Bukan Salahku Menjadi Madu

Bukan Salahku Menjadi Madu
warning ! agak anu - anu


__ADS_3

Evelyn mendengus kesal mendapati ruangan kamarnya sudah berganti menjadi lebih sempit. apalagi, kamar ini bekas kamar seorang wanita paruh baya. sedangkan landung hanya menunduk merasa bersalah karena tak bisa mempertahankan dan membela kamar nona mudanya.


Evelyn lantas merebahkan tubuh ke atas kasur yang ukurannya sedikit lebih kecil dari kasur di lantai atas.


" ini pasti ulah nenek bangkotan itu kan ? "


Landung menahan tawa mendengar sebutan baru si wanita tua sang majikan besan. " iya non, maaf ya, Landung ndak bisa cegah. soalnya den kavi juga setuju "


Evelyn berdecak merasa kesal dengan suaminya " gue berasa jadi janda perawan kayaknya,, nggak di sayang, nggak diperhatiin,, nggak di belai, "


Landung terkekeh " nanti lama - lama den kavi juga luluh koq yang penting ada pendekatan "


" maksudnya ? " Evelyn menaikan satu alis


" non pernah dengar pepatah runtung kasarung jalaran soko kulino nggak? " tanya Landung mendekat ke arah ranjang, gadis itu lantas melepas sepatu yang melekat di kaki mulus Evelyn.


" dihh apaan tuh ? "


" kalau bahasa indonesia nya artinya, saling menyayangi karena saling terbiasa " Landung lantas memijit kaki Evelyn


" enak juga pijetan lo " puji Evelyn dengan mata perlahan terpejam.


Landung tersenyum kecil " mungkin den kavi belum terbiasa dengan nona, yang penting sering - sering saja berinteraksi "


" dihh ogah " ketus Evelyn


" memangnya mau di bawa kemana hubungan non sama den kavi? " tanya Landung penasaran


Evelyn mengedikkan bahu " nggak tau.. "


Landung menghela nafas " memangnya non nggak memikirkan masa depan? kalau non nggak punya perasaan dengan den kavi... maaf ya non, bukannya saya lancang saya hanya prihatin dengan nasib non... menurut saya apa sebaiknya non berpisah saja " usul Landung


Evelyn lantas bangkit untuk duduk, gadis itu menatap Landung lekat - lekat " gue ,, nggak tau "


" nah, mulai sekarang non harus meraba perasaan non sendiri.. "


" dia ganteng, kaya, tapi cuek... di type gue sih.. tapi ,, " Evelyn memainkan jarinya.


Landung tersenyum kini gadis itu tau benang bundet yang mengganjal hati nona mudanya.


" kalau non merasa nyaman, pertahankan dulu.. siapa tau nanti den kavi dapat hidayah "


" tau ah... pusing " Evelyn mengacak rambutnya frustasi.


" mau mandi non? nanti kita jalan - jalan " tawar Landung dan di balas dengan anggukan oleh Evelyn.


sekitar satu jam Evelyn telah selesai dengan ritual mandinya bersama Landung. rupanya art itu kini merangkap menjadi tukang pijat.


" elo ternyata banyak bakatnya ya ! " puji evelyn dengan kekehan


Landung hanya tersenyum sembari mengeringkan rambutnya,, gadis itu tampak serius menata rambut majikannya mulai dari mengeringkan sampai mencatok bahkan menata curly bagian ujung rambut persis seperti tukang salon.


setelah mengganti pakaian, Evelyn dan Landung lantas keluar dari kamar..


" mau kemana ? " suara bariton menghentikan langkah keduanya yang hendak keluar


" pergi " jawab Evelyn singkat


" siapa yang mengijinkan kamu pergi ? " tanya kavian dengan suara dingin.


Evelyn memutar bola matanya jengah " ya kali kemana - mana harus izin dulu "


" harus ! " jawab kavian


" ckkk,,, sok posesif bet ... " decak Evelyn dengan kesal.


kavian lantas mendekat ke arah istri mudanya. pria itu bersedekap dan menatap tajam gadis itu seperti hendak menelan hidup - hidup.


Evelyn menjadi gugup dan salah tingkah, gadis itu mengkode Landung untuk pergi namun tangannya di cekal oleh kavian.


