
seperti rencana semula, pak ridwan yang di dampingi pak catur datang kembali ke rumah lika.
tok tok tok !
" permisi ! "
hening tak ada sahutan, hanya terdengar suara tokek bersahutan di atap rumah. mereka berdua beradu pandang saat ekor mata mereka menangkap sebuah mobil mewah berwarrna merah berharga fantastis, yang terparkir cantik di halaman rumah.
" bu lika ada tamu? " tanya pak catur kepada pak ridwan.
pak ridwan mengedikkan bahu, pria itu melongok ke jendela yang tak tertutup gorden.
" ruang tamunya sepi. coba ketuk lagi, barangkali nggak dengar " jawab pak ridwan.
pak catur kembali mengetuk pintu tiga kali dan tak berselang lama, lika membuka pintu.
klekk
kedua guru muda itu tersentak, mereka berdua memegangi dadanya saat melihat penampakan wanita baya di ambang pintu itu. Lika yang hanya mengenakan lingerie satin berwarna hitam jelas membuat kedua guru muda itu terkaget - kaget. bahkan mulut mereka menganga dengan tak elitnya.
" maaf ya, lama ! tadi habis dari toilet " lika menyelipkan anak rambut ke belakang telinga.memasang wajah malu - malu bak seorang perawan yang di kunjungi seorang bujang.
" ekhem " pak catur berdekhem ngulum bibir ngampet pengin ketawa, melirik sebentar ke arah pak ridwan yang mengalihkan pandangan yang juga sambil menahan tawa.
mereka enggak terpesona, enggak tertarik. mereka justru terkesan geli melihat seorang wanita yang tak lagi muda itu mengenakan gaun sexy dihadapan pria di siang bolong, apalagi menyambut tamu. alih - alih terlihat cantik, justru terlihat seperti nenek - nenek cosplay jadi wanita malam.
" eumh.. sesuai Janji kami tadi pagi, kami akan mendampingi bu lika berkunjung ke kediaman pak kavian " jelas pak catur.
lika mengembangkan senyum. wanita itu menggeser tubuh mempersilahkan kedua guru itu untuk masuk kedalam.
" silahkan duduk dulu, pak !. saya akan bersiap - siap " pamit lika, menuju ke kamar yang terletak di skat ruang tamu.
kedua guru itu mengangguk, mendaratkan pantat ke sofa bermotif bunga. pak catur mengerutkan kening saat melihat pria yang seumuran dengan lika berjalan ke arah dapur dengan santai. tanpa menegur atau menyapanya.
" itu suami bu lika? " tanya pak catur berbisik di telinga pak ridwan. ekor matanya melirik ke arah Damian.
" bu lika janda " sahut pak ridwan tanpa menoleh.
Kening pak catur tambah mengkerut. memandang bingung wajah pak ridwan yang dengan santai nya menyulut rokok.
atensi pak catur beralih ke Damian yang sekarang bertelanjang dada dengan handuk yang melilit area bawahnya. pria itu berdiri di depan kulkas dan mengambil minuman dingin. otak mesum pak catur loading sejenak. Sunggingan senyum terbit dari bibirnya kala menyadari sesuatu.
" nah, kalau itu siapa ? " tuding pak catur ke arah dapur sana.
pak ridwan mengarahkan pandang ke telunjuk pak catur. pria itu tergelak, menatap heran ke arah pria yang dengan santai nya memakan buah apel tanpa merasa terganggu dengan kehadiran dirinya dan pak catur yang notabennya adalah tamu.
" berarti itu peliharaan bu lika " sahut pak ridwan dihadiahi tabokan di lengan.
mereka berdua lantas tertawa kecil dengan celengan. sungguh ironi sekali wanita seusia lika masih gencar memadu kasih dengan lawan jenis apalagi tanpa ikatan pernikahan. terlalu minim sekali akhlak manusia di era zaman yang semakin modern sekarang. Kedua guru itu mengatupkan bibir saat lika datang menghampiri mereka.
" sepertinya ini sudah terlalu sore, lebih baik kita segera kerumah pak kavian" usul pak catur setelah lika mendudukkan pantat di sofa.
