Bukan Salahku Menjadi Madu

Bukan Salahku Menjadi Madu
Bukan Penawaran


__ADS_3

Mobil SUV berwarna putih yang Darrel bawa berhenti di parkiran gedung mewah dua lantai bergaya Eropa.


" Shak " panggil haikal.


Shakti menoleh dengan mata yang sudah berkaca.


" Elo masuk dulu. gue nanti nyusul " sahut Shakti dengan suara serak.


Darrel dan haikal beradu pandang. menghela nafas dengan tatapan iba.


" Elo ngintil ke sini buat nemuin mamih rini kan? mending elo ikut turun ngomong dari hati ke hati pasti mamih ngerti kok " usul haikal.


Shakti menggeleng, menjatuhkan bulir air mata saat tertunduk " kalian masuk aja dulu. kasihan mamih astrid "


Astrid menepuk pundak shakti " Aku akan coba ngomong sama jeng rini "


Shakti mengulas senyum, melambai tangan saat ketiga orang memasuki kediaman.


" Mas,, "


Shakti menoleh saat pak Amrul menggedor kaca mobil.


Shakti melongok di jendela kaca mobil, menampilkan senyum jahil seperti biasa.


" Tak tinggal sebentar uban bapak udah nambah " celetuk shakti.


Pak Amrul terkekeh, menggetok pelan kepala majikannya dengan gagang tongkat miliknya.


" Kenapa nggak masuk mas ? "


Shakti tersenyum tipis, menunduk menyembunyikan matanya yang kembali berkaca " Entar kalau gue udah jadi pengusaha sukses. gue pasti dengan jumawa masuk ke rumah ini "


Pak Amrul mencelus hatinya, bibirnya tetiba kelu saat hendak melontarkan sahutan.


" Do'ain ya pak. nanti aku kesini mau pamer Bugatti " Imbuhnya, tertawa saat pak Amrul tergelak.


" Honey " Evelyn berlari kecil, nyelonong masuk ke dalam mobil tanpa memperdulikan keberadaan pak Amrul.


" Sayang, ngapain kesini? kalau mas kavi liat gimana? " Shakti celingukan dengan wajah panik.


Evelyn tak menggubris, menempel dengan erat bagaikan seekor lintah yang menempel di kulit.


" Mamih rini kaya' nya enggak marah loh. yuk masuk ! " bujuk Evelyn.


Shakti tersenyum tipis membenarkan poni rambut Evelyn yang udah pendek.


" Kamu potong rambut ? " shakti mengalihkan pembicaraan.


Evelyn mengangguk cepat, memainkan kancing kemeja shakti.


" Ayok masuk ! " bujuk Evelyn, ngitung benik.


Shakti menggigit bibir, menunduk memperhatikan jari evelyn yang sibuk di kancing kemejanya.


" Aku takut " lirih shakti


Evelyn memepedkan tubuh melirik sebentar ke arah pak Amrul yang udah putar badan memunggungi pasangan permen karet itu.


Evelyn mengecup bibir shakti. tersenyum saat shakti mendelik memprotes.


" Ada aku. mamih rini nangis terus loh dari pagi " adu Evelyn.


Shakti memainkan rambut Evelyn, menatap dalam - dalam manik mata bulat yang selalu membuatnya menggila. dia mencintai Evelyn tanpa syarat, tanpa pertimbangan. dan jikalau dia harus melepaskan cinta itu tentu saja tidak ada yang namanya penawaran sekalipun dengan iming - iming kembali ke rumah besar. Mamih rini memang menyayangi nya, tapi enggak menutup kemungkinan kalau ibunya itu akan melakukan trik tengil seperti yang wanita itu lakukan kepada kakaknya.


Shakti bergeming, masih dalam pertimbangan. tiba - tiba tangannya di tarik paksa oleh Evelyn berjalan menaiki undakan dan melangkah masuk ke dalam.


" Mih " Laura bangkit dari sofa, saat tiga orang masuk beriringan.


" Ra " sapa astrid


" Mamih kok enggak ngomong kalau mau kesini? om Damian mana? enggak ikut ? " Tanya laura celingukan


Astrid menggeleng, mendudukkan pantat di sofa.


