, berusaha melapangkan dada kala harus menerima fakta bahwa orang yang di cintainya adalah milik orang lain.


" elu mau nginep di sini nyet ? " tegur haikal karena shakti masih bergeming dengan wajah yang kelihatan enggak punya semangat hidup.


ifal terkekeh " bocil baru ngerasain jatuh cinta ya gitu, suka baper "


shakti melotot kan mata, dan di sambut gelak tawa oleh teman - temannya.


" seneng banget ya kalian ketawa di atas penderitaan orang " omel Shakti berkacak pinggang. cowok itu menatap jengkel ke arah temannya yang malah tambah kenceng ketawanya.


gimana enggak ketawa, liat shakti yang lagi mode mengamuk bukannya takut malah lucu. karena cowok itu paling nggak bisa marah apa lagi galak.


keempat motor remaja itu melesat dari parkiran, saat shakti telah mendarat di jok motornya. fitri sendiri masih di kantor polisi, gadis itu masih menunggu pihak wali yang akan menebusnya.


÷÷÷


tepat pukul sembilan malam, mobil mewah kavian sampai di halaman parkir. pria itu turun dari mobil setelah melepaskan sealtbelt yang Evelyn kenakan. Evelyn mengerutkan kening saat merasakan aura berbeda dari suaminya. seolah - olah pria itu sedang menunjukan kelembutan.


Evelyn turun dari kursi penumpang setelah Amrul membuka pintu mobilnya. pria baya itu melebarkan senyum, begitu juga dengan yang lainnya.


" hon, " laura menghampiri kavian dengan raut wajah khawatir. lalu melirik ke arah adik madunya yang masih di kepung oleh para art nya.


" kalian nggak papa ? " tanya laura


kavian mengangguk lesu, pria itu terlihat lelah dan kesal. bahkan kavian nyelonong masuk begitu saja tak memperdulikan laura yang masih ingin bertanya.


" ve, " laura mendekat, memberikan pelukan hangat untuk evelyn. semua orang menatap haru ke arah dua wanita berstatus selir dan permasuri itu. seolah - olah mereka dua perempuan yang dekat dan harmonis


" kamu nggak di penjara ? " tanya astrid mengerutkan alis.


Evelyn mencebik, tak meyahutnya lebih memilih pergi ke kamar.


" mamih apa - apaan sih ? kok nanya nya gitu ? " tegur laura.


astrid memutar bola matanya jengah, selalu saja putrinya itu membela madunya yang jelas - jelas telah merebut perhatian suaminya.


klekk


mata laura memicing saat mendapati suaminya turun dari tangga, pria itu berjalan ke arah kamar, dimana kamar tersebut adalah kamar yang di tempati oleh Evelyn.


" hon " panggil laura, wanita itu berlari kecil ke arah kavian yang hendak meraih handle pintu.


laura memindai tubuh suaminya yang sudah berganti pakaian menjadi pakaian santai dan di tangannya menenteng guling kesukaannya.


" ngapain kamu disini ? "


" aku mau tidur dengan istri mudaku " jawabnya acuh.


laura bersedekap " maksudnya apa? "


" kamu nggak dengar aku tadi ngomong apa ? " ketus kavian.


laura masih berusaha bersikap tenang, walaupun darahnya nyaris mendidih mendapati suaminya bertingkah demikian.


" aku dengar, tapi nggak biasanya kamu tidur dengan Evelyn, dan apa itu ? sikapmu ? kamu marah sama aku ? "


kavian mendengus, pria itu menatap penuh ke kesalan ke arah istrinya " pikir saja sendiri ! " sewotnya, tangannya bergerak cepat menyambar handle pintu.


brakk !


Evelyn terjengit kaget bahkan sisir yang dia pakai sampai terjatuh ke lantai.


" bisa nggak sih, nggak usah kenceng - kenceng nutupnya, entar kalau rusak gimana? " omel Evelyn, beranjak bangun dari meja rias.


" suka - suka aku lah, ini kan rumah ku " sahut kavian enteng.


Evelyn mencibir " iya, si paling bossy "


kavian melotot kan mata, pria itu tak menyahut, meloncat ke atas kasur bagaikan seekor kelinci.


Evelyn membelalak lebar, gadis itu menabok kaki kavian yang berada di atas kasur nya.


" ngapain lo disini ? keluar sana ! "


" jangan berisik, aku capek mau tidur " kavian menepis tangan Evelyn yang berada di kakinya.


