Bukan Salahku Menjadi Madu

Bukan Salahku Menjadi Madu
anniversary company


__ADS_3

Evelyn mengulum bibir saat mendengar kalimat shakti yang membuat hatinya bersorak gembira. gadis bodoh mana yang mau meninggalkan cowok nyaris sempurna seperti Shakti. bahkan dalam benaknya pun, Evelyn akan mengikat cowok itu agar tak bisa lepas darinya.


" ada syaratnya " sahut Evelyn.


wajah shakti menjadi pucat, dadanya berdebar. apakah gadis itu berniat meninggalkannya ? monolognya dalam hati.


" syarat? " tanya shakti bingung


Evelyn mengangguk, tangannya terulur menarik kepala shakti untuk menyandar di belahan dadanya


" syaratnya, setiap hari harus cium gue. nggak boleh absen ! "


Shakti spontan mendongak, tangannya bergerak mencubit bibir gadis itu.


" mesum ! "


Evelyn terkekeh, tangannya terulur pelan mengelus pipi cowok di dadanya.


" di kasih enak malah ngatain "


Shakti memejamkan mata saat gadis itu mendaratkan bibir, menyesap lembut bibir bawahnya.


" kamu nggak pengen nyusu shak ? " tanya Evelyn, frontal.


shakti menggeleng cepat " enggak, aku udah udah gede. bukan bayi "


" enak loh, empuk, manis " bujuk Evelyn.


shakti melirik gunung di depannya yang memang terlihat menggiurkan. pikiran warasnya menggeleng, membuat Evelyn mencebikkan bibir.


namun, bukan Evelyn namanya kalau mau menyerah.gadis itu nekad menurunkan tanktopnya ke bawah, sehingga dua benda kenyal yang tak terbalut bra itu menyembul keluar. reflex, shakti memundurkan kepala. namun sial, matanya nggak mau pergi dari pandangan indah di depannya. apalagi melihat benda mungil yang mengacung tegak, membuat otak mesumnya meronta - ronta.


Shakti menarik tanktop Evelyn ke atas, membuat dua benda itu tertutup kembali.


" ckkk, malah di tutup " protes Evelyn. kembali menurunkan tali tanktopnya.


" jangan kaya gini sayang, kamu wanita mahal. dua benda ini sangat berharga. aku akan merasa jadi cowok brengsek kalau menikmati ini sebelum kita resmi halal " terang Shakti.


" enggak papa, gue ikhlas. toh, elo calon suami gue " rayu Evelyn menarik kepala shakti.


bibir shakti telah mendarat di puncak dada Evelyn.namun, cowok itu masih menutup rapat bibirnya. jelas, hatinya tak akan tega berbuat tak senonoh demikian. cowok itu bahkan merasa menyesal karena telah masuk ke kamar gadis itu. yang mana, membuat keadaannya menjadi seperti ini.


shakti memejamkan mata, ada rasa kesal, dan marah ada juga kecewa dan penasaran. kesal karena nggak bisa mengendalikan diri, dan penasaran sama rasa benda itu yang sangat - sangat terlihat menggoda.


Evelyn menunduk, tersenyum saat cowok itu masih diam dengan bibir yang sudah menempel di buah dadanya. Evelyn menekan kepala shakti, mengusap lembut kepala cowok itu. Shakti masih memejamkan mata, menghirup dalam - dalam aroma kulit gadisnya yang membuatnya menggila.


dan tanpa sadar, cowok itu membuka mulut. membuat benda kecil berwarna merah muda itu nyelonong masuk ke rongga mulut Shakti.


deg !


jantung shakti berdebar, saat merasakan benda kecil yang terasa Kenyal dan ya, manis walaupun belum mengeluarkan asi. Shakti menyedot benda berwarna merah muda itu dengan ragu,sesekali menggigit kecil benda itu.


" awwsss " Evelyn meringis saat gigi shakti menggigit cukup keras putingnya. bahkan cowok itu menyesap dadanya dengan kencang. seoalah - olah bayi yang sedang kehausan.


Evelyn terkekeh " nikmatin juga kan lo ! "


shakti tak menggubris, masih sibuk dengan kesenangannya, menyesap, menyedot rakus makanan barunya. tangan cowok itu sudah berada di dada sebelahnya, meremas lembut, dan menarik - narik ****** yang sudah mengacung tegak.