" Bik buatin minuman yah " teriak laura.


" Jeng astrid " Sapa rini yang baru keluar dari kamar.


" Jeng rini " sahut astrid beranjak berdiri.


" Gimana kabar jeng astrid ? " tanya rini, cipika Cipiki dan berpelukan .


" Loh ada haikal dsn darrel juga ? " heran rini


Haikal dan darrel berjabat tangan, tersenyum saat rini mengusap puncak kepala keduanya.


Mereka berbincang - bincang ringan sesekali bergurau.


" Jadi mamih mau tinggal di sini? " tanya laura memastikan, setelah mendengar maksud kedatangan astrid.


Astrid mengangguk,


" Tapi kenapa ? bukannya jeng Astrid sudah menikah dan mempunyai tempat tinggal? " rini bertanya dengan wajah bingung.


Astrid bergeming, matanya memanas saat mendengar sebutan suami dari rini. suami yang sayangnya berhati Dajjal dan mana mungkin ia sanggup berlama - lama hidup dengan sosok iblis itu.


" Mih " Laura menarik tangan astrid yang terdapat luka lebam.


" Ini kenapa ? " tanya laura dengan wajah terkejut.


Astrid mendesah, menarik pelan tangannya dari genggaman laura " Ini alasan kenapa mamih mau tinggal disini. suami mamih sering memukul mamih, bahkan... bahkan... " Astrid menunduk tak bisa melanjutkan kata - katanya karena tenggorokan nya tercekat.


Laura menutup mulut yang terbuka sedangkan rini melotot dengan wajah yang sama terkejutnya dengan laura.


" Mih, tolong ijinin mama astrid tinggal di sini ya ? " mohon haikal.


Kalimat yang haikal lontar kan justru membuat rini bingung, pasalnya keduanya tidak pernah ketemu mengapa terlihat seperti akrab. dan apa katanya tadi? mama astrid.


Rini semakin pening kepalanya mendapati kejutan - kejutan tak mengenakan yang menimpa keluarganya.


" Mamih kapan datang? " terlihat dari tangga, kavian turun.


" Kav " astrid bangkit berdiri berlari dan memeluk menantunya.


Kavian menautkan alis, agak heran dengan tingkah mertuanya yang seperti ketakutan dan meminta perlindungan denganya.

__ADS_1


" Kenapa mamih nangis? dan apa ini? " Kavian membolak - balik wajah astrid yang masih terdapat luka lebam.


" Maafkan mamih sayang " astrid sssenggukan dan membuatnya kian bingung saja.


Kavian mengagruk tengkuk, menuntun mertuanya untuk duduk di sofa.


" Ayok cerita dulu ! "


" Mamih di KDRT om Damian hon " adu laura.


Kavian menautan alis, agak aneh karena mertuanya kerap sekali umbar kemesraan dan rasanya tak mungkin kalau kena kdrt suaminya yang terkesan smooth and sweet sikapnya itu.


Tetapi melihat luka yang tercetak di beberapa bagian tubuh mertuanya, jelas sekali kalau wanita itu mendapat KDRT.


" Sayang ! " Shakti menepis tangan Evelyn yang masih gencar menariknya masuk.


Kavian seketika tegak berdiri, menatap tajam kedua remaja yang main tarik - tarikan.


" Berani sekali kau masuk ke rumah ini, Setan kecil " berang kavian.


Evelyn mendelik kesal. tangannya berkacak pinggang dengan dagu terangkat.


" Denger yah, kavian elvano ! berhubung mamih rini udah pulang jadi Shakti juga harus pulang " sahut Evelyn galak


Rini menutup mulut, berlari ke arah si bungsu dan langsung merengkuh tubuh kurus putranya.


" Sayang " gumam rini dengan mata Tsunami air mata.


Shakti tak sanggup berkata - kata. cowok itu bahkan sama pilunya dengan ibunya. shakti sesenggukan dengan bahu bergetar. semua orang nyaris meneteskan air mata, melihat anak dan ibu itu di pertemukan. kecuali kavian yang langsung melengos saat matanya nyaris berkaca.


