Bukan Salahku Menjadi Madu

Bukan Salahku Menjadi Madu
Eps. 44


__ADS_3

Motor hanna berhenti di depan gerbang tinggi bercat hitam. pak satpam yang lagi ngopi, beranjak berdiri, membuka gerbang lebar - lebar dan menganggukkan kepala saat hana menyalakan klakson.


" eh, han kebetulan kamu dateng ! " bu indri melambai, mengkode hana untuk menghampiri.


hanna tersenyum, memarkirkan motor tepat di depan halaman rumah mewah dua lantai yang berd


" maaf ya bu, tadi nungguin bapak pulang dulu, jadi telat deh "


" nggak papa, ini baru selesai di bungkus " bu indri meraih tangan hanna untuk di cium punggung tangannya.


" ke rumah bu sari ya ! " titah bu indri, berjalan masuk untuk mengambil beberapa kotak yang belum di angkut keluar.


hanna yang lagi sibuk mengangkat susunan kotak nasi jadi mendongak " bu sari ? " gumamnya. kepalanya agak miring. berpikir kalau namanya nggak asing.


ada sekitar 50 kotak kardus nasi. dan itu hanna bawa sendiri. di taruh di jok belakang motor yang diletakkan di karung kain, sisi Kanan kiri jok.


" hati - hati ya ! pelan - pelan, jangan ngebut. nanti nasinya tumplek " ucap bu indri setelah semua kotak itu tersusun rapi di karung.


hanna mengangguk, seperti perintah bu indri, motornya melaju pelan. keluar dari gerbang yang masih terbuka lebar.


sekitar 5 menit, hanna memberhentikkan motornya di depan gerbang yang sama bagusnya dengan gerbang bu indri. Hanna celingukan mencari pak satpam yang nggak tau entah kemana.


hanna menggaruk sisi kepala, bingung juga kalau misalnya langsung buka gerbang nanti di kata nggak sopan. gerbangnya memang tertutup tapi nggak ke kunci.


tinnnnnn !


hana terjingkat kaget saat mendengar seruan klakson yang berbunyi keras di belakangnya. hana merengut sebal. meminggirkan motornya ke sisi gerbang.


terlihat dari dalam gerbang, seorang pria gendut berlari tergopoh - gopoh membuka gerbang.


" maaf den, habis dari kamar mandi " ucapnya, membungkuk ke pemilik mobil yang kacanya sudah terbuka setengah.


cowok itu melirik ke hana yang melengos ke arah lain. " ada bel mbak di sana ! di pencet aja. jadi nggak usah cosplay jadi patung ! " ketusnya, menyalakan mesin mobil sambil melirik judes Ke arah hana yang sudah beralih tetap. pengin lihat langsung kayak apa cowok yang dengan songongnya, nggak ngomong maaf karena udah bikin orang jantungan.


" maaf ya mbak, den darrel memang suka begitu. aslinya baik kok " ucap pak satpam.


" enggak papa, udah biasa kok pak ketemu orang modelan majikan situ " sahut hana dengan wajah yang masih terlihat kesal. bahkan menjawabnya tanpa menoleh ke pak satpam.


mentang - mentang orang kaya, mereka bisa berbuat seenaknya ke orang miskin. ckkk, coba aja kalau posisinya di tuker. dia yang kaya, pasti udah ngomel habis - habisan.


hana melaju pelan ke halaman rumah. Bergegas turun karena pemilik rumah sudah stand by di teras. Hana lantas meletakkan catering nya dengan di bantu art serta bu sari.


" makasih ya han, udah repot mau nganter segala " ucap bu sari setelah semua kotak nasi itu selesai di angkut masuk.


hana terkekeh " udah kerjaan saya buk, masa pelanggan di suruh ngambil sendiri "


bu sari ikut terkekeh. pelan, tangannya menepuk pundak hana " sering - sering mampir kesini ya.. ajak juga bapakmu "


" bapak pulangnya malem terus buk, jadi nggak tega ngajak keluar."


" berarti kapan - kapan aku yang mampir ya ! "


hana meneguk ludah kasar, menggaruk tengkuknya yang nggak gatal. " rumah saya jelek bu, "


bu sari tertawa kecil " memangnya kenapa?, yang penting kan rumah orang, bukan rumah singa " kelakar nya mengundang tawa hana.


