Bukan Salahku Menjadi Madu

Bukan Salahku Menjadi Madu
eps. 54


__ADS_3

astrid menajamkan telinga. kepalanya bergerak miring Memastikan bahwa pendengarannya nggak salah.


astrid melangkahkan kaki, menuju ke titik sumber suara decapan dan lenguhan itu berasal. langkah kakinya berhenti di samping gazebo yang terletak di taman belakang. kedua mata astrid sontak melotot lebar saat menangkap dua sosok remaja yang sedang berciuman panas di gazebo.


" sedang apa kalian ? " teriak astrid melengking di udara.


spontan, shakti menarik kepala nya dan mengusap sisa saliva yang menempel di bibir. shakti menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu


" ckkk " decak Evelyn, mengecup bibir Shakti sebelum beranjak bangun.


astrid memegangi dadanya yang teramat sesak, merasa syok dengan tingkah berani dari madu putrinya itu.


santai, Evelyn berjalan mendekat menatap tajam ke arah astrid yang masih memasang wajah terkejut.


" ada apa ? " tanya nya seolah - olah nggak terjadi apa - apa.


" kamu,,, kamu,, " tuding astrid tak melanjutkan kata - katanya karena masih syok dengan kejadian yang barusan dia lihat.


Evelyn membuang muka, melirik Shakti gang terlihat gelisah dan meraub wajah dengan kedua tangan.


" aku aduin sama mantuku, biar kamu di pecat jadi istri " berang astrid


Evelyn terkekeh " aduin aja sana ! gue juga bisa aduin ke suami gue, kalau elo sering ngeluyur tengah malem, nyelonong keluar lewat pintu belakang "


wajah astrid pias seketika, wanita itu menatap bergantian dua remaja di depannya. melenggang pergi dengan tangan yang menuding galak.


Evelyn menyeringai sinis, menjulurkan lidah saat astrid menoleh kesal ke arahnya.


" bara ! "


Evelyn berbalik badan, wajahvyang tadinya jutek di buat se imut mungkin saat menghampiri kekasihnya yang masih duduk di gazebo.


" mau lagi " Evelyn mengedipkan mata lucu.


shakti terkekeh, menyentil kening Evelyn " bobok sana ! "


Evelyn mengerut sebal, " kan belum puas "


Shakti menggeleng " nanti ketahuan mas kavi "


mau tak mai Evelyn bangkit berdiri, menyambut uluran tangan shakti. mereka berdua berjalan masuk ke rumah dengan tangan saling bertautan. mereka tertawa kecil dengan perasaan yang penuh suka cita. nggak memperdulikan badai apa pun yang hendak menerjangnya.


÷÷÷


pak Amrul berlari tergopoh - gopoh nyelonong masuk ke dalam rumah.


bukkk


" aduh,, " erang tuti memegangi pinggangnya yang menyium lantai akibat terkena tabrakan super dari Amrul..


Amrul tak menggubris, pria itu masuk ke ruang makan dimana para majikannya sedang menyantap sarapan


" ada wartawan mas ! " adu Amrul dengan masih ngos - ngosan.


kavian mengerutkan kening " wartawan ? "


Amrul mengangguk " iya mereka menerjang masuk pagar, bahkan ada yang memanjat gerbang. katanya mau ketemu pak kavian "


drrt drrtt


kavian merogoh ponsel di saku celana meletakan ponsel ke telinga setelah menekan tombol hijau " halo "


" pak, banyak wartawan yang berada di luar kantor, bahkan beberapa dari mereka ada yang melakukan demo " sahut maya di seberang telfon


" apa ? " pekik kavian bangkot berdiri.


" saya berangkat sekarang ! " putus kavian mematikan sambungan telepon.


laura dan astrid beradu pandang


" kok ada wartawan sih pak Amrul ? " tanya laura.


" saya juga nggak tau non, " sahut pak Amrul, mengekor kavian setelah pria itu turun dari tangga.


" jangan ada yang keluar rumah hari ini ! " titah kavian di ambang pintu.


mereka semua serempak menganggukkan kepala.


karena penasaran, laura mengambil ponselnya yang berada di tas. menscrol sosial media dan mencari trending topik saat ini.


mata laura membelalak lebar, saat membaca artikel yang menampilkan gambar suaminya bertuliskan SEORANG PENGUSAHA MUDA SUKSES, DIREKTUR DARI PERUSAHAAN TERNAMA ALBIZER GRUP MENIKAHI GADIS DI BAWAH UMUR.


dan di bawahnya juga tertera gambar Evelyn yang masih mengenakan gaun pesta, entah siapa yang sudah diam - diam memotret.


