
" siti... mana dagingnya ? " seru astrid berkacak pinggang menatap kesal wajan penggorengan berisi ayam kecap
siti mengerutkan keningnya, " lahh,, itu daging nyonya... "
" bayi juga tau kalau ini daging " sahut astrid berkata sewot
bik siti jadi menggaruk sisi kepala nggak mudeng sama yang dimaksud nyonya besan.
"terus daging apa nyonyah ? "
" daging sapi, beef, atau lainnya.. selain ayam kecap. bosan saya lihatnya " omelnya lagi,
" tapi,, ayam kecap kesukaannya mas shakty nyah sama non Evelyn " terang bik siti
" berarti Mulai besok, kamu masak jatah untuk shakty aja. ini kebanyakan,, mubadzir " titah astrid galak.
" tapi nyah,,, " protes bik siti nggak setuju..
" nggak ada tapi tapi,, mau saya pecat ? " ancam astrid menatap tajam bik siti.
bik siti menunduk, memainkan serbet di tangan. tak berani menyahut karena tau diri. dia nggak ada hak untuk memutuskan ataupun mengelak.
" saya mau rendang ,,, cepet masak sekarang ! nggak pakek lama ! " titahnya galak . lalu melenggang pergi begitu saja.
bik siti melongo. apa katanya tadi ? rendang ?. diwaktu yang sesingkat ini? sangat lucu kalau orang kaya seperti mereka sarapan dengan menu rendang. bik siti menggeleng dengan senyum mengejek kepada wanita itu yang tak lagi muda namun gayanya selangit.
suasana ruang menjadi sepi tanpa kehadiran rini dan efras. mereka berempat duduk berpasangan dengan saling berhadapan. kavian dan laura duduk bersebelahan, sedangkan Evelyn duduk bersebelahan dengan shakty. astrid sendiri duduk di kursi yang biasa di duduki oleh efras. seolah dialah sang penguasa kediaman itu.
Evelyn mengedar pandang ke arah menu masakan di atas meja, dia mengamati satu persatu, mencari lauk kesukaannya yang biasa dia santap di pagi hari. wajahnya menekuk kala tak mendapati menu itu.
Tak berselang lama, bik siti datang menghampiri meja makan, meletakkan piring berisi satu potong paha ayam di depan shakty
kening Evelyn mengkerut " kok, cuma satu ? " protesnya memandang penuh pertanyaan kepada bik siti.
bik siti meneguk ludah melirik astrid yang kini melotot tajam kearahnya. " m..maaf non tadi ayamnya yang dipasar habis.. sisa ini,, paha satu "
shakty jadi mendongak menatap tak percaya penjelasan siti " masa' ? "
bik siti mengangguk pelan kembali melirik astrid yang saat ini menyunggingkan senyuman.
" makan yang ada ! " titah kavian dengan nada dingin.
bibir Evelyn mengerucut, bocah itu lantas menyambar tempe goreng. Karena memang dia itu nggak suka sayuran, apalagi daging sapi.
astrid sendiri mengambil daging sapi yang di tumis di campur dengan jamur. wanita itu tersenyum puas saat lidahnya mencecap rasa nikmat dari olahan daging sapi itu.
" nih buat lo ! " shakty menyodorkan piring yang berisi ayam kecap itu.
Evelyn menggeleng, gadis itu memilih menyuap nasi dengan lauk tempe tanpa minat.
" ya udah kalau nggak mau " shakty kembali menarik piring nya.
" eumhh, nyam nyam nyam... " pamernya ke arah Evelyn, menggigit ayam kecap itu dengan rakus.
Evelyn memutar bola matanya malas.alih - alih tergiur, gadis itu justru merasa jijik dengan bocah jail itu. evelyn lantas mendorong kursi ke belakang, melenggang pergi begitu saja. meninggalkan makanannya yang masih sisa setengah.
shakty terkekeh, bocah itu menjulurkan lidah ke arah Evelyn yang menatap jengkel kearahnya.
Evelyn memasuki mobil dengan membanting pintu keras - keras. moodnya hari ini buruk sekali, hanya perkara ayam kecap. setiap pagi memang dia sarapan pake ayam kecap, garis keras. karna dia sendiri nggak suka daging selain ayam. baik sapi, kambing, kecuali ikan dan seafood.
