Bukan Salahku Menjadi Madu

Bukan Salahku Menjadi Madu
eps.41


__ADS_3

dokter muda yang berkisar dua puluh lima tahunan membenarkan kaca matanya. menatap satu persatu manusia yang ada di sebuah ruangan kamar luas bertemakan abu - abu. dokter yang kesohor di panggil dokter fatah itu menghela nafas dalam. berpikir sejenak untuk merangkai kata yang pas. agar kata - katanya enak di dengar.


" maafkan saya bu sari, saya tidak bisa berbuat banyak untuk menolong calon cucu anda. benturan keras terhadap perutnya menyebabkan pendarahan yang cukup hebat, apalagi usia kandungannya masih sangat muda, jadi sangat rentan sekali keguguran. " jelas dokter fatah.


kening sari mengkerut, matanya melirik ke arah cindy yang masih terbaring lemah dengan mata terpejam. tatapannya terfokus ke arah perut yang memang rata di usia yang dia ketahui sudah menginjak ke angka 4" maaf ya dok, apa usia 4 bulan tergolong rentan? "


kini giliran dokter fatah yang mengerutkan kening, bahkan kepalanya sampai mundur saking bingungnya. " empat bulan ? enggh, bukan, usia kandungannya baru empat minggu "


darrel dan ibunya saling beradu pandang dengan wajah terkejut. kelihatan syok dan juga bingung.


haikal terkekeh. tangannya bergerak menepuk punggung darrel. " akhirnya elo selamat ! "


darrel mengepalkan tangan, menatap penuh amarah ke arah ranjang, dimana cindy masih terbaring lemah dengan memejamkan mata.


" rel, apa maksudnya ini? " tanya sari.


darrel membuang nafas kasar menatap sendu ke arah ibunya yang menatapnya penuh pertanyaan " ma, batalkan saja pernikahannya ! "


kening sari tambah mengkerut " kenapa di batalkan ? "


darrel menghela nafas berat " cindy berbohong, dia tidak mengandung anakku ma, karena kejadian malam itu lebih dari Empat minggu. dan setelah kejadian malam itu. tak sekalipun aku menyentuh cindy. "


darrel menjeda membuang muka dengan sentaan nafas kasar " sebenarnya aky sudah tau sejak lama kalau cindy ternyata tidak mengandung anakku. awalnya, aku tak me permasalahkannya. tapi semakin hari perasaanku ke cindy mulai goyah apalagi cindy tak mengatakan yang sebenarnya. " imbuhnya.


darrel menunduk dengan kedua tangan mengepal " puncaknya hari ini.. aku tak pernah menyentuhnya tapi hari ini terkuak fakta gadis itu keguguran. jadi bisa di simpulkan kalau, bayi itu bukan milikku "


sari menggigit bibir, matanya mulai memanas mengetahui fakta bahwa keluarganya di tipu habis - habisan. setelah kejadian malam itu, yang katanya putranya telah menodai gadis, darrel berubah jadi pendiam, pulang sekolah tepat waktu bahkan tak pernah sekalipun ngeluyur malam. jadi, kemungkinannya sangat kecil kalau putranya mengulangi kesalahan yang sama seperti malam itu.


sari mengukir senyum, mengelus punggung putranya dengan lembut. dia tahu putranya lebih terluka daripada dirinya. karena harus menanggung apa yang bukan menjadi kesalahannya. namun, sari merasa lega karena kebenaran telah terungkap.


" tapi beneran kan kamu nggak pernah main lagi dengan cindy ? " tanya sari dengan tatapan penuh selidik.


bibir darrel mengerucut, menatap jengkel ke arah ibunya yang masih meragukannya.


" enggak lah ma, kan mama liat sendiri kalau aku nggak pernah jalan sama cindy. kami cuma bertemu di sekolah, itupun jarang karena kelas kami berbeda"


sari bernafas lega, wanita itu memeluk putranya dengan erat " maafkan mamah ya sayang, mamah sempat nggak percaya sama kamu "


darrel memejamkan mata mencium rambut ibunya cukup lama. hari ini adalah hari terbaik nya. karena hubungannya dengan ibunya kembali hangat. " aku nggak marah kok sama mamah "


sari melerai pelukan, mengecup kening putranya cukup dalam " oke, kita batalkan pernikahan ini "


darrel melebarkan senyum, bocah itu meloncat memeluk haikal


" apaan dah, lepasin deh .. jijik gue. " haikal berusaha mendorong tubuh darrel, tapi cowok itu malah mempererat pelukannya.


sari terbahak melihat keduanya jadi kejar - kejaran.