" maaf non, sebaiknya besok saja kita jalan - jalan " usul Landung sembari menunduk


" tidak ada jalan - jalan ! " putus kavian dengan suara dingin.


Landung lantas membungkuk dan segera berlalu dari pasangan itu.


" ehh, mau kemana lo ? ishhh " Evelyn menghentakkan kakinya kesal. gadis itu lantas menoleh ke bawah dimana tangannya kini di genggam erat oleh kavian. tidak,, ini bukan adegan romantis seperti di film korea. lebih tepatnya genggaman tangan itu sangat kuat sehingga menimbulkan rasa nyeri di pergelangan tangan Evelyn.


kavian menarik tangan Evelyn lalu menghempaskan gadis itu ke sofa ruang tengah.

__ADS_1


" nggak usah kasar,, bisa kan ? " protes Evelyn memegangi tangannya yang terdapat bekas kemerahan.


" kenapa? sakitt ? itu belum seberapa sama perbuatan kamu kepada teman kamu ! " ketus kavian.


Evelyn memutar bola matanya malas, sepertinya percuma saja menjelaskan kepada pria dingin nan menjengkelkan itu.


" duduk yang tenang ! " titah kavian galak.


pria itu lantas masuk ke kamar Evelyn dengan di ikuti oleh Landung. Evelyn menautkan alis sembari menunggu apa yang pria itu lakukan di kamarnya. selang beberapa menit, kavian keluar dengan Landung membawa beberapa tumpukan buku paket dan buku tulis. sang art itu meletakkan semua buku itu ke atas meja.


Evelyn menoleh ke Landung bertanya dengan bahasa telepati, sedangkan Landung hanya tersenyum dan mengacungkan dua jempolnya.


" nilai apa yang paling buruk di sekolah ? " tanya kavian sembari membuka buku tulis


" nggak ada nilai yang bagus " jawabnya dengan enteng.


Landung membekap mulut untuk menahan tawa merasa gemas dengan interaksi keduanya.


kavian berdecak mendapati buku tulis Evelyn yang kosong melompong hanya ada beberapa coretan saja, itu pun hanya beberapa lembar. pantas saja, nilai pelajarannya hanya pas kkm.


" sekarang buka buku paket matematika nya " titah kavian dengan tegas.


Evelyn menurut, gadis itu membuka sebuah buku tebal berwarna merah muda.


kavian menerangkan materi paling dasar.


" bodoh " kavian menyentil kening Evelyn saat gadis itu menjawab dengan salah.


Evelyn mengerucutkan bibir lalu kembali menulis jawaban soal yang pria itu berikan. suasana menjadi hangat dan nyaman sesekali mereka tertawa kecil menertawakan kebodohan Evelyn..


Evelyn lantas menyodorkan jawaban yang di kiranya sudah benar. sudut bibir kavian terangkat melihat jawaban yang di tulis Evelyn. pria itu lantas melanjutkan materi berikutnya sesuai dengan kisi - kisi soal yang di berikan oleh guru mapel. mungkin selama dua jam mereka belajar sampai kavian naik ke atas untuk mengambil sesuatu.


" kamu kerjakan soal itu, saya harus menyelesaikan pekerjaan " ucap kavian sembari menatap layar laptop.


Evelyn menangguk dengan senyum kecil. tiba - tiba perasaannya menghangat mendapat perhatian kecil dari suaminya. Namum, perasaan hangat itu pudar kala melihat kakak madunya muncul. wanita itu rupanya baru pulang dari entah kemana bersama ibunya.


" mas " laura menghampiri kavian, wanita itu mencium kedua pipi dan bibir suaminya.


Evelyn menatap sengit saat astrid tersenyum mengejek ke arahnya. wanita tua itu sepertinya merasa senang sekali melihat madu putrinya itu terbakar api cemburu.


tak di pungkiri, ada sedikit sengatan yang menjalar ke ulu hatinya, melihat kemesraan yang di pamerkan oleh pasangan itu. tetapi Evelyn menepis cepat perasaan itu karena ia sendiri sadar diri dengan posisinya yang hanya menjadi istri kedua.


" ve,, " laura menampilkan senyum lembut ke arah Evelyn, tidak ada raut kemarahan atau kecemburuan di wajah cantik itu. melihat suaminya berduaan dengan madunya.


