Bukan Salahku Menjadi Madu

Bukan Salahku Menjadi Madu
Pergi


__ADS_3

Shakti Menenggelamkan kepala ke leher Evelyn, menghirup dalam - dalam aroma tubuh istrinya yang membuatnya candu. Tubuhnya nemplok menindih bagaikan cicak seolah tubuh istrinya adalah tumpuan dan tempatnya berpijak. Shakti berkaca matanya, tak bisa membayangkan kalau dia akan benar - benar bisa jauh dengan istrinya selama tiga tahun lamanya.


Evelyn menunduk saat dadanya merasakan sesuatu yang basah, mengecup kepala suaminya dan mengelus punggung bergetar yang bergetar.


" Kenapa ? " Tanya Evelyn


Shakti makin ngusel ke leher, rengkuhan lengannya semakin erat di perut tipis istrinya.


" Aku pwn nyimpen pen ngafalin bau tubuh kamu di otak aku biar kalau aku lagi kangen bisa ngebayangin " Ucap shakti pelan.


Evelyn terkekeh, kembali mengecup rambut wangi shakti cukup lama.


" Aku bakal stay nungguin kamu sampai kamu pulang dalam keadaan berbeda. keadaan dimana seorang Shakti menjelma jadi seorang yang hebat dan cemerlang "


Shakti tersenyum, menunduk untuk mengecup benda kenyal yang tepat berada di bawah bibir.


" Aku sayang kamu " Gumam shakti


" Ya harus dong.. Udah dapet enak masa' enggak sayang " Sahut Evelyn.


Shakti jadi tertawa makin ngusel untuk menumpahkan rasa kasih sayangnya.


" By the way aku keluarin di dalam kemarin malam " Adu Shakti


Kening Evelyn mengkerut, menunduk untuk memastikan jawaban. " Hah ? "


Shakti mendongak, menjawil bibir bawah Evelyn.


" Aku berharap Kecebong nya cepet tumbuh dan Muncul shakti junior disini " Shakti mengusap perut rata Evelyn.


Evelyn Tergelak bibirnya terangkat membentuk senyum tipis, tangannya bergerak menyentuh perutnya " Aku bakal jadi ibu ? "


Shakti mengangguk " Iya ibu dari kecebong - kecebong ku "


Evelyn tertawa, menepuk pelan pipi Shakti " Kok kecebong sih " Protesnya


Shakti tertawa kecil, mengangkat setengah badan dan menatap lekat mata indah istrinya.


" sekali lagi yah " Izinnya.


Evelyn mengerucutkan bibir " Masih perih loh "


" Aku besok berangkat loh " rengek shakti


Evelyn menggigit bibir, mendesah saat suaminya melancarkan aksinya. Evelyn menabok kepala shakti saat cowok itu menggigit Dadanya kencang.


" Nyebelin, nggak tau orang lagi capek apa " Omelnya kesal.


Shakti tak menggubris cerocosan istrinya, memilih melanjutkan aksinya menelusuri tubuh molek istrinya. Tongkatnya udah tegak berdiri enggak mungkin mau di bujuk untuk tidur. kalau enggak segera di tuntaskan bisa di pastikan kepalanya akan berdenyut nyeri


÷÷÷


Galang bertumpu pada pembatas balkon, menyorot datar berbagai hamparan tumbuhan yang tertanam rapi di pekarangan taman kediamannya. Galang mengepalkan tangan seiring desiran nyeri yang menjalar ke seluruh lingkup dadanya. Tak sanggup lagi membendung gejolak perih, telaganya refleks terjun membasahi pipi putihnya


" Ve " Gumamnya


" Kenapa ? " lirihnya


" Kenapa gue enggak bisa milikin elo? apa kurangnya gue ? " Imbuhnya seraya bergetar bibirnya.


" Gue adalah orang pertama yang nyembuhin luka elo dan gue juga orang pertama yang ada di saat elo butuh. "


" Ve... "


" Kenapa ? "


" Kenapa kamu menjadi milik orang lain ? "


" Argghhhh " Galang menjambak rambutnya frustasi "


" Gue benci hidup kaya' gini, gue benci jadi orang yang selalu kalah.. "


Galang menghembuskan nafas perlahan, berbalik badan dan menyambar kunci mobil di atas meja.


" Mau kemana ? " Tanya Hans


" Bukan urusan elo " Ketus galang sambil berlalu


Hans menghela nafas, menyandarkan punggung ke sandaran sofa. menatap nanar punggung anak tirinya yang semakin menghilang di balik pintu.


Seperti biasa kala dia sedih dan mood nya memburuk. selalu membawa roda dua nya dengan kecepatan di atas rata - rata. Galang adalah pembalap handal jadi meskipun membawa motornya dengan laju kencang tetap saja dia bisa mengendalikannya.


Berpuluh - puluh kali klakson berbunyi nyaring. berbagai umpatan - umpatan dan sumpah serapah terlontar dari mulut - mulut para pengemudi yang hampir saja oleng karena menghindar dari salipan motor galang. Cowok berambut panjang itu tak perduli, tetap menatap lurus kedepan memfokuskan ke arah jalan .