" ishh... ngeselin " omelnya sendiri memukul jok mobil.
" hey , pelakor !! keluar kamu " seru astrid menggedor - gedor kaca mobil.
" apa sih ? " ketus Evelyn.
" turun kamu !,, nggak saya ijinkan kamu menaiki mobil mantu saya... cepat keluar " teriaknya masih menggedor mobil.
Evelyn berdecak lantas mendorong pintu mobil dengan kasar membuat astrid terdorong dan terjungkal ke belakang.
" arrrgghh " pekik astrid memegangi pinggangnya.
" ckkk... drama " decak Evelyn menatap jengkel ke arah wanita paruh baya itu yang masih terduduk di lantai parkiran.
" kurang ajar kamu ! " berang astrid
Evelyn menginjak tangan astrid membuat wanita itu mengerang kesakitan
" diem,, gue patahin tulang kropos lo sekalian,, mau ? " ancam Evelyn.
bersamaan dengan itu, kavian terlihat berjalan ke arahnya.
__ADS_1
pria itu tergopoh - gopoh menghampiri mertuanya yang masih terduduk di lantai sambil memegangi pinggangnya.
" mihh,,, " kavian memapah astrid untuk bangkit berdiri.
" Evelyn ! kamu sengaja ya dorong saya ? kurang ajar kamu ! " berang astrid menatap nyalang ke arah remaja di depannya yang malah terlihat santai.
Evelyn menaikkan satu alis, dengan tangan bersedekap. gadis itu diam tak menyahut ataupun mengelak.
sontak saja, kavian menatap tajam ke arah Evelyn " apa yang kamu lakukan Evelyn? kamu mendorong mamih ? "
" enggak " akunya datar
" bohong kav,, dia tadi dorong mamih. awwss.. pinggangku " rengeknya dramatis mengusap pinggang dengan wajah meringis
" minta maaf " titah kavi, galak.
Evelyn terkekeh " lo nyuruh gue minta maaf atas kesalahan yang nggak gue lakuin?.. lo waras ? "
" kau !,,, " geram kavian melayangkan jari telunjuk tepat di depan wajah Evelyn.
" apa ? " tantang Evelyn menatap tajam ke arah suaminya.
" cepat minta maaf Evelyn ! " kavian membentak dengan mata memerah karena marah.
" cihh, nggak sudi.. gue lebih milih jalan ngesot dari pada minta maaf sama dia " telunjuk Evelyn dengan dagu.
kavian mencengkeram lengan Evelyn membuat gadis itu meringis merasakan nyeri dan ngilu. dan bisa di pastikan kalau lengannya membiru.
" minta maaf sekarang ! atau saya lempar kamu ke jalanan. biar jadi gembel !" ancam kavian
Evelyn menekan lidah ke pipi gadis itu membuang muka menyembunyikan matanya yang memanas.
" sudahlah kav,, nanti kamu terlambat. mungkin Evelyn nggak sengaja " astrid mengelus bahu kavian bermaksud meredakan amarah menantunya, walaupun dalam hatinya bertepuk tangan gembira merasa puas telah menyulut kebencian di hati menantunya kepada istri mudanya.
" astagah,, hufft " kavian bertolak pinggang dengan kepala menengadah ke atas. berusaha sekuat tenaga meredam amarah yang sudah sampai ke ubun - ubun.
÷÷÷
triinggg trinnggg
akibat perdebatan menyebalkan itu, Evelyn jadi terlambat datang ke sekolah. gadis itu melangkah lebar dengan raut wajah dingin.
Evelyn berdecak saat pintu ruang ujian telah tertutup rapat. Evelyn menegakkan tubuh, perlahan memasuki ruang ujian dengan wajah dibuat sesantai mungkin.
pak edward dan bu Anggia melotot tajam ke arah evelyn karna gadis itu masuk nyelonong tanpa permisi atau embel - embel maaf. Sedangkan Evelyn terlihat acuh, melempar asal tasnya ke pojok ruangan paling belakang
" kenapa terlambat ? " tanya pak edward dengan nada dingin. saat Evelyn telah mendarat di bangnkunya.
