Bukan Salahku Menjadi Madu

Bukan Salahku Menjadi Madu
Eps. 64


__ADS_3

" Kamu enggak ke kantor ? " Tanya laura saat suaminya masih bermalas - malasan di kamar.


" Enggak, aku mau lembur di rumah " sahutnya dengan posisi badan tengkurap di atas kasur.


Laura medudukkan pantatnya ke ranjang, mengulurkan tangannya untuk mengelus kepala suaminya. udah beberapa hari ini, dia ngerasa pengin selalu dekat dengan suaminya. dan bawaannya pengen nemplok terus. melihat suaminya yang berada di rumah, jelas membuat hatinya bersorak gembira.


" Aku buatin kopi ya ! " tawar Laura.


Kavian membalik badan. cepat kepalanya mendongak dengan wajah berbinar. ini adalah moment langka dimana istrinya mau menawarkan kopi dan itu membuat hatinya berjingkrak - jingkrak kesenangan.


Kavian mengangguk cepat, bahkan pria itu sampai beranjak duduk.


Laura terkekeh, pelan tangannya mencubit gemas pipi suaminya.


" Mau di sini atau di ruang kerja ? "


" Di ruang kerja " jawab kavian.


Di dapur, Astrid mengamati gerak - gerik putrinya yang sibuk menyeduh kopi dan membuat pisang goreng


" Tumben " ucap astrid membuat laura terlonjak kaget.


" Apa sih mih? nganggetin tauk " dumel Laura


Astrid melongok, mengamati tangan laura yang sekarang sibuk meletakan irisan pisang ke atas piring


" Kamu lagi enggak demam kan ? " herannya, menyentuh kening Laura


Laura menepis kasar tangan ibunya. mendengus dengan tatapan sebal. Laura tak menyahut, memilih melenggang pergi menuju ke ruang kerja suaminya yang terletak di ruang tengah.


Udah di Kasih tau kalau Damian butuh bantuan. dan bantuan itu hanya bisa di lakukan oleh astrid. karena yang Damian minta itu adalah file penting yang sekarang ini lagi di garap dan di edit oleh kavian di layar komputer yang terletak di ruang kerja.


Astrid mengekor langkah laura, berjalan sepelan mungkin dan bahkan melepaskan sendal jepitnya agar tak menimbulkan suara.


Astrid berhenti di sisi pintu melongok ke dalam lewat bolongan yang terdapat di celah sisi pintu.


Di dalam ruangan, kavian tersenyum saat laura meletakkan nampan berisi kopi dan camilan itu. dan dengan telatennya, laura menyuapkan seiris pisang goreng ke dalam mulut suaminya yang sedang sibuk menatap layar depan nya.


" Cukup sayang ! " kavian mendorong tangan laura saat hendak memasukan potongan pisang terakhir.


" Kamu lagi ngerjain apa ? " tanya laura kepo


" Ini, proposal pembangunan pabrik produksi ku yang baru " jelas kavian tanpa menoleh.


Laura manggut - manggut " kenapa pakai proposal sih ? " tanya nya heran.


" Biar ngirit dana, supaya pemerintah notice pebisnis perusahaan kecil " jelas kavian


Kening Laura mengkerut mendengar penjelasan suaminya. " apa hubungannya sama perusahaan kecil ?"


" Kalau Pembangunan pabrik ku di acc, yang jelas perusahaan kecil juga ikut invest ke sana. karena pabrik ku memang khusus di bangun untuk membantu perusahaan kecil dan cabang " jelasnya.


Laura tersenyum dengan tatapan yang kagum ke arah suaminya. pria yang berdedikasi membantu pesaing bisnis. suaminya itu malah enggak pernah bersaing dengan perusahaan lain. bahkan pria itu seringnya membantu supaya perusahaan yang baru terjun ke dunia bisnis akan lebih mudah berkembang.


Kavian mendongak, mengecup pipi laura dengan singkat " doakan ya, soalnya doa istri itu paling ajaib dan mustajab "


terkekeh saat mendapat cubitan di pinggang oleh istrinya.


" gombal " sahut laura.


" Aku ngantuk sayang, " keluh kavian


" Ayok tidur ! " Laura menarik tangan suaminya untuk beranjak bangun.


Kavian menurut, mengekor istrinya dan lupa untuk mengeluarkan file nya.


÷÷÷


Evelyn mengendap - endap, menaiki tangga dengan langkah pelan. kepalanya celingukan memastikan keadaan ruangan aman.


Evelyn menarik handle pintu, membukanya sepelan mungkin. gadis itu tersenyum saat shakti berbaring di atas ranjang dengan posisi telentang.


Evelyn memanjat ranjang, ikut merebahkan badan ke samping shakti. gadis itu menarik kepala shakti, dan meletakkan kepala itu ke dada.


