
shakty membuang muka, saat matanya bertubrukan dengan mata indah nan tajam Evelyn. cowok itu bahkan merinding sekujur tubuhnya merasakan hembusan nafas hangat Evelyn yang menyapu wajahnya. wajahnya memerah bak udang goreng di campur cabe bubuk, merah sekali dan tentunya panas.
Evelyn menahan tawa melihat wajah menggemaskan shakty, rasanya dia ingin mencium beneran bocah tampan itu walaupun dadanya juga seperti mau lompat dari tempatnya.
" lepas ! " shakty berkata dengan wajah yang masih mengalihkan arah.
" ayo jawab dulu,, mau nggak ngajarin gue ! " Evelyn menarik dagu shakty dengan jari telunjuknya.
" oke ,, oke. tapi lepasin dulu " shakty akhirnya menyetujui walaupun sedikit kesal dengan gadis menyebalkan yang sedang memepednya.
Evelyn mengulum senyum, gadis itu lantas meloncat ke atas kasur. Evelyn mengkode shakty untuk mendekat dengan jari telunjuknya. shakty mendengus kesal, namun tetap menurut. dengan perlahan, cowok itu naik ke atas kasur duduk berhadapan dengan Evelyn.
Evelyn bertopang dagu menatap wajah serius shakty yang tengah menjelaskan, membuat wajahnya yang tampan itu menjadi berlipat - lipat lebih tampan.
shakty mencubit gemas pipi Evelyn saat beberapa kali gadis itu menjawab soal dengan salah.
" pantes, nilainya jelek semua. elo bego gitu ! " ucap shakty dengan kekekehan.
Evelyn mengerucutkan bibirnya dan itu tak lepas dari pandangan shakty. cowok itu sampai salah tingkah dan membuang pandangan ke lain arah. sejak insiden barusan entah mengapa ia sedikit canggung tak seperti biasanya.
" elo kasih contoh yang bener elah,, jangan yang sulit - sulit. rumus panjang bener mana gue hafal boge " sungut Evelyn merasa kesal karena pengerjaan soal terlalu panjang dan rumit.
shakty memutar bola matanya malas " entar gue kasih soal logaritma baru ketar - ketir lo ! "
Evelyn memukul kasur " yang gampang dulu lah... masak mau di kasih materi kelas 12 "
" ya biar nambah ilmunya " elak shakty
" dih kurang kerjaan " ketus Evelyn
shakty mendorong kening Evelyn dengan telunjuk membuat Evelyn mendorong balik kening shakty.
karna kesal, shakty lantas memukul Evelyn dengan bantal, mereka jadi lempar - lemparan bantal seperti bocah PAUD.
mereka berdua lantas terbahak - bahak menertawakan kekonyolan mereka sendiri..
" mau jalan nggak ? " tawar shakty seusai berhenti adu lempar bantal.
mata Evelyn berbinar lalu bertepuk tangan kecil. gemas, shakty mengacak rambut Evelyn.
" cepat dandan ! nggak pakek lama ! " titah shakty sembari berkacak pinggang
" iya,, iya,, bawel bangat kayak petasan " gerutu Evelyn sambil berlalu pergi meninggalkan kamar.
sebelum menuruni tangga, Evelyn menyempatkan untuk menoleh ke arah dua kamar yang bersebelahan.
Evelyn menghembuskan nafas kasar menghalau sesak yang kembali memenuhi dadanya.. malam - malam, kamar tertutup, jangan tanyakan, pasutri bucin itu sedang apa.. pasti sedang nganu - nganu.. begitulah pemikiran para emak reader sekalian.. behahahahaha...
÷÷÷
hembusan angin dingin malam kota Jakarta menembus ke bagian dalam pori - pori kulit Evelyn. gadis itu memeluk erat perut shakty yang tertutup kaos dan jaket. Evelyn menyandarkan kepala ke punggung lebar shakty.
" dingin nggak ? " tanya shakty dengan tatapan lurus ke depan.
Evelyn mengangguk, gadis itu memejamkan mata, merasakan desiran aneh dan nyaman berada sedekat ini dengan bocah yang sayangnya setiap hari adu gelut dengannya.