Brakkkk

__ADS_1


" Aaaaaa "


Ckitttttt


Brakk


" Awsss " Ringis galang, memegangi siku yang terluka.


" Asw " Umpat galang saat menoleh ke belakang ada seorang gadis yang terkelepar di aspal bersimbah darah sampai membasahi hijab nya.


" Astaghfirullah " pekik seorang wanita baya


" Syifa " Teriak wanita baya itu.


Gelang meneguk ludah kasar, menghampiri si gadis yang tergeletak di aspal itu.


" Mbak " Galang menepuk pipi si gadis


Wanita baya itu mendorong galang. menyorot tajam cowok tampan yang terlihat urakan dan berantakan.


" Bawa motor itu lihat - lihat mas, jangan ngebut, lihat kan akibatnya " Omelnya sesenggukan yang terdengar pelan namun terasa menohok hati


Galang terasa kikuk, bahkan enggak berani menyahuti omelan wanita berhijab kurung itu.


" M..maaf buk, saya akan bertanggung jawab kok. biar saya bawa ke rumah sakit " Tanpa persetujuan, galang membopong tubuh si gadis


Galang memberhentikan taksi, meletakkan gadis yang matanya sudah terpejam itu dengan amat sangat pelan. Galang ikut masuk ke dalam mobil, begitupun juga si wanita baya. Taksi itu lantas melaju pelan, membelah padatnya malam kota jakarta.


÷÷÷


Penerbangan shakti terjadwal pukul delapan pagi, jadilah sehabis subuh Evelyn sibuk berkutat di kamar menyiapkan beberapa keperluan yang akan di bawa suaminya.


Evelyn Menyeka dahi, berlalu dari kamar dan turun ke bawah menuju dapur. Evelyn mengambil nasi beserta ayam kecap kesukaan suaminya. membawanya ke atas untuk di santap Shakti. sehabis subuh mereka tidur karena kelelahan sehabis melakukan aktivitas panas semalam. Shakti enggak mau berhenti bermain, mungkin kalau bisa di hitung mereka melakukannya lebih dari empat ronde. Entah energi darimana sehingga suaminya itu dengan kuatnya menggagahinya berlarut - larut.


Evelyn melirik arloji berwarna silver yang sekarang menunjukkan pukul tujuh pagi. Dia mendesah saat ternyata suaminya masih berada di kamar mandi.


" Honey cepetan, nanti telat loh " Seru Evelyn di balik pintu kamar mandi.


Evelyn meletakkan nampan di atas meja, merapikan rambutnya yang berantakan dan mengikatnya menjadi ekor kuda.


Evelyn menggulung bibir, bertolak pinggang dengan wajah serius. niatnya mau menguncir rambut, tetapi melihat banyak bercak lukisan merah yang di buat oleh suaminya dia jadi urung. alhasil dia tetap menggerai rambutnya. sedikit menyisir agar terlihat lebih rapi.


Tak berselang lama, shakti keluar dengan handuk yang melilit tubuhnya. berjalan menghampiri istrinya lebih dulu hanya untuk sekadar mengecup pipi.


" Mesum " Kesal Evelyn.


Shakti tertawa kecil. berjalan ke arah walk in closet dan memakai pakaiannya.


" Suapin sayang " rengek shakti


Evelyn menurut, dengan telaten menyuapkan makanan ke mulut suaminya.


Evelyn tertawa saat kedua pipi shakti mengembung, penuh dengan makanan. kepalanya bergerak maju, mengecup sebentar bibir suaminya yang sedang bergerak mengunyah.


" Gumush " Ucap Evelyn.


Shakti tersenyum sampai kedua matanya menyipit, menyambar minum saat nasi di piring sudah tandas.


Shakti lebih dulu melirik jam bulat di dinding, beranjak bangun dengan tangan menarik tangan istrinya


" Yuk berangkat "


Shakti menggeret koper, sedangkan Evelyn menenteng jaket dan topi.


Di bawah tangga, rini berkaca matanya seakan dia enggak ikhlas kalau harus berpisah dengan kesayangan. Karena pada dasarnya sudah beberapa lama Shanti baru berkeliaran di kediaman albuzer dan itu terasa belum cukup untuk menebus rindu.


Rini mengecup kening shakti, membelai wajah halus putranya dengan lembut.


" Jangan pernah tinggalkan sholat dan jangan lupa makan. mamih selalu mendoakan kamu "


Shakti bergetar bibirnya, memeluk tubuh ibunya dengan posesif.


" Mih tolong jagain istriku yah, jewer aja kalau dia nakal "


Bibir Evelyn mencebik mendengar penuturan suaminya. Sedangkan rini tertawa mendengar kalimat itu.


" Pasti " Sahut rini.


Laura mengecup kedua pipi shakti lalu memeluk adik iparnya yang sudah dia anggap adik sendiri.


" Jaga diri di sana ya ! " Laura mengelus puncak kepala shakti.