" belajar apa ? " laura mendekati Evelyn lantas duduk di sebelah gadis itu.


Evelyn tak menjawab, gadis itu menunduk dengan tangan mencoret - coret kertas kosong. lagi ngitung dia,,,


" mau ujian ? " tanya laura lagi,


Evelyn hanya mengangguk dengan tangan masih mencoretkan beberapa angka yang tersemat di kepalanya.


" dia itu nilainya buruk sekali hon ! " adu kavian melirik jengkel ke arah istri keduanya.


Evelyn mendelik sebal,, tak bisakah dia diam saja. kenapa pria itu harus membeberkan aib buruknya.


astrid melongok dengan senyum mengejek


" wah, mama ingat sekali kamu dulu itu juara kelas di sekolah.. nilai mu dulu diatas sembilan " pamer astrid melirik sinis ke arah Evelyn.


kavian tersenyum, pria itu mengusap lembut pipi istri tuanya merasa bangga tentunya. dan itu tak lepas dari pandangan Evelyn dan Landung.


Evelyn sudah tidak bisa berkonsentrasi, namun gadis itu masih berusaha untuk mengerjakan soal.


" kamu selain berbakat jadi pelakor,, punya bakat apa lagi ? " astrid bertanya sinis yang tak di gubris oleh Evelyn. gadis itu hanya mendengus masih tetap berkutat dengan soal .


" mihh " tegur laura, melayangkan tatapan memprotes.


astrid menggelengkan kepala " kamu seharusnya sadar diri Evelyn, kamu tak pantas bersanding dengan kavian.. jadi, sebaiknya kamu jauh - jauh dari menantuku "


Evelyn mengepalkan tangannya, namun dia mencoba untuk menahannya mengingat astrid punya kartu as untuk menjadikan kavian tamengnya.


astrid mendengus lama - lama wanita baya itu kesal karena omongannya tak di gubris sama sekali.


laura mengusap lengan Evelyn " kalau kamu giat belajar, pasti nilaimu bagus kok "


" hm " Evelyn hanya bergumam


" hon, aku ngantuk sekali... ayok kita tidur " rengek kavian manja. bahkan pria itu menyandarkan kepala di dada istrinya.

__ADS_1


Laura mengelus pipi mulus suaminya lalu mengecup dalam - dalam kening suaminya. " memangnya pekerjaannya sudah selesai ? "


kavian hanya mengangguk lalu menutup mulut saat menguap. laura lantas terkekeh lalu menarik tangan suaminya untuk bangkit berdiri.


Evelyn menoleh cepat ke arah suaminya dengan perasaan jengkel. padahal dia ini lagi semangat belajar malah mau di tinggal kelonan.. ckkk..


" gue gimana ? " sungut Evelyn memprotes.


kavian berdiri dengan tangan memeluk pinggang ramping laura " kita lanjutkan besok saja " ucapnya sambil berjalan ke arah tangga.


" pffftttt,,, hahahhaha " astrid tertawa puas melihat kekesalan Evelyn.


Evelyn mengepalkan tangan merasa sakit hati dengan ulah suaminya yang bak membopongnya tinggi ke ujung langit lalu menghempaskan tubuhnya ke dasar bumi membuat tubuhnya remuk sekaligus patah tulang.


mata Evelyn memanas menyaksikan kemesraan mereka berdua yang amat bucin itu,, hatinya bak tertimpa batu besar yang memenuhi dada terasa sesak dan ngilu. apakah dia cemburu? mungkin... karena dia sudah baper dengan statusnya.. gadis itu juga tak menampik kalau dirinya menginginkan perhatian tulus dari suaminya.


Evelyn mengusap sudut matanya yang basah. gadis itu berlari menaiki tangga,,berbelok ke kiri, berjalan cepat ke kamar adik iparnya. sudah kebiasaannya setiap hari ada saja ulah nya yang membuat shakty kesal. menurutnya, membuat cowok polos itu jengkel adalah hiburan tersendiri baginya.