" enggak minum dulu pak ? " tawar lika.
kedua guru itu menggeleng " enggak perlu bu, takut mengganggu kenyamanan ibu sekeluarga "
pak ridwan dan pak catur berdiri " mari buk ! " ajaknya bergegas keluar tak memperdulikan wajah lika yang terlihat bingung.
÷÷÷
" lo yakin dia ngekost disini? " tanya shakti.l menatap rinci rumah kecil satu petak yang berderet di pinggir jalan.
hana mengangguk " iya, kata bu indri dia ngekost disini "
" coba ketuk pintu nya ! " titah Shakti
hana mengangguk, gadis itu turun dari boncengan motor. hana berjalan cepat ke arah pintu dan mengetuk pintu itu tiga kali.
" assalamu'alaikum "
shakti bersedekap, matanya bergerak liar ke seluruh sudut bangunan yang berjajar rapi di pinggir jalan itu. cowok itu menatap serius ke arah pintu menunggu hana yang berulang kali mengetuk pintu dan mengucapkan salam tapi tak ada jawaban sekalipun.
" nggak ada orang kayaknya anak " tebak hana.
" dia lagi kerja ? dia kerja dimana? " tanya shakti
hana mengedikan bahu " gue nggak paham. gue juga nggak deket sama dia. kata bu indri sih dia cuma kerja di tempatnya bu indri. tapi kan hari ini libur jadi kemungkinan dia dirumah " jelas hana. gadis itu mendudukkan pantat di undakan teras.
" kita tunggu aja ! barangkali dia lagi pergi " usul shakti. cowok itu masih bergeming di atas motor dan memainkan ponselnya. mengabari beberapa temannya untuk bergabung ke dalam misinya.
tanpa mereka sadari, fitri sedang mengintip di balik gorden jendela. tubuh gadis itu sudah gemetar hebat, bahkan keringat dingin mengucur deras di sela kulitnya.
" duh, gimana nih ! " lirih fitri menggigit kuku jarinya kuat - kuat.
__ADS_1
mungkin sekitar satu jam Lebih Shakti dan hana menunggu, mereka tak kunjung bertemu dengan sosok fitri.
" kita balik lagi aja besok, gimana ? " usul hana.
shakti terdiam, belum menyahut karena kepalanya masih sibuk melongok sana sini berharap bisa menemukan keberadaan fitri.
mata Shakti memicing saat melihat sendal jepit merk swellew tergeletak di samping rumah.
senyum smirk terukir di bibir tipisnya " mau coba - coba sembunyi, hn? nggak akan bisa " gumamnya lirih.
kening hana mengerut dengan ekspresi bingung. gadis itu tambah bingung saat Shakti turun dari motor, berjalan lebar ke samping kost fitri.
" ngapain shak? " tanya hana khawatir saat shakti mengambil ancang - ancang seperti hendak mendobrak pintu.
dan benar saja !
brak
brak
brak
dengan tiga kali dobrakan, pintu yang terbuat dari kasiboth itu terbuka lebar. hana membekap mulut saat Shakti nyelonong masuk ke dalam.
Akhirnya mau tak mau hana berlari mengikuti shakti yang sudah masuk ke dalam.
" KELUAR ! " teriak shakti.
" lo ngapain shak? ini rumah orang lo ! " tegur hana,
shakti tak menggubris, cowok itu berjalan cepat memasuki setiap ruang sempit di dalam rumah itu. cowok itu bertolak pinggang berpikir keras dimana kira - kira fitri bersembunyi. shakti yakin sekali kalau fitri berada di rumah, karena tas kecil gadis itu tergeletak di atas meja kamar.
" gue hitung sampai tiga, kalau elo nggak keluar juga. gue pastiin rumah kecil ini sekaligus elo juga jadi abu " ancam Shakti.
tubuh fitri tambah gemetar, bahkan sampai berguncang. gadis itu menangis dalam diam, takut keluar juga takut tetap bersembunyi. gadis itu nggak cuma dapat ancaman dari Shakti, gadis itu juga dapat ancaman dari cindy untuk tetap tutup mulut.