÷÷÷


" berangkat bareng mbak, yuk ! "


laura mengapit tangan Evelyn, senyum manis tercetak dibibir wanita itu.


evelyn nggak langsung jawab, matanya lebih dulu melirik gondelan tangan kakak madunya


" enggak, gue bareng shakti aja " tolak Evelyn, sembari melepaskan pegangan tangan.


bahu laura melemah. sebenarnya nggak ada ceritanya istri tua dan istri muda akur, tapi dia nggak se picik itu. membenci gadis yang memang kaya nggak ada ketertarikan sama suaminya. bahkan mereka berdua jarang berinteraksi. jadi nggak mungkin ada affair kan? atau kata lainnya gadis di depannya bukan kebanyakan pelakor pada umumnya.


" nanti jadi kan, ikut mbak ke kantor ? " laura memiringkan kepala, karena Evelyn mengalihkan pandangan dari wanita itu.


" nggak tau, males ke sana ! " ketus Evelyn.


laura menggigit bibirnya, bingung mau ngomong apa lagi, dia bukan tipe wanita yang banyak omong alias cerewet. kadi dia nggak bisa menimpali kalimat Evelyn yang nyolot itu. enggak marah si, cuma kaya speechless gitu.


tak berselang lama, motor Shakti menghampiri keduanya. laura menatap sebal ke arah adik iparnya yang tersenyum tengil ke arahnya. matanya melirik leher yang memang masih ada bercak ****** itu. ckk maksudnya apa coba? mau pamerkah? bikin laura tambah kesel bawaannya pengen hapus pake pemutih, bercak itu.


tak ingin berlama - lama, Evelyn segera mendudukan pantatnya di jok motor shakti


" duluan mbak ! " shakti berpamitan menyalakan klakson, melambai tangan sama kakak iparnya yang masih masang wajah jutek. penginnya gethok kepala shakti biar otaknya ilang sepuluh ons. huh !


setelah di ambang gerbang, Evelyn langsung memepedkan tubuhnya ke punggung Shakti.

__ADS_1


laura memicing saat melihat adegan itu, kaya aneh gitu. mereka keliahatan seperti layaknya pasangan. laura segera menepis pikiran buruk itu. dasarnya, wanita itu kurang suka negative thinking dengan orang lain. kecuali ke suaminya. yang memang udah berani beristri dua.


÷÷÷


darrel segera berlari, setelah motor shakti berhenti di parkiran.


" ve, " senyum manis terukir indah di bibir darrel.


evelyn hanya melirik sekilas. gadis itu berjalan mendahului tanpa menggubris sapaan darrel. darrel menunduk, agak tersinggung sih, tapi dia tahu diri. yang namanya orang salah nggak harus langsung di maafin kan?


" gimana, keadaan cindy ? " tanya Shakti tangannya sibuk meletakkan helm ke spion.


" keguguran " sahut darrel, datar.


shakti menepuk pelan bahu darrel " sabar ya, entar kalau udah halal bikin lagi "


darrel meninju dada shakti " gue udah cerai "


shakti mengerutkan kening " kenapa? gara - gara dia keguguran ? dia kan keguguran karena elo dorong "


bibir darrel mencebik " iya tau, tapi kandungannya baru empat minggu, sedangkan kejadian malam itu udah lebih dari 4 bulan. kalau elo pinter, elo bakal bisa nebak isi hati gue " melenggang pergi setelah menjelaskan itu.


shakti terdiam, mencerna ucapan darrel. cowok itu menggeleng, nggak nyangka banget kalau cindy, gadis polos bisa berbuat senekad dan se licik itu. tapi mengingat gadis itu sering ribut dengan Evelyn, dia nggak ragu kalau cindy emang bukan gadis polos seperti wajahnya. pasalnya, yang berani ngeladeni evelyn, pasti sifatnya sebelas dua belas sama singa.


di ruang kelas, suasana sudah ramai. karena hari ini hari di adakannya lomba class meeting.


" bos, masak kita beneran mau ikut lomba balap karung, yang bener aja.. ckkk, gue sunat juga tuh samsul " gerutu livy, menatap jengkel ke arah samsul yang sekarang lagi sibuk nulis daftar lomba beserta para kandidat.


