Bukan Salahku Menjadi Madu

Bukan Salahku Menjadi Madu
Eps. 63


__ADS_3

Astrid celingukan ke kanan dan ke kiri, menatap takjub ke setiap sudut hunian bergaya modern dengan berbagai furniture mewah di dalamnya.


Astrid menoleh ke samping, dimana Damian tersenyum ke arahnya.


" Ini rumahmu ? " tanyanya


Damian menganggukkan kepala, menarik lembut lengan telanjang astrid untuk menaiki lift yang tersedia. teknologi semakin canggih sekarang, sehingga dengan mudahnya para kalangan sultan membuat sesuatu menjadi lebih mudah. seperti rumah Damian itu, terdapat lift sebagai akses lain dari tangga yang menjulang panjang, yang pasti kalau di naiki akan membuat kaki encok seketika.


Rumah Damian memang enggak sebesar rumah kavian, tapi rumah Damian tergolong modern karena damian sendiri termasuk lelaki yang selalu up to date kalau tentang soal bergaya. kekayaannya yang berlimpah jelas membuatnya bisa melakukan apa saja.


" Ini kamarmu ? " tanya astrid dengan wajah yang takjub juga seolah - olah dia belum percaya kalau kekasihnya itu sangat kaya raya.


Damian menyunggingkan senyum, membentuk senyum sinis. melihat astrid yang bertingkah seperti orang kampung baru datang ke kota, jelas membuatnya sedikit ilfeel.


" Ayok, kita istirahat ! " ajak Damian, mendorong pelan tubuh astrid ke kamar.


" Aku ada urusan, kamu nggak papa kan kalau aku tinggal ? " ucap Damian.


Astrid hanya mengangguk, matanya masih gencar memperhatikan ruang kamar yang luas, seluas kamar yang dia tempati di rumah menantunya.


Efek badan capek, jadilah astrid mengantuk. wanita itu tanpa sadar tertidur di ranjang.


Enggak tau sudah berapa jam tertidur, astrid terbangun karena mendengar suara berbisik di luar. astrid melangkahkan kakinya dengan ragu, tangannya bergerak meraih handle pintu. saat sampai di balkon kamar, astrid mengerutkan keningnya saat keadaan rumah tampak gelap, namun terdengar musik romansa mengalun indah.


" Apa Damian belum pulang yah ? " gumamnya lirih.


Astrid melangkah sepelan mungkin, namun tiba - tiba kakinya menginjak sesuatu.


" Apa ini ? "


Astrid berjongkok, meraba - raba di bawahnya untuk mencari tahu apakah gerangan yang dia injak. kening astrid kembali mengkerut saat tangannya menyentuh sebuah rambut.


Ctakk !


Tiba - tiba Lampu menyala terang membuat astrid mengerjapkan mata. wanita itu beringsut mundur saat ternyata tepat di depannya, ada damian yang berjongkok sembari memegangi kotak.


Mata astrid membelalak lebar, di tutupnya mulutnya yang menganga saat sebuah cincin bertengger di kotak itu.


" Will you marry me ? " tanya Damian dengan selembut mungkin.


Mata astrid berkaca dengan dada yang berdebar kencang. dilamar oleh pria tampan, gagah, dan kaya raya, siapa yang mau menolak ?. dan tanpa berpikir panjang, astrid mengangguk cepat, berlari berhambur ke dalam pelukan Damian untuk menumpahkan keharuan nya. wanita itu tergugu seiring kupu - kupu yang berterbangan di dadanya.


Damian tersenyum iblis, mengelus punggung astrid seraya mengecup rambut terawat wanita itu. setelah menumpahkan segala kebahagiannya, pasangan yang tak lagi muda itu berdansa di atas balkon, dengan lampu yang kembali redup. hanya ada beberapa lilin yang menjadi penerangan.


Mata astrid tak berhenti memandangi betapa indahnya ciptaan tuhan di depannya itu. astrid jadi ingat dengan Glen Bastian, lelaki yang begitu sempurna di matanya yang tak lain adalah mendiang ayah Laura. bentuk dan rupa Damian nyaris mendekati Glen, hanya saja glen lebih sederhana dan tidak terlihat menonjol.


Astrid memeluk Damian, menyandarkan kepala di dada bidang pria itu. " Terima kasih, aku akan menyerahkan seluruh jiwa dan ragaku untuk mu "


" Benarkah ? " tanya Damian, masih dengan posisi yang sama.


Astrid mengangguk cepat " tentu, aku akan melakukan apapun yang kamu inginkan "


Damian menyeringai, melerai pelukan dan mengecup dalam - dalam kening astrid. tangannya terulur, membingkai wajah astrid yang semakin hari terlihat semakin kinclong. Damian meraub bibir astrid dan menyesapnya rakus.