" shhh " desis Evelyn saat merasakan geli dan nikmat yang menggelitik inti di bawahnya.


gadis itu menggigit bibir, mengamati kegiatan kekasihnya yang bibir dan tangannya sibuk berada di dadanya.


Sebelah tangan Evelyn bergerak turun, mengusap pungguk Shakti dengan lembut. sedangkan tangan satunya lagi mengusap - usap kepala Shakti.


mungkin sekitar setengah jam, cowok itu sudah terpejam dengan posisi bibir yang masih berada di dada Evelyn. entah karena lelah atau ke' enakan ckkk.


walaupun dadanya sudah kebas dan nyeri, namun gadis itu enggan beranjak bangun, masih menatap dalam wajah damai kekasihnya yang tertidur nyenyak.


" ve ! "


Evelyn tersentak, menoleh ke arah pintu dimana suara seseorang memanggilnya.


" ya " sahut Evelyn.


" mbak, boleh masuk ? " izin laura


" bentar, gue aja yang keluar " sahut Evelyn.


gadis itu lantas menurunkan tangan shakti dan melepaskan bibir cowok itu yang masih berada di puncak dadanya. Evelyn mengecup singkat bibir cowok itu yang sedikit terbuka, sebelum beranjak turun dari kasur. pelan, tangannya bergerak menutup cowok yang masih berbalut seragam itu dengan selimut tebalnya.


Evelyn merapikan tanktop, melirik kedua dadanya yang sekarang putingnya tercetak jelas di balik tanktopnya.

__ADS_1


" ve, "


" iya bentar ! " ketus Evelyn.


klekkk


" kamu ngapain sih, kok lama? " tanya laura menelisik penampilan Evelyn.


laura mengendus - endus saat indra penciumnya merasa nggak asing sama bau parfum.


" kok bau shakti sih " gumamnya. Karena wanita itu cukup hafal dengan wangi parfum adik iparnya yang beraroma maskulin. laura berjinjit hendak melongok kedalam, namun dengan sigap Evelyn menyandar di pintu sehingga laura tidak bisa melihat apa yang ada di dalam kamarnya.


" ada apa ? " tanya Evelyn


" aku beli gaun tadi, buat acara minggu depan. nih ! " laura menyodorkan paper bag dengan merk brand ternama yang sudah di pastikan memiliki harga yang menguras kantong.


" engggh "


laura mengerutkan kening, saat mendengar suara lenguhan yang memang nggak asing.


" siapa di dalam ? " tanya laura dingin


Evelyn gelagapan, gadis itu melirik ke dalam. dan terlihat shakti masih bergerak menggeliat.


" bukan siapa - siapa.. tv paling " alibi Evelyn.


laura yang memiliki sifat kepo, nggak langsung percaya saja. wanita itu hendak menerobos masuk, namun di dorong oleh Evelyn.


" ngapain lo ? " ketus Evelyn.


" cuma pengin mastiin. kamu nggak ngandangin jantan kan? " tanya laura penuh selidik


Evelyn mendengus. " lo kira gue cewek apaan? " sungut Evelyn menatap jengkel ke arah kakak madunya.


laura menggaruk sisi kepala " bukan begitu, ahh sudahlah mungkin benar, itu suara tv " laura berbalik namun kepalanya masih menoleh ke arah Kamar.


" huuffftt "


Evelyn mengusap dadanya lega, saat kakak madunya sudah melenggang menaiki tangga.


÷÷÷


satu minggu kemudian


" papih sama mamih pulang ? " tanya laura, matanya mengedar ke penjuru aula.


" enggak, mereka mau pulang bulan depan "


sahut kavian,


" aku ke sana dulu ! "pamit laura menuding ke arah hidangan yang terjejer rapi di meja prasmanan.


kavian mengangguk, laki - laki itu juga menyapa beberapa rekan kerja yang hadir di acaranya.


laura menelisik setiap menu yang tersaji di atas meja. mulai dari makanan manis, makanan pokok dan berbagai macam jenis menu lainnya.


meja itu juga di balut dengan taplak berwarna gold. bahkan piring nya juga berwarna gold. laura terkekeh saat melihat gelas minumnya yang juga berwarna gold.


" ada - ada saja si murni " laura menggeleng, tak habis fikir dengan tingkah absurd ketua team panitia acara.