SEORANG PELAJAR DARI SEKOLAH ELIT YANG SEKARANG MENYANDANG SETATUS ISTRI KEDUA DARI PENGUSAHA TERNAMA TERJERAT KASUS PEMBUNUHAN.


laura menscrol ke bagian bawah, tepatnya di kolom ulasan. banyak dari para deterjen yang berkomentar pedas. bahkan banyak dari mereka yang bersumpah serapah.


kalau udah sukses kadang lupa daratan, anak sekolah aja di embat.


Horang kaya, sesuka duit mereka, berbuat semena - mena menyalahi adab peraturan. heran juga kenapa sekolah ngijinin anak didik nya menikah di usia dini.


sungguh miris negaraku ini, akhlak penerus bangsa nggak bermoral


masih sekolah udah jadi pesikopet.


cantik sih, sayang nggak ada akhlak


mati aja sana ! mencoreng nama baik sekolah. di keluarin aja nggak sih ?


dan masih banyak lagi komentar yang lain. tangan laura mengepal. merasa kesal kenapa mereka sesuka hati berbicara tanpa di saring.


" ada apa laura ? " tanya astrid saat melihat putrinya terlihat kesal.


" coba kalian lihat ini " laura meletakkan ponselnya di atas meja. Shakti, Evelyn, dan laura merapatkan tubuh. membaca artikel itu dengan seksama.


astrid mendengus , menghempaskan tubuhnya dengan kasar ke sandaran kursi.


" ini semua gara - gara pelakor itu " astrid menuding ke arah Evelyn.


" kalau gadis sial itu nggak masuk ke keluarga ini, nggak mungkin ini akn terjadi " dumelnya menatap penuh kekesalan ke arah Evelyn.

__ADS_1


Evelyn menunduk, nggak tersinggung sih sama ucapan astrid. dia lebih merasa bersalah karena telah hadir dan membuat Boomerang di keluarga suaminya.


Shakti menggenggam tangan Evelyn, meletakkan tangan gadisnya ke pahanya.


" aku selalu ada untuk kamu. jangan dengarkan apa yang mereka ucapkan. aku lebih tau lebih baik tentang kamu dari pada mereka. Bahkan jikalau seluruh isi bumi menghujat kamu, aku adalah orang pertama yang akan menjadi payung untuk melindungi kamu " bisik shakti.


" mih ini bukan kesalahan Evelyn, " sergah laura.


" kamu nggak usah belain dia terus. jelas - jelas dia itu duri dalam daging. kamu lihat sendiri kan. gara - gara ulahnya, kita semua kena imbas. belum selesai masalah kecelakaan malam itu, sekarang malah tambah masalah baru " dumelnya beranjak bangun, melenggang pergi dari ruang makan dengan tatapan nyalang ke arah Evelyn.


" nggak usah di dengerin ucapan mamih " laura mengelus bahu Evelyn dengan lembut


" kita cari solusinya sama - sama " imbuhnya.


Evelyn hanya tersenyum tipis, menarik nafas dalam - dalam untuk menghalau dadanya yang teramat sesak.


÷÷÷


" pak kavian , apa benar anda menikahi gadis di bawah umur "


" pak kavian, apa benar istri kedua anda pelaku tersangka pembunuhan ariel "


begitulah kira - kira rentetan pertanyaan yang dilontarkan beberapa wartawan yang menerobos masuk ke dalam gedung perusahaan. kavian tak menggubris, pria itu melangkah lebar dengan wajah datar dan dingin. kavian nyelonong masuk ke dalam lift di bantu beberapa bodygoard yang mengawal.


" buat jadwal konveresi pers dua hari lagi " titah dingin kavian ke arah maya yang sudah berdiri di ambang pintu ruangannya.


maya mengangguk, membungkuk saat kavian melewatinya.


tak berselang lama, angel berlari kecil, nyelonong masuk ke kamar kavian. maya mendengus, menatap sebal ke arah angel yang sudah ngibrit ke dalam. tangan maya bergerak mengusap bahu, yang terkena benturan sisi pintu karena angel tanpa sengaja menabraknya.


" kav "


kavian menoleh, nggak menyahuti panggilan angel, pria itu memilih duduk di kursi kebesarannya.


" ada apa angel? " tanya kavian lirih. wajahnya terlihat lesu dan lelah.


" kenapa bisa seperti ini? " angel menggeser kursi dan meletakannya ke samping kavian.


nggak langsung ngejawab, kavian melirik kursi sebentar " sepertinya ada yang sengaja menyebarkan rumor itu " tebaknya.


" apa rencanamu sekarang ? " tanya angel


" aku akan menyelidiki " jawab kavian tanpa menoleh. membuka laptopnya dengan tergesa - gesa.


