
Masih dengan posisi awal, berpelukan dengan keadaan sama - sama toples. Evelyn mendorong dada shakti, wajahnya kemudian melengos menghindari tatapan suaminya.
" Kenapa ? " Tanya shakti dengan suara bergetar.
" Kamu jahat " Sahut Evelyn sewot
Shakti menunduk, dan seketika itu air matanya tumpah. tapi dia udah siap kalau bakal di semprot sama mulut pedas istrinya.
" Iya, aku jahat. Kamu boleh hukum aku "
" Kenapa kamu ngilang gitu aja ? " Ketus Evelyn dengan wajah yang sama, basah dengan air mata.
" Ceritanya panjang sayang. nanti aku jelasin. " Sahut Shakti kembali menarik pinggang Evelyn dan memeluknya erat
" Kamu kek jelangkung tau nggak " marahnya Evelyn menggigit pundak shakti
" Aws " Ringis shakti, tangannya bergerak mencubit pantat gembul Evelyn
" Ihhh nakal " Evelyn memukul punggung shakti
Tangis Shakti berubah menjadi tawa, makin ngusel ke leher Evelyn untuk melepas rindu. mencium aroma istrinya dalam - dalam untuk menebus lara.
Masih dengan bibir manyun, Evelyn mendorong dada shakti. lanjut menyalakan kran untuk mengisi bathub
" Nggak usah sentuh - sentuh " Ketus Evelyn menepis tangan nakal suaminya yang dengan jail mencoel sebelah dada
Shakti terkikik, menggesek area depan tepat ke belahan pantat istrinya.
" Ishh " Kesal Evelyn, berbalik mendorong perut rata shakti
" Ud... mmhhh " nggak jadi mengomel karena shakti udah membungkam bibirnya dengan ciuman.
Evelyn terdorong ke belakang hingga terjungkal dan ambruk ke dalam bathub
byurrrr
" Hahahah " tawa kedua nya saat Evelyn menarik shakti dan malah ambruk ke atas tubuh Evelyn.
Udah nggak tahan banget karena 3 tahun lamanya tongkat shakti enggak di manjakan. jadilah si tongkat dengan beraninya menerobos ke goa segitiga Evelyn tanpa permisi
" Engg " Lenguhan yang terdengar sangat merdu di telinga shakti dan itu mampu membangkitkan sesuatu di dalam diri semakin bergejolak. shakti mempercepat tempo gerakan hingga bunyi kecipuk terdengar sangat nyaring.
Evelyn pasrah saja. toh, dia juga menikmatinya kan?. pokoknya Evelyn udah pikun sama rasa sakit karena di tinggal tanpa kabar oleh suaminya selama tiga tahun lamanya.
÷÷÷
" Mario, tolong jelaskan ! " Laura membanting kertas putih berisi data kecurangan si asisten bencong itu ke atas meja kera.
Mario melirik sebentar, dan itu adalah lirikan menyebalkan bagi laura.
" Kayaknya kamu bisa baca deh, jadi enggak perlu aku jelasin " sahut mario enteng. tanpa ngerasa dosa sama sekali.??
Laura mendelik kesal, menarik kerah kemeja yang mario kenakan.
" Sialan ! Apa yang kamu lakukan mario? Apa kau berkhianat ? " Berang laura.
Mario menepis kasar tangan laura " Aku tidak tahu. wanita sok suci sepertimu tak ada gunanya bagiku "
" Bicara yang jelas brengsek " Sungut laura
Mario memutar bola mata jengah " Gara - gara kau menolak undangan mr. johan, uang yang harusnya menjadi miliku musnah " Ketus nya
" Kau paling tahu mr. johan mario, dia pria hidung belang, bagaimana bisa aku mau bekerja sama dengan pria laknat itu " Protes laura
Mario mengibaskan tangan " Aku bekerja denganmu sudah lebih dari tiga tahun dan aku tetap saja kere "
Laura mengepalkan tangan " Dasar serakah "
Mario mengibaskan tangan seakan tak peduli dengan cecaran laura.
