Bukan Salahku Menjadi Madu

Bukan Salahku Menjadi Madu
Get married


__ADS_3

Shakti membolak - balik amplop coklat panjang. Yang mana bukanlah sembarangan amplop. isinya tebal, dan di pegang pun berat. Tangan Shakti sampai bergetar, kala membuka isi amplop itu. Shakti sampai memundurkan kepala, menutup mata dengan telapak tangan miring untuk menghalau silaunya pancaran cahaya gepokan fulus berwarna merah muda itu.


Shakti terkekeh " Seumur - umur gue baru megang duit sebanyak ini "


Padahal dulunya dia sultan. Tetapi konyolnya dia nggak pernah pegang uang jutaan rupiah. Jelas saja, karena yang dia pegang itu kartu berwarna bulu ketek.


Shakti termenung, tangannya nyelonong ke belakang, menggaruk kepala nya yang tidak gatal. Tiba - tiba bocah tampan itu merasakan pening luar biasa. Pasalnya, beberapa hari lagi shakti akan terbang ke inggris untuk menempuh Jenjang sekolah yang lebih tinggi.


Oxfford adalah universitas terpopuler di negara inggris, tepatnya bertempatan di kota britania. Sebuah universitas yang di elu - elukan olehnya, bahkan sejak berada di bangku smp dia sudah berkhayal ingin terbang ke perguruan elit itu. Dia semakin gencar belajar, bahkan mendapat predikat most diligent of all school di kota jakarta.


Kemarin - kemarin dia jumawa, serasa melambung ke kayangan saat di terima di oxford dari jalur kelas axselarasi. tetapi dia serasa di hempas oleh kenyataan saat fakta terbaru Evelyn nekad ngintil kepadanya.


Dan itu membuatnya menjadi ragu - ragu, apakah dia akan melanjutkan study atau tidak. Keberadaan Evelyn jelas menjadi tanggung jawabnya sekarang, baik kehidupan maupun pendidikan gadis itu. Dan pertanyaannya adalah apakah dia sanggup membiayai nya? Padahal untuk makan saja kadang dia di sedekahi iqbal. uang - uang yang dia dapat akan dia tabung sebenarnya.


Ahhh,, menyebalkan !


Shakti merebahkan tubuh ke kasur, menatap lamat - lamat wajah damai kekasihnya yang tampak polos dikala terlelap.


" Aku nggak tega ninggalin kamu sayang. tapi dengan pendidikan ku yang kegantung ini, aku takut nggak bisa memberi kamu hidup layak nantinya. " Ucapnya sembari menatap wajah Evelyn.


Shakti menyugar rambut Evelyn yang terjun ke wajah, menyoel - nyoel hidung mancung gadisnya yang bak perosotan anak tk.


Shakti menggigit bibir " Apa aku Cancel aja yah penerbangannya? "


Tok Tok Tok


" Apa ? " tanya shakti menatap bingung ketiga temannya yang menyilangkan tangan di ambang pintu.


Haikal menarik tangan shakti, mendorong bocah itu hingga terjelengkang ke sofa.


" Apaan sih ? " Sewot shakti tak terima di aniaya.


Haikal tak menyahut, tangannya bergerak menuding wajah shakti " Elo mau kumpul kebo ? " ucapnya dingin.


Shakti gelagapan " Yaa kaga lah, Anju "


Haikal berdecak " Dusta.. terus maksudnya apa tidur sekamar sama Evelyn kalau bukan kumpul kebo namanya? "


" Cuma nemenin bentar " kilahnya sesantai mungkin.


Haikal geleng - geleng " Mending balikin bini orang ke rumahnya. takutnya elo kena azab "


Shakti mendelik kesal " Bini yang enggak di anggap, apa salahnya gue pungut ? Anak sholeh mana ada yang kena azab" sewotnya.


Iqbal terkekeh " Susah ngomong sama orang yang lagi bucin. ibarat Tai sapi aja di anggap kue bolu "


" Hahahha " Ifal tak bisa membendung tawanya.


" Ckkk " shakti melempar Bantal sofa.


bugh !


Dan itu mengenai Kebanggaan Haikal.


" Asw... hahhaah " Ifal kembali terbahak saat sorot mata haikal menajam, memegangi area itu dengan wajah memerah.


Shakti nyengir kuda " Kaga sengaja elah "


Haikal tak menggubris, menggapai kepala shakti yang udah losdoll itu untuk dia pecahkan.