" ish " Evelyn menghentakkan kakinya kesal. gadis itu mendudukkan bokongnya kasar ke atas sofa. tangannya menyilang dengan tatapan mata yang tajam.


" gue tidur dimana ? " sewot Evelyn.


" disini " kavian menepuk - nepuk kasur di sebelahnya dengan posisi tengkurap.


" dihhh, ogah ! " ketus evelyn


" hanya malam ini saja " nego kavian, menatap Evelyn dengan tatapan sendu.

__ADS_1


" enggak, entar elo pegang - pegang gue lagi " tolak Evelyn.


kavian terkekeh " nggak sudi "


bugh


dengan hati yang dongkol, Evelyn melempar bantal sofa dan tepat mengenai kepala suaminya yang kurang sekilo itu.


kavian beranjak bangun, menatap istri mudanya dengan mencibir " katanya nggak mau di pegang - pegang giliran aku nolak malah kesal "


" dih, siapa yang kesel " sewot Evelyn


" ayok, tidur disini ! " kavian kembali menepuk - nepuk kasur.


Evelyn nggak langsung menyetujui, gadis itu seolah sedang menimang dan mempertimbangkannya terlebih dahulu.


" ayolah ! aku nggak akan macam - macam ! " kavian mengacungkan jari kelingkingnya.


Evelyn beranjak bangun melangkah ragu ke arah ranjang. gadis itu meraih kelingking kavian dengan kelingkingnya.


" janji ? " tanyanya memastikan


kavian mengangguk dengan senyum meyakinkan.


akhirnya, dengan penuh keraguan evelyn merebahkan tubuhnya ke atas kasur. tepatnya memunggungi kavian yang masih duduk.


kavian menarik selimut ke atas, lalu ikut merebahkan tubuhnya di samping Evelyn. tangan kavian terulur, merengkuh pinggang ramping istri mudanya dengan posesif.


nggak ada debaran jantung di dada Evelyn, nggak kaya' perasaan berdebar saat berdekatan dengan Shakti karena memang Evelyn nggak mempunyai rasa secuil pun dengan suaminya, hanya ada rasa kekaguman dan ke seganan.


Evelyn justru merasa risih, dan nggak nyaman berada sedekat dan seintim ini dengan suaminya.


" maaf " gumam kavian, menghirup dalam - dalam ceruk leher Evelyn.


cuma mengatakan sepatah kata itu doang, kavian udah terlelap tidur. yang terdengar di telinga Evelyn setelahnya adalah dengkuran halus yang di keluarkan dari bibir suaminya yang sedikit terbuka.


Evelyn menyentuh tangan kavian, menyingkirkan tangan itu pelan - pelan dari pinggangnya. Evelyn melirik sebentar memastikan bahwa suaminya sudah tertidur lelap.


Evelyn beranjak bangun, merebahkan tubuhnya ke atas sofa. jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam, tapi matanya belum juga mau memejam. Evelyn menarik diri dan melangkah sepelan mungkin menuju meja rias untuk menyambar ponselnya yang tergeletak.


Evelyn memukul sisi kepala, karena sudah melupakan kekasihnya yang entah sudah pulang atau belum.


Dimana ?


klunting


di basecamp - Shakti


mengetik...


belum tidur ? - Shakti


belum, nungguin kamu pulang - Evelyn


oh - shakti


kening Evelyn mengkerut, saat mendapati balasan singkat dari shakti.


" kenapa sih dia ? " gumamnya


" hm " sahut shakti di seberang sana.


" kenapa belum pulang ? " tanya Evelyn dengan berbisik, sesekali melirik suaminya yang masih terlelap.


" udah malem soalnya, paling besok subuh pulangnya " sahut Shakti.


bahu Evelyn melemah dengan bibir yang di manyunkan " sekarang aja lah " negonya.


di seberang telepon, shakti mengulum bibir. hatinya bersorak gembira saat ternyata Evelyn menginginkan kehadirannya.


" enggak janji, "


bibir Evelyn mencebik " pulang, honey ! " rengeknya, persis kaya' seorang istri yang di tinggal pergi oleh suaminya.


" mau di kasih apa kalau pulang ? " tanya Shakti.


" aku bakal kasih apapun yang kamu mau, " sahut Evelyn.


shakti terkekeh " tunggu lima menit "


tutt !


Evelyn menjauhkan ponsel dari telinganya saat suara nada panggilan ditutup berbunyi keras.