" Anggap saja uang yang ku ambil adalah bonus kinerja ku "
" Kembalikan uang ku, mario " Ucap laura dingin
" Hanya uang senilai 10 miliyar nggak ada apa - apanya di banding kekayaan suami mu yang tak habis tujuh turunan. jangan terlalu pelit laura, nanti kuburanmu sempit "
" Kau tak mau mengembalikan uangku ? " Tanya laura memastikan
" Tidak akan, itu tidak bisa menutup kerugian ku atas perbuatan mr. johan " ketus mario
" Itu bukan urusanku. Dan dengar yah ! aku akan membuatmu menyesal "
Laura menabrak bahu mario sehingga pria gemulai itu terjelengkang.
" huh, sombong sekali " Dumel mario menatap kesal punggung laura.
" Aarrghhhh "
Pyarrr !
Laura melempar botol skincare yang beratnya berkisar satu kilogram. Wajah wanita itu merah padam sekaligus kusut. rambutnya sudah acak - acakan apalagi dia menjambaknya berkali - kali dan itu terlihat seperti rambut singa.
__ADS_1
" Dasar Banci sialan ! beraninya mengkhianati ku " Geramnya
Brukk
Tubuh Laura ambruk ke lantai. wanita itu tergugu dengan suara tangis begitu keras.
Kay yang sedang tertidur lelap jadi terbangun. Balita itu seperti biasanya hanya berkedip lalu menengok ke samping untuk mencari Evelyn. Kay menoleh ke samping di mana ada el yang tertidur pulas tak terganggu sedikitpun dengan tangis pecah kamar sebelah.
Tangan mungil kay terulur, menepuk - nepuk punggung el yang terbalut kaos merah muda. El hanya menggeliat, berganti posisi menjadi tidur miring. Karena bosan hanya berdiam di kamar, kay memutuskan untuk turun dari ranjang, berjalan pelan keluar dari kamarnya. langkah kay menuju ke kamar sebelah, tepatnya kamar daddy dan momynya. kay hanya berdiri di ambang pintu, memandang dengan tatapan polos ke arah laura yang menutup wajah dengan kedua telapak tangan.
Kay tak berani menegur atau memanggil laura karena pada dasarnya, laura teramat cuek dengannya. Kay masih memandang lurus ke depan. sebenarnya sih bingung atau tepatnya dia jadi takut mendengar suara tangis pilu laura.
Merasa ada yang mengamati, laura mendongak mata basahnya sedikit mendelik terkejut melihat balita lucu yang berdiri memperhatikannya. ditatapnya lamat - lamat bocah itu, wajah polos, mata polos begitu meneduhkan hati. laura bangkit berdiri dan spontan, kay mundur.
Bukkk
Tubuh kay menabrak tubuh Kavian yang berada di belakangnya.
" Kay " Kavian berjongkok, menggendong tubuh gendut kay.
" Kau memerlukan sesuatu ? " Tanya kavian sembari mencium gemas pipi gembul kay.
Kay hanya menggeleng, lalu meletakkan kepala ke dada kavian. tatapan kay kembali terarah ke laura yang berjalan mendekat ke arahnya.
" Ada apa ? " Tanya kavian datar
" Hon "
Laura beringsut memeluk tubuh kavian, namun pria itu mendorong pelan dada laura.
" Kalau ada perlu nanti dulu, aku ingin bermain dengan kay " Berbicara sambil berlalu.
Laura menatap nanar punggung kavian, punggung yang selalu menjadi tempat ternyamannya untuk berkeluh kesah. Namun sayangnya, punggung itu seolah tak bisa lagi menjadi sandaran untuknya. semenjak dua tahun lebih, kavian seakan bersikap dingin dengannya. lebih tepatnya kekecewaan kavian yang segunung itu mampu menutupi gelora cinta kepada istrinya, bisa di bilang udah pudar. Ini menyangkut kay. Di karenakan sikap laura yang acuh dan cuek terhadap kay, tak mau mengurus ataupun hanya bermain sebentar. Laura lebih memilih karier dan kesibukannya sendiri.
Laura Menghampiri kavian yang saat ini berada di teras balkon.
" Kau menyukai nya sayang? " Tanya kavian, mengelus puncak kay saat kay bermain mobil remote yang baru saja di beli sehabis dari bandara menjemput shakti.