" engghh "


pandangan sari beralih ke arah ranjang, dimana cindy telah membuka matanya. wajah yang awalnya berseri, berubah menjadi dingin.


" sudah bangun? " tanya sari dengan wajah datar.


cindy celingukan menatap sekeliling ruangan yang tampak tak asing. " ma " cindy beranjak bangun dengan sedikit kesusahan. namun rupanya, sari tak berniat sedikitpun untuk membantu. wanita itu masih menatap dingin ke arah cindy.


" rel,, ba.. bayi ku, apa baik - baik saja ? "


darrel tak langsung menoleh. cowok itu menunduk dan berjalan santai ke arah ranjang.


" bayinya mati " sahut darel datar.


haikal menggulung bibir, saat mendengar sahutan darrel yang nyelekit banget itu. berusaha sekuat tenaga agar tak menyemburkan tawa


mata cindy melotot sempurna " mak,, maksudnya.. aku keguguran ? "


darrel menyilang tangan, menatap sinis ke arah cindy yang terlihat menyedihkan. namun dimata darrel itu adalah suatu kesenangan. karena seratus persen darrel yakin, kesedihan cindy bukan lantaran kehilangan jabang bayi, melainkan karena rencana busuk nya yang menjadi gagal total.


darrel mengangguk " aku rasa sudah nggak ada alasan lagi supaya gue nikahin elo. dan hal bagusnya, elo bisa melanjutkan sekolah sampai lulus dan nggak perlu khawatir akan menanggung malu akibat kehamilan lo itu. Gue bakal rahasiakan ini semua. jadi tenang saja. "

__ADS_1


cindy mengepalkan tangan matanya memanas " enak banget elo ngomong kayak gitu, setelah apa yang elo lakuin ke gue. ambil keperawanan gue dan elo juga yang udah bunuh anak gue. seenak jidat elo bilang mau batalin pernikahan. elo waras nggak sih ? " omel cindy menggebu - gebu.


darrel terbahak, bahkan suara tawanya terdengar nyaring dan menggema di ruangan kamarnya. darrel menghentikan tawa, wajahnya berubah menjadi dingin dan datar.


" elo pikir gue sebodoh itu? jangan bersikap seolah - olah elo itu korban. gue udah tau semuanya rencana busuk elo. elo ngejebak gue, berniat masuk ke keluarga gue. jangan mimpi !.. gue masih punya belas kasih, nggak ngelaporin elo ke polisi itu suatu keberuntungan. mengingat gue emang salah, salah karena udah dorong elo dan buat bayi elo keguguran "


" tapi gue makasih sama cowok yang udah hamilin elo. berkat dia, gue jadi tau, manusia busuk macam apa yang sudah gue pacarin " imbuhnya lagi.


" dan mulai detik ini, gue perjelas. hubungan kita cukup sampai disini. "


jantung cindy berdegup kencang, rasa nyeri mendengar kalimat yang begitu mengoyak harga dirinya. cindy menggeleng keras, tak menerima keputusan darrel.


" rel, please ! dengerin gue dulu " rengek cindy ,


darrel menggeleng " enggak cin, keputusan gue udah bulat. "


setelah mengatakan itu, darrel melenggang pergi dari kamarnya. tak ingin lagi mendengar pembelaan cindy yang membuatnya muak. entah setan apa yang merasuki dirinya sampai - sampai ketipu sama mulut berbisa cewek super menyebalkan itu.


tatapan cindy beralih ke mama sari yang masih terdiam dengan wajah yang masih sama. datar dan dingin.


" ma, mama percayakan sama aku ? " tanya cindy penuh harap.


sari mendesah, menatap tajam ke arah cindy yang menatapnya sendu.