" satu "
fitri memejamkan mata, menetralkan jantungnya yang berdegup kencang.
" dua "
mata fitri membelalak, gadis itu menggeleng keras. " gimana nih " lirihnya.
dugg
" awas " ringis fitri saat tanpa sengaja kepalanya terpentok meja. rupanya gadis itu bersembunyi di kolong meja yang terletak di belakang pintu.
hana dan shakti melotot, menatap nyalang ke arah fitri yang berjalan menunduk ke arahnya. wajah gadis itu sudah basah air mata bahkan tubuhnya masih bergetar.
greb
tanpa a b c Shakti langsung mencengkeram tangan fitri. membawa paksa gadis itu keluar dari kamar kost.
" lahh,,, gue di tinggal " gerutu hana saat motor Shakti telah melesat jauh.
÷÷÷
" silahkan di minum ! " bik siti meletakkan teh hangat ke pada tiga tamu yang sekarang ini duduk di ruang tamu.
" silahkan semuanya ! jangan sungkan " kavi mempersilahkan, pria itu membuka tutup toples yang berisi beberapa camilan kering.
" maafkan kami pak kavian atas kedatangan kami yang tiba - tiba ini " ucap pak catur.
kavian tertawa kecil " santai saja pak catur ! saya sedang senggang hari ini "
" eumh begini pak " pak ridwan melirik ke arah lika yang sedari tadi memasang wajah datar dan jutek.
" sebelumnya saya juga meminta maaf karena tak mengabari dulu sebelum berkunjung " pak ridwan menjeda, melirik pak catur yang menunduk dan menyimak.guru itu selalu kikuk dan pesimis jikalau berhadapan dengan kavian.
" maksud kedatangan kami kesini adalah untuk membahas insiden yang terjadi di malam perayaan ulang tahun perusahaan bapak malam lalu " imbuh pak ridwan.
" saya selaku wali kelas ariel dan juga evelyn, mendapatkan aduan dari bu lika bahwa insiden yang menimpa nak ariel bukan murni kecelakaan, melainkan terjadi akibat pertengkaran keduanya. saya mendapat aduan bahwa, nak Evelyn mendorong nak ariel sampai jatuh ke balkon. tetapi saya sebagai seorang guru yang ingin menjaga citra nama baik sekolah, sekaligus nama baik anak didik saya, jadi saya ingin meluruskan perkara ini selurus - lurus nya " jelas pak ridwan.
kavian mendengus, menatap jengkel ke arah lika yang menyeringai.
" Landung ! " teriak kavian
" iya mas ! " sahut Landung nyengir kuda, yang ternyata berada di balik tembok, sedang menguping.
" panggil Evelyn ! " titah kavian dingin.
Landung mengkode dengan jari agar no nanya yang juga berada di balik tembok mendekat. gadis itu melangkah lebar, mendudukkan pantat nya kasar ke atas sofa.
__ADS_1
" jelaskan ! " titah kavian.
" pak ridwan kenal saya kan ? " tanya Evelyn
pak ridwan mengangguk.
" saya sering gelud kan ? " tanyanya lagi.
pak ridwan mengangguk lagi.
" abis gelud saya ngapain pak catur ? " tanya Evelyn menatap ke arah pak catur.
" ke ruang konseling " sahut pak catur enteng
Evelyn menyunggingkan senyum " itu berarti gue sadar kalau gue salah, jadi gue mau bertanggung jawab atas kesalahan yang udah gue lakuin "
" jangan bertele - tele.. akui saja kesalahan kamu ! " sentak lika menatap jengah ke arah Evelyn.
Evelyn menjentikkan jari " nah, karna gue nggak salah jadi gue nggak akan ngakuin kesalahan yang nggak gue lakuin "
lika bangkit berdiri " jangan coba - coba lari dari kesalahan gadis sial ! aku nggak rela keponakanku mati tanpa mendapat keadilan " teriak lika lantang.
