
" ayok cepat masuk ! " lika menyeret Evelyn ke dalam kantor polisi.
" lepasin ! gue nggak mau, gue nggak salah " Evelyn menabok tangan lika.
" DIAM ! " bentak lika, wanita itu mendorong Evelyn hingga menubruk meja kerja seorang polisi muda.
Seorang polisi muda yang rupanya sedang berada di mejanya sontak berdiri, menatap penuh kekesalan ke arah lika yang bertindak kurang sopan.
" maaf, bisa bicarakan baik - baik ?. sungguh kurang terhormat jika anda mengganggu kenyamanan pihak berwajib " tegur polisi muda itu dengan nada dingin.
lika tak gentar sedikitpun. wanita itu justru memasang wajah arogan seolah - olah, dihadapannya adalah seekor tikus.
" pak, dia seorang tersangka pembunuhan ! " telunjuknya ke arah Evelyn yang berdiri di sisi meja.
" bohong ! gue bukan pembunuh, gue akan cari buktinya " kilah Evelyn.
" ckkk, bukti apa? sudah sangat jelas kalau kamu pelaku yang mendorong ariel. dan sampai sekarang sampai batas waktu yang sudah di sepakati, kamu belum mendapatkan bukti itu " sahut astrid
" pak, gue cuma di kasih tiga hari buat nyari bukti, " adu evleyn meminta dukungan.
polisi muda itu memijit pelipisnya. di tengah kesibukannya yang menumpuk, dia harus di hadapkan dua wanita yang saling membela diri yang tak tahu entah masalah apa yang mereka hadapi. polisi itu menghela nafas menatap tajam kedua wanita beda usia itu dengan raut kekesalan.
" duduk ! " titahnya dingin
kedua wanita itu menurut, Evelyn dan lika duduk berdampingan berhadapan dengan sang polisi.
" bisa jelaskan baik - baik ? " tanya polisi itu menatap kedua wanita di hadapannya bergantian.
" perkenalkan saya lika "
Evelyn memutar bola matanya jengah, menatap julid wanita tua itu yang bertingkah genit.
pakpol muda itu hanya mengangguk
" saya mau melaporkan gadis ini " tudingnya ke sisi kepala Evelyn.
Evelyn menepis kasar telunjuk lika dari kepalanya. gadis itu melototkan mata galak seolah nggak terima di perlakukan seperti itu.
" atas kasus pembunuhan keponakan saya, ariel Wicaksono. " imbuh lika.
pakpol itu melirik ke arah monitor dan jarinya menekan tombol mouse untuk melihat data kematian yang tertera di layar komputernya.
" ariel Wicaksono, berusia tujuh belas tahun. pada pukul 22.30 jatuh dari ketinggian dua puluh meter. eumh, saat malam acara anniversary company grouop " tanya polisi itu memastikan.
lika mengangguk " iya benar, dan dialah pelakunya ! dia yang mendorong keponakan saya hingga jatuh dari lantai tiga " ucapnya menggebu - gebu.
Evelyn mengatupkan bibir, giginya gemeletuk, gatel banget pengin nyemprot wanita di sampingnya itu dengan kata - kata seblak nya.
sang polisi terdiam, tatapannya beralih ke arah Evelyn yang masih menatap jengkel ke arah lika.
" apa benar, nona ? " tanya pak polisi.
" enggak, " sahut Evelyn singkat.
" masih mengelak juga ya kamu ? " protes lika.
Evelyn tertawa sinis " gue udah bilang mau nyari bukti dan elo masih aja nyeret gue kesini. atau jangan - jangan elo takut kalau gue dapetin bukti itu? "
lika gelagapan " perjanjian kita tiga hari kan? dan ini sudah lewat tiga hari Evelyn ! " kilah lika.
" ckkk, susah ngomong sama nenek bangkotan. ngeyel kalau di ajak negosiasi " dumelnya membuat pak polisi itu terkekeh.
lika berdiri, menatap tajam ke arah Evelyn. rupanya wanita tua itu tak terima di katai wanita bangkotan.
" jaga mulut jelek kamu itu, enak saja ngatai saya nenek bangkotan " berang lika
Evelyn ikut berdiri " nggak terima ? nggak nyadar, muka elo udah keriput " tuding evlyn tepat di pipi lika.
brak !
" cukup ! " bentak pak polisi.
" duduk ! " bentak nya lagi.
kedua wanita itu saling melengos, mendudukkan pantat dengan badan saling memunggungi.
pak polisi memejamkan mata, menyentak nafas dengan kasar, menatap penuh kekesalan ke arah dua wanita yang sama - sama menyebalkan.
