
Tadi malam sudah kerasa mules dan muncul kontraksi teratur, badan laura juga sudah lemas. Flek darah sudah keluar, jadi Kavian segera melarikan istrinya ke rumah sakit.
Semua keluarga menunggu dengan was - was dan hati berkecamuk. pasalnya, laura nggak mau melahirkan secara normal karena itu membuatnya harus menunggu berjam - jam untuk pembukaan lengkap. Merasa nggak kuat sama rasa sakitnya, laura mengamuk minta caesar. Dokter Fadli mendengus, menatap kesal Laura yang ngereog dan berteriak - teriak.
" Bagaimana dok, apa boleh langsung caesar saja ? " Tanya kavian yang khawatir dengan wajah pucat istrinya.
Dokter fadli bertolak pinggang, Menggeleng dengan memejamkan mata. dia ngampet kesal sedari tadi jadi dia mencoba mengontrol emosi agar amarahnya enggak muncrat.
" Tuan albuzer yang terhormat, Ibu laura sudah pembukaan tujuh. Kondisinya juga sehat, baik janin maupun ibu janin. jadi saya tidak mau ambil resiko melakukan operasi caesar karena bisa membahayakan pasien. dan jika anda dan bu laura kekeuh minta operasi, silahkan pindah ke rumah sakit lain " Terang dokter fadli meninggalkan ruangan.
Kavian meneguk ludah, melirik sebentar ke arah istrinya yang tergugu dengan tubuh meronta. Kasihan sih, tapi dia juga mempertimbangkan penjelasan dokter.
Kavian melangkah mendekati ranjang, mengelus rambut istrinya dengan lembut.
" Tahan yah, kamu harus kuat berjuang untuk anak kita "
" Dari awal aku udah nggak mau hamil hon. dan sekarang ini akibatnya, anak ini membuat hidupku berantakan. mau keluar saja bikin aku menderita " Sungutnya
" LAURA " Bentak kavian. menatap tajam istrinya
Bibir laura bergetar mendapat bentakan suaminya.
" K.kamu nggak lihat, aku menderita seperti ini? "
" Oh ya tuhan " Kavian memijit pelipis yang berdenyut.
Rini melangkah masuk dan di ikuti Evelyn. saat mendengar pertengkaran itu. mereka menatap kecewa wajah muram laura.
" Ra, do'anya yang baik yah. kamu itu sedang berjuang antara hidup dan mati, jadi nggak baik ngomong kaya' gitu. Kamu yang tenang, tarik nafas dalam dan keluarkan perlahan. Tidurnya miring ke kiri biar bayi kamu cepet nemu jalan "
Laura menurut saat tubuhnya di miringkan oleh rini.
" Kamu ngelus punggungnya " Ketus rini, menatap sebal kavian.
Kavian menghela nafas lega, mengikuti arahan ibunya untuk mengelus punggung istrinya, sesekali mengecupi pipi istrinya.
" Mbak, tarik nafas " Ujar Evelyn saat melihat laura meringis.
Laura menggeleng " Enggak kuat ve, " Bergetar bibirnya.
" Suster " Teriak Evelyn dan rini
" Aarghhh " pekik laura seraya mengejan.
tiga orang suster berlari ke ruang rawat laura. memeriksa bagian bawah tubuh laura. salah satu bidan tangannya terulur, tepatnya memeriksa area itu.
" Ngapain kamu ? " Ketus laura
" Periksa pembukaan buk " sahut suster bername tag eka.
" Kenapa tangan mu di masukin. nggak sopan sekali kamu " Ketus laura.
Suster eka mendengus " Ya memang seperti itu buk caranya kalau mau periksa pembukaan.dan pembukaannya sudah lengkap tinggal ketubannya yang belum pecah " terangnya.
Rini tersenyum canggung " maaf ya sus "
Suster eka mengangguk, berlalu dari ruangan.
