
" Kal, diem dong ! elah... kaya' prawan elo " Gerutu iqbal.
" Lu crita ke kita " Shakti menepuk pundak haikal yang berguncang.
" Ckkk " Iqbal mendorong tubuh Haikal yang memeluknya.
" Apa anjir?? main peluk - peluk. ckk " Sungut Iqbal menatap sebal haikal.
" Gue abis diperkosa tauk " Adu haikal sembari mengusap ingus
" Hah ? " pekik ketiga temannya serempak.
Haikal mendengus " Damian anjing bangatt. dia mau perkosa gue. Nggak nyangka gue, nyokap gue nikah sama babi kaya' dia"
Iqbal loading sejenak. sedangkan ifal dan shakti yang paham mengepal kan tangan.
" Serius nyet ? " tanya ifal.
" Tapi dia nggak nyampe masukin terongnya kan? " Tanya ifal memastikan.
" Hah ? " Iqbal menganga dengan wajah bingung kaya' enggak bisa mikir jelas sama plesetan kata yang temannya lontarkan.
" Hah, heh, hah, heh " Ifal menoyor kening iqbal.
" Bisa - bisanya om Damian ngelakuin itu sama elo? " tanya shakti serius
" Dia liat gue bawa nyokap pergi dari bar. gue nggak nyangka kalau dia punya kelainan kaya' gitu " Sahut haikal, menekuk wajah bak kertas kartoon.
Shakti terdiam. tampak berpikir sesuatu " Mamih astrid gimana ? " tanya shakti khawatir.
Haikal menggeleng " Itu yang gue khawatirin shak, si brengsek itu nggak mungkin diam gitu aja "
" Kita harus cari cara, buat nyelametin mamih astrid " Usul Shakti.
" Iya, gue juga lagi bingung mikirin nya. dia orang berkuasa nggak semudah mithesin kutu. Kita bahkan nggak punya apa - apa buat ngelawan dia. Damian pasukannya banyak. mungkin yang bisa bantu kita mas kavi. tapi yablng gue dengar dari bapak, mas kavi lagi marah sama mama astrid perkara kebohongan mama yang ngaku - ngaku jadi mamanya mbak laura " terang haikal panjang lebar
" Terus kita gimana nyet ? " Tanya iqbal
Haikal menggeleng lemah " Shak, lu bujuk mas kavi gimana? "
" Belum juga gue nyampe rumah udah di lemparin batu yang ada " Kesal shakti.
Gelak tawa menyambut ucapan shakti.
÷÷÷
" Ra,, hari ini jadwal kamu posyandu kan ? " tanya rini.
Laura hanya mengangguk lemah.
Rini terdiam. menelisik wajah menantunya yabg belakangan ini terlihat merengut. bahkan menantunya itu menjadi lebih pendiam.
" Kamu Kenapa? Apa masih mual ? "
Laura memainkan jari dengan helaan nafas lirih " Mih, aku malas pergi posyandu "
" Kenapa? Apa masih lemas ? "
Laura tak langsung menyahut. menselonjorkan kaki ke sofa dan memijit pelan betisnya.
" Aku lelah " alibi nya. padahal wanita itu hanya enggan merawat kandungan. di karenakan dia tak menginginkan kehadiran sang bayi, jadilah dia seenaknya mengabaikannya.
" Elo mau posyandu ? " tanya Evelyn yang sedari tadi menyimak di dalam kamar. gadis itu melongok di balik pintu kamar.
" Aku enggak mau berangkat. aku udah bilang kan kalau aku lelah ? " Sewot laura.
" Ckk. ayok kita ke dokter aja. lihat ke komputer gimana bentuknya debay. aku penasaran " Usul Evelyn.
Laura mendelik, memprotes ajakan Evelyn. pergi posyandu aja enggan apalagi jauh - jauh ke rumah sakit.
Rini tersenyum tipis, Mungkin kalau laura melihat janin nya, wanita itu akan berubah pikiran dan hatinya bisa tergerak untuk menyayangi debay.
" Iya. benar kata Evelyn. usia kandunganmu sudah tiga bulan. pasti udah sedikit terbentuk "
Laura mendengus, tak menyahut ucapan mertuanya dan memilih pergi ke kamar. Rini geleng - geleng dengan tatapan jengkel. Kesal sekali dengan menantunya yang tidak bisa menerima kehadiran anaknya. padahal dia asyik bikinnya tapi nggak mau ngurusnya. ckkk.
Evelyn mendelik. menatap punggung kakak madunya yang otewe jadi kakak iparnya dengan tatapan kesal. Evelyn berjalan lebar, menyusul laura dengan sedikit berlari.
" Ayok kita usg. siapa tau yang elo kandung bukan bayi manusia, melainkan bayi bajang " mencekal tangan laura.
Laura spontan berbalik. melayangkan tatapan protes ke arah Evelyn.