Kay mengangguk. Jarinya kembali sibuk memencet tombol remote. bibir mungil nya melebarkan tawa saat mobil - mobilan berwarna hitam itu berjalan seiring tekanan tombol yang ia pencet.
Laura mengulas senyum tipis. Kebahagiaan mulai menyusup ke dada saat melihat putranya tumbuh sehat dan aktif.
" Kay " Seru Laura di ambang pintu balkon.
Kay menoleh sekilas, lalu kembali asyik bermain dengan permainan barunya. bisa di bilang kay ini duplikat kavian. irit bicara dan cenderung dingin.
Laura duduk di samping kay, melirik ke arah suaminya yang sekarang sibuk bermain ponsel.
" Hon "
" apa? " Sahutnya datar
Laura menunduk, memainkan jari jarinya
" Ak..aku "
" Daddy.. mam "
Ucapan laura terjeda saat mendengar suara lucu putranya
" Kay mau makan apa ? " Tanya kavian meletakkan ponsel ke saku
" Udan goyen " Sahut kay tanpa menoleh.
Kavian dan laura beranpandangan. sangat kentara sekali raut bingung tercetak di wajah mereka.
" Apa kay ? " tanya laura lembut. dan itu untuk pertama kalinya laura bertanya demikian
" Udan goyen " Sahut kay dengan suara lucu
" Mommy ke dapur sebentar ya "
Laura memutuskan untuk ke dapur tepatnya sih dia mau bertanya ke pengasuh kay. entah makanan Macam apa yang di inginkan putra sulungnya itu.
Shakti membuka mata. melirik sebentar ke arah jam persegi di dinding. Masih pukul tiga sore, di dalam otak mesumnya terfikirkan untuk mengulang pelepasan rindu yang belum kelar.
Shakti mengangkat tubuh, naik ke atas tubuh istrinya yang masih dalam keadaan toples. Dia ngusel ke belahan dada, menggesek wajah ke bulatan kenyal yang ukurannya jadi tambah besar. Shakti gemas, bibirnya terbuka untuk menyambut benda mungil yang mengacung. shakti melahapnya gemas sampai tak sadar ada seseorang yang mengawasi aktivitasnya.
Di samping Evelyn tepatnya di bawah ranjang, El mendongak, kepalanya mundur untuk memastikan siapa yang ada di atas tubuh momminya.
" Mommy " Seru el.
Shakti menarik kepala, menoleh ke sumber suara. dan seketika itu, matanya melotot. reflex dia meloncat turun sampai di terjelengkang ke bawah ranjang. shakti menarik setengah selimut dan menutupi area terlarangnya dari jangkauan mata manusia mungil dan suci.
" Mommy " El mengguncang tubuh Evelyn.
Evelyn membuka mata, tersenyum hangat saat wajah chuby putrinya berada di depan mata.
" Udah bangun sayang " Evelyn menarik tubuh el, membawanya ke dalam pelukan
" Sayang "Shakti menatap bingung bergantian kedua wanita cantik beda usia itu. seakan dia bertanya - tanya siapa gerangan sosok bayi dua tahun itu.
__ADS_1
Evelyn mengerucutkan bibir, melempar bantal ke wajah bego suaminya.
" Makanya jangan ngilang, nggak tau kan kalau kecebong nya udah segede ini " Kesal Evelyn, menatap sengit wajah bego shakti.
Shakti jadi menggaruk tengkuk, dia lupa perihal kecebong yang dulu sering dia katakan.
" Maksudnya ? "
" Ishhh " Evelyn memukul kasur, menarik selimut dan meletakan el di ranjang.
Dengan langkah kesal, Evelyn memasuki kamar mandi, menutup pintu rapat - rapat.
Shakti menunduk, memandang tubuhnya yang jadi toples, dan sialnya dia menyambar rok pendek milik Evelyn yang tergeletak di lantai. entahlah dia nggak peduli, yang penting area pentingnya segera tertutup.
" Om patai lok mommy " Protes el dengan suara cadel.
" Kamu siapa ? kenapa memanggil istriku mommy ? " Tanya shakti penuh selidik.
" Mommy istlinya daddy kapi " protes el berkacak pinggang
Shakti melotot " Lu anaknya mas kavi? "
El mengangguk saja, karena dia memanggil kavi dengan sebutan daddy. dan seorang daddy itu adalah kata lain dari ayah.