" ckkk "


sesuai janjinya shakti, cowok itu sampai di kediamannya dalam lima menit perjalanan. kalau bawa motornya lajunya sedang, perjalanan yang di tempuh sampai lima belas menit. tapi dia bawanya ugal - ugalan bahkan hampir nyeremped kendaraan yang lain, abisnya udah nggak sabar pengin ketemu ayang yang lagi mode manja kepadanya.


seperti seorang remaja yang lagi kasmaran pada umumnya, shakti bersiul riang, memasuki kediamannya sembari bersenandung. shakti berlari kecil saat pintu kamar evelyn telah tertangkap oleh manik mata coklatnya.


klekk


mulut yang hendak bersuara jadi melongo doang, saat matanya menangkap sosok lelaki dewasa terbaring di ranjang kekasihnya.


cowok itu mengatupkan bibir, melirik tajam ke arah Evelyn yang cengar - cengir tanpa aib


Shakti menuding kavian " ngapain dia disini ? " tanyanya dengan sangat lirih nyaris tak terdengar.


Evelyn melangkah santai, melirik sebentar ke arah kavian yang masih terpejam. Evelyn menyeret Shakti untuk mengekornya menaiki tangga. Evelyn berbelok ke kiri dengan tangan yang masih menuntun tangan Shakti. sedangkan shakti masih terdiam mengawasi pergerakan kekasihnya yang ternyata menuju ke kamarnya.


Evelyn mendudukkan pantat ke atas ranjang yang di lapisi sprei warna biru langit dan di susul oleh shakti yang duduk di sampingnya.


" kok kesini ? " tanya shakti heran.


" ya masak kita ngobrol di kamarku, sedangkan di situ ada suamiku " sahut Evelyn dengan tawa kecil.


bibir Shakti mencebik, wajahnya kentara sekali kalau nggak suka denger Evelyn menyebut kakaknya dengan sebutan suami. memang terdengar nggak tau diri, tapi memang kenyataannya dia meradang kalau harus mengingat fakta yang dia pacari itu bersuamikan kakaknya.


" kenapa sih, kok kesel gitu ? " tanya Evelyn mencubit gemas pipi Shakti


" aku nggak suka ya kalau mas ku ada di kamar kamu ! " omelnya dengan wajah jengkel.

__ADS_1


Evelyn mengecup bibir yang mengomel itu " dia kok yang maksa tidur di kamarku "


" iya tetep aja aku nggak suka sayang ! " omel nya lagi.


Evelyn mengulas senyum mengecup kembali bibir Shakti dengan sedikit sesapan.


" jan ngambek, aku sama dia nggak ngapa - ngapain kok " bujuk Evelyn memeluk shakti dan menyandarkan kepalanya di dada cowok itu.


" jangan di ulangi ! pokoknya aku nggak suka, titik nggak pake koma. " sahut Shakti.


Evelyn menganggukkan kepala, mencium leher shakti beraroma maskulin yang memabukkan. Evelyn menghirup dalam - dalam leher atletis cowok itu sesekali menggigitinya kecil.


" jan gigit - gigit elah " protesnya mendorong kepala Evelyn


Evelyn nyengir kuda " gumush tau shak "


" entar kalau merah - merah, mbak laura curiga loh " sahutnya dengan tangan mengusap leher bekas gigitan Evelyn


" ya biarain ! " sahut Evelyn enteng. gadis itu merebahkan tubuhnya ke atas kasur.


shakti menabok kaki Evelyn " kalau mbak laura ngadu ke mas kavi, bisa - bisa aku di tendang ke pesantren "


Evelyn menaikkan satu alis " kok bisa gitu ? "


" biar aku insyaf ! " ketusnya melenggang pergi memasuki kamar mandi.


" ckkk, masa' harus umpet - umpetan terus " gerutu Evelyn.


sekitar lima belas menit, shakti keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang melilit area bawahnya.


" merem ! " titahnya galak.


Evelyn malah melebarkan mata, seolah - olah menantang cowok yang hendak memakai baju itu.


" sini gue pakein bajunya " tawar Evelyn dan di hadiahi pelototan tajam oleh shakti.


Evelyn terkekeh, beranjak bangun dan menghampiri kekasihnya yang lagi sibuk milih baju di lemari.


tangan Evelyn terulur merengkuh pinggang telanjang shakti yang masih sedikit basah.