" Jangan ngaco kamu ! Mana ada bayi bajang. ini bayi normal "
__ADS_1
Evelyn memutar bola matanya kesal " ya udah ayok ! " menarik paksa tangan laura.
" Ihhh... lepasin Evelyn ! aku nggak mau " Protes laura, terseok - seok
" Harus mau " Tegas Evelyn.
" Ve, hati - hati " tegur rini saat laura nyaris jatuh.
Evelyn hanya mengangguk, membawa laura ke parkiran dan menuntun wanita itu duduk di mobil.
" Duduk yang tenang " Ucap Evelyn sembari memasang kan sealbelt.
Laura mendengus, bersedekap dengan wajah cemberut. wanita itu akhirnya diam saja, pasrah saat mobil yang Evelyn bawa, melaju keluar.
Mungkin sekitar dua puluh menit, Rubiccon yang Evelyn bawa sampai di rumah sakit daerah.
Evelyn memutar mobil, menuntun laura untuk turun. setelahnya, gadis itu membawa laura menyusuri koridor, mendaftar untuk mengambil nomor antre. dia masuk ke pendaftaran umum, jadi dapat antrean pendek.
Evelyn mendudukkan pantat di kursi besi, menunggu antrean dengan nomor antre Dua puluh. Mungkin setengah jam, laura mendapat giliran antre.
Sang dokter muda bername tag Farhan dengan masker putih menutupi sebagian wajah hanya melirik sekilas. Lalu tatapannya terarah ke sebuah buku besar berisi data pasien.
" Bu Laura G. Bastian, 24 tahun ? " Tanya dokter farhan memastikan.
Laura mengangguk malas, matanya bergerak liar, menelisik ruangan berbau obat itu dengan seksama.
" Silahkan berbaring " titah sang dokter.
Evelyn menarik tangan laura saat wanita itu masih bergeming di tempat duduk. Lalu menuntunnya untuk berbaring di atas brankar pasien.
" Maaf ya bu " Ucap dokter farhan, membuka kaos laura dan menampilkan sebagian perutnya yang sedikit menonjol.
Dokter farhan menuang gell bening ke atas perut laura, lalu meletakan alat pendeteksi dan sedikit menekan perut. Tatapan dokter farhan terarah ke depan, tepatnya ke monitor besar yang terpasang di tembok.
Evelyn menatap awas monitor. keningnya mengerut karena dia enggak mudeng sama penampakan di monitor itu
" Bayinya mana ? " celetuk Evelyn
Dokter farhan terkekeh, melirik sebentar ke arah Evelyn yang berjalan maju, mendekati monitor dengan mencondongkan wajah. kaya' beneran pengin lihat dan kepo banget sama bentuk bayi nya.
Evelyn menganga, saat gambar monitor berwarna hitam putih itu terlihat semakin jelas, bahkan ada sesuatu yang bergerak - gerak.
" Nah kan bener, bayi bajang " celetuk Evelyn.
Dokter farhan mengerutkan kening " Bayi bajang ? "
Dokter farhan bahkan tertawa. " Usia kandungannya baru tiga bulan dek, jadi bentuknya belum sempurna. udah ada mata, hidung dan mulut kalau itu namanya plasenta yang di pegang. Kalau kelamin belum jelas karena masih dalam tahap perkembangan. nanti kalau sudah memasuki trimester kedua, bentuknya sudah sempurna dan kelamin juga sudah bisa di lihat " terang dokter farhan.
Evelyn tersenyum tangannya terulur menggapai monitor. lalu berjinjit untuk mengusapnya. " See you debay. Gue berharap elo cepet tumbuh dan cepet lahir " Gumamnya.
Dokter farhan tersenyum, menarik tangan dan berjalan ke arah kursi.
" Nanti dua bulan lagi kesini ya ! " Titah dokter farhan.
Evelyn mengangguk cepat, berjalan ke arah laura dan tersenyum manis " Elo liat kan buah cinta elo sama kavian ? dia tumbuh dengan sehat. jadi untuk apa nyesel memiliki makhluk kecil itu ? "
Laura melengos, dadanya naik turun. enggak tau apa yang di rasa yang jelas dia nggak ada perasaan tersentuh sedikitpun saat melihat Kecebong yang sudah membesar itu. yang ada dalam hatinya hanyalah kekesalan.
÷÷÷
Damian menarik badan, menyandarkan punggung ke kepala ranjang. Lelaki itu membuka mata, memegangi kepalanya yang terasa berdenyut. Pemandangan pertama yang dia lihat adalah Punggung sam yang berdiri di depan jendela, memandang keluar ke bawah, yang hanya terdapat kendaraan yang berlalu lalang.
" Sam " Lirih Damian.
Sam berbalik, menatap datar wajah kusut dan pucat Damian.
