Bukan Salahku Menjadi Madu

Bukan Salahku Menjadi Madu
eps. 39


__ADS_3

visual lengkap pemain bisa kalian lihat di instagram ismi_khadriyah ya. jan lupa di follow juga.


aksen menelisik setiap penjuru bangunan bergaya Eropa di depannya. matanya bergerak liar mengamati rumah mewah itu yang tampak sepi karena jam menunjukkan pukul setengah enam pagi yang mana semua manusia di bumi masih melakukan aktivitas di dalam rumah. hanya ada beberapa kendaraan yang berlalu lalang.


" kamu tinggal disini ? "


astrid mengangguk, tangannya bergerak melepaskan sealtbeltnya " iya, ini rumah menantuku. "


" menantumu seorang pebisnis ? "


" iya, dia seorang pebisnis" jawab astrid


aksen manggut - manggut " siapa dia? eumh maksudku siapa namanya. mungkin dia salah satu rekanku "


" namanya kavian elvano albuzer. dia Presdir dari albuzer grup " terang astrid


mata aksen setengah melebar, namun detik berikutnya dia berusaha bersikap setenang mungkin.


" kau mengenalnya ? " tanya astrid saat melihat raut yang tak biasa dari aksen


" siapa yang tak mengenal owner albuzer grup. perusahaan ternama dan terbesar di ibukota " sahut aksen.


astrid tersenyum simpul " ya memang, putriku sangat beruntung"


" aku masuk dulu ya ! " tangan astrid terulur membuka knop pintu mobil.


aksen mengaangguk " can i see you another time, astrid ? "


" why not " sahut astrid antusias


aksen melebarkan senyum. pria itu melambai saat astrid melangkah masuk ke dalam gerbang. pria itu menatap astrid tak berkedip, mengikuti punggung wanita itu sampai hilang di balik gerbang.


aksen mengepalkan tangan dengan rahang mengetat, matanya menatap tajam ke arah bangunan eropa bercat putih itu. detik berikutnya lelaki itu melesatkan lamborgininya dari kediaman albuzer.


" siti, bikinin gue bekel ya " titah Evelyn


bik siti mengangguk, wanita itu menunduk saat Evelyn berjalan ke arahnya mengambil sepotong paha ayam yang masih berada di penggorengan.


" shakty kalau pagi minum susu nggak ? " tanya Evelyn di sela mengunyah.


" i.. iya non, susu full cream yang di kulkas. tapi di angetin dulu " jawab bik siti tanpa menoleh.


Evelyn menyilangkan tangan di dada " elo masak rendang ? "


bik siti mengangguk


" mana ? " tanya Evelyn.


"di wajan itu " telunjuk bik siti ke arah wajan yang tertutup.


Evelyn melangkahkan kaki menuju ke arah teflon berisi rendang itu. " cuma astrid yang makan rendang nya? atau pasangan suami istri itu ikut makan? "


kening bik siti mengkerut mendengar Pertanyaan nona mudanya " maksudnya den kavi sama non laura ? "


Evelyn berdecak " ya iyalah, siapa lagi emang ? "


" engggh, kayaknya si enggak non, soalnya mereka berdua kalau pagi cuma makan pake telur dadar kalau enggak ya makan roti sama selai nanas kadang keju kadang coklat, seringnya si sandwich terus sosis goreng, nasi goreng, nasi uduk, nasi eumh apalagi ya " jelas bik siti panjang kali lebar kali tinggi.


Evelyn tak menggubris ocehah bik siti. Gadis itu meninggalkan bik siti yang masih nyerocos menyebutkan menu yang biasa di santap pasutri bucin itu.


Evelyn menyeringai, tangannya terulur membuka hidangan olahan daging sapi itu. kepalanya celingukan melirik ke kanan dan ke kiri. lalu melirik bik siti yang masih saja nyerocos bahkan menjelaskan sampai ke menunya orang bule. detik berikutnya gadis itu menuang lima sendok garam ke menu rendang itu.


bik siti mengatupkan bibir saat ternyata tak menemukan nona mudanya. wanita itu celingukan dan mendapati nona mudanya ternyata berdiri di depan kompor.


bik siti melongok, mengintip apa yang tengah gadis itu lakukan. matanya melebar saat melihat Evelyn menuang beberapa garam.


" non ! "


Evelyn menoleh kebelakang, matanya menajam kala mendapati bik siti yang berdiri menatapnya penuh selidik.