" Pules banget sih " gumamnya saat tak ada pergerakan sedikitpun dari cowok di bawahnya.


Evelyn mengelus pipi cowok imut itu, mengecup lama kening yang sedikit mengkerut. mendapat sentuhan lembut seperti itu, ternyata membuat tidur nyenyak shakti jadi terganggu.


" enggh " shakti menggeliat dengan kepala bergerak ngusel ke belahan dada Evelyn yang ter ekspos.


" sayang, masih ngantuk ! " dumel shakti dengan mata memejam


Evelyn terkekeh, menekan kepala shakti agar lebih ngusel " tidur aja ! aku cuma pen ngelonin doang kok "


Shakti mengecup benda kenyal di depannya, kepalanya mendongak dengan mata yang berangsur terbuka.


" Jan kayak gini, aku udah niat tobat loh "

__ADS_1


Evelyn tertawa kecil, mengecup sebentar bibir yang memprotes itu.


" ya udah, tobat aja ! aku enggak ngelarang kok "


Bibir shakti mencebik " kamu jan deket - deket elah, entar gagal tobat nya "


" Ini yang terakhir " ucap Evelyn.


" Janji ya ! " sahut shakti.


Evelyn mengangguk, mengusap pipi shakti yang terasa lembut dan mulus.


shakti menunduk, menatap lamat - lamat bongkahan kenyal yang sangat menggiurkan.


pas di basecamp udah di tegur sama haikal buat ingat batasan, tapi nyatanya dia nggak bisa janji sama haikal.


shakti memajukan bibir, menarik tanktop Evelyn dengan giginya. benda kecil berwarna merah kemudian mengacung tegak, menantang di hadapannya. dan tanpa pikir panjang, shakti menyambar benda itu, menyesapnya kencang membuat Evelyn meringis.


Evelyn menunduk, mengamati bibir yang terlihat lucu kala sedang bergerak - gerak. tangan Evelyn terulur, mengusap bibir yang bergerak menyedot itu dengan lembut.


Shakti mendongak dengan bibir yang masih mengulum, tersenyum kecil saat wajah Evelyn terlihat sayu dan menggoda.


Shakti melepaskan sesapannya, menyambar bibir yang di gigit itu dan menyesapnya dengan rakus. enggak pernah memulai kissing, jadi gerakan shakti terkesan kaku.


Shakti menarik diri, memposisikan tubuh nya dan menindih tubuh sekal evelyn. tangannya nggak mau kalah, bergerak liar dan meraba dua bulatan kenyal yang nggak pas di tangan, tumpah.


Lenguhan evelyn terdengar merdu saat telapak besar shakti bergerak liar di dada nya. jantungnya berdegup kencang seiring munculnya gelenyar aneh yang menjalar ke tubuhnya.


Evelyn menekan kepala shakti agar ciuman mereka semakin dalam dan kalau bisa enggak berhenti.


Di Luar sana, Kavian yang lagi tidur tetiba merasa tenggorokan nya kering. pria itu beranjak bangun, keluar kamar untuk mengambil air di dapur.


Tepat, di anak tangga ke dua langkah kavian terhenti, saat samar - samar terdengar suara decapan dan lenguhan dari dalam kamar adiknya yang pintunya enggak tertutup rapat.


Jantung kavian berdebar, saat suara lenguhan yang terdengar familiar itu semakin terdengar menusuk gendang telinga.


Kavian berjalan ragu, mendekat ke arah pintu kamar adiknya yang hanya berjarak dua meter dari tangga. kavian semakin meneguk ludah, saat suara decapan itu makin terdengar nyaring seiring langkah kakinya yang kian sampai ke kamar adiknya.


Dengan penuh pertimbangan, kavian meraih handle pintu, membuka nya dengan perlahan. mata kavian melotot lebar saat dari ambang pintu, kavian melihat dua remaja yang bertindihan di atas ranjang. matanya makin membola saat gadis yang berada di bawah kungkungan shakti itu adalah istri mudanya, Evelyn.


Kavian mengepalkan tangan dengan dada bergemuruh, melihat tubuh istri keduanya yang sudah setengah plontos karena shakti sudah melempar tanktop Evelyn entah kemana.


" SHAKTI "


Bibir yang sedang sibuk menyedot benda bulat dan kenyal Evelyn, jadi terhenti saat mendengar teriakan keras yang memecah gendang telinga nya.


Shakti menarik diri, posisinya enggak siap jadi dia terjelengkang dan jatuh ke lantai. sedangkan Evelyn sudah memucat, matanya melotot lebar dengan wajah yang panik. tangannya bergerak kebawah, menarik selimut untuk menutupi dadanya yang terekspos.


" Brengsek ! " berang kavian.