" Sayang, anakku " rini memindai tubuh shakti yang sekarang jauh lebih memprihatinkan. kulit gelap, tubuh kurus, agak dekil dan enggak terawat.


Rini meremas dadanya yang terasa terbakar menyaksikan kenelangsaan si bungsu.


" Kenapa kamu begini sayang, kamu enggak makan? " rini mengusap pipi shakti yang basah.


Shakti hanya bisa menunduk dan tak berani menatap ibunya.


Kavian geram, melangkah lebar dan menarik paksa tangan rini.


" Jangan sentuh ibuku dengan tangan motormu Shakti "


" Kav " pekik rini memprotes ucapan kavian yang begitu nyelekit sampai ke ulu hati


" Mih, sejak kapan keturunan albuzer menjadi seorang pezina? bersentuhan dengan wanita yang bukan mahramnya adalah dosa besar " Ucap kavian.


" cihh, kaya' elo suci aja. sok menghakimi perbuatan orang. kalau salah ya di tegur bukan di kucilkan " sewot Evelyn.


" Diam ! ini semua pasti gara - gara hasutan kamu gadis sialan ! " berang kavian dengan jari menuding


" Mas ! " seru shakti dengan dada naik turun. nggak papa kalau dia yang di cela. tapi dia nggak rela kalau kesayangannya di maki seperti itu.


" Iya, emang gue yang rayu dia. gue yang ganjen sama dia, dan gue juga yang nempel - nempel sama dia. puas lo " sungut Evelyn menggebu - gebu.


" Dan berhubung mamih rini udah pulang, gue mau minta keadilan buat PA.CAR gue. " imbuh evleyn


" Dengar yah ! keputusan sudah ada di tanganku dan nggak bisa di ganggu gugat. Shakti harus pergi dari sini " sahut kavian.


" Cukup " teriak rini. menatap kesal ketiga orang itu bergantian.


" Shakti.. apa benar kamu berzina dengan Evelyn ? " tanya rini


Rini menggeleng dengan mata kembali bertelaga. menatap kecewa putra bungsunya yang selama ini di anggapnya polos tak pernah bersentuhan dengan gadis manapun.


" Mamih kecewa sama kamu shakti " lirih rini.


Tubuh shakti merosot, menunduk dengan bahu bergetar. pelan, tangannya terulur meraih kaki ibunya dan mendekapnya erat.


" Maaf mih, shakti khilaf. Shakti sayang sama Evelyn, shakti nggak bisa mengendalikan diri, Shanti janji nggak akan ngulangi lagi, asal mamih merestui hubungan kami "


Rini melotot kan mata dengan bibir menganga. Otaknya loading sejenak, mencerna perkataan shakti yang terkesan nyeleneh. Ada apa dengan kepala bocah itu? apakah bocah itu tahu, menjalin hubungan dengan kakak iparnya sendiri sudah salah, apalagi nekad mau mengawini.


Rini memejamkan mata, menyentak nafas kasar dengan tatapan marah tertuju ke anak bujangnya. tangannya bergerak, memukul otak Miring bujangnya dengan kepalan tangan.


" Jangan ngigau kamu Shakti. Evelyn kakak ipar kamu istri sah kakakmu kavian " Omel rini.


Evelyn menarik kasar tubuh shakti, mendekap cowok itu ke dalam pelukan. Dan itu membuat rini nyaris terkena serangan jantung.


" Kalau mamih enggak ngerestui hubungan kami, aku bakal pergi dari rumah ini " ancam Evelyn.


" Shak, mending kita pergi aja " Haikal menarik tangan Shakti. Dia udah mulai mencium bau - bau kegaduhan. Jadi lebih aman kalau dia bertindak cepat.


Enggak terima sama perbuatan haikal, Evelyn kembali menarik tangan shakti dan mereka malah jadi tarik - tarikan.


" Ishh " Geruru Shakti menghempas tangan kedua nya.


" Kalau kamu nekat pergi dari rumah ini, saya talak kamu sekarang juga " Ancam kavian.


Evelyn tersenyum setan. inilah yang di tunggu - tunggu. " Gue enggak takut, talak aja ! ayok talak gue sekarang " tantang Evelyn.