" non, Landung malu atuh, kalau ikut ke sana ! " protes Landung. gadis itu sekarang sudah memakai dres lengan panjang . rambutnya yang biasa di cepol itu tergerai bebas dengan bagian ujung rambut di buat Curly.


Evelyn sendiri memilih memakai dress selutut tanpa lengan berwarna pink yang menampilkan dada mulusnya. sangat meleset dari tema gold malam ini. tapi yang namanya Evelyn nggak memperdulikan itu, yang penting dirinya merasa nyaman dengan yang ia kenakan.


" udah ikut aja ! "


Landung menelisik penampilannya yang memang jauh berbeda. gadis itu mendesah merasa tak enak hati dengan laura karena baju yang ia kenakan di beli untuk Evelyn.


" nanti non laura marah loh non ! "


bibir Evelyn mencebik " salahkan dia, beli baju kayak mau pengajian. ya kali gue kesana harus pake jilbab."


Landung terkekeh " nggak ada salahnya dong non "


" berisik ! " ketus Evelyn, melenggang keluar.


dari tangga sana, astrid menatap sengit ke arah Evelyn yang berjalan keluar di ekor oleh Landung.


" nyonya ndak ada niatan untuk ngajak saya juga ?" tanya tuti penuh harap


astrid melotot galak, " ngaca tuti, kamu itu cuma pembantu mana pantas ke acara seperti itu. "

__ADS_1


tuti memanyunkan bibir, menatap iri ke arah Landung yang sekarang ini berubah jadi cinderella dalam semalam. sungguh ia menyesal menjadi budak sang nyonya besan yang bermulut cabe rawit itu.


tak berselang lama, Shakti tampak tergesa - gesa menuruni tangga.


" mamih astrid, mau bareng aku apa diantar supir? " tanya Shakti saat berpapasan dengan astrid


" bareng aja lah. mobilnya kan besar jadi muat kalau saya ikut "


shakti mengangguk, cowok itu memimpin jalan menuju pintu utama, keluar menuju garasi.


" kamu duduk di belakang ! " astrid mendorong Evelyn saat gadis itu hendak masuk ke kursi bagian depan.


Evelyn balik mendorong astrid membuat wanita jahat itu nyaris terjungkal " elo aja ! nggak pantes dong nenek bangkotan berjajar sama anak muda "


astrid tak terima dikatai wanita bangkotan, wanita itu kemudian mendorong Evelyn balik. Kini mereka jadi dorong - dorongan, dari mereka berdua tak ada yang mau mengalah. shakti memijit pelipisnya yang berdenyut merasa heran dengan manusia beda usia yang acapkali rusuh dan gaduh. sedangkan landung malah ikut - ikutan mendorong astrid.


" ve, kamu di belakang ya sama Landung. biar mamih astrid yang di depan. yang waras ngalah ! " putus Shakti akhirnya. Evelyn mengerucutkan bibir, menatap jengkel ke arah kekasihnya yang malah membela rivalnya.


Landung terkekeh mendengar ucapan Shakti sedangkan astrid mengerutkan kening, otaknya jadi loading mencerna maksud dari kata terakhir yang cowok itu lontarkan.


kedua wanita itu saling bertatapan sengit, sebelum masuk ke bagian duduk masing - masing. astrid menyeringai puas, menampilkan senyum penuh kemenangan ke arah Evelyn.


shakti melirik ke kaca spion di atasnya, yang mana menampilkan wajah kekasihnya yang tertekuk.


honda odyssey berwarna putih itu lantas melaju pelan. Shakti menyalakan klakson saat pak amrul berdiri di sisi gerbang. lelaki paruh baya yang ternyata sedang ayik bergurau dengan tuti itu terlonjak kaget membuat seisi mobil tertawa membahana.


" ish, den shakti ngagetin " gerutu pak amrul melotot ke arah shakti yang masih terpingkal. nggak tau kenapa cowok itu suka iseng sama lelaki keturunan jawa itu.


tinnn !


lagi, Shakti menyalakan klakson cukup panjang membuat pak Amrul kembali terlonjak, bahkan pria itu sampai beringsut mengangkat satu kaki.


" belegug.. bocah edan ! " sungut pak Amrul nyaris saja pria itu melempar sandal jepitnya ke arah majikan mudanya.


" mau kemana shak? ini arahnya beda sama kantor " tegur astrid.