" saya memang nggak berada di tkp malam itu, dan saya juga nggak menyelidiki kasus ini karena itu di anggap kecelakaan oleh pihak pemilik gedung. tapi, kalau memang kejadiannya seperti apa yang bu lika katakan, maka saya akan mengusut tuntas kasus ini " terang pak polisi.
lika menyunggingkan senyum, membalik tubuh menjadi menghadap sang polisi " iya, memang harus begitu pak harus di usut tuntas dan pelakunya sudah saya dapatkan sekarang tinggal bapak masukan pembunuh ini ke dalam penjara "
sang polisi menggeleng " tidak bisa seperti itu bu, anda juga harus mempunyai bukti kuat "
kening lika mengerut " bukti apa ? putri saya saksinya kok "
mata sang polisi memicing " katanya di lokasi tkp hanya ada gadis ini dan keponakan anda ? . lalu kenapa putri anda ada di sana ? "
Evelyn menjulurkan lidah ke arah lika, membuat wanita itu mengumpat lirih
" makanya, jangan asal nuduh ! " ketus Evelyn.
" siapa yang asal nuduh ? memang kamu kan pelakunya? siapa lagi hah? kamu kan yang saat itu ada disana ? dan putri saya hanya kebetulan lewat " kilah lika
sang polisi memijit pelipisnya merasa jengah dengan mereka berdua yang kerap sekali bertengkar
__ADS_1
÷÷÷
kavian berlari tergesa - gesa setelah mendapat kabar dari pak Amrul, bahwa lika bersama bawahannya menyerang kediamannya.
dan di ruang tengah, para art nya sedang berkumpul dan ada astrid juga disana.
" mih "
" k.kav, mamih takut " adunya, memeluk menantunya.
Landung yang masih terduduk sesenggukan, sontak mendongak. gadis itu menatap jengkel ke arah astrid yang seolah - olah wanita itu teraniaya, padahal wanita itu hanya menjadi penonton saja.
kavian menatap satu persatu yang ada di ruangan itu, kening kavian mengkerut saat tak menemukan dua istrinya.
" laura mana ? " tanyanya ke astrid
" dia pergi pemotetran " jawab astrid
kavian mendengus sebagai jawaban, pria itu lantas beralih menatap ke arah beberapa art nya yang saat ini duduk berselonjor di tikar ruang tamu.
" apa mereka yang melakukannya ? " tunjuk kavian ke arah wajah Amrul dan Landung yang terkena luka "
" iya mas, maafkan saya karena tidak bisa menjaga rumah ini. mereka ada banyak mas, jadi saya nggak bisa meladeni " pak Amrul menunduk dengan mata yang kembali memanas, pria itu mengutuk dirinya karena tak berdaya menjaga amanah dari majikannya.
kavian berdecak, pria itu lantas menuju ke kamar yang terletak di ruang tengah.
" mas kavi, non Evelyn di bawa perempuan itu sama orang - orang badannya besar, non Evelyn di siksa sama mereka.. huhuhuuhu" adu Landung sembari tergugu. gadis itu menutup wajahnya dengan telapak tangan.
tangan yang hendak memegang handle pintu jadi urung saat mendengar pernyataan Landung barusan.
" ya tuhan " kavian memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri. pria itu lantas merosot ke lantai, belum juga masalah perusahaannya selesai, kini dia harus di hadapi masalah lain.
" ini semua gara - gara gadis itu," ucap astrid.
" maksud nyonya apa? non Evelyn juga korban nyonya " bela Landung.
" tau apa kamu Landung ? " bentak astrid, wajahnya terlihat kesal, nggak terima kalau ada yang membela Evelyn.
" dia gadis berandal, gadis yang kasar, mungkin saja memang dia yang sengaja mendorong ariel " imbuh astrid.
Landung mengepalkan tangannya, gadis itu hendak berbicara, namun urung karena Amrul yabg berada di sampingnya dengan gesit membekap mulut Landung.
kavian tak meladeni kegaduhan orang rumahnya, pria itu menatap ke langit - langit sambil berfikir jalan keluar.
krringgg
kavian tersentak dari lamunannya, cepat, pria itu menarik diri dan berlari ke arah meja. dimana sebuah telepon gagang bergetar dan berbunyi nyaring. pria itu menyambar telepon dan meletakkannya ke telinga.
" hallo " sapa nya
" iya benar, saya suaminya " jawab kavian.