Suasana menjadi ramai dan penuh tawa saat keduanya masih saling lempar pukulan, tabokan, bahkan tendangan.


Namun Keseruan itu tiba - tiba mencekam kala hawa dingin begitu menusuk kulit mereka. Ke empat bocah itu menoleh ke ambang pintu dimana sosok dingin sedang mengeluarkan taringnya.


Shakti sampai beringsut mundur begitu juga dengan teman - temannya Kala mendapati Pak Kusno, Rini, Kavian dan Pak Amrul berdiri tegak di ambang pintu.


Shakti semakin meneguk ludah saat matanya bersibobrok dengan benda tajam panjang kalau orang jawa nyebutnya Gaman or Golok.

__ADS_1


" Nyet, siapa yang mau di sunat ? " bisik iqbal ke telinga ifal.


Ifal menggeleng dengan wajah linglung,


Sedangkan shakti dan haikal terpaku dengan mata melotot. ibaratnya seperti slow motion. ke empat orang dewasa itu pun masih berdiri di ambang pintu tak bergerak sama sekali, kaya' patung sudirman.


÷÷÷


Astrid Berjalan tertatih menuruni tangga, celingukan mencari sosok dajjal yang sialnya adalah suaminya. Astrid menarik sudut bibir samar membentuk senyum tipis, setipis kertas minyak. Lalu tatapannya beralih ke Tio, sang bartender teman sift haikal. di sana enggak ada tio, tapi ada juga sam yang lagi kesetanan minum alkohol.


Astrid berjalan pelan, sambil memegangi perutnya yang nyeri. tak hanya perut, tetapi area itu juga sangat nyeri sekali. Astrid bersumpah serapah dalam hati, mengutuk aksen Damian untuk membusuk di makan kelabang. tak tahu sudah berapa banyak yang pria itu hasilkan dari penjualan tubuh astrid yang jelas dalam dua hari, astrid sudah melayani sekitar lima belas orang.


" Sam " Panggil astrid.


Sam menoleh, tersenyum manis ke arah astrid yang berjalan ke arahnya.


" Kenapa nyonya? anda perlu sesuatu? "


Astrid menggeleng " Damian kemana? "


Sam mencabik " Aku tidak tahu " berbalik memunggungi.


" Apakah lama perginya? " Tanya astrid


Sam mengedikkan bahu acuh. memilih menenggak minumannya tanpa menoleh sedikit pun. dia paling malas kalau membahas pria durjana itu.


Astrid menautkan jari " Bisa antar aku ke rumah sakit ? "


Sam spontan putar badan. Wajah nya terkejut " Nyonya sakit ? "


Astrid mengangguk " Perutku sangat sakit "


Tanpa pikir panjang, jake bangkit berdiri. menggendong tubuh astrid ala bridal style. astrid ternganga, matanya melotot dengan wajah memerah. namun dia diam saja saat tubuhnya dibawa keluar oleh sang bodyguard tampan itu.


Astrid turun dengan badan yang kembali di bopong, menurut saja saat sam masuk ke koridor rumah sakit dengan posisi seperti itu.


" Sam, Aku malu " tutur astrid.


Sam menunduk, hingga mata coklatnya bertubrukan dengan mata caramel astrid. keduanya diam terpaku dengan posisi sama, berjalan dengan tubuh menempel.


brukk.


" hahahah " keduanya tertawa saat tanpa sengaja menabrak tembok.


Beberapa pengunjung bahkan ikut tertawa menyaksikan kekonyolan keduanya yang berjalan tanpa melihat arah.


" So sweet banget sih mereka " Celetuk Seorang pengunjung.


Keduanya tersipu dengan wajah melengos. jantung nya pun tak kalah aktif. berguncang liar, hendak melompat keluar.


Sam menurunkan tubuh astrid. tepatnya mendudukkan tubuh kurus itu ke kursi besi. mengantri giliran untuk mendapat panggilan sang dokter.


" Apa masih sakit? " tanya sam. terlihat wajah penuh ke khawatiran tercetak jelas di wajah pria itu.


Astrid mengangguk.


÷÷÷


Rini berulangkali menghela nafas, menatap kesal kedua Shakti dan Evelyn bergantian.


" Jadi kamu membawa Evelyn tinggal bareng di sini ? " tanya rini setelah sekian purnama keheningan melanda di ruangan itu.


Shakti dan Evelyn mengangguk serempak.