" awas kalau ngadu. abis lo " Evelyn membuat gerakan tangan seperti menebas leher.


bik siti meneguk ludah kasar. kepalanya perlahan mengangguk. mengikuti apa saja perintah para majikannya.


Evelyn tersenyum smirk matanya menatap tajam ke arah bik siti yang menatapnya takut. gadis itu meninggalkan dapur seraya bersiul riang.


÷÷÷


shakty mengerutkan kening saat melihat segelas susu di atas mejanya.


klek


kepalanya menoleh ke arah pintu, dimana Evelyn berdiri di sana dengan seulas senyum tipis.


evelyn mendekat , gadis itu menatap lekat wajah segar kekasihnya yang masih mengenakan kaos dan kolor. baru mandi dia,,


" susunya belum diminum ? "


shakty menoleh ke arah meja dimana segelas susu itu masih terisi penuh.


" makasih " ucapnya seraya menunduk balas menatap tatapan Evelyn dengan tatapan lembut.

__ADS_1


" abisin dong ! " rengek Evelyn


shakty mencubit hidung mancung Evelyn " iya entar, siap - siap dulu sana ! mau berangkat kan ? "


Evelyn mengangguk " iya entar. "


alis shakty meliuk membuat Evelyn terkekeh.


" kan belum cium " sahut Evelyn dengan Ibu jari mengusap bibir shakty


shakty memutar bola mata, jengah dengan otak mesum kekasihnya yang setiap hari selalu kumat.


cup !


Evelyn mencuri ciuman di bibir. gadis itu nyengir kuda saat shakty melayangkan tatapan tajam.


shakty mendengus, jarinya mendorong kening Evelyn saat gadis itu hendak menciumnnya kembali " di bilangin jan asal nyosor. keluar sana !" omelnya dengan berkacak pinggang.


" belum puas tauk, cium dulu deh. entar aku keluar " nego Evelyn mengerjapkan mata lucu.


shakty menggeleng " no baby, "


Evelyn berdecak " cuma sedetik aja "


shakty tetap menggeleng, bocah itu melangkah menuju ke lemari besar untuk mengambil seragamnya.


Evelyn menghentakkan kakinya kesal. tangannya menyilang dengan posisi duduk di atas kasur mengamati shakty yang kini menyisir rambut.


shakty menyunggingkan senyum, melirik sekilas lalu masuk ke dalam walk in closet untuk memakai seragam.


" kok susunya di minum ? " protes shakty saat Evelyn menenggak segelas susunya dan menyisakan setengah.


Evelyn mengkode shakty untuk mendekat. sialnya, dengan polosnya cowok itu menurut mendudukkan pantat di sebelah Evelyn.


Evelyn mendorong tubuh shakty ke atas kasur , dengan gerakan kilat gadis itu menindih perut shakty. Evelyn mencengkeram bibir shakty membuat bibir merah muda dan mungil itu sedikit terbuka.


Evelyn menunduk, mencium bibir itu dan mentransfer susu yang masih berada di mulutnya ke mulut shakty.


mata shakty melotot sempurna dengan jantung bersalto - salto bahkan berkayang - kayang. susunya masih berada di mulutnya bahkan sampai menetes ke dagu.


Evelyn menyeringai " Telen ! "


shakty hendak bangkit, namun dadanya di tekan oleh Evelyn. gadis itu kembali mencium bibir shakty.


glekk


mau tak mau berkat dorongan bibir Evelyn, susu yang masih berada di mulut itu langsung terjun ke tenggorokan. Evelyn masih berada di posisi yang sama menindih dengan bibir yang menempel. gadis itu bahkan tak tahu malunya, menjilat dan menggigit bibir cowok di bawahnya.


sekuat tenaga, shakty mendorong tubuh Evelyn lalu membalik posisi menjadi shakty yang berada di atas. bocah itu menatap tajam Evelyn yang malah cengengesan tanpa aib.


" sekali lagi kamu kayak gitu. detik itu juga gue kurung di kandang ayam " omelnya dengan dada naik turun. marah, malu, salting, dan ya, susah di jelaskan. persis seperti rasanya seorang gadis yang direnggut paksa keperawanannya.


Evelyn terkekeh, tangannya terulur mengelus rahang shakty " lo normal nggak si ? "


kening shakty mengkerut. gemas Evelyn mengecup singkat rahang putih cowok itu.