" kami dari pihak kepolisian, ingin menyampaikan bahwa saudari evelyn telah di dakwa sebagai pelaku pembunuhan. mohon kepada bapak sebagai wali untuk segera datang ke kantor polisi di jalan Y untuk kami mintai keterangan lebih lanjut " jelasnya.
kavian mengepalkan tangannya, gigi pria itu gemeletuk menahan amarah yang sedari tadi membendung di kepalanya. nggak tahan sama sesuatu yang menyesakkan dada dan ingin meledak, kavian membanting telepon ke lantai untuk melampiaskan kekesalannya itu.
brakkk !
semua yang berada di ruangan, menatap ngeri ke arah sang majikan yang terkenal menakutkan dikala mengamuk itu. bahkan bik siti memegangi dadanya yang nyeri, nyaris jantungan.
kavian tak memperdulikan keterkejutan para pembantunya. pria itu berjalan menuju ke arah pintu dengan langkah lebar.
kavian menuju ke parkiran mobil, masuk ke salah satu mobil kesayangannya dan menyalakan mesin mobil. Dengan sangat terampil, kavian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
kalau mengendarainya dengan laju sedang, mungkin sampai memakan waktu empat puluh lima menit, tapi dia lagi marah dan terburu - buru, jadilah dia mengendarai dengan laju kencang dan sampai di kantor polisi tepat sepuluh menit perjalanan.
kavian berjalan lebar dengan tatapan lurus dan tajam, wajah tampannya yang putih menjadi sedikit memerah karena pria itu lagi ngampet kekesalan.
mata kavian semakin menatap elang saat matanya bertubrukan dengan lika yang tersenyum sinis ke arahnya. tatapan kavian beralih ke seorang bodygoard berbadan tinggi yang duduk di sebelah lika, menatap penuh kemarahan ke arah bodygoard yang kavian yakini sudah membuat keributan di kediamannya.
" saya tidak akan melepaskan kalian, jika terbukti pihak kalian yang bersalah ! " ancamnya dengan jari menuding.
lika tertawa kecil disertai gelengan " tidak akan " ucapnya yakin.
kavian tak menggubris. matanya bergerak lagi, lalu berhenti tepat di sebuah lorong dimana di jarak sepuluh meter sana, istri mudanya sedang duduk memunggunginya.
kavian menarik nafas panjang, menatap penuh dendam ke arah lika sebelu melangkah menemui istrinya.
" anda wali dari saudari terdakwa? " tanya seorang polisi muda bername tag Arthur
kavian mengangguk dengan sorot mata dingin dan wajah datar. kavian lantas duduk di sebelah Evelyn setelah Arthur mempersilahkannya.
" maaf, dengan saudara siapa? " tanya pak arthur.
" kavian elvano albuzer "
tangan yang hendak mencoretkan tinta ke atas buku sontak terhenti. Arthur mendongak dengan tatapan yang sulit di artikan.
" kavian ? " gumamnya,
kening kavian mengerut, pria itu lantas menatap lamat - lamat polisi muda yang familiar itu.
" kau ? "
Arthur tertawa kecil " kau lupa denganku ? "
__ADS_1
kavian terdiam sejenak, berpikir keras siapa gerangan pria yang berada di hadapannya. kavian melotot lebar saat mengingat sepenggal cerita masa SMA
" kamu si culun itu, Arthur? iyakah? " tanyanya seolah tak percaya.
bibir Arthur mencebik, merasa kesal karena temannya itu mengingatnya sebagai pria cupu yang lemah.
" ckk, " decaknya.
kavian terkekeh " kau sudah banyak berubah ya ? " wajah yang semula dingin menghangat, kala tau seorang polisi muda itu adalah teman lamanya.
" ya harus dong, aku nggak mau di tindas terus, giliran aku yang menindas " sahutnya dengan seringaian iblis.
kavian tertawa renyah dan itu menulat ke arah Evelyn. kavian berhenti tertawa dan menatap datar ke arah istri mudanya. " masih berani tertawa kamu " galak nya.
bibir Evelyn membekap mulut, menatap sebentar kepada suaminya yang menatapnya judes.
mendengar suara tawa kavian, lika mengerutkan kening, wanita itu melongok ke dalam dan didapati dua pria muda nan tampan itu sedang mengobrol ringan.
enggak sabar ligat Evelyn di masukkan ke bui, lika beranjak berdiri menghampiri mereka bertiga yang saat ini malah asyik melempar candaan.