Evelyn hanya menarik sudut bibir, saat ariel masuk ke kelas. " elo nggak lupa kan sama janji elo "


ariel mengerutkan kening, baru dateng udah di tanya kayak gitu, ibarat nyawa belum kumpul di suruh lari. ckkk, " gue nggak ngerasa utang janji "


" itu yang kemaren, elo janji mau bugil sambil ngesot di lapangan kan? " sambung livy.


ariel mendengus, menatap penuh kebencian sama makhluk cantik di depannya, yang sayangnya kelakuannya nggak secantik wajahnya.


" gue punya penawaran ! " jawab ariel. orang bodoh mana yang mau menyetujui tantangan gesrek itu.


evelyn tersenyum sinis. " bilang aja elo takut. "


Evelyn mengikis jarak, mengusap dada ariel yang terbalut jaket jeans biru dongker " dengan senang hati, gue terima penawaran elo "


ariel tersenyum smirk " elo lawan gue ! "


" kalau gue menang, elu yang bugil. tapi nggak di lapangan. cukup di depan gue ! " imbuh ariel, senyum iblis Terbit di bibirnya.


wajah Evelyn melengos. aseli, pengin lempar tai ayam ke muka jeleknya ariel " nggak sudi "


ariel tertawa kecil " kalau elo nggak mau. elo harus jadi budak gue "


cloe dan livy melotot lebar " sowrehhh, modelan serbet kaya elo, minta jadi raja ? Ngacaaa sana !." sungut cloe.


ariel hanya memutar bola mata jengah. tak menggubris cerocosan cloe.


" gimana? " tanya ariel, menoleh ke arah Evelyn.


" siapa takut ! " setelah mengatakan itu, evelyn mendorong ariel sampai terjatuh, karena cowok itu hampir mencium bibirnya.


Evelyn menatap jengkel ke arah ariel yang menyeringai puas. bukan salah ariel juga sih, soalnya Evelyn dulu yang mancing - mancing. sentuh sana sentuh sini. ckkk, untung di sekolah ya, coba kalau di luar, sudah pasti ariel akan berbuat nekad.


" bos, elu yakin mau lawan ariel? ahh, dia kan badannya kecil. udah pasti jalannya cepet?' livy mencoel lengan Evelyn, memanyunkan bibir karena gadis itu terus berjalan.


" yakin " sahut Evelyn singkat, tanpa menoleh.


cloe berdecak " gue nggak sudi kalau elo bugil di depan monyet itu "


Evelyn menghentikan langkah, berbalik badan. tangannya bergerak menggetok kening kedua temannya.


" punya otak tu buat mikir, bukan buat pajangan " makin ya menatap jengkel ke arah dua temannya.


" kita punya seribu cara buat menang. jadi nggak usah khawatir. ngerti ! " ketus Evelyn kembali berjalan meninggalkan kedua temannya.


cloe dan livy beradu pandang. detik berikutnya mereka mengedikkan bahu, karena nggak mudeng sama omongan temannya.


aula


dan disinilah mereka berada. di aula yang terletak di dalam lingkungan gedung sekolah.


aulanya cukup luas, bahkan bisa menampung keseluruhan siswa.


di aula ini. ada berbagai macam lomba. yang jelas udah di skat pake tali. jadi ada sekitar 4 kotak garis yang dipake lomba yang mereka tempatkan di setiap sudut area.

__ADS_1


cloe menyenggol lengan livy, mengkode agar menatap ke arah Evelyn yang saat ini menikmati lomba tanpa ada rasa was - was sedikitpun.


" bos ! "


Evelyn menoleh, menatap bingung ke arah livy yang memanggilnya.


" bentar lagi lu main sama ariel kan? abis si una ? " tanya livy dan di balas dengan anggukan


livy jadi menoleh ke arah cloe yang menyimak pembicaraan livy. gadis itu sampai menggaruk sisi kepala karena bingung sama sikap Evelyn yang terlihat santai tanpa beban.


permainan una dan lawan yang merupakan kelas sebelah berakhir. kini giliran Evelyn dan ariel yang main.


di balkon atas, shakti berdiri membungkuk dengan perutnya bertumpu ke pembatas balkon. cowok itu terkekeh, saat setengah badan evelyn masuk ke karung.


haikal mengarahkan pandang, lalu tersenyum miring saat melihat permainan balap karung yang akan di mulai.


kening shakti mengerut, saat di belakang ariel. ada livy yang tangannya lagi sibuk ngelakuin sesuatu. tapi shakti nggak tau karena jaraknya dari balkon lumayan tinggi.


prittt !


suara aba - aba berupa peluit dari seorang siswa laki-laki melengking di udara, menandakan lomba dimulai.