" Ayok sini, peluk om " Shakti merentangkan tangan.
El menggeleng " No. Om jeyek "
Shakti mendelik " Mana ada jelek. ganteng gini " Protes shakti
" No.. om jeyek pate aju mommy "
Shakti mencebik, dia naik ke ranjang dan secepat petir menyambar tubuh mungil el. membawa bocah itu ke pelukan
" Hahahah " Tawa lucu menggema di ruangan saat shakti menggelitik perut el yang sedikit membuncit.
Klekkk
Pemandangan pertama yang Evelyn lihat adalah dua sosok bapak dan anak yang sedang berguling di ranjang. enggak terharu, justru Evelyn mendelik horor. gimana enggak terkejot kalau lihat suaminya memakai rok hitam miliknya.
" Honey " Pekik Evelyn.
Kedua manusia beda usia namun berparas sama itu menoleh serentak.
" Mommy, om nacal " Adu el.
Kening eve mengkerut mendengar sebutan om yang di layangkan el untuk sang daddy.
" Om " Tanya eve memastikan.
Jari gendut nan kecil el bergerak, menunjuk tepat ke pipi shakti.
" Om kitik kitik el " Adunya lagi dengan tatapan sengit.
Melihat wajah menyebalkan dan cepu el membuat shakti menjadi ragu. apakah bayi julid itu benar - benar putri dari seorang kavian elvano yang irit bicara dan laura bastian yang lemah lembut. paras nya memang agak mirip dengan kavian namun cara bicaranya lebih mirip dengan Evelyn.
Jahlun sekali bapak satu ini. Jelas - jelas El memanggil Evelyn dengan sebutan mommy dan eve juga sudah memberi kisi - kisi kalau sang kecebong yang shakti semburkan di rahim sudah membengkak menjadi sebesar bayi gendut el. ingin sekali Evelyn menggetok kepala pikun suaminya yang sudah berkarat itu.
" Kamu ngaku ke el kalau kamu om nya? " Sungut Evelyn berkacak pinggang.
Shakti mengangguk polos
Bugh
Satu bantal melayang tepat ke kepala shakti
" Kenapa sih, kok kamu marah ? " Heran shakti
Evelyn berdecak, menyambar botol toner di meja rias dan mengangkat tinggi - tinggi.
" Masih kekeuh nggak mau ngaku dia anakmu ? " Kesalnya
Shakti melongo. jujur aja nih dia kan baru pulang dari negara asing dan selama disana dia benar - benar lost kontak dengan keluarga jadi jangan salahkan kebegoannya ya. hihihi
" Sejak kapan aku... " Ucapan shakti terhenti lalu dia berpikir keras. dia inget nya tu ijab. lalu tanam benih dua hari berturut - turut tanpa jeda. lalu dia pergi ke inggris.
Shakti meneguk ludah yang tercekat, ditatapnya lamat bayi dua tahun lebih itu dari atas ke bawah. matanya sama persis dengannya, hidung dan bibir milik istrinya. wajahnya sangat mirip dengan kavian. ohh lord. bukan mirip kavian tapi sangat mirip dengannya. jangan salahkan dia menebak wajah bayi itu mirip kavian karena memang shakti dan kavian adalah duplikat yang membedakan hanyalah umur dan bibir.
" Apa ? " Sewot Evelyn saat shakti menatapnya. tatapan haru tatapan sendu. ah entahlah tatapan yang sulit di jelaskan.
" Jadi ini kecebongku ? " Tanya shakti memastikan.
" Kamu pikir itu kecebong siapa ? " Sewot Evelyn
Shakti tersenyum sumringah. di peluknya erat bayi gembul di hadapannya.
" Maafin daddy ya sayang. daddy nggak tahu kalau kamu anak daddy " ucap shakti seraya tergugu.
" Mommy " Seru el dengan bibir bergetar. lebih tepatnya dia jadi kepengin nangis kalau liat orang nangis di depannya. apalagi orang dewasa yang nangis.
Evelyn malah ikut berpelukan layaknya Teletubbies dan itu membuat tangis el pecah
__ADS_1
" Huaaaa "
Bukannya panik, Evelyn dan shakti malah tertawa melihat anak mereka menangis.