" gue udah bilang kan, pakek baju panjang jangan pakek baju kurang bahan begitu " omel shakty
Evelyn tersenyum tipis lalu memandangi tubuhnya yang hanya mengenakan celana jeans sebatas paha dan kaos lengan pendek yang pas di badan. memang dari dulu gayanya seperti itu, berpakaian pendek dan minim. shakty menghela nafas, bosan sekali menegur gadis di belakangnya yang suka semaunya sendiri.
motor gede yang shakty bawa berhenti di sebuah alun - alun kota. suasana malam yang terang di sinari lampu dan rembulan itu tampak ramai dengan pengunjung.
" duduk sana ! " shakty menuding ke sebuah bangku panjang yang terletak di bawah pohon.
evelyn menurut, gadis itu menghentakkan bokongnya ke atas kursi kayu panjang yang di cat warna coklat. gadis itu mengedar pandang mencari keberadaan shakty yang entah pergi kemana. Evelyn berdecak lalu merogoh saku jeans mengambil ponsel. gadis itu hanya menscrol sosmed dan membuka pesan dari kedua temannya.
Evelyn menyandarkan kepala ke belakang, kepalanya mendongak menatap langit gelap yang di hiasi beberapa bintang kecil.
rasa rindu yang menggebu kepada kedua orang tuanya, membuat matanya memanas. sejak hari pernikahan itu, kedua orang tuanya nggak pernah memberi kabar. bahkan sekedar bertanya keadaannya pun tidak.
" mau sempol nggak ? " shakty menyodorkan satu tusuk sempol yang sudah di bumbui saus.
Evelyn menoleh lalu membuka mulut lebar, meminta di suapi. dengan polosnya, shakty menurut, lalu menyuapkan sempol itu ke dalam mulut lebar Evelyn.
mereka berdua makan dengan lahap, menghabiskan beberapa tusuk sempol yang shakty beli di sekitaran alun -alun.
__ADS_1
" masih laper nggak ? " tanya shakty
Evelyn hanya mengangguk, gadis itu terlihat murung dan tak bersemangat.
kini mereka berdua sudah berada di kedai bakso yang terletak di dekat alun - alun.
" sambalnya jan di abisin ! " Tegur shakty saat Evelyn menuang se mangkuk kecil yang berisi sambal.
Evelyn nyengir kuda, lalu meletakan sisa sambal yang tinggal separuh.
shakty sendiri memilih tak menggunakan sambal karena cowok itu tak suka pedas, dia hanya menuang sedikit kecap.
" ckkk,, bayi "
shakty menoleh dengan alis mengkerut " apaan dah,, ga jelas ! "
" gue kasih tantangan sama lo,, mau nggak? " tawar Evelyn
shakty tak menggubris, cowok itu lebih memilih menyuap bakso daripada meladeni otak mesumnya Evelyn yang selalu berkata di luar prediksi manusia.
Evelyn meninju lengan shakty. namun rupanya cowok itu bergeming. karena gemas, Evelyn lantas mencium pipi shakty membuat cowok itu tersedak kuah bakso.
uhukk uhukk,,
cepat, Evelyn menyodorkan minumannya.
" pelan - pelan,, nggak ada yang minta kok "
shakty menoleh cepat, wajah cowok itu terlihat memerah bahkan hidung dan matanya juga memerah efek tersedak tadi.
" main nyosor aja lu, bukan mukhrim " sungut shakty yang di jawab dengan kekehan
" lu bolot si,, di tanya nggak nyaut - nyaut " kesal Evelyn
" gangguin mulu sih lu,, nggak liat gue laper pengen makan.. males ngobrol sama lu yang nggak penting itu " ketus shakty.
Evelyn merapatkan bibir, hatinya seperti tercubit mendengar ucapan shakty yang mengatainya tak penting. entahlah akhir - akhir ini perasaannya selalu sentimentil.
mata Evelyn memanas dengan cepat gadis itu mengalihkan pandangan.
÷÷÷
sepanjang perjalanan mereka hanya diam, shakty melirik gadis di belakangnya di kaca spion. cowok itu menggaruk alis, bingung karena tiba - tiba Evelyn mendadak bisu tak mengoceh seperti biasanya. yang dia tau kalau gadis itu mode patung berarti do'i lagi ngambek atau suasana hatinya nggak bagus. shakty sendiri lega karna gadis itu sekarang lebih jinak tak seperti dahulu, yang kalau lagi mode singa garong akan menghancurkan apapun di dekatnya.
mungkin pernikahan ini ada hikmahnya, membuat gadis itu sedikit lebih anteng dan lebih dewasa.
ceklek
rini menoleh ke arah pintu dimana dua orang remaja masuk beriringan. wanita baya itu mengerutkan kening.
" kalian dari mana? " tanya rini
shakty mendekat, seperti biasanya cowok alim itu akan menyalami mamanya dan mencium kening wanita itu. sedangkan Evelyn sudah nyelonong duluan ke kamar. beruntung, kavian masih kelonan dengan kakak madunya. kalau tidak, sudah di pastikan, Evelyn akan kena semprotan kuah seblak level 30.
sebenarnya, entah apa yang ada di pikiran lelaki beristri dua itu. ngakunya nggak ada rasa sama Evelyn. tetapi kalau melihat gadis itu ngeluyur apalagi bersama lelaki, pria itu akan ngereog se jadi - jadinya.
" abis ke alun - alun mih " akunya jujur.
" tumben akur ! " rini memasang wajah julid membuat shakty memutar bola mata jengah.
kavian menggeliat, tangannya meraba - raba kasur di samping. alis pria itu mengerut dengan mata yang masih terpejam. perlahan, pria tampan itu bangkit duduk lalu menyandarkan punggung ke kepala ranjang.
ceklek
cepat pria itu menoleh ke arah pintu kamar mandi yang menyuguhkan pemandangan tubuh molek laura yang hanya terbalut handuk yang menutupi area dada dan paha.
kavian menyeringai nakal memandangi sekujur tubuh putih istrinya yang mulus dan terawat. kavian mengkode istrinya untuk mendekat, namun wanita itu tetap bergeming dengan tangan bersedekap.
" aku udah telat hon,, jangan macam - macam !"
" hanya sebentar sayang,, 5 menit.. deal " kavian mendekat lalu merengkuh bahu telanjang istrinya.
laura mendengus lalu menepis tangan besar suaminya. " nanti kalau kita main, aku jadi mandi lagi.."
" nggak papa, cuma sebentar.. nggak boleh loh, nolak kepinginan suami.. " kavian membelai wajah laura lalu memajukan bibir hendak menyentuh bibir laura.
__ADS_1
laura mendorong bibir suaminya dengan telunjuk " please !, aku mau rapat sama owner brand... aku nggak mau memberi citra buruk kepada mereka ! "
kavian menulikan pendengaran, pria itu lantas mendorong tubuh istrinya ke tembok,, tau kan? kalau gairah sudah di ubun - ubun susah di kendali. ckkk apalagi liat bininya cantik, sexy begini tambah bangun kan tody nya.. behahaha
kavian lantas mengungkung laura, dalam sekali sentakan handuk yang melilit tubuh istrinya merosot kebawah. dengan cepat tangannya bergerak kebawah mencari gua segitiga yang selalu menjadi candunya. sebelah tangannya tak tinggal diam, mencubit pucuk buah semangka,, enggak,, bukan semangka karna punya laura nggak gede lebih tepatnya sebesar bola kasti.. upsss.
jadi,, pemirsa !
tangan kavian yang sebelah meremas bola kasti yang nggak pada umumnya, keras. bola kasti yang ini teksturnya lembut dan kenyal kayak jely .
laura memejamkan mata menahan rasa geli yang menggelitik perut karna tiga jari suaminya sudah maju mundur cantik di dalam goanya. makin belingsatan saat bola kasti nya di gigit.. sungguh nikmat mana yang kau dustakan?. akal laura kembali pulih saat mengingat rencana nya untuk pergi ke studio menemui sang owner brand. dengan sedikit kesusahan laura mendorong kavian sampai pria itu terhuyung kebelakang.
" kenapa ? " tanya kavi dengan suara yang sedikit serak.
laura menggeleng lalu tersenyum manis. wanita cantik itu lantas memungut handuk dan melilitkannya ke badan.
" aku terlambat hon, tolong malam ini saja ! ini acara yang sangat penting " tolak laura halus.
kavian mengepalkan tangannya, kepalanya berdenyut nyeri merasakan sesak di bagian celana dan dadanya mendapat penolakan istrinya. tanpa berkata sepatah pun kavian meninggalkan laura.
brakkkk
laura memejamkan mata saat pintu kamar di tutup keras oleh suaminya. dari matanya yang memerah, bisa di pastikan kalau suaminya sangat marah dan terluka.
tapi, yang namanya ego itu lebih tinggi. laura tetap pada pendiriannya menghadiri acara itu walaupun sangat jelas konsekuensinya.
kavian meninju tembok melampiaskan kekesalannya. pria itu lantas masuk ke dalam kamar sebelah, bekas kamar Evelyn.
ceklek
astrid menoleh dan didapati menantunya berdiri di ambang pintu. kening wanita itu mengerut " ada apa kav ? "
kavian terjengit mendapati wajah mertuanya yang sudah di olesi cream masker berwarna putih. kavian jadi menggaruk kepala karena bingung dengan kekonyolannya yang refleks masuk ke kamar sebelah. yang jelas, itu merupakan sebuah naluri seorang suami yang beristri dua, tak dapat jatah istri pertama, jatah istri kedua pun jadi. ckk
pria itu rupanya lupa kalau kamar istri keduanya sudah berganti penghuni.
kavian salah tingkah " ahh, nggak mih. sepertinya ada barangku yang tertinggal disini " alibi nya
mata astrid melotot dan itu terlihat sangat menyeramkan karena wanita itu jadi mirip seperti hantu " maksudnya, kamu sering singgah ke sini? " tanya astrid dengan mata memicing.
kavian gelagapan " enggghh,, enggak mih... " pria itu jadi menggaruk sisi kepala mencari alasan yabg tepat untuk mengelabuhi mertuanya.
" ashhh,, sudahlah lupakan ! " ucapnya berlalu pergi.
tangan astrid mengepal " awas saja kamu ! berani mengkhianati putriku,, ku potong burungmu itu.. hengg "
ceklek
kavian melangkah masuk ke kamar dimana istri mudanya berada, lelaki itu lantas duduk dikasur mengamati setiap sudut ruang kamar itu. tiba - tiba ada perasaan menyesal telah menyutujui mertuanya mendepak gadis itu ke kamar sempit ini.
Evelyn mengerutkan kening saat mendapati suaminya berada dalam kamarnya. tiba - tiba dadanya berdebar - debar.
" ngapain lo ? " ketus Evelyn s
kavian menoleh lalu matanya mengarah ke tangan gadis itu yang memegang segelas air.
" belum tidur ? " tanyanya lembut.
Evelyn meletakkan gelas ke atas meja lalu duduk di kursi depan meja rias, tak memperdulikan pertanyaan dan keberadaan suaminya.
kavian mendengus lalu bangkit mendekati istrinya. lelaki itu berdiri tepat di belakang istri mudanya yang sekarang ini lagi ngoles cream ke wajah. kavian menatap tampilan dirinya dan istri mudanya di pantulan cermin. sudut bibirnya terangkat ' ini tidak buruk ' monolognya dalam hati mengagumi keserasian antara dirinya dan Evelyn.
perlahan, tangan kavian terulur menyentuh bahu mulus Evelyn yang tak tertutup apapun karena gadis itu mengenakan gaun tidur bertali kecil.
jantung Evelyn berdetak kencang saat tangan besar kavian meremas bahunya aroma maskulin menguar menusuk indra penciumnya menyulut gairahnya. tangan yang berada di pipinya refleks melemah bahkan wadah cream nya sampai jatuh ke lantai.
kavian tersenyum tipis melihat wajah merah Evelyn yang terlihat menggemaskan. pria itu menarik tubuh Evelyn agar berdiri lalu membalikkan tubuh itu untuk menghadap nya.
Evelyn menunduk dengan degup jantung yang semakin cepat apalagi berada sedekat ini.
" may i ? " bisik kavian tepat di telinganya. hembusan nafas lelaki itu terasa berat.
Evelyn membeku dengan wajah pucat, jemarinya meremas gaun yang di pakai. melihat kebungkaman Evelyn, kavian lantas memberanikan diri untuk melanjutkan aksinya yaitu mengendus leher jenjang istrinya.
ada desiran aneh yang menjalar ke tubuhnya saat mencium bau tubuh istri mudanya yang memabukkan. bibir kavian lantas menyentuh kulit leher Evelyn membuat gadis itu menggelinjang kegelian.
__ADS_1
" ve,, ini bukunya keting,,,, "
bukk..