Tanpa astrid sadari, ini adalah awal dari petaka dalam hidupnya.


÷÷÷


" Jake, bagaimana di London? apa sudah ada kemajuan ? " tanya kavian di seberang telepon.


" Iya tuan, kabar baiknya perusahaan di sini sudah stabil dan kami sudah menyelidiki siapa dalang dari pengacau yang meneror para kurir " jelas jake.


Kening kavian mengkerut " peneror ? "


" Iya, jadi ada sebuah agen yang sengaja melakukan beberapa tindak kriminal kepada para distributor, sehingga barang yang hampir sampai ke konsumen menjadi mangkrak, bahkan banyak yang sampai kadaluarsa. dan sialnya, itu dilakukan dari beberapa tahun yang lalu. puncaknya yaitu tahun ini karena banyak keluhan dari pelanggan. " jelas jake


Kavian mengepalkan tangannya " siapa agen itu ? "


" Menurut laporan dari Kate, agen itu berpindah - pindah tempat, jadi kami belum bisa menangkap dalang dari agen itu. namun, sesuai informasi yang saya dapat, sekarang dia ada di indonesia. jadi mungkin beberapa minggu lagi saya beserta tuan besar dan nyonya besar akan pulang. dan tuan besar berpesan agar tuan muda serta keluarga hati - hati, kalau perlu menempatkan beberapa bodygoard di setiap sudut rumah " jelasnya seraya terkekeh.


Kavian terkekeh, terdiam sejenak untuk berpikir. ' mungkin pembuat artikel itu adalah salah satu dari mereka ? ' batin kavian bertanya - tanya.


" Hon, katanya cuma sebentar ? " laura menghampiri kavian yang berada di dalam basecamp.


Kavian tersenyum, mematikan sambungan telepon dan merangkul Pundak istrinya membawanya keluar. sedangkan darrel sudah dari tadi meninggalkan kavian.


" Kav, " kaki yang hendak melangkah ke parkiran jadi terhenti saat seseorang memanggilnya.


Kavian dan laura membalik badan, menatap heran ke arah angel yang mendatanginya.


" Aku nebeng ya ! " ucap angel.


Laura memutar bola matanya jengah, tangannya bergerak mengibas menandakan menolak permintaan angel.


Kavian menggaruk tengkuknya, melirik sebentar ke arah istrinya yang wajahnya udah jutek dan kelihatan kesal.

__ADS_1


" eumh,, aku enggak langsung pulang angel, jadi maaf ya kayaknya enggak bisa " ucap kavian hati - hati.


Angel mengerucutkan bibir " aku enggak bawa mobil loh kav "


" Kamu kan bisa naik taxol, gitu ajah kok bingung. nggak usah modus deh. " sungut Laura yang mulutnya udah gatel pengin nyembur kata seblaknya.


Angel mengepalkan tangannya, matanya menatap jengkel ke arah Laura yang sengaja sekali memeluk posesif suaminya.


" Ayok pergi, kakiku gatal di gigit nyamuk " rengek Laura.


" Maaf angel, lain kali ya " kavian tersenyum sebelum berbalik meninggalkan angel yang bibirnya masih terkatup rapat.


Laura menjulurkan lidah ke arah angel sebelum benar - benar masuk ke mobil. Angel menatap marah ke arah bokong mobil mewah yang perlahan menghilang dari pandangan.


" Sadar diri, istri kavian udah dua, muda dan cantik. elo yang udah tua, udah beranak satu pantasnya ya dapet duda paruh baya " ucap evelyn memecah lamunan laura.


Angel tersentak, menoleh ke belakang dengan tatapan jengkel " sembarangan, aku masih muda. " sewotnya.


Evelyn terkekeh " kalau mau ngincer spek kavian, seharusnya ngaca dulu, muka elo udah mulus apa belum? muka jerawatan gitu mau nyaingin istri - istrinya yang spek bidadari bermuka kapas, putih halus. enggak bakal di lirik "


Tangan angel kian mengepal, wajahnya memerah dengan urat - urat menonjol.


" Seenggaknya aku enggak merebut suami orang, seenggaknya aku bukan duri dalam rumah tangga orang " sindir angel.


Evelyn memutar bola matanya jengah, sering mendengar kata cacian sebagai pelakor ternyata membuat gadis itu terbiasa. dia nggak marah sama sekali, bahkan terlihat acub dan cuek seolah - olah yang ngomong itu radio rusak.


" seenggaknya aku mendapatkan status dari kavian enggak kaya' elo sad girl " balasnya dengan sunggingan senyum miring.


Angel menghentak kakinya kesal, menuding tepat ke wajah Evelyn. mulut yabg hendak terbuka kembali terkatup saat gerombolan adiknya berjalan ke arahnya.


" Mbak belum pulang ? " tanya darrel heran.