Evelyn mendengus. dia sudah menebak pasti guru itu akan menegurnya.
" selendang dari kayangan gue di curi jaka tarub, jadi nggak bisa terbang " kelakar nya mengundang gelak tawa.
" apa yang kalian tertawakan ? kalian pikir ini lucu ? " bentak pak edward membuat semua murid merapatkan bibir
" mau lanjut ujian nggak? kalau enggak, gue mau ngopi di kantin " imbuh Evelyn membuat suara yang hendak di lontarkan pak edward menguar di udara.
Livya sampai terpingkal- pingkal memegangi perutnyam gadis itu bahkan menendang menendang kaki kursi yang di duduki Evelyn. semua murid tak bisa menahan tawa saat melihat pak edward yang udah mencak - mencak ******* - ***** angin dengan wajah geregetan.
bu Anggia menggelengkan kepala seraya terkekeh. wanita itu memilih diam dari pada ikut berbicara, yang pada akhirnya dia akan kesal sendiri karena Evelyn selalu saja menimpali tatarannya.
suasana kembali hening, karena mereka kembali fokus mengerjakan ke soal ujian. Evelyn menyunggingkan senyum saat mendapati soal - soal itu tak jauh berbeda dengan materi yang ia pelajari beberapa hari ini. walaupun dia agak bodoh, nyatanya gadis itu mampu menguasai materi yang sungguh - sungguh ia tekuni. karena ada pepatah, akan bisa jikalau terbiasa.
÷÷÷
" mau kemana mih? "
astrid menoleh dengan tangan menenteng tas kecil
" mau keluar sebentar sayang "
kening laura mengerut " kemana ? "
astrid tersenyum, tangannya meraih potongan apel yang di sodorkan oleh laura " nggak tau, mungkin salon atau nongkrong ke cafe "
" dihh kelakuan,, nggak inget umur !" gerutu laura dengan mulut penuh mengunyah apel.
astrid terkekeh, tangannya mencubit pipi kembung putrinya.
" bosen tau,, di rumah nggak ngapa - ngapain, "
" kan ada aku di rumah "
__ADS_1
" kamu kerjaannya di kamar terus,, nggak bisa di ajak ngobrol, cuma sekali ini kok, yah " bujuknya astrid dengan mengerjapkan mata.
Laura mendesah dengan pandangan yang di alihkan " aku kan udah nggak ngasih jatah bulanan ke mamih.. memangnya mamih punya uang?"
astrid merogoh tas kecilnya, lalu mengacungkan sebuah kartu berwarna hitam yang biasa di sebut black card.
mata laura membola " mamih dapet darimana ? dari mas kavi?"
astrid mengangguk cepat membuat laura berdecak " please mih,, aku nggak suka mamih hambur - hamburkan uang mas kavi "
astrid memutar bola matanya jengah " suamimu nggak akan miskin hanya karena sekadar untuk belanja yang nggak seberapa.. "
laura berdecak." coba lah, mamih contoh mamih rini, sederhana, hemat dan bersahaja. nggak neko - neko. nggak keluayuran kayak mamih "
" itu karna dia kampungan, nggak ngerti gaya hidup orang kaya. dia malah milih bergaul sama orang miskin. " sungut astrid tak terima dibanding - bandingkan dengan besannya
" mih,, jangan coba - coba katakan itu di depan mas kavi.. atau mamih akan tau sendiri akibatnya " peringat laura dengan jari menunjuk.
wanita itu lantas melenggang pergi meninggalkan ibunya yang menatapnya kesal.
" dasar anak bodoh, dikasih hidup enak malah milih banting tulang,ya hemat lah, sederhana lah. nggak habis fikir sama pemikiran anak jaman sekarang " gerutu astrid sambil berjalan.
Landung menatap heran kepada nyonya besan nya saat berpapasan. wanita mencak - mencak dan ngomel - ngomel sendiri . landung menempelkan telunjuknya miring, di dahi.
÷÷÷
Evelyn menghentakkan kakinya kesal, karena sedari tadi mobil jemputan nya belum terlihat datang. gadis itu menepuk kening saat menyadari kalau sang sopir sedang menemani mamih mertuanya ke london. entah sang bodygoard itu akan kembali ke indonesia atau menetap disana bersama mertuanya.