" hon, apa kamu nggak terlalu keras dengan Evelyn ? " laura menunduk mengamati bibir suaminya yang saat ini melahap habis sebelah pucuk buah semangkanya.


kavian mendongak masih dengan bibir yang mengulum benda mungil itu " dia harus di beri pelajaran,, agar jera "


" sssh " laura mendesis merasakan ngilu dan geli bersamaan, tangannya terulur mengusap lembut kepala suaminya. wanita itu tersenyum kecil saat melihat mata suaminya yang perlahan terpejam..


di kamar lainnya, Evelyn tertegun melihat sang badboy yang terkenal berandal namun berhati polos itu sedang bersujud di atas sajadah.


Evelyn meletakkan buku paket di atas kasur, gadis itu mengamati lekat - lekat sosok sholeh yang mulutnya komat - kamit menggumamkan do'a. tiba - tiba hati Evelyn mencelus, tak terasa bulir bening menetes di pipi. baru kali ini ia merasa se kalut ini. di balik rasa sedihnya ada juga rasa bersalahnya yang jauh sekali dengan tuhan.


hati Evelyn terenyuh melihat shakty menengadahkan tangan untuk berdoa, cowok ganteng itu bahkan meneteskan air mata dengan mulut yang bergumam lirih membaca berbagai macam dzikir dan lafadz do'a. mungkin sekitar 15 menit dzikir dan do'a yang shakty panjatkan usai. cowok itu berdiri merapikan alat sholat dan melipatnya, setelahnya, cowok itu memasukannya ke dalam lemari kecil yang terletak di sebelah ranjang.


shakty terjengit kaget melihat Evelyn yang berdiri di belakangnya" kebiasaan bangat dah,, ngagetin " gerutunya dengan bibir manyun.


Evelyn malah merebahkan tubuh, tak menggubris gerutuan cowok itu


" ajarin gue sholat dong ! "


shakty melongo dengan wajah yang sangat menggemaskan membuat Evelyn terkekeh " gemes bet dah, pengin cium "


shakty bergidig " hihhh,, "


kali ini Evelyn tertawa keras melihat reaksi shakty yang layaknya bujangan polos itu.


" ngakunya badboy, ciuman aja kagak pernah "


shakty menoyor kening Evelyn " minta di ajarin sholat malah bahas mesum,,, dosa lo "


Evelyn memanyunkan bibir " sakit tau shak "


shakty tak menggubris, cowok itu memilih masuk ke kamar mandi entah mau ngapain.


mungkin sekitar 10 menit cowok itu keluar dengan tangan yang sudah basah " ngapain sih lo di kamar gue tiap hari? nggak boleh loh, cewek - cowok berduaan di kamar "


Evelyn merengut sebal lalu melempar buku paket ke wajah shakty.


bugghh


shakty mengusap dahi yang terkena lemparan, cowok itu melotot judes ke arah gadis yang sedang rebahan di atas kasur nya.


shakty memungut lalu mengerutkan kening memandangi buku paket warna merah muda itu.


" temenin gue belajar " ucap Evelyn menjawab kebingungan shakty.


shakty mendengus " males ah,, "


" nggak usah pelit, elo kan pinter.. kalau elo nggak mau ngajarin, entar gue cium.. mau lo ? " ancam Evelyn membuat shakty bergidig.


" kalau gue ngajarin gue dapet apa ? " tanya shakty menaikan satu alis


" dapet ***** " sahut Evelyn asal.


bugghh


" awwwss " buku paket itu melayang ke kepala evelyn.


rasanya kesal sekali mendengar ucapan vulgar dari gadis itu. walaupun ia tak mungkin melakukan hal tak senonoh itu, tapi yang namanya laki - laki normal bisa saja kapan - kapan akan tergoda. mengingat sepak terjang Evelyn yang gencar sekali menggoda imannya.


dengan perasaan kesal, Evelyn lantas bangkit berdiri. gadis itu mendorong tubuh shakty hingga terpentok ke tembok.


kebalik, ini ceritanya shakty yang di kungkung sama Evelyn layaknya seperti seseorang cowok yang mau melecehkan seorang cewek.

__ADS_1


shakty meneguk ludah kasar, jakunnya naik turun saat bibir Evelyn nyaris menyentuh bibirnya, pergerakannya terkunci karena Evelyn mencekal kedua tangannya di tembok.


" ajarin gue, atau gue cium ! " ancam Evelyn dengan mata yang sudah berkabut karena gairah.


__ADS_2