Angel hanya mengangguk, melirik sekilas ke arah Evelyn yang masih memasang wajah meledek.


" Mau ku anter mbak ? " tawar iqbal.


Angel terdiam menimang tawaran iqbal yang menggiurkan. pasalnya ini udah tengah malem yang jelas dia parno kalau harus berkeliaran di jalan.


Zaman sekarang rawan yang namanya begal dan sejenisnya. melirik sebentar ke arah Evelyn yang menatapnya datar. angel mengangguk tanda menerima tawaran iqbal. melangkah kaki setelah iqbal berjalan mendahului.


" Roman - roman nya, iqbal lagi kepincut janda beranak " celetuk ifal dan di hadiahi geplakan oleh darrel.


" Anying " umpat ifal.


÷÷÷


" Ahhh " astrid melenguh saat Damian mendaratkan ciuman di puncak dadanya.


Enggak cuma mencium, tapi menyesapnya cukup lama. astrid menunduk, mengecup puncak kepala Damian dengan sayang.


Damian mendongak dengan bibir yang masih menempel di benda kenyal astrid. tangannya terulur, membelai pipi astrid yang sedikit merona.


Damian menarik diri, tersenyum saat astrid menunduk dan menarik selimut untuk menutubi tubuh telanjang nya.


" Jam berapa ? " tanya astrid


" Jam delapan " sahut Damian, sembari berjalan ke meja rias untuk mengeringkan rambut.


Kening astrid mengkerut " kamu nggak berangkat ke kantor ? "


Damian meletakkan hairdryer, berbalik badan untuk menatap wajah astrid. Damian memasang wajah galau, khas orang susah. memainkan jemarinya sembari menunduk.


" Perusahaan ku sedang bermasalah "


Astrid terdiam, mendengar pernyataan itu jelas membuatnya ikut panik, karena kalau perusahaan Damian ambruk memberartikan dia kembali hidup susah. dan dia enggak mau, apalagi dia sudah berjanji untuk menikah dengan Damian. ckkk.


" Lalu bagaimana? apaasih bisa di perbaiki ? "


Damian menarik sudut bibir samar, ini yang dia tunggu - tunggu. " tentu, tapi... lumayan sulit "


Astrid meneguk Ludah susah payah, " t..terus ? "


" Sebenarnya ada satu cara.. tapi... " Damian menjeda, melirik sebentar ke arah ranjang dana astrid masih menyimak perkataannya dengan wajah serius.


" Tapi apa ? " tanya astrid setelah sepersekian menit Damian terdiam.


" Aku nggak enak ngomongnya " damian menggaruk tengkuknya.


Astrid menarik diri, beranjak Turun ke meja rias dengan selimut yang melilit tubuh plontoanya.


" Bilang saja. kalau aku bisa, aku pasti akan membantu "


Damian tersenyum simpul, memajukan badan untuk mengecup bibir astrid. cuma kecupan singkat, Namun mampu membuat wajah astrid merona.


" Benarkah ? " tanya Damian antusias.

__ADS_1


Astrid mengangguk cepat " iya, aku pasti akan membantumu "


Damian menarik pinggang astrid, memepedkan tubuh ramping wanita itu hingga selimut tebal yang melilit tubuh astrid merosot jatuh. di tatap nya dalam - dalam mata wanita di depannya yang benar - benar memancarkan seribu bintang kekaguman.


Damian merengkuh tubuh astrid menempelkan dagunya ke bahu telanjang wanita yang tak lagi muda tetapi tubuhnya masih terasa kencang.


" Terima kasih " gumamnya.


Astrid mengangguk, tangannya bergerak mengelus rambut Damian. mengecup singkat kepala itu dalam - dalam.


" Aku kan sudah bilang, akan melakukan apa saja untuk mu " ucap astrid di sela mengelus kepala.


÷÷÷


Basecamp yang biasanya sepi, kini pagi - pagi sudah ramai oleh bocah tk berkedok pelajar SMA.


Haikal di buat pening dengan kelakuan iqbal dan Evelyn yang sekarang jambak - jambakan sedangkan shakti yang seharusnya melerai ke bar - baran kekasihnya harus di sibukkan dengan pekerjaan dapur . jadilah cowok itu hanya menggeleng kepala sembari menghela nafas melihat keributan basecamp.


Hana sendiri sedang adu mulut dengan darrel, perkara pembalut yang hilang entah kemana.


" Najis banget gue mungutin pembalut elo " sungut Darrel tak terima di tuduh mengambil pembalut.


" nggak usah ngelak, gue lihat sendiri elo masuk ke kamar mandi pas gue tinggal sebentar " kekeuh hana


" cewek sinting ! buat apa gue ngumpetin pembalut ? " sewot darrel yang frustasi dengan sifat keras kepalanya hana.