" di cium kan enak, di gr*p* juga enak. di kasih enak malah ngamuk. lo jantan bukan Si? " ledek Evelyn dengan senyum tengil


shakty menyentil bibir Evelyn " susah ngomong sama otak bebal. yang ada bikin jantungan terus. pakek ngatain nggak normal lagi. ckkk, awas aja kalau udah gue kawinin gue bikin elo nggak bisa bangun " omelnya lagi.


Evelyn tertawa kecil " gue nantikan moment itu. "


shakti menutup bibir Evelyn saat gadis itu mencoba menciumnya kembali. shakti menarik diri memilih melangkah keluar kamar, daripada nantinya khilaf. jangan salah, bukannya dia nggak normal seperti kata Evelyn. dia cuma mencoba yang namanya menekan hawa nafsu. Karena nggak ingin terus meleburkan diri ke lubang dosa.


dia sendiri nggak bisa menjamin suatu saat nanti akan khilaf, mengingat sepak terjang evelyn yang terus mencoba mengoyak imannya.


" awas aja ya. gue bikin elo ketagihan. " dumel Evelyn menatap jengkel ke arah shakti yang perlahan menjauh.


÷÷÷


astrid merebahkan tubuh nya di atas sofa. wanita itu menoleh, saat putrinya menuruni tangga. astrid tersenyum tipis melihat betapa eloknya duplikat dari wajah cantiknya yang sebenarnya tak menurun darinya.


namun, bagi astrid laura sudah seperti nyawanya. kelembutan dan kebaikan gadis itu menjadi alasan dia tetap bertahan berada di dekat wanita cantik itu. walaupun garis besarnya dia bertahan karena kemewahan dan harta berlimpah yang disuguhkan.


" mamih baru pulang ? " laura mendudukkan pantatnya di samping astrid.


" iyah, badan mamih pegel semua nih. " sahut astrid seraya memijat tengkuknya.


laura menelisik penampilan astrid yang agak sedikit berbeda. wajah sedikit pucat dan mata sedikit menghitam menandakan wanita itu kurang tidur. tatapan laura terfokus ke leher wanita baya itu dimana ada beberapa bercak merah yang tercetak jelas.


laura bersedekap, menatap datar ibunya " mamih menginap dimana semalam? "


" di rumah teman, kenapa ? " dusta nya


" teman yang mana? " laura memicingkan mata


astrid membenarkan posisi duduknya, wanita itu agak salah tingkah di intimidasi oleh putrinya " teman lama. eumh.. teman semasa high school "


" pria atau wanita ? " tanya laura kepo


astrid tertawa, lalu menepuk pundak laura " kamu kenapa sih, tumben kepo banget " tanya astrid mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


laura mendengus jarinya menuding ke arah bercak merah itu " ini apa? nggak mungkin itu di gigit nyamuk. aku bukan anak paud yang bisa mamih bohongi.. mamih making love? dengan siapa? ayo cepat katakan ! "


astrid meneguk ludah dengan susah payah.. namun ibarat sudah terlanjur basah, lebih baik berendam sekalian


" eumh,, teman.. kami baru kenal dan yah, dia lelaki yang gagah.. mamih nggak bisa menolak pesona pria itu " akunya seraya tersenyum simpul


" kalau pria itu penyakitan gimana? mamih jangan lah asal celap celup. kita tinggal di negara timur yang menjunjung tinggi nilai agama dan adab. " omel laura


astrid menyunggingkan senyum " sudah lah, lagi pula kami berniat serius "


laura terkekeh " mamih ini lucu sekali ya. mana ada laki - laki yang mau berbuat serius hanya dengan alasan menghabiskan satu malam. jangan bodoh mih.. cepat katakan,, lelaki brengsek mana yang sudah meniduri mamih. "


astrid mendengus " jangan sok berlagak suci laura. lihat dirimu ! kamu tak jauh berbeda denganku. dia pria yang lembut dan baik. mamih tidak mungkin salah menilai orang. huh, "


mata laura melotot " mih ! "


astrid bangkit berdiri, dengan langkah kesal, wanita itu meninggalkan laura yang sudah berkaca - kaca matanya.


laura menatap tak percaya kepada ibunya, wanita yang selalu berkata lembut, bahkan tak pernah sekalipun berkata kasar. lalu apa itu tadi? wanita itu bahkan tega memakinya hanya karena lantaran membela lelaki yang baru saja dikenal.