Keduanya mulai bergerak melompat. Evelyn berdecak, karna dia tertinggal beberapa langkah dari ariel. suara sorak dari beberapa siswa dan siswi terdengar riuh dan berisik.


" ariel , ariel, ariel "


" bosss, woy ! tendang aja kakinya. " ini livy yang teriak.


Walaupun kubu Evelyn hanya ada cloe dan livy. tapi suara cempreng mereka berdua mengimbangi suara kubu ariel.


" huuuuu " sorak dari beberapa siswi yang berada di kubu ariel.


livy memutar bola mata jengah, menatap penuh permusuhan kepada kubu itu. sedangkan cloe, gadis itu menyodorkan, menggerakan pantat. mengolok - olok dengan menjulingkan mata ke kubu ariel.


suasana semakin panas, karena jarak satu meter lagi, ariel hampir ke garis finish. namun sorakan penyemangat itu tiba - tiba menjadi gelak tawa. karena ariel sudah bergoyang, goyang. menggeliat kegelian. bahkan bocah itu sudah terjatuh ke lantai, masih dengan mengegliatkan tubuh.


cloe dan livy tertawa puas. mereka bertos ria, saat Evelyn masuk ke garis finish.


Shakti menggeleng dengan tawa membahana. begitu juga dengan haikal yang terpingkal, bahkan sampai terduduk ke lantai.


ariel sudah di tarik oleh samsul untuk berdiri. dengan kesal, ariel menghempaskan karungnya.


semua mata melotot lebar saat beberapa cacing keluar dari karung itu. bahkan sampai ada yang muntah saking jijik nya.


" elo kalah " seru Evelyn mengalihkan pandangan ariel dari cacing itu.


" elo curang ! elo kan yang udah naro cacing itu ? " ariel menuding wajah Evelyn.saking kesalnya, wajahnya sampai memerah.


Evelyn menepis telunjuk ariel " nuduh tanpa bukti itu fitnah"


" nggak usah ngelak, gue paling hafal sama otak busuk lo ! " ariel masih kekeuh, bahkan suaranya sudah meninggi.


" udah deh ril, kalau kalah ya kalah aja. " samsul melerai memeluk tubuh ariel dari belakang.


" minggir. jijik gue " ariel mendorong tubuh samsul, membuat pantat cowok itu mencium lantai.


" nggak usah kasar ! terima aja kekalahan elo. dan sekarang gue minta. lepas semua baju lo " ketus Evelyn. menatap tajam ke arah ariel yang matanya udah melotot.


" jangan mimpi !, " bentak ariel.


" cloe " panggil Evelyn, menoleh ke arah cloe yang berdiri di belakangnya.


mengerti maksud temannya, cloe dan livy mencekal tangan ariel.


" lepasin ! " ariel berontak.


" buka bajunya ! " titah Evelyn ke samsul, menunjuk ariel dengan dagu.


" lepasin ! " sungut ariel dengan tangan berusaha menepis cekalan cloe dan livy.


" cepet samsul. ! " seru livy, karena samsul masih bergeming. cowok itu nggak punya cukup keberanian untuk memihak salah satu kubu dari mereka.


dengan langkah ragu, samsul menuruti perintah gadis itu. menanggalkan semua seragam yang di kenakan ariel dan hanya menyisakan celana boxer motif bunga.


" hahahahha " mereka semua nggak ada yang nolongin. malah di jadikan tontonan seru. tawa menggelegar saling bersahut - sahutan. saat ariel sudah terduduk. dengan keadaan setengah toples.


" cepet ngesot ! "


ariel tetap menurut, karena nggak ada dari mereka yang mau membela. bocah itu ngesot memutari aula. dengan seenak singkong, Evelyn dan kedua temannya. nyelonong pergi begitu saja.


ariel mengepalkan tangan. matanya menatap penuh dendam ke arah tiga gadis itu.

__ADS_1


" brengsekkk ! "


__ADS_2