" Lah kok pergi " protes Evelyn menatap heran punggung ketiga suster.
" Mau ambil peralatan medis dulu " rini yang menyahut.
" Kamu disini ya kav, mamih dan Evelyn tunggu di luar "
Kavian mengangguk tanpa menoleh, bibirnya sibuk melafadskan bermacam dzikir dan do'a.
Selang beberapa menit, ketiga suster itu masuk ke ruangan beserta peralatan medis untuk bersalin.
Salah satu suster menyingkap daster yang Laura kenakan dan memasang underpad dibagian bawah pantat laura. Dokter eka mengganti sarung tangan, lalu mengarahkan alat ke perut untuk mendeteksi detak jantung janin.
Tangan dokter eka terulur, menuju ke bagian inti laura.
Prott
" Ketubannya sudah pecah ya buk " Ucap suster eka.
Laura mengangguk. menarik nafas dan mengambil aba - aba untuk mengejan.
" Engghhh.. aaarghhh " laura mengejan, mengangkat pinggul ke atas.
" kepalanya sudah kelihatan buk, pinggulnya jangan di angkat " Titah suster eka.
" eengggghhh,, aaarghhh "
" Tarik nafas dulu, mengejan yang panjang ya buk. yang kuat ngejannya, kepalanya udah keluar separuh "
" huffftt... "
Kavian mengelap satu laura yang berkeringat, terus melafadskan dzikir sembari mengawasi prosesnya.
" Eeenggghh... aaaargghhh " Lolongan panjang laura menggema di ruangan.
__ADS_1
Prott
" Oooeee... Oooeee... " Suara tangis bayi laki - laki memenuhi ruangan.
" Hah.. hah "
" Alhamdulillah " Kavian meraup wajah dengan kedua tangan. tersenyum lega, menatap haru wajah laura yang pucat dan berkali - kali menghembuskan nafas. tersengal - sengal.
Bayi yang terus menangis itu segera di letakan di dada laura. sedang para suster itu sibuk membersihkan tubuh laura
" Hallo jagoan " Ucap kavian mengelus pipi chubby si bayi
Laura menunduk, tersenyum kecil saat si bayi tak kunjung mereda tangisnya. dan detik berikutnya bayi itu diam karena mengemut ibu jari sendiri.
" Buk, tolong bayinya di susui ya untuk menstimulasi keluarnya asi " Jelas dokter eka.
Laura terdiam, mengamati bayi nya yang masih sibuk mengemut jari. Dari awal sudah niatan mau ngasih sufor ke anak jadi dia masih bergeming, enggak menuruti perintah suster.
" Sayang " Tegur kavian saat sepersekian menit laura masih bergeming.
Dokter eka mendekati ranjang " Maaf ya buk, bayinya mau di timbang dan di mandikan dulu " mengangkat si bayi.
÷÷÷
Haikal menatap sengit wajah darrel yang udah mirip badut, babak belur dengan cetakan lebam kebiruan di wajah tampannya.
Pak kusno sendiri masih merapatkan bibir, tatapan kecewa terarah kepada putri sulung dan calon mantunya.
" Kenapa kalian tak bisa bersabar ? padahal pernikahan tinggal menghitung bulan." Tanya pak kusno setelah sepersekian menit hening
" Maaf pak, hana khilaf " Lirih hana.
" Pak, jangan salahkan hana. ini salah aku " Sambung darrel.
" Ya jelas salah elu. pasti elu kan yang mepedin hana terus sampek dia mau di ajak kawin sama elu " Sungut haikal
Darrel menunduk dengan wajah pias. malu banget karena dia udah nyebabin anak orang ternodai. tetapi hatinya tetap bersorak gembira karena dengan begitu, pernikahan sudah berada di depan mata.