" EVELYN ! " Bentak kavian dengan suara meninggi.


Laura panik. Menarik tangan kavian dan mengusap bahu suaminya.


" Hon sabar "


" Kav, mereka masih remaja. mereka belum ngerti apapun. " Timpal astrid


" Lalu kalian mau aku Bagaimana? " Sewot kavian menatap kesal kedua wanita itu.


Laura dan astrid menunduk. bingung juga mau berkata apa. nggak mungkin berkata menyuruh kavian membiarkan hubungan mereka berlangsung.


Rini memijit pelipisnya. Menatap kesal kedua remaja yang saling bergondelan.


" Putuskan hubungan kalian " titah rini.


" NO " Sahut shakti dan Evelyn serempak.


Darrel dan haikal membekap mulut. menahan tawa saat rini mengangkat tangan, menggeplak kepala shakti dan Evelyn bergantian.


" Bocah edan " Sungut rini.


Evelyn menarik tangan shakti, membawa cowok itu keluar dari rumah. semua orang yang berada di dalam sontak panik, berbondong - bondong mengejar langkah Evelyn keluar.


" EVELYN " teriak kavian lantang

__ADS_1


Evelyn hanya menoleh kecil, kembali berlari tanpa memperdulikan panggilan suaminya.


÷÷÷


" Sialan " Berang Damian meninju tembok.


" Kenapa aku bisa kecolongan " gumamnya.


Damian menyambar botol beer, menenggak minuman alkohol itu hingga sisa setengah. Sam berjalan pelan, mendekat ke arah Damian sembari berdiri dengan tatapan datar.


" Ada apa ? " tanya sam datar.


" Berikan rekaman cctv Bar " sahut Damian.


Sam berjalan ke arah meja kerja Damian, mengotak - atik layar komputer dengan tatapan awas.


" Si bartander ini " Sam mengerutkan dahi, dimana Haikal berjalan cepat ke arah tangga.


Tangan sam bergerak, menggulir tombol tikus dan menilik rekaman kamar vip. Sam menopang dagu dengan ibu jari dan telunjuk, terkekeh saat ternyata si pelaku adalah seorang bartender remaja yang sempat bergurau dengannya.


" Tikus nakal " gumam sam.


Sam menggeser layar monitor, mengarahkannya ke hadapan Damian.


Damian memicingkan mata, menggeram marah saat wajah haikal terpangpang jelas di monitor, menggendong tubuh astrid keluar dari kamar.


Enggak terlalu mengenal sosok haikal tapi dia sempat bertemu di acara pernikahannya. jadi dia paham kalau haikal adalah orangnya kavian .


Damian melenggang pergi begitu saja, meninggalkan sam yang masih berada di ruang kerjanya.


Mungkin sekitar sepuluh menit, Lamborghini yang Damian bawa telah sampai di pelataran rumah dua lantai milik keluarga albuzer.


Damian turun dari mobil, melangkah penuh wibawa dan percaya diri. Pria itu masuk ke dalam rumah, saat bik siti membukakan pintu dan mempersilahkannya masuk.


Damian mengukir senyum saat kavian berjalan ke arahnya. Tak ada raut ramah ataupun segan seperti biasanya, kavian memilih memasang wajah jutek dan dingin.


" Boleh ayah duduk " ucap Damian yang hanya di angguki.


Damian memasang wajah mellow, wajahnya tertunduk dengan jari - jarinya tertaut.


" Mungkin kamu sudah tahu maksud kedatangan ayah kesini " ucapnya.


Kavian mendengus, tangannya menyilang dengan tatapan marah.


" Aku pikir Kau malaikat, ternyata kau Iblis "


Damian mendongak, menatap sendu kavian.


" Aku tidak tahu harus memulai dari mana, tetapi aku hanya ingin memberikan ini sebagai wujud pembuktian tuduhan burukmu salah " Damian merogoh sesuatu di saku jaznya


" Aku mencintai astrid apa adanya, namun aku hanyalah manusia biasa yang mempunyai batas kesabaran " Damian meletakan beberapa foto ke atas meja.