" pak polisi, kenapa gadis itu belum di masukkan ke penjara ? " protes lika
" seperti yang saya katakan tadi bu lika, anda juga harus menyerahkan bukti valid untuk menguatkan tuduhan anda kepada pihak terdakwa " sahut pak polisi enteng.
lika mengepalkan tangan, melirik sebentar ke arah Evelyn yang tersenyum meledek. kaya' puas banget dapet dukungan dari si polisi.
" LEPASIN !"
suara teriakan yang mengalihkan perhatian ke empat orang itu. mereka serempak menoleh ke belakang, dan di dapati Shakti sedang menarik paksa tangan cindy. di belakang shakti ada ke empat temannya yang menarik fitri.
lika melotot lebar, wanita itu reflex memundurkan badan hingga terpentok ke tembok.
kavian, dan Evelyn ikut berdiri, pasangan suami istri itu tersenyum lebar dengan penuh kelegaan. kecuali Arthur yang kelihatan bingung karena nggak mengerti dengan apa yang terjadi.
" saya dapat buktinya " ucap shakti lantang.
brukkk
shakti menghempaskan tubuh cindy , membuat gadis itu terdorong ke lantai
" aws " ringisnya memegangi lututnya yang tergores.
Shakti merogoh ponselnya, menarik benda pipih itu dan mengotak - atiknya dengan jemari panjangnya. shakti berjalan maju, tepatnya ke arah meja Arthur dan meletakkan ponselnya di atas meja itu.
Arthur menunduk, menatap awas layar ponsel yang memutar video yang berdurasi panjang. Arthur mendongak menatap wajah Evelyn yang mengarahkan pandangan tajam ke arah layar itu.
Evelyn memejamkan mata, merasakan sesak nya dada yang kembali menyusup. gadis itu menghela nafas panjang, merasa lega karena terkuaknya bukti tak bersalahnya terpangpang nyata di hadapan pihak berwajib.
" jadi, disini gadis ini adalah korbannya ? " tanya Arthur menuding ke arah Evelyn.
" iya " shakti yang menyahut.
tatapan Arthur beralih ke arah lika yang membuang pandangan
" bisa tolong jelaskan bu lika, kenapa anda menuduh korban sebagai pelaku ? apakah sebenarnya anda tahu kronologi kejadiannya ? " tanya Arthur dengan tatapan penuh selidik.
lika gelagapan. wanita itu menggeleng keras. lidahnya menjadi kelu hanya sekedar mengucap sepatah kata.
" b,bukan seperti itu pak polisi, saya hanya... "
" dia dalang semuanya pak polisi " potong shakti
kening Arthur mengkerut, " kenapa bisa begitu "
" saya punya satu bukti lagi " shakti mengkode fitri untuk mendekat.
" jan gagap lo, gue potong lidah elo entar " ancam haikal
" gue cabut gigi lo ampe ompong semua " imbuh iqbal.
fitri yang notabennya berhati polos dan lugu percaya saja kalau mereka benar - benar akan melakukan itu. fitri bergidig ngeri, membayangkan giginya rontok semua dan menjadi bisu.
tubuh cindy dan lika menegang, keringat dingin bercucuran di sela kulitnya saat fitri mengambil aba - aba hendak bersuara.
dengan lantang dan keras serta satu tarikan nafas, fitri kembali menceritakan semuanya. Arthur menyimak dengan seksama, sesekali polisi muda itu mencatat point pentingnya.
" jadi, kamu di suruh oleh seseorang untuk membawa evelyn ke balkon untuk menemui ariel ? " tanya pak polisi
fitri mengangguk cepat" iya pak, dia yang nyuruh saya bawa mbak evelyn ke balkon " tunjuk fitri ke arah cindy.
tatapan Arthur beralih ke arah cindy " benar begitu ? "
cindy melengos, gadis itu enggan menyahut. tangan cindy menyilang tak memperdulikan Arthur yang masih menatapnya penuh pertanyaan.
" jawab ***** ! " kesal shakti.
" iya " sahut cindy ketus.
" niat awal kamu menjebak Evelyn agar mau menemui ariel, dan melecehkannya serta merekamnya untuk di sebar luaskan agar menjadi viral, benar begitu ?" tebak Arthur
cindy mengangguk samar, toh percuma mengelak, semuanya sudah terbongkar.
" dari video yang barusan saya lihat, Evelyn berusaha membela diri dan tanpa sengaja ariel terjatuh ke bawah balkon " arthur terkekeh. pria itu menatap geli ke arah lika dan cindy yang nggak ada rasa bersalahnya sedikitpun.
" maling kok teriak maling " celetuk arthur mengundang gelak tawa ruangan.
__ADS_1