Evelyn meniup - niupkan angin di mulut, tangannya bertolak pinggang, memutar otak bagaimana caranya ia kembali ke rumah.
" belum pulang ? " tanya seorang cowok dibelakangnya.
Evelyn menoleh, wajahnya menekuk saat menyadari ternyata si cowok itu adalah darrel. Evelyn tak menyahut, gadis itu malah pergi begitu saja meninggalkan darrel seorang diri.
darrel menundukan kepala. menahan sesak yang memupuk di dada dengan sejuta penyesalan yang sangat terlambat. dua tamparan keras tak akan bisa termaafkan hanya dengan satu kali kata maaf ataupun beribu kata maaf. sampai saat ini pun lidahnya terasa kelu hanya untuk sekedar berucap kata maaf. ia hanya bisa merenungi penyelasan dan memandangi gadis itu dari kejauhan.
" ay " darel menatap malas ke arah gadis yang berhambur memeluk lengannya posesif. raut wajahnya berubah dingin dan Datar.
" pulang bareng ! " ajaknya manja
darrel menggigit bibir atas memutar otak agar bisa terhindar dari ular betina itu.
" nggak bisa cin, gue ada ujian seleksi lomba olimpiade bulan depan " alibi darrel, tangannya perlahan melepas genggaman cindy di lengannya.
bahu cindy melemah " yah,, kemaren kayak gitu... sekarang masak mau tes lagi.. nggak capek apa tes terus ? "
darrel tersenyum masam " ya,, ya memang gitu kan aturannya biar bisa lolos seleksi "
bibir cindy mengerucut membuat darrel mengalihkan pandangan dengan bibir menjep. alias bibir julid. alih - alih merasa gemas. bocah tampan itu justru merasa geli.
" anterin ! capek nunggu taksi " rengeknya manja meletakkan dagu di bahu darrel.
darrel memejamkan mata, menahan kesal karena gadis itu tanpa rasa malu mengumbar kemesraan di hadapan teman - temannya. yang mana menurutnya, itu sangat tidak sopan meskipun status mereka adalah tunangan. beberapa temannya terlihat mulai berbisik dan mulai memperhatikan keduanya.
" please ! " rengeknya lagi mengerjapkan mata . yang menurut darrel itu tampak seperti boneka anabelle. menyeramkan dan menyebalkan.
darrel mengangguk malas membuat cindy terlonjak girang. bahkan gadis itu mempererat pelukan di lengan darrel.
Evelyn menggelengkan kepala dengan seringai sinis menyaksikan adegan live keromantisan dua remaja yang aslinya tak patut di contoh di lingkungan sekolah karena masih ada Guru yang berlalu lalang.
Evelyn mencekal bokong motor haikal saat motor bocah itu melaju pelan didepannya. posisinya di depan gerbang, jadi motor yang lewat pasti berhenti lebih dulu kalau mau nyabarang ke jalan raya.
" anterin pulang ! "
ini bukan permintaan ya, tapi perintah ! itulah yang ada di benak haikal.
haikal celingukan ke kiri dan kekanan " shakty kemana? belum pulang ? "
Evelyn hanya mengangguk pelan. tatapannya mengedar ke parkiran yang mana motor gede shakty masih terpakir cantik disana, jarinya lantas menuding ke arah motor gede itu.
haikal menggaruk tengkuknya. kalau nggak diturutin, dia yakin bakal kena sial sepanjang hari. " tapi gue ada urusan ! nggak langsung pulang.."
" ikut " jawabnya datar.
haikal menghela nafas. kalau udah kayak gini, gimana cara nolaknya? cowok itu akhirnya mengangguk pelan " kuy ! "
Evelyn menarik sudut bibir, dengan perlahan gadis itu menaiki motor jadul haikal yang mana joknya udah sobek dengan busa sedikit menyembul.
haikal memegangi dadanya merasakan degupan jantungnya ber kayang - kayang. entah mimpi apa semalalam, sehingga bisa berada sedekat ini dengan makhluk tercantik se antero 99.
tanpa rasa canggung, tangan Evelyn bergerak memegang sisi perut haikal membuat cowok itu megap - megap merasakan sesak nafas karena saking geroginya.
__ADS_1