" jangan kaya' gini ! " shakti melepaskan tangan Evelyn.


dengan asal, cowok itu menyambar kaos dan celana boxer. Evelyn tertawa kecil saat shakti berlari, berusaha menghindar dari rengkuhan tangan Evelyn.


Evelyn berbalik badan, mendudukkan pantat ke ranjang, menunggu kekasihnya yang lagi ganti baju. tak berselang lama, shakti keluar dengan mengenakan kaos polos hitam dan celana kolor berwarna hitam sangat manly dan ya, sangat tampan. apalagi kulit putihnya jadi terpancar jelas sangat cocok sekali dengan warna hitam.


shakti menghampiri ranjang, duduk tepat di sebelah Evelyn " nggak ngantuk ? " tanya nya lembut.


Evelyn menggeleng, masih menatap intens makhluk rupawan di depannya. seakan dia nggak bakal bosan lihat wajah tampan kekasihnya yang semakin hari semakin membuat jantungnya ngereog brutal.


" ayok tidur ! " ajak shakti, cowok itu merebahkan tubuhnya ke atas kasur.


evelyn menurut, ikut membaringkan tubuh di sebelah shakti. keduanya saling menoleh, saling menatap dengan tatapan dalam berdurasi cukup lama.


" kamu nemuin cindy dimana? " tanya Evelyn menyentak keheningan .


" di jalan x deket gedung tua " sahut shakti belum mengalihkan tatapan.


Evelyn manggut - manggut. kening Evelyn mengerut saat melihat pipi shakti terdapat beberapa goresan. seperti cakaran kuku.


tangan Evelyn terulur, menyentuh goresan yang tepat berada di bawah mata shakti.


" ini kenapa ? "


Shakti mengarahkan tangan ke pipi yang di sentuh Evelyn " oh, ini di cakar cindy "


Evelyn mendengus. nggak heran sih karena cindy jago main cakar - cakaran.


" sakit ya ? " tanya Evelyn, meringis.


" dikit " sahut shakti.


Evelyn memajukan wajah, mengecup cukup lama bekas cakaran itu. tangannya bergerak, mengusap - usap pipi shakti dengan lembut.


shakti memejamkan mata, perasaannya menghangat mendapatkan perlakuan selembut itu. " makasih " ucapnya setelah Evelyn menjauhkan kepala.


Evelyn mengangguk " aku yang makasih ke kamu, karena kamu udah bantuin aku. mungkin kalau kamu nggak datang tepat waktu dan nggak dapat bukti itu, aku udah pasti di penjara "


Shakti menyimpulkan senyum " aku kan udah pernah bilang, kalau aku adalah orang pertama yang bakal jadi pelindung kamu "


" makasih " ucap Evelyn sekali lagi.


" enggak gratis tapi " sahut shakti


" dih, pamrih " cibir Evelyn.


shakti terkekeh " aku adu gelud dulu loh baru bisa dapetin video itu "


Evelyn tergelak " gelud ? "


shakti mengangguk cepat, " iya, sekarang mana hadiahnya ? "


" mau hadiah apa ? " tanya Evelyn.


" apa aja ! " sahut shakti.


" ya udah, gue kelonin sampe pagi " sahut Evelyn Menaik turunkan alis.


bibi shakti mencebik " emang aku cowok mesum apa ? "


Evelyn berdecak " terus minta apa dong ? "


" aku cuma minta satu " ucap shakti dengan senyum tulus.


Evelyn menaikkan satu alis, menunggu ucapan shakti yang terjeda.


" aku cuma minta kamu janji nggak akan pernah ninggalin aku, dan aku cuma minta kamu setia menunggu sampai aku bisa mewujudkan mimpi kita untuk menyatu dan hidup bahagia bersama " terang Shakti.


Evelyn terkekeh " katanya cuma minta satu, lah itu minta banyak " protesnya.


shakti nyengir kuda " nggak berat ini, permintaanku "

__ADS_1


Evelyn merapatkan tubuh, kepalanya bergerak maju untuk menyambar bibir shakti. detik berikutnya, bibir keduanya menempel sempurna. bibir Evelyn bergerak, menyesap bibir atas dan bawah shakti. lidahnya menerobos masuk saat shakti memberikan akses, membuka mulutnya. ciuman keduanya berlangsung lama dan mereka berhenti setelah kehilangan oksigen.


" makasih " ucap Evelyn setelah sepersekian menit ter'engah.


__ADS_2