" Ada apa ? "
" Jam berapa ? " tanya Damian
" Jam sebelas siang " Sahut sam datar.
Damian terlonjak, Beranjak bangun dan menuruni kasur.
" Awwss " Ringis Damian memegangi bokongnya.
" Kau apakan punyaku ? " sungut Damian.
Sam menarik sudut bibir samar " Sama seperti apa yang kau lakukan padaku "
" Beraninya kau ! " Bentak Damian.
" Kenapa? kurasa itu adil " Ucap sam santai.
__ADS_1
Damian mendengus, menatap jengkel wajah sam yang terlihat santai.
" Aku tak pernah mengizinkan mu untuk memasuki ku, sam " Sentak damian.
Sam terkekeh, mendudukkan pantat ke sofa dengan kaki menyilang. Pria itu dengan santai menyelipkan rokok di bibir, memantik korek dan mendekatkan nya ke rokok. detik berikutnya, asap mengepul di ruangan.
" Aku juga ingin merasakan lubang semut " kilahnya enteng
Damian berdecak, berjalan tertatih keluar dari kamar. dia memang kesal dengan sam, tetapi dia tak bisa untuk menghajar kesayangannya. Damian berjalan keluar begitu saja dengan badan yang masih toples.
Astrid mengeratkan gigi, Menatap tajam tubuh Damian yang tak terbalut sehelai benang pun, berlalu lalang di depannya. Bukan itu masalahnya, dia amat kesal dengan pria itu karena hendak menodai putra kesayangannya.
" Seharusnya aku memukul mu lebih keras lagi agar kau mati dengan kepala membusuk " Ketus astrid.
Damian tak menggubris. tetap berjalan ke arah kamar mandi. Astrid yang geram, menyambar pisau buah. mendekat ke arah lelaki durjana itu.
Jlebbb !
" Arrgghhhh " erang Damian memegangi punggung nya yang tertusuk pisau.
" Brengsek "
Greb !
Damian mencekal tangan astrid yang hendak melayangkan pisau ke wajah Damian.
Brukkkk
Tubuh astrid terpental kebelakang. Damian dengan kencang menendang tubuh wanita, mungkin saja isi di dalam perut astrid terasa remuk.
" Shhh " desis astrid kesakitan. merasa semua sendi nya sakit semua.
" Dasar bajingan ! rupanya aku telah keliru membiarkan mu hidup. seharusnya aku mengirim mu ke neraka ! " Berang Damian.
" Sebelum kau melenyapkan ku, aku yang akan lebih dulu membunumu " berang astrid. bangkit berdiri dan melayangkan pisau.
Dengan gesit Damian menghindar.
Plakk !
Damian melayangkan pukulan ke wajah astrid membuat wanita itu kembali terjatuh.
" Diggo ! " Teriak Damian
Sang bodygoard yang berjaga di luar masuk kedalam.
" Seret wanita ini ke bawah tanah " titahnya.
Diggo mengangguk. Lalu menarik lembut tangan astrid.
Dug !
Damian menendang pantat diggo
" Kenapa kau begitu lemah diggo ? cepat seret wanita sial ini pergi " Titah Damian
Diggo menurut, Menyeret kasar tubuh astrid dan membawanya turun ke bawah. tepatnya, ke ruang bawah tanah yang terletak di bar.
" Lepaskan ! " Astrid berontak.
" Diam ! " Bentak diggo.
Sam yang sedari tadi menguping di balik tembok mendengus.
" Ckkk. dasar bodoh ! wanita itu sangat gegabah. aku harus memberitahu pemuda itu " Gumam sam.
÷÷÷
Setelah mengantar laura pulang, Evelyn beralasan ingin belajar kelompok. yang sebenarnya hanyalah alibi saja.
Laura yang lagi badmood menyetujui saja, membiarkan Evelyn pergi ngeluyur.
Evelyn memberhentikan mobil di parkiran basecamp. masuk ke rumah minimalis itu sembari bersiul. Keningnya mengerut saat di halaman terdapat banyak sendal berjejer.
" Ada tamu ? " Gumam Evelyn, melongok ke pintu yang sedikit terbuka.
Tanpa memperdulikan keberadaan sang tamu, Evelyn tanpa enggan nyelonong saja masuk ke dalam.
Keningnya mengernyit kembali saat ternyata ada kumpulan para cogan nangkring di tikar ruang tamu.
" Bang galang " lirih Evelyn, namun masih bisa di dengar.
Galang spontan menoleh kebelakang. begitupun juga dengan Shakti and the geng.
__ADS_1
" Ve, "Galang mengembangkan senyumnya. bangkit berdiri untuk nyamperin Evelyn.
Up nya sedikit dan lama, karena belum sempet nulisnya. Jadwal real live masih padat dan nggak bisa di tinggal. tak usahain besok - besok up banyak.