Pria itu melangkah lebar, mendekat ke arah adiknya yang masih terbaring di lantai. kasar, tangannya menarik kerah kaos shakti, menarik adiknya untuk berdiri.


Plak !


Satu tamparan keras lolos ke sebelah pipi shakti membuat bercak lima jari itu tercetak jelas di pipi putih cowok itu. tubuh shakti terhuyung nyaris jatuh kalau saja dia nggak berpegangan pada sisi ranjang. tangan shakti bergerak, mengusap noda darah yang berada di sudut bibirnya.


" Beraninya kau melakukan itu, brengsek " marah kavian kesetanan, pria itu kembali menarik kasar dan mengencangkan cengkraman di kaos Shakti.


" Stop ! jangan sakiti dia " teriak Evelyn saat kavian hendak melayangkan tamparan lagi.


" Diam, sialan ! " teriak kavian tak kalah tinggi.


Shakti hanya menunduk dengan mata yang memanas, enggak berani menatap kakaknya karena memang dia sendiri ngerasa sangat salah.


" Kenapa kau melakukan itu, brengsek ! " tatar kavian dengan nada tinggi.


Shakti bergeming dengan wajah yang masih menunduk. jujur dia nggak bisa berkata - kata, karena lidah nya tiba - tiba menjadi kelu. tenggorokannya kering sehingga sangat terasa perih untuk sekadar mengucap sepatah kata.


" JAWAB SHAKTI " bentak kavian karena shakti belum membuka suara.


Shakti memejamkan mata, menghalau nyeri yang menyusup ke dada. perlahan kepalanya mendongak, menatap wajah kakaknya yang sudah memerah, bahkan rahang pria itu mengerat.


" Maaf " gumamnya lirih.


Bruk !


Kavian mendorong tubuh shakti dengan kasar. membuat adiknya terjatuh ke lantai. Tangan shakti mengepal, menahan nyeri di sekujur tubuhnya akibat benturan keras lantai.


Kavian beringsut mundur, badannya merosot kebawah dan tanpa bisa di cegah air matanya mengalir begitu deras. kepala kemudian menunduk dengan bahu bergetar.


" Apa kau tidak tau, apa yang kau lakukan itu dosa besar ? " ucap kavian parau.


" Mas nggak pernah mengajarimu berbuat tak senonoh seperti itu, shakti " imbuhnya lagi seraya tergugu.


" Mas, maaf. aku.. aku khilaf " jawab shakti lirih.


Kavian semakin histeris, bahunya terguncang hebat. sungguh dia tidak pernah membayangkan akan mendapatkan musibah seperti ini. walaupun dia nggak mempunyai rasa dengan Evelyn, tetapi sebagai seorang suami dia mempunyai tanggung jawab untuk menjaga harkat dan martabat istrinya. dan sebagai seorang kakak, dia mempunyai tanggung jawab untuk menjaga dan membimbing agar tak sesat di jalan yang salah.

__ADS_1


Tak berselang lama, Laura dan Astrid tergopoh - gopoh memasuki kamar shakti.


Laura berjongkok, merengkuh bahu suaminya dan mendekap erat tubuh rapuh suaminya.


" Aku gagal " gumam kavian di iringi tangisan pilu


Laura mengerutkan kening, melirik sebentar ke arah ranjang, dimana Evelyn masih terduduk dengan selimut menutupi tubuhnya.


Laura memejamkan mata, mengerti gagal yang si maksud suaminya. wanita itu lantas, mengelus punggung kavian yang bergetar, memberi sport sistem agar suaminya tak terbawa arus penyesalan.


" Mas " shakti mendekat, menyentuh kaki kakaknya.


Cepat, kavian menendang adiknya membuat shakti kembali terjelengkang dan punggungnya mencium lantai.


" Jangan sentuh aku dengan tangan kotor mu "


" Ini pasti ulah kamu kan, pelakor sialan ? " berang astrid menuding dan menatap tajam ke arah Evelyn.


" Kav, usir gadis itu, dia itu iblis ! dia pembawa petaka, nggak seharusnya dia berada di rumah ini. usir dia kav. usir pengacau itu. " berang astrid menggebu - gebu dengan dada naik turun.


Enggak ada yang menanggapi, karena mereka sibuk dengan hati masing - masing. Evelyn terdiam dengan tatapan kosong ke arah shakti yang keadaannya udah kacau. air mata Evelyn jatuh saat shakti menangis tergugu, bahkan sampai berlutut di kaki kavian.


" Ini salah gue, bukan salah shakti "


" gue yang ngerayu dia dan gue yang udah ngemis cinta ke dia. gue cuma butuh kasih sayang dan kasih sayang itu cuma aku dapetlin dari shakti " terang Evelyn di sela terisak.