" elo dari dateng udah cari gara - gara sama gue, jadi besar kemungkinan elo emang sengaja ngerjain gue, iya kan? ngaku lo " hana menggeplak tangan darrel.


" aaarggghhh " darrel menyerang frustasi sembari menjambak rambutnya.


Haikal sendiri akhirnya mengabaikan kegaduhan mereka. cowok itu melangkah lebar ke dapur menghampiri shakti.


" Belum mateng nyet ? " tanya haikal menyandarkan tubuhnya ke tembok.


Bibir shakti mencebik " gimana mau mateng , orang nggak ad ayang bantuin juga " dumelnya.


Haikal terkekeh, menghampiri shakti dan ikut mengupas bawang.


" Elo beneran mau serius sama Evelyn ? " tanya haikal di sela mengupas.


Shakti tersenyum tipis seraya mengangguk " kalau dari awal gue tau Evelyn mau di lempar ke keluarga gue, gue adalah orang pertama yang nangkep dia "


Haikal menghela nafas, enggak heran temannya ngomong kaya' gitu. walaupun Evelyn terlihat bar - bar dan judes tapi pesonanya enggak main - main.


" Gue sebagai temen ngehargain elo kalau mau pacaran sama siapa aja. tapi tolong elo inget batasannya " petuah haikal.


Shakti berhenti mengiris bawang, menoleh ke samping dengan kening mengkerut " batasan apa yang elo maksud ? "


Haikal mendengus, melirik jengah ke arah shakti yang emang wajahnya udah imut, polos kaya' bayi. tapi enggak sama sifatnya. yang sekarang menjadi liar dan agresif.


" nggak usah pura - pura bego deh nyet, sehabis subuh tadi gue liat elo lagi nyusu evelyn di kamar " kesalnya.


shakti terbatuk, tersedak ludahnya sendiri. shakti melotot lebar dengan fegup jantung berdebar kencang


" Elo salah liat kali " balasnya dengan membuang muka menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu.


Haikal berdecak, tangannya bergerak menoyor kepala shakti yang sudah terkontaminasi otak mesumnya Evelyn.


" Gue emang suka nyut - nyutan kalau liat bodynya Evelyn, gue juga memaklumi kalau elo juga sama kaya gue. tapi elo tau norma - norma agama shak, elo paham ilmu agama, seharusnya elo bisa mengendalikan diri " marahnya haikal.


Shakti menunduk dengan jakun naik turun. iya dia juga sadar kok kalai yang dia lakuin itu salah, tetapi yang namanya nafsu itu memang berat. apalagi Evelyn yang badannya sebagus itu sengaja banget di pamer - pamerin ke dia.


Kalau boleh milih, dia lebih memilih bersihin rumah sekampung tinimbang menghindar dari jeratan pesona kekasihnya.


" Gue lagi berusaha kal, tapi... elo tau sendiri kan? Evelyn kaya' apa.. sekuat apapun aku menghindar, dia nggak akan membiarkan begitu saja. dia selalu ada cara membuat gue khilaf.. ashh " mendesah setelah mengatakan itu.


tadi pas subuh, sehabis sholat Evelyn nyamperin ke kamar. sengaja banget cuma pakek tanktop terus tanktopnya di pelorotin kebawah jadilah dua gunung kenyalnya meloncat keluar. lelaki mana yang tahan. sekalipun imannya sedalam paling Mariana kalau si penggoda itu malah menyodorkan benda kenyal itu dan memasukkannya ke mulut. aishh, emang suka aneh - aneh si Evelyn.


shakti menggeleng cepat saat mengingat moment mesum tadi pagi, moment dimana dia nyusu sampe ngantuk. bener - bener ajaib kelakuan pacarnya itu.


" Shak " sentak haikal saat shakti melamun sambil geleng - geleng dan cengengesan.


" Kalau elu masih kaya' gitu, terpaksa gue aduin ke mamih rini " ancam nya yang sontak mendapat tendangan maut di kaki.


" aws " ringis haikal mengusap tulang kakinya.


" Jangan gitu elah, gue kan emang enggak sengaja. Evelyn yang nyumpelin semangkanya ke mulut gue. ya mubadzir dong kalau di lepeh " terkekeh setelah mendapat pelototan dari haikal.


" Anak setan lo " berang haikal melempar bawang merah ke wajah shakti.


" Bilang aja elo iri, pake acara mau ngadu ke mamih segala " cibir shakti, lalu menggeser tubuh saat haikal hendak melempar gelas.


" Amit - amit. gue enggak mau di ruqyah sama bapak " sahutnya sembari bergidig.


" iya diem - diem lah, sembunyi - sembunyi " sesat shakti.

__ADS_1


Haikal menggeleng " nggak waras lo ! "


__ADS_2