Pak kusno memijit pelipisnya. menatap kedua remaja itu bergantian. Pikirannya jadi menerawang ke masa lalu, dimana dia dan ayu juga seperti itu, melakukan hubungan terlarang sebelum halal. Pak kusno justru menyalahkan diri dan menganggap kesalahan hana adalah buah dari kesalahan yang ia perbuat dulu.
" Mungkin ini karma untuk bapak " Gumam pak kusno
" Pak " Tegur hana
" Bapak enggak salah kok, hana yang salah "
Pak kusno menggeleng, bulir bening berangsur menetes membasahi pipi
" Besok Kita ke semarang, ke kediaman abah zayyin. Kalian harus segera menikah " Bangkit berdiri dan berlalu masuk ke kamar.
Haikal jarang melihat bapak bersedih apalagi terlihat murung seperti itu. jadi dia merasa ikut tercubit karena tak bisa menjaga hana.
" Puas lo ? " Sungut haikal
" Kal " Bentak darrel.
" Aargghh. Mimpi apa gue " Haikal mengacak rambut frustasi. cowok itu juga berlalu pergi. empet banget lihat pasangan itu.
Darrel menatap sendu wajah ketekuk hana, tangannya terulur untuk meraih telapak tangan hana. mencium punggung tangan gadis itu cukup lama.
" Aku janji bakal tanggung jawab, sayang ! "
Hana mendongak " Tapi kita udah kecewain mereka rel "
Darrel memejamkan mata sebentar " Iya aku tahu. Tapi jujur aku nggak bisa nahan diri. aku terlalu mendamba kamu, dan itu nggak ada penawarnya. dan penawarnya sayangnya cuma satu, kamu muasin aku. aws " Ringis darrel saat pahanya di cubit.
" Dasar tai... " Kesal hana
Darrel terkekeh, tangannya bergerak menjawil pipi chubby hana.
" Salah siapa nggemesin gini "
Hana mengerucutkan bibir, kali ini menabok lengan darrel. " Kamu nya ajah yang mesum "
" Dihh, ngatain mesum. tapi di celup ke' enakan " Elak darrel
Hana melotot
" Hana, masuk kamar ! " Teriak haikal di dalam kamar. tak tahu saja kalau haikal mendengar percakapan mereka berdua.
Tangan yang melayang di udara jadi terhenti.
" Pulang sana ! " Usir hana pada akhirnya.
Bibir darrel mengerucut. dengan enggan dia berdiri
" Anterin ke depan " Rengeknya.
Hana memutar bola mata jengah, menurut saja mengekor langkah darrel keluar.
Di halaman rumah, darrel melongok ke dalam, celingukan ke kanan dan ke kiri untuk memastikan keadaan lengang.
__ADS_1
Darrel menarik lengan hana, membawa gadisnya ke samping kebon.
" Ngapain ? " Bisik hana
Darrel tersenyum manis, kepalanya bergerak maju.
Cup
Darrel mengecup bibir hana. sedikit menyesapnya kuat.
" Rel " Pekik hana, mendorong dada darrel
Darrel tertawa " Makasih. Buat penghantar bobok. enggak bisa bobok soalnya kalau enggak cium kamu "
Hana memalingkan wajah. semburat merah tercetak jelas di pipinya. bukan pertama kali ciuman, tapi dia ngerasa salting kalau dekat - dekat dengan darrel. jantungnya pun sudah meledak - meledak seperti bom.
÷÷÷
" Ooeee... Oooeee "
Evelyn terbangun saat mendengar suara tangis melengking. tepat tujuh hari bayi kavian terlahir. Bayi laki - laki dengan berat lahir 3.9 kilogram dan panjang 51 cm. Dan sudah di beri nama Kayfama Daeland Albuzer .
Evelyn membuka pintu kamar yang memang di peruntukan khusus untuk bayi kavian. tepatnya kamar baru yang belum lama di bangun. Evelyn mengangkat tubuh gembul kay, mengecup pipi chubby bayi gendut itu.