" aku lebih percaya dengan putraku "


÷÷÷


Evelyn menghirup dalam - dalam aroma parfum maskulin yang menguar dari tengkuk shakti. seperti kebanyakan pasangan remaja yang di mabuk asmara, mereka menghabiskan waktu mereka dengan melakukan hal - hal kecil dengan penuh suka cita.


seperti sekarang yang di lakukan oleh pasangan baru itu. menikmati waktu kencan sekadar berboncengan menikmati udara semilir jalanan padat ibukota. udah sering sih, boncengan kayak gini. sebelum jadian, hampir tiap hari malah. tapi yang sekarang ini terasa berbeda, karena mereka menikmati moment itu dengan hati yang berbunga.


shakti bergidig geli saat hembusan nafas Evelyn menyapu lehernya. Evelyn menempelkan dagu ke leher shakti serta tangan yang memeluk posesif perut cowok itu.


kepala Evelyn menoleh sampai hidung mancung nya menyentuh kulit leher kekasihnya. gadis itu tertawa kecil saat melihat kuping dan pipi cowok itu merah. bahkan Evelyn sampai mendengar detak jantung shakti yang seperti genderang gendang perang. ckk siapa yang nggak dag dig dug ser berada seintim ini.


Evelyn malah tambah mempererat pelukan, kepalanya tambah ngusel ke punggung shakti.


shakti berdecak, fokusnya berkendara jadi terganggu. namun apalah daya, kalau gadisnya sedang mode kumat, ya begini,, susah menghindarinya.


shakti memarkirkan motor di sebuah kediaman minimalis satu lantai yang di sulap menjadi tempat tongkrongan.


" mampir sini bentar ! " ucap shakti dengan kepala menoleh ke belakang.


evelyn mengekor shakti, mengamati bangunan itu secara rinci. ada taman di depan halaman dan juga ada sebuah ruangan berisikan beberapa komputer lengkap dengan penjaganya yang terletak di samping rumah itu. kalau biasanya di sebut Warnet.


" ini rumah siapa? " tanya Evelyn dengan mata yang masih awas mengamati.


" rumah iqbal " sahut shakti sambil berjalan.


" kok sepi, orang tua iqbal mana? "


" ini kado, dari orang tuanya iqbal. pas ulang tahunnya, katanya si kado sweet seventeen gitu. " terang shakti.


Evelyn manggut - manggut dengan bibir membulat.


shakti mendorong pelan bahu Evelyn agar duduk di sofa single yang terletak di ruang tamu. tepat di depan sofa itu ada televisi berukuran besar yang terpajang di atas meja.


setelahnya, bocah itu nyelonong masuk kedalam.


Evelyn lantas membuka tas, mengambil kotak bekal yang di siapkan bik siti dan meletakkannya di atas meja.


selang beberapa menit, shakti keluar dengan penampilan yang sedikit awutan, berbeda sekali dengan penampilannya saat di sekolah. tangannya menenteng dua botol air mineral dingin.


Kancing kemeja seragam cowok itu sudah terlepas semua menampilkan kaos berwarna hitam dibalik kemeja putihnya. rambutnya acak - acakan, eumh terkesan badboy.


Evelyn menatap tak berkedip ke arah shakti dengan mulut sedikit terbuka, terpana, jelas. Lebih parahnya seperti terhipnotis. Cepat, evelyn beralih pandang menyembunyikan pipinya memanas. tangannya terulur, membuka kotak makan yang berisi nasi dan ayam kecap kesukaannya.


" kamu udah makan? " tanya eve melirik ke arah shakti yang duduk di sampingnya

__ADS_1


" belum, nggak sempet ke kantin soalnya " jawab shakti mengamati gerak - gerik Evelyn.


" makan dulu yah, aku suapin. mau ? " tawar Evelyn menyendok nasi dan menyodorkan ke mulut bocah imut di depannya.


shakti tersipu. pelan, mulutnya Mulai terbuka menyambut sesendok nasi yang berada di depan mulutnya.


Evelyn tertawa kecil melihat shakti yang wajahnya kelihatan merah, salting bahkan sekedar mengunyah saja kelihatan susah dan sangat pelan. sangat berbanding terbalik dengan penampilannya yang urakan itu.