" Awalnya.. aku masih bisa bersabar menghadapi keliarnnya. ngeluyur tengah malam bahkan mabuk - mabukan. tetapi semakin lama di diami, astrid semakin berani " Damian menarik sudut bibir membentuk seringaian iblis. Lalu melirik kearah kavian yang terkejut menatap foto astrid dengan beberapa pelanggan astrid. dimana foto itu menunjukan adegan vulgar aktivitas astrid bersama para pelanggan yang telah membayarnya.


" Ya tuhan " Kavian memegangi kepala yang berdenyut nyeri nyaris terasa pecah.


" Dan Ini. Satu fakta yang membuatku Tak sanggup berkata - kata " Damian menaruh koran usang dimana tertulis tragedi kecelakaan yang menimpa astrid ibu kandung laura.


Damian mendesah, menengadah dengan mata yang basah " Astrid yang sekarang bersamamu bukanlah astrid melainkan ayunda Angeline, adik dari mendiang Astrid Angeline"


Kavian sontak berdiri dengan tatapan yang sulit di Artikan.


" Apa ? " pekik kavian seolah tak percaya.


" Jangan mencoba menipuku tuan Damian " berang kavian dengan gigi mengerat.


Damian menghela nafas, ikut berdiri. menatap kesal ke arah kavian " Untuk apa saya menipu? justru saya yang merasa tertipu "


" Tuti " Seru kavian


Tuti tergopoh - gopoh


" Iya den "


" Panggil mamih astrid " titah kavian dengan suara meninggi


Tuti mengangguk. Berjalan ke arah tangga untuk memanggil astrid.


Tak berselang lama, tampaklah astrid dan laura menuruni tangga. Kedua mata astrid hendak meloncat saat menangkap sosok Damian yang menatap ke arahnya dengan smirk di bibir.


" Kamu " sungut astrid menatap tak suka ke arah Damian.


Damian acuh, melirik ke arah kavian yang menatap astrid penuh kemarahan.


" Apa benar mamih bukan mamih astrid? mamih bukan ibu kandung istriku? " tatar kavian.


Astrid meneguk ludah dengan susah payah, wajahnya menjadi pucat dan berembun keringat dingin.


" Jawab ! " Bentak kavian.


Astrid mengangguk pelan. dan itu membuat laura terhuyung.


" Mih " Tatapan sendu dan kecewa membuat astrid kembali meneguk ludah.


Damian melangkah maju, merengkuh tubuh astrid seakan - akan dia adalah lelaki pelindung.


" Saya memahami perasaan kalian. saya tidak ada maksud apapun, saya hanya ingin meluruskan saja. saya akan membawa istri saya pergi "


" Tidak mau " ketus astrid.


Damian mengulas senyum memeluk tubuh astrid dengan pelan.


" Aku pastikan Bocah ingusan itu menanggung akibatnya jika kau tak ikut dengan ku " bisik Damian.


" Jangan begini sayang, aku sudah memaafkanmu. dan aku tak akan membiarkan mereka menyakitimu. maka, menurut lah dan diam di rumah " imbuh Damian melepas pelukan.


" Kav, jangan percaya omongan dia. dia itu iblis, dia berencana menghancurkan mu" Astrid mengguncang lengan kavian


Kavian menepis kasar tangan astrid " Aku kecewa sama mamih " melenggang pergi setelah mengatakan itu.


" Ra, please ! aku nggak mau ikut dia. aku ingin tinggal di sini " mohon astrid.


Laura memejamkan mata dengan sentaan nafas kasar. di tatapnya astrid dengan tatapan kecewa dan marah.


" Aku enggak nyangka, orang yang selama ini telah aku percaya adalah seorang penipu "

__ADS_1


Astrid menggeleng " Mamih akan jelaskan ra, tolong ! mamih nggak mau tinggal dengan durjana itu "


Laura menepis tangan astrid " masih beruntung om Damian mau menerima mamih setelah apa yang udah mamih perbuat. jangan seolah - olah bersikap bahwa mamih adalah orang yang teraniaya. Oh,, aku tahu Perbedaan karakter mamih dengan ibu kandungku berbeda karena memang kalian orang berbeda "


__ADS_2