÷÷÷


suasana ruang makan tampak hening bahkan lebih hening dan sepi dari kuburan. Evelyn melirik ke arah dua wanita yang makan dalam diam dengan wajah menekuk.


Evelyn lantas melirik ke arah shakty yang duduk di sebelah nya yang juga mengatupkan bibir, fokus dengan makanannya sendiri.


" istri tua ! " celetuk Evelyn


laura menoleh dengan kening mengkerut " ada apa ? "


" kavian mana ? " tanya Evelyn. ekor matanya melirik shakty yang melirik tajam ke arahnya.


laura menenggak minumnya " belum pulang.. lagi dinas di luar kota " jelasnya lalu kembali menyantap makanannya.


Evelyn membulatkan bibir, gadis itu melirik ke arah astrid yang saat ini menuang rendang. gadis itu menunggu dengan was - was, reaksi astrid setelah menyendok rendang itu.


" uhukkk .. uhukkk " astrid segera menyambar air nya saat merasakan rasa aneh dari daging sapi itu.


laura sendiri hanya melirik tak berniat bertanya, wanita itu rupanya masih kesal dengan sikap astrid.


" SITIIII " seru astrid lantang.


" mampus ! " gumam siti saat merasakan hawa mencekam dari panggilan astrid


dengan langkah pelan, siti menghampiri astrid di ruang makan " ada apa ya nyah ! " ⁿ


" apa ini ? " tanya astrid menunjuk piring berisi rendang.


" itu rendang nyonyah " sahut siti polos. namun ekor matanya melirik ke arah Evelyn yang menatapnya tajam


" saya tahu bodoh !.. " berang astrid.


bik siti pura - pura memasang wajah bingung" terus kenapa ya ? "


" kenapa rasanya asin sekali ?.. kamu mau membunuh ku ? " bentak astrid


cepat bik siti menggeleng. astrid lantas menjejalkan sesendok rendang ke mulut bik siti.


mata bik siti melotot. detik berikutnya, wanita baya itu ngacir menuju ke wastafel.


" uhuk - uhuk.. uwekk.. uweekk.. "


astrid mendengus, wanita itu menatap tajam ke arah Evelyn yang terkekeh.


" ini pasti perbuatan kamu kan, pelakor sialan ? " berang astrid


Evelyn memasang wajah julid, tak menanggapi cerocosan astrid. memilih menyantap sarapannya dengan tenang.


" jawab ! kamu kan pelakunya, kamu kan yang sudah menaruh garam satu kilo ke rendang saya ? " bentak astrid.


Evelyn berdecak " jangan asal nuduh. punya bukti nggak? " kilah Evelyn. karena memang dia nggak naruh garam satu kilo. hanya lima sendok. ckk.


" siapa lagi kalau bukan kamu, hah? " sungut astrid masih kekeuh dengan tebakan nya.


laura membanting sendok lalu menatap tajam ke arah ibunya " cukup !,, mamih nggak bisa nuduh tanpa bukti yang valid. mungkin bik siti memang lupa memasukkan garam terlalu banyak " sergah laura dengan nada tinggi.


" kamu membela pelakor itu ? " sungut astrid.


laura memijit pelipisnya yang serasa berdenyut " mih, aku nggak membela siapa - siapa.. aku cuma nggak suka kalau mamih menuduh orang tanpa bukti seperti itu "


astrid bangkit berdiri, wanita itu mendorong kursi cukup kencang hingga menimbulkan. derit nyaring " kamu akan menyesal laura ! " ucap astrid sebelum meninggalkan ruang makan.


laura memejamkan mata, merasa kesal sekali dengan ibunya itu. bisa - bisanya wanita itu berkata demikian menyakitkan terhadapnya.


shakti menoleh ke arah Evelyn menatap penuh curiga terhadap gadis itu.


" kamu kan pelakunya ? " bisik shakti


" cium dulu, entar gue jawab " sahut Evelyn menarik turunkan alis.


" ogah " sahut shakti sewot

__ADS_1


Evelyn terkekeh, gemas gadis itu meenjewer pipi shakti " gumush nya ! "


shakti memutar bola matanya jengah, memilih menghabiskan makanannya dari pada meladeni otak mesum kekasihnya.


__ADS_2