÷÷÷


haikal memarkirkan motornya di halaman rumah mewah dua lantai bergaya eropa kediaman albuzer.


" motor butut siapa ini ? "


haikal menoleh, menyunggingkan senyum saat matanya menangkap astrid menatap julid ke arah motornya.


nggak menggubris, cowok itu masuk ke dalam, langsung saja menaiki tangga untuk menuju ke kamar shakti.


klekk


pandangan pertama yang haikal lihat adalah Evelyn yang duduk di meja belajar, ada Shanti juga yang duduk di kursi belajar. lebih tepat nya mereka berdua berhadapan.


kening shakti mengerut mendengar pertanyaan sinis dari temannya. haikal berjalan santai, merebahkan tubuhnya ke kasur empuk Shakti. kembali terkekeh saat shakti masih menatapnya dengan wajah yang kalau di gambar ada tanda tanya gede di wajahnya.


shakti melempar bolpoint dan itu meleset karena dengan cepat haikal menghindar.


" ngomong yang jelas ! " omel shakti


" ngapain ke sini? " tanya Evelyn sewot.


" metik mangga yuk " bukannya menjawab, cowok itu malah mengalihkan pembicaraan.


" kita di kurung mas kavian, nggak boleh keluar rumah " jelas shakti, memasang wajah lesu.


" karna berita di sosmed itu ? " tanya haikal


shakti mengangguk " dan masalahnya sekarang, Evelyn cuma di kasih tiga hari buat ngumpulin bukti. sekarang kita nggak boleh keluar. gimana coba ? "


" kenapa nggak boleh keluar ? mereka kan nggak kenal elo " tanya haikal bingung


" ada wartawan di luar " sahut shakti


" udah pergi " jawab haikal


" entar malem kita samperin cindy, gimana ? " usul haikal


" kata iqbal, tuh uler nggak tau ngumpet dimana " jelas shakti, cowok itu berjalan keluar ke kamar.


Evelyn menggigit bibir. otaknya berpikir keras mencari jalan keluar yang teramat sulit ini. tanpa di sadari oleh evelyn, haikal memandangi Evelyn dengan tatapan sendu, seolah - olah dia ikut merasakan apa yang di rasakan oleh Evelyn.


" lo tenang aja, kita semua bakal bantu. " ucap haikal.


Evelyn tersenyum lembut, senyum yang baru ia tampakkan untuk orang selain shakti " makasih "


haikal tertegun, matanya tak berkedip saat melihat wajah yang memang udah cantik jadi bertambah cantik kala tersenyum itu. cowok itu menggeleng mengutuk dirinya yang sembrono karena terhasut oleh godaan syeton, mengagumi istri orang jelas itu dosa besar. dan dia nggak mau ketularan dosa kaya' Shakti.


di sela lamunannya, shakti datang dengan nampan berisi tiga cangkir minuman hangat


" elo udah makan kal? " tanya shakti, meletakkan minuman di meja.


Evelyn beranjak turun dari meja. Gadis itu berjalan santai ke arah ranjang dan merebahkan tubuhnya ke kasur. kakinya bergerak menendang kencang pantat haikal untuk turun..


" ckkk " decak haikal menatap jengkel ke arah Evelyn yang seenak jidat menarik selimut.


shakti terkekeh, melirik sebentar ke arah Evelyn yang udah tiduran tengkurap.


" dia suka tidur di kamar lo ? " tanya haikal meniup kopinya sebelum menyeruputnya.


shakti menggeleng " enggak lah, dia ke sini kalau mas kavian kerja "


" gue semalem liat cindy bareng joe, anak buana " adu haikal.


shakti mengangguk, udah denger semalem pas haikal menelfonnya. " dia backingannya Deon, gue harus bener - bener atur strategi buat eksekusi dia "


" lo segan sama Deon ? dia nggak beda jauh sama ifal, titisan buaya rawa " protes haikal.

__ADS_1


shakti tertawa kecil " beda, dia cuma main sama anya. kalau ifal udah berkelana jauh dari lubang semut sampai ke lubang marmut "


jawaban yang di sambut gelak tawa oleh haikal


" anya bukannya pernah main sama ifal ? " tanya haikal.


shakti mengedikkan bahu " gue nggak tau. ngapain ngurusin orang. lagipula itu masalah pribadi. menurut gue si nggak mungkin karena anya bucin abis sama Deon "


haikal terkekeh, " itu alasan ifal suka meradang kalau liat muka Deon "


shakti ikut terkekeh saat mengingat betapa kesalnya ifal kalau bertemu dengan Deon, bahkan dirinya ikut imbas karena telah mempercayai adu dombanya ifal.