" Kamu Laper yah ? " Tanya Evelyn.
Evelyn keluar kamar dengan menggendong Kay. Menuju kamar ibu kay yang ternyata tertutup. mungkin tiga kali ketukan, pintu baru dibuka oleh laura.
" Ada apa? " Tanya laura
" Kay nangis, kayaknya dia laper atau haus " Sahut Evelyn menimang kay dalam gendongan.
Laura mendengus
" Tutiiiii " Seru laura kencang.
Tuti yang rupanya berada di bawah sontak naik ke tangga, membungkuk saat sudah di hadapan nona mudanya.
" Iya non "
" Kamu budeg ya? Anakku nangis kok nggak dengar. Bisa kerja nggak sih kamu ? " Sungut laura.
" Maaf non, tuti habis dari toilet " Tuti menunduk dalam
" Di kamar kay kan ada toilet, kenapa kamu pakai acara turun ke bawah ? " Ketus laura.
" Maaf non " Sesal tuti.
" Mbak, kay di susui dulu nih. Kasian " Tegur Evelyn
" Tuti, bikinin sufor, cepat " Galak Laura
" Mbak " Protes Evelyn.
" Udah sana ! bawa ke kamar aja. mbak ngantuk " Menutup pintu setelah mengatakan itu.
Brakk !
Evelyn menghela nafas, tak habis fikir dengan tingkah kakak iparnya yang cenderung malas mengurus kay, bayi lucu itu.
" Tunggu apa lagi, cepetan sana bikinin sufor " Ketus Evelyn karena sedari tadi tuti masih berdiam.
" Non eve, Dede kay nggak mau minum sufor " Terang tuti, menunduk takut.
Evelyn menaikan alis " Kok bisa ? terus dari kemarin di kasih apa ? "
" Di kasih sufor tapi ogah - ogahan non, terus juga pup nya keras jadi aku enggak tega non. udah ganti - ganti merk tapi nggak ada yang cocok "
" Ya allah " Evelyn menatap wajah kay yang terlelap di dekapan Evelyn. berarti bayi itu kekurangan nutrisi selama tujuh hari ini.
" Kenapa enggak ngomong sih, tuti " Kesal Evelyn
" Udah non, udah ngomong sama non laura tapi non laura cuma jawab cari merk lain yang cocok. pas aku bilang di kasih asi malah non laura marah - marah " terang tuti.
" Gilaaa " Evelyn menggeleng. Kembali tak habis fikir dengan kakaknya itu.
" Seneng bikinnya, ngurusnya nggak mau. sinting emang " gerutu Evelyn sambil berjalan ke kamar.
Evelyn merebahkan kay di kasurnya. namun kay langsung menangis kencang.
" Eh, perasaan gue udah keluar asi deh " Gumam Evelyn.
" Apa enggak papa yah kalau di kasih ke kay ? " Gumamnya lagi.
Hati Evelyn terenyuh saat lidah kay melet - melet. " Kasihan banget sih kamu "
Evelyn membuka kancing daster, mengeluarkan sebelah dada dan menyodorkan ke mulut kay. Evelyn tersenyum kecil saat dengan kencang, kay menghisap nutrisi dari tubuh Evelyn. bunyi hisapan juga terdengar keras.
" Pantesan rewel terus, orang enggak di kasih makan. Dasar laura sinting " Kesal Evelyn
Mungkin sekitar setengah jam menyusu, kay tertidur pulas. dengan sangat hati - hati, Evelyn meletakkan kay di kasur. memeriksa popok dan menggantinya yang baru. Evelyn tersenyum kecil, memandangi wajah damai kay, bayi tanpa dosa yang di sia - sia.
__ADS_1
Evelyn merebahkan badan di samping kay, mengelus pipi bayi malang itu dengan lembut.
" Nanti aunty bilang ke daddy mu ya, biar bunda mu di hukum karena udah jahat sama kamu " Gumamnya.