" mau jemput haikal mih, biar sekalian bareng " sahut sahkti tanpa menoleh. cowok itu membelokkan mobil saat di pertigaan jalan. lalu berhenti di depan gang kecil yang memang nggak bisa terjangkau mobil.


Shakti lantas turun, berjalan ke arah rumah di depan yang berdiri tegak beberapa meter dari mobilnya.


wajah astrid memucat, wanita itu membuang muka saat matanya menangkap sosok lelaki baya yang pernah mengisi hatinya.


pak kusno juga terlihat terkejut saat matanya bertemu dengan mata astrid. namun detik berikutnya, lelaki baya itu menunduk, melewati astrid yang masih menatapnya.


bukan hanya pak kusno saja yang terkejut, begitupun juga dengan hana dan haikal yang spontan melototkan mata.


haikal mendorong pelan punggung hana, saat gadis itu masih bergeming di tempat.


hening selama perjalanan, tak ada obrolan apapun .mereka sibuk dengan pikiran masing - masing. hana masih menatap serius ke arah astrid yang membuang pandangannya keluar jendela.


" pak, wanita itu kok mirip ibu " bisik hana ke telinga pak kusno.


pak kusno tersenyum, mengelus rambut hana yang sekarang juga tergerai. " hanya mirip saja han, dia itu besannya bu rini. ibu dari istri pertama mas kavi " jelas bapak.


walaupun hana berbisik, namun ternyata Evelyn dan landung yabg berada di depan mendengarnya. kedua gadis itu saling beradu pandang. lalu terdiam berjibaku dengan pikiran masing - masing. Evelyn melirik astrid yang sekarang ini menjadi pendiam, bahkan wanita itu termenung memandang luar jendela. entah apa yang wanita itu pikirkan.


mungkin sekitar 15 menit, mobil Shanti berhenti di area parkir gedung yang sudah terjejer banyak kendaraan.


shakti turun dari mobil dan di ikuti oleh yang lainnya. shakti tersenyum kecil, saat melihat Evelyn yang berjalan cuek melewatinya. rupanya, gadis itu masih kesal perihal tempat duduk.


rombongan shakti di sambut oleh beberapa karyawan yang bertugas menyambut para tamu undangan. mereka semua di tuntun oleh salah satu panitia menuju ke aula.


" woahh ! " astrid berseru takjub saat matanya di sambut hangat oleh dekorasi super mewah bertema gold itu.


" selera laura memang bagus " puji nya menatap takjub ke atas, tepatnya ke lampu kristal yang bergelantungan.


" mih ! "


laura melangkah lebar, menyusuri lantai ber alasan karpet berwarna merah, menghampiri rombongan ibunya.


keadaan sudah ramai karena semua tamu undangan telah hadir. pak kusno menelisik penampilannya yang hanya memakai kemeja kotak dan celana panjang berwarna hitam dan kedua anaknya yang memakai pakaian sederhana. haikal memakai kemeja putih dan celana hitam, sedangkan hana memakai rok hitam dan kemeja putih. mungkin lebih mirip sebagai seorang pelayan.


" loh ve, kamu kok pake baju pink sih ? itu baju mas lagi yang pilih loh " tegur laura menatap kesal ke arah madunya.


" bajunya jelek, gue kasih ke Landung " sahutnya enteng.


kavian mendengus " baju mu itu tak sesuai dengan usiamu, berbeda dengan baju yang ki beli yang tertutup itu. lagipula, acara ini bertema gold kenapa kamu pakai baju berwarna pink? "


Evelyn menggerakkan bibir menirukan cerocosan suaminya yang menyebalkan itu. Mendengar teguran laura dan kavian, Wajah pak kusno menjadi memerah dan pucat, merasa malu. gara - gara kedatangan keluarganya, suasana pesta yang tampak glamour itu menjadi ternodai.


" nak kavi, maafkan bapak ya, bapak nggak tau kalau tema malam ini gold. bapak jadi ndak enak nih. "

__ADS_1


" gara - gara elo cerewet, bapak jadi ngerasa nggak enak. nggak usah di dengerin tu orang emang suka kadang - kadang kumat " sambung Evelyn, menatap jengkel ke arah suaminya yang melotot ke arahnya.


kavian tertawa canggung, jadi merasa nggak enak karena tak berfikir dulu sebelum bicara " maaf pak, santai saja. peringatan ini. uma untuk gadis nakal itu. ayok kita ke meja prasmanan. kalian pasti belum makan malam "


__ADS_2