Shakti mengangguk, beralih memeluk kakaknya dengan erat.


" Mas " Bahu Shakti berguncang, tak sanggup melanjutkan kata - katanya. pelukan kali ini menyiratkan permintaan maaf yang begitu besar. entah kenapa setiap kali berdekatan dengan kakaknya, Shakti selalu merasa menjadi orang paling jahat.

__ADS_1


Kavian menepuk punggung shakti yang bergetar, melerai pelukan dengan helaan nafas


" Kabari jika kau membutuhkan sesuatu. papa akan menemanimu di sana "


Shakti menunduk, sesekali menyeka pipinya.


" Ayok cepat berangkat nanti terlambat " Seru efras di ambang pintu.


Shakti dan Evelyn menaiki mobil, melambaikan tangan saat mobil yang jake bawa melesat dari area parkiran.


Di sepanjang perjalanan, shakti terus menggenggam tangan Evelyn, mengecupnya lembut tanpa henti.


Mungkin sekitar setengah jam, rubiccon yang jake bawa telah sampai di bandara internasional halim perdana. Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi yang mana pesawat akan langsung take off.


" Papa duluan " Ucap shakti


" Jangan lama - lama " galak efras.


Shakti mengangguk. beralih menatap istrinya yang menunduk. Shakti menggenggam kedua tangan Evelyn, menariknya dan mengecup kedua punggung tangan istrinya cukup lama.


" Sayang "


Evelyn mendongak, pipinya sudah basah dengan air mata. pernah nggak sih kalian melepaskan seseorang untuk pergi jauh ? gimana perasaan kalian? seperti itulah perasaan Evelyn. enggak rela dan berat


Shakti mengusap kedua pipi Evelyn, lalu maju untuk mengecup bibir istrinya yang terbuka.


" Tolong tunggu aku ! Seperti yang udah aku bilang, kita harus lewati dan hadapi sama - sama untuk bisa menempati ladang keberhasilan "


Evelyn mengangguk " Aku ngerti kok, aku cuma masih berat aja melepas kamu, mungkin aku akan terbiasa seiring berjalannya waktu "


Shakti menghembuskan nafas kasar, menangkup pipi Evelyn dan kembali mengecup bibir merah istrinya. enggak cuma mengecup tetapi menyesapnya sebentar.


" Shakti " Seru efras di beberapa meter di belakangnya.


Shakti menoleh sebentar mengelus puncak kepala Evelyn dengan lembut.


" Aku berangkat yah ! " Lirih shakti. tenggorokannya tercekat


Evelyn melengos, membiarkan suaminya pergi dari hadapannya.


Shakti melambaikan tangan memberi ciuman jarak jauh sebelum benar - benar menghilang dari pandangan istrinya.


Tubuh Evelyn merosot ke bawah, tergugu dengan air mata kembali jatuh dengan deras. Evelyn meremas dadanya yang sesak, bahunya bahkan berguncang. enggak rela banget kalau faktanya dia berjauhan dengan suaminya.


÷÷÷


" Ma, makan dulu ya " Haikal menyodorkan satu suap bubur ke arah astrid.


Astrid tersenyum tipis, membuka mulut saat satu suapan sendok kembali berada di depannya.


" Gimana pertunangan hana kal? " Tanya astrid di sela mengunyah.


" Lancar kok mah, eumhh mungkin Tahun depan hana menikah " Jelas haikal.


Astrid mendorong sendok yang kembali di sodorkan haikal " Bapak mu setuju menikah secepat itu ? "


Haikal mengedikkan bahu " Nggak tau ma, awalnya sih enggak setuju tapi liat sepak terjang darrel yang suka mepedin hana terus, bapak jadi khawatir kalau mereka kebablasan "


Astrid terkekeh " Darrel itu mirip Mamahnya ya "


Haikal tertawa kecil " Enggak sih menurutku, malah kaya ayahnya soalnya mereka sama - sama pendiam "


Astrid manggut - manggut " Darrel punya saudara ? "


" Punya. namanya mbak angel dia janda anak satu " jelas haikal meletakan mangkuk ke meja


" Angel anaknya gimana? " tanya astrid


" Enggak paham sih, tapi setau ku dia wanita pemilih dan ya, kalau menurutku dia enggak se frekuensi sama hana "


Astrid mendesah " Mamah takut kalau adikmu enggak rukun sama ipar kal "


Haikal terkekeh " Ama adek sendiri aja enggak akur gimana sama ipar " menggeleng saat ingat kelakuan hana terhadapnya.


Astrid ikut tertawa " Ngomong - ngomong hana mirip mama ya "


Haikal mengangguk setuju " Iya "


Astrid tersenyum " Kapan - kapan mama main ya ke rumah mu "


Haikal mengangguk " boleh, lagipula apa mama enggak rujuk sama bapak ? "


Astrid menunduk " Mama enggak pantas kal, mama terlalu kotor dan berdosa "


Haikal menggenggam tangan astrid " Ma, kalau bapak setuju untuk rujuk aku harap mama enggak nolak "

__ADS_1


__ADS_2