
Evelyn membuka bungkus kado berwarna hitam yang merupakan pemberian dari anya. membolak - balik kardus persegi iti seraya mengocok untuk mebgetahui apa isi di dalamnya. Kening evelyn mengerut, kembali menatap kardus bertuliskan yXL sebuah brand ternama yang sedang melambung tinggi itu dengan kening mengkerut.
Pelan, tangan evelyn terulur membuka kardus tebal itu dan memperhatikannya lamat - lamat. kening evelyn kembali mengerut saat ternyata isi di dalamnya merupakan sebuah kain tipis berwarna hitam dan mengkilat. Evelyn lebih dulu menyentuh kain itu, merabanya dan itu terasa lembut dan halus. jelas saja, harganya saja kisaran gaji Landung satu tahun.
" Hah ? " Evelyn ternganga dengan wajah terkejut. Menerawang kain pendek itu dengan wajah memerah. Evelyn membuang muka saat menyadari kain itu adalah kain lingerie yang pada umumnya di kenakan oleh pengantin baru.
" Dasar anya ! " Kesalnya membanting kain itu ke lantai.
Klek
Evelyn menoleh ke belakang, melotot saat ternyata suaminya keluar dengan hanya menggunakan handuk yang melilit di area bawahnya. Rambut shakti basah, buliran air menetes di dada dan tercium aroma sabun yang pekat.
Evelyn memalingkan muka. wajahnya bahkan memerah bak kepiting goreng. padahal udah sering liat suaminya bertelanjang dada, tapi entah kenapa malam ini terasa beda. Mungkin karena malam ini merupakan momen termanis yang di tunggu - tunggu dari sekian purnama yang lalu, malan dimana Evelyn mungkin akan melakukan aktivitas panas sepanjang malam. Jantung Evelyn langsung berdebar, ditatapnya tangannya yang sudah berkeringat dingin juga sekujur tubuhnya yang tiba - tiba memanas dan bergetar.
" Kamu nggak mandi ? " Tanya shakti memecahkan getaran tubuh evelyn.
" Enggh, udah tadi " sahut Evelyn terbata.
Shakti manggut - manggut, berjalan ke arah ranjang dimana sebuah piyama lengan pendek tergeletak. yang mana itu adalah piyama yang berasal dari kado - kado temannya.
Shakti memakainya di dalam kamar, sesekali melirik istrinya yang gencar mencuri - curi pandang ke arahnya.
" A.. aku mau ke kamar mandi dulu " Pamit Evelyn menyambar kain hitam dan membawanya.
Shakti menggeleng dengan tawa kecil, menertawakan tingkah Evelyn yang terkesan malu - malu meong dan ya, itu sangat manis dan lucu.
" Cewek kalau lagi salting kek gitu ya ? " Gumamnya ke pintu kamar mandi.
Shakti merebahkan tubuh ke ranjang, memainkan ponsel lamanya yang beberapa waktu lalu di berikan oleh kavian.
Penerbangan mu dua hari lagi
" Uhukk... Uhukk " Shakti terbatuk, tersedak ludah sendiri.
" Apa - apaan ? " pekiknya, membanting ponsel ke ranjang.
Shakti merengut sebal, menatap sengit layar ponsel yang masih menampilkan deretan kalimat yang di kirim oleh kakaknya.
" Ckk, abang gue suka kadang - kadang. baru juga mau buka segel botol, masa' mau langsung di depak ke luar negeri " Gerutunya.
Evelyn yang baru keluar dari kamar mandi, mengerut bingung saat mendapati wajah tertekuk suaminya.
" Kenapa ? "
Shakti menoleh cepat, mengembangkan senyum saat istrinya berjalan ke arahnya. Shakti menelisik penampilan Evelyn yang hanya mengenakan kain tipis sebatas lutut. di bagian dada nya berenda sehingga nampak jelas sekali benda mungil berwarna merah muda yang sering ia hisap itu nampak di balik kain tipis yang istrinya kenakan. kalau yang sering ia dengar, orang nyebutnya itu adalah lingerie.
Shakti tertegun, menatap Evelyn tak berkedip. Apalagi rambut gadis itu tergerai dengan bagian ujungnya di buat Curly.
Aish !
Rasanya ingin sekali shakti segera menerkam istrinya dan mengungkung di bawahnya. kalau perlu mengurung nya di kamar dua hari sebelum dia benar - benar pergi keluar negeri.
Arghhh sial. Tai kambing !
Mengingat penerbangan nya dua hari lagi membuatnya kesal dan dongkol. tapi apalah daya itu adalah keputusan yang dia ambil sendiri.
Shakti menggerutu dalam hati, memanyunkan bibir dengan tangan mengacak rambut belakangnya.
" Kenapa sih ? " Tanya Evelyn mendudukan pantat di ranjang empuk yang di balut kain lembut warna putih, SEPREI.
Shakti termangu, belum menyahut karena masih sibuk menatap wajah ayu istrinya. Shakti menghela nafas berat