" giliran kamu dong yang makan, masak aku terus " protes shakti di sela mengunyah.


" liatin kamu makan aja udah bikin aku kenyang kok, habisin ya ! aku udah makan di kantin tadi, bareng temen " sahut Evelyn dengan tangan yang kembali sibuk menyuapkan nasi ke mulut shakti.


Iqbal, ifal dan haikal yang mengintip di balik tembok tertawa geli. mereka serempak membekap mulut. takut - takut kalau nanti tawanya bisa meledak. yang mana tayangan live romantis itu akan jadi terjeda.


hening nggak ada obrolan dari pasangan itu. Evelyn fokus menyuap makanan ke mulut shakti hingga tandas tak bersisa. setelahnya gadis itu menyodorkan botol air mineral.


" berasa kita numpang hidup di negeri orang kayaknya " celetuk iqbal membuat shakti menoleh ke arah ketiga temannya sang berdiri dengan tangan menyilang.


shakti memutar bola mata jengah, bocah itu melempar tutup botol air mineral ke arah tiga temannya, namun dengan gesit mereka menghindari.


haikal berdecak " jan pamer - pamer mulu napa shak, jiwa jomblo gue meng iri tau "


shakti terkekeh " makanya cari pacar sana ! "


bibir haikal mencebik, menatap jengkel ke arah shakti " mau di kasih makan apa pacar gue ? "


" kasih batu, " sahut ifal


" kasih remahan pohon singkong kal, kebon elu kan banyak tuh pohon singkong " timpal iqbal.


Evelyn memutar bola mata jengah melihat kegaduhan tiga bocah somplak itu. Evelyn melirik kesal ke arah shakti yang sekarang ini malah lagi ngerokok.


" jan ngerokok, entar bibir elo item " protes Evelyn.


ketiga bocah itu spontan terbatuk, tersedak air liurnya sendiri.


wajah shakti memerah, spontan membuang pubtubg rokok yang masih panjang. ya sih, ngomongnya biasa aja. tapi bagi kaum cowok yang mendengar itu seperti sebuah kisi - kisi.


iqbal mendekat, mendudukkan pantat ke samping shakti " elu betah pacaran ama shakti? "


Evelyn menaikkan satu alis.


iqbal menggeleng samar dengan wajah lesu " kalau gue si enggak. soalnya nih bocah pacarannya kagak asyik "


shakti menoyor kening iqbal " sok tempe lu. gue pacaran aja baru pertama kali "


" beda lagi kalau pacarannya sama gue " sahut Evelyn,


gadis itu menatap shakti yang tersipu malu, mengerti maksud dari gadisnya yang seneng banget main nyosor.


" ekhem " iqbal berdekhem melirik pasangan itu yang saling melempar senyum.


" katanya mau dating ? " rengek Evelyn.


shakti menepuk kening melirik ke arah teman - temannya yang menatapnya terkejut.


gimana nggak terkejut ya, ini pertama kali mereka mendengar kalau Shakti mau ngajakin dating cewek. secara di sekolah, di kelasnya, bocah itu nggak pernah yang namanya mau deket - deket dengan anak gadis. bukan nggak normal ya, eumh, kalau kata Shakti si bukan muhrim.


ketiga temannya saling beradu pandang bertanya lewat bahasa telepati mereka. cukup lama karena mereka saling mengedipkan bahu. nggak sadar, kalau pasangan itu udah ngacir lari dari ruang tamu. yang jelas, Evelyn dan shakti nggak mau ngeladeni mereka yang lagi pada mode kepo itu.


shakti dengan tergesa - gesa memutar kunci, menarik gas dan melesat dari rumah minimalis itu.


÷÷÷


astrid berjalan mengendap - endap, lewat pintu belakang yang pasti aman dan nggak bakal ketahuan anak perempuannya. wanita itu celingukan menatap sekeliling kebon yang memang tampak sepi dan jarang di lewati penghuni rumah.


astrid bernafas lega, berjalan cepat menuju pagar yang memang selalu terbuka di siang hari.


" mau kemana mih ? "

__ADS_1


__ADS_2