Laura mendengus, " Apapun alasannya nggak bisa membenarkan perbuatan kalian. dan kamu shakti entah setan apa yang merasuki kamu sehingga kamu nekad memacari kakak ipar kamu sendiri "


Shakti tak menyahut, masih bergeming dengan posisi berlutut. sedari awal memulai hubungan juga dia tau kalau dia salah.


Kavian mendongak dengan tatapan tajam. tatapan yang terarah kepada adiknya yang masih berlutut sembari menunduk. kavian lantas berdiri, menarik kembali kerah kaos Shakti.


" Hon, " teriak laura saat kavian menyeret tubuh shakti keluar dari kamar.


" Shak " teriak Evelyn, memungut tanktopnya dan memakainya asal.


Evelyn beranjak turun, mengejar langkah kaki kavian yang keluar dari kamar. Evelyn berdecak, langkahnya tertinggal jauh, suaminya sudah berada di tangga sedangkan dia masih di ambang pintu.


" Kavian ! " teriak Evelyn yang tak di gubris sama sekali. gadis itu menuruni tangga dengan terburu - buru nyaris saja terjatuh kalau nggak di gondeli laura.


Kavian masih menyeret tubuh shakti, tatapannya lurus kedepan dengan sorot menajam.


Astrid sendiri mengerutkan kening, menatap heran ke arah kavian yang perlahan menghilang di balik pintu utama. heran kan, kenapa shakti yang di seret keluar bukannya Evelyn si biang petaka itu ?.


Brukkk !


Kavian melempar tubuh Shakti ke jalanan, membuat lutut shakti menjadi lecet dan berdarah.


" Pergi dari rumah ini, dan jangan berani kembali " teriak kavian menguar di udara.


Laura dan Evelyn membekap mulut, matanya melotot saat mendengar ucapan kavian.


Shakti hanya tertunduk dengan wajah yang sudah basah dengan air mata.


" Mas, maaf " berkali - kali dia meminta maaf namun kavian masih nggak menggubrisnya.


pria itu melengos dengan air mata yang terus mengalir deras. dadanya begitu sesak melihat adiknya berkelakuan minim seperti itu. tambah sesak karena berzina dengan istri mudanya.


" Enggak, nggak boleh pergi. elo nggak boleh kemana - mana " Evelyn mencekal tangan shakti saat cowok itu hendak melangkah pergi.


Cepat, kavian menyambar tangan Evelyn menyeret gadis itu untuk masuk ke dalam.


" Lepasin ! " Evelyn berontak


" Pak Amrul, pastikan bajingan ini pergi sejauh - jauhnya dari sini " titah kavian sebelum melangkah masuk ke dalam gerbang.


" Lepasin, pria gila, pria nggak waras. gue mau ngejar shakti. " Evelyn terus memberontak, memukul - mukul tangan kavian yang berada di tangannya.


" Diam ! " bentak kavian sembari berjalan menyeret kasar tangan Evelyn masuk ke dalam rumah.


Pak amrul menunduk dengan mata berkaca - kaca. suka sebel sih sama majikan tengil yang satu ini tapi tak sampai hati kalau harus menendang majikannya pergi dari rumah.


Shakti terkekeh saat bahu pak Amrul berguncang " Bapak aman, nggak ada lagi yang nyolong kopi bapak, nggak ada lagi yang naroh kecoa di pisang goreng bapak" shakti menyeka pipinya yang basah.


" Titip Kesayangan ku ya pak, Jewer aja kalau dia nakal. sentil aja kalau dia nyembunyiin kolor bapak " tertawa kecil setelah nitip mandat.


Shakti menepuk pundak pak Amrul " nitip salam kalau mamih pulang, soalnya aku cuma bawa satu kaos sama satu celana. " nyelonong pergi setelah mengatakan itu.


Pak Amrul mendongak, menatap nanar punggung shakti yang perlahan jauh dari pandangan.


Pak Amrul meremas dadanya, tatapannya menerawang pilu saat menyadari shakti enggak pakai alas kaki. yang membuatnya tergores adalah bocah itu terlihat biasa - biasa saja. berjalan santai menyusuri trotoar dengan telapak kaki yang jelas terasa panas. entah mau kemana majikannya itu singgah, karena bocah itu enggak bawa barang berharga termasuk ponselnya. dan seperti yang shakti katakan tadi cuma bawa kaos dan celana pendek.


Shakti menggigit bibir menoleh ke belakang dengan senyum tipis, melambai ke arah pak Amrul yang tergugu dengan masih menatap ke pergiannya.


shakti menoleh ke depan. menarik nafas dalam - dalam dan menghembuskan nya perlahan untuk menghalau sesak nya dada.


" hufffttt, gue beneran jadi gembel kek nya " gumam shakti dengan kekehan namun di sertai dengan buliran air mata.

__ADS_1


__ADS_2