" jadi gimana ? " tanya haikal setelah sepersekian menit mereka terdiam dengan pikiran masing - masing.


" nanti malem kita kepung cindy sama joe, ? " imbuh haikal.


" itu bukan cara gue buat ngadepin lawan kal, terlalu pengecut kalau main keroyokan " kilah shakti tak setuju.


" kita bukan mau gelud shak, kita itu mau nangkep ular yang sukanya mangsa domba " protes haikal dengan nada kesal,


shakti terdiam, belum mengiyakan. karena yang dia yakin, joe pasti akan mengadu ke Deon. jadi shakti nggak mau kalau nantinya akan menjadi kibaran peperangan antar gengnya dengan geng sebelah.


" nanti gue pikirin lagi " putus shakti.


haikal mendengus " serah lu deh "


astrid menghampiri laura yang saat ini sedang duduk di ruang keluarga " ada tamu ? "


laura menggeleng " nggak kaya' nya "


" di depan motor siapa ? " tanya astrid


kening laura mengkerut dengan gelengan samar.


" motor jelek, butut, warna hitam " jelas astrid menyomot pisang goreng di atas meja.


" oh, motor haikal " jawab laura


astrid celingukan mencari keberadaan haikal " kok nggak ada ? "


" di kamar shakti paling " tebak laura.


astrid manggut - manggut " pisang goreng nya masih "


" masih, tanya aja sama bik siti. kalau mau makan ini juga masih banyak " ujar laura.


astrid tak menggubris, wanita itu melangkahkan kaki ke dapur. wanita itu membuka lemari, mencari keberadaan pisang goreng itu.


" mana sih " gumamnya.


" nyari apa nyonya ? " tanya bik siti


" pisang goreng " jawabnya tanpa menoleh.


bik siti berjalan ke arah kulkas, membuka tutup saji kecil dan mengambil sepiring pisang goreng


" ini, nyah " bik siti menyodorkan pisang goreng itu.


astrid berbalik badan, mengambil piring itu dan membawanya pergi tanpa embel - embel ucapan terima kasih.


klekk


kedua cowok itu menoleh ke arah pintu dengan kening mengkerut, menatap bingung kepada astrid yang tersenyum dengan tangan memegang piring.


" tadi bik siti habis goreng pisang, sayang nggak habis " terang astrid. wanita itu meletakkan piring ke atas karpet dimana dua cowok itu duduk berdampingan dengan kedua kaki menyilang.


haikal membuang pandangan saat matanya bertubrukan dengan mata astrid.


" makasih mih " ucap shakti dan di balas anggukan oleh astrid.


" mamih turun dulu ya, " pamitnya dan diangguki oleh shakti.


haikal menaikan satu alis, saat melihat kelembutan yang wanita itu persembahkan. " kumat kali ya " gumamnya lirih nyaris tak terdengar.


" dimakan kal " ucap shakti.


÷÷÷


kavian menatap awas ke arah beberapa kode yang ditampilkan di layar laptop. jemarinya lincah mengetik beberapa tulisan yang tak bisa di pahami oleh orang awam, termasuk juga angel.


angel menatap serius deretan kode itu seakan ikut mencerna maksud dari tulisan yang ia baca.


kavian mendengus saat beberapa kali kodenya gagal, untuk melacak siapa pemilik akun tak dikenal yang menyebarkan berita sampah mengenai keluarganya.


" apa kamu punya kenalan IT ? " tanya kavian tanpa menoleh


" enggak sih, tapi adikku paham. soalnya dia ada les khusus tentang IT " jelas angel.


" darrel ? " tanya kavian memastikan


angel mengangguk " iya, mau aku panggilkan ? "


" boleh " sahut kavian.


angel menarik diri, mengambil layar ponsel yang terletak di meja kerjanya.


" halo " sapa darrel di seberang sana.


" bisa ke kantor mbak sebentar ? " tanya angel


" oke " jawaban singkat darrel, dan itu membuat angel mengembangkan senyumnya.


mungkin sekitar lima belas menit, darrel memasuki ruangan kavi dengan di antar oleh maya.


" silahkan duduk ! " kavian menunjuk sofa


darrel mendudukkan pantat yang berada di seberang kavian. darrel melirik ke arah kakaknya yang duduk meped ke samping suami mantan kekasihnya, Evelyn.


" ada apa ya mas ? "


kavian menyerahkan laptopnya, pria itu juga menarik diri, mensejajarkan tubuhnya agak meped dengan darrel. kavian menjelaskan pokok permasalahannya dan di angguki oleh darrel. bocah itu lantas menggerakkan tangannya dengan lincah mengetik beberapa kode yang dia pahami.

__ADS_1


__ADS_2