Tatapan rini beralih ke iqbal " Kenapa kamu nggak ngomong sari kemarin ? " Sungut rini.


Iqbal berdecak " kan gue kecipratan "

__ADS_1


" Saya juga tahu tadi pagi " Sahut bapak.


" Jadi bagaimana menurutmu, kusno ? " tanya rini.


" Mau bagaimana lagi, keputusan ada di tangan kavian " jelas bapak.


Kavian merengut sebal, menatap istri dan adiknya dengan penuh kekesalan. " Aku ingin tahu kalian sudah sampai di tahap mana "


Shakti meneguk ludah, melirik sebentar ke arah ibunya yang menatapnya tajam.


" Aa... "


" Kita udah *******, kelonan, bahkan pegang - pegangan " Potong Evelyn.


Ke empat bocah tampan yang bersebrangan dengan Evelyn serempak mendelik. memprotes ucapan frontal Evelyn, yang mana bisa membuat mereka di gantung hidup - hidup.


Rini beranjak berdiri dengan wajah terkejut.


Sedangkan bapak geleng - geleng dengan tawa kecil.


Kavian merapatkan bibir. mau bertanya tetapi perasaannya sudah tak enak. dia enggak cinta dengan istrinya, tetapi dia kesal sekali mengetahui fakta bahwa kepunyaannya di cicip oleh orang lain. dan sialnya, pelakunya adalah adiknya sendiri.


" Kamu tahu hal itu haikal? " Pak kusno bertanya dengan nada dingin.


Haikal cengengesan, menggaruk kepala yang tak gatal sama sekali.


" Kenapa kamu enggak cegah mereka haikal ? " sungut rini.


" Mih, mereka kan ngelakuinnya di kamar, terus di kunci. kadang di toilet, di kolam, " Haikal membekap mulut yang keceplosan.


Bapak memijit pelipisnya yang berdenyut hebat. melirik jengkel ke arah bocah - bocah itu.


" Aku pasrah " Putus kavian.


" Iya pasrah aja, kalau perlu mati sekalian biar gue nikah sama shakti " ketus Evelyn.


bugh


satu bantal melayang ke kepala sengklek Evelyn.


Evelyn mengerucutkan bibir " Lagian emang elu mau sama gue, yang udah di sentuh - sentuh sama orang? udah nggak suci. susu gue juga udah di isep - isep. emang lu doyan bekas orang? Lagian bini elo udah bunting, udah nggak butuh gue lagi. " omelnya.


Oh lord, betapa lemes able mulut gadis ini. Semua yang berada di situ bahkan mengumpat lirih saat mendengar ucapan frontal Evelyn.


Pak kusno mengusap dada seraya istighfar. Sedangkan Rini sampai menjatuhkan punggung ke sofa dengan Mata berkaca.


Yah, mau bagaimana lagi. semua sudah terjadi dan seperti ucapan kavian pasrah saja. pikir Evelyn itu adalah cara jitu agar suaminya ilfeel dengannya dan segera menceraikannya.


" Saya talak kamu detik ini juga dan menit oni juga. Kau, Evelyn granith wang bukanlah lagi istriku " Tuding kavian tepat ke wajah Evelyn.


Evelyn cengengesan. tersenyum setan bahkan tersenyum jin. Wajahnya berbinar dengan mata berkedip.


" Kavi " tegur rini dengan suara meninggi.


" Mih,,, aku sudah nggak tahan sama kelakuan bocah biadap itu. aku menyerah dan sesuai keinginan mereka. nikah kan saja mereka. lagi pula kalau tidak seperti itu, mereka akan terus berzina. dan siapa yang dosa? jelas kita para orang tua " Sungut kavian.


Rini menyentak nafas kasar " Oke, minggu depan kalian menikah. tapi untuk saat ini kalian harus tinggal terpisah. dan Evelyn kembali kw rumah besar " Putus rini.


" Oke " Sahut Evelyn antusias.


" Mih, aku dimana ? "


" Kamu tinggal di kolong jembatan, siapa suruh jadi pebinor. dan camkan Shakti, menikah bukan perkara gampang, enggak segampang ngelepas kutang. tau nggak " sungut rini menggebu - gebu.


" Kutang nggak tuh,, hahaah " Sambung iqbal tertawa membahana.


Pak kusno melempar bantal dan mengenai punggung rini " Kamu malah ngomongnya nggak sopan. ngajarin enggak bener " protes bapak.

__ADS_1


__ADS_2