" mohon bu lika tenang, kita selesaikan masalah ini dengan kepala dingin " pak catur menekan bahu lika untuk duduk
lika menepis kasar tangan pak catur " bagaimana saya bisa tenang kalau pelaku pembunuh keponakan saya masih berkeliaran di luar sana ! " kesal lika
" gue bukan pembunuh ! " teriak Evelyn
" mana ada pembunuh mau ngaku, kalau ngaku nggak ada polisi sibuk nyari tersangka " kilah lika sinis.
kavian memijit pelipisnya yang berdenyut " pak catur, tolong urus wanita itu agar tidak mengacau di rumah ku "
" duduk bu lika " titah pak catur menarik paksa lengan lika.
lika mendengus " coba kasih bukti valid kalau kamu nggak salah ! " tantang lika.
Evely mengangguk " pasti "
" saya kasih kamu waktu tiga hari untuk mencari bukti itu. kalau sampai dalam waktu tiga hari nggak ada bukti, maka saya sendiri yang akan menyeret kamu ke penjara " ancam lika.
Evelyn mengeratkan gigi, tangannya mengepal. gadis itu menatap ke arah kavian yang terdiam.
" elo percaya kan sama gue ? "
kavian mengangguk " baik, tiga hari kami akan menyerahkan buktinya. dan kalau sampai pihak anda yang bersalah, maka saya sendiri yang juga akan menyeret kalian ke penjara " ucap kavian dingin
pak catur dan pak ridwan yang mengenal baik sosok pengusaha sukses di depannya yang terkenal dengan ketegasannya itu meneguk ludah dengan susah payah. kedua guru itu saling melirik dengan lirikan takut.
" tolong jelaskan dulu nak Evelyn, barangkali masalah ini bisa diselesaikan tanpa jalur hukum. mengingat berita ini sudah tersebar luar di media, yang ditakutkan akan mencoreng citra sekolah. " usul pak catur.
" jadi, malam itu.. "
" tidak perlu di jelaskan " potong lika. wanita itu kembali berdiri menatap angkuh ke arah tiga lelaki itu.
" biar hukum yang bertindak, biar si pelaku itu " tudingnya ke arah Evelyn
" jera ! " imbuh lika.
" kami dapat bukti "
beberapa orang yang berada di ruang tamu menoleh ke arah pintu. dimana shakti berdiri tetap dengan tangan yang menggandeng fitri. dan di belakangnya ada hana yang bersedekap.
mata lika melotot, wajah wanita itu berubah pucat pasi. ketiga lelaki dewasa yang duduk di sofa sontak berdiri begitupun juga Evelyn yang langsung berlari ke arah Shakti.
" shak " mata Evelyn memanas melihat kegigihan kekasihnya yang berusaha mempertahankan nama baiknya.
Shakti mengangguk, senyum manis terbit untuk menguatkan gadis tersayangnya. cowok itu menoleh kebelakang dimana ada fitri yang masih menunduk.
" mending lo jelasin ! " titah dingin yang terasa menembus dinding gendang telinga fitri, membuat gadis itu mendongak menatap kikuk ke arah beberapa lelaki dewasa yang masih terdiam dan menyimaknya serius.
fitri memejamkan mata, gadis itu beralih melirik lika yang menatapnya penuh peringatan. lalu tatapannya beralih ke shakti yang menatapnya penuh dengan ancaman. gadis itu ingin sekali menangis sejadi - jadinya karena harus di tumpang tindih oleh manusia - manusia yang amat menakutkan menurutnya.
" ak..akku cuma di..di.. disuruh bu.. buat menyampaikan... pesan " gagap fitri
shakti berdecak " ngomong yang bener ,, jangan gagu ! "
fitri menampar bibirnya yang jadi terpeleset kala berbicara. di karenakan tubuhnya yang masih sedikit bergetar jadilah bicaranya gagap seperti itu.
kavian mendekat, pria itu menatap dingin ke arah fitri yang jadi menunduk kala bersibobrok dengan tatapan pria itu.
" jelaskan ! " titah kavian dingin.
fitri menghela nafas. menghirup dalam - dalam oksigen untuk menghalau geroginya. gadis itu terdiam mengumpulkan kata - kata yang sebenarnya membendung di kepalanya
__ADS_1
semua yang berada di dalam ruangan masih menunggu, bahkan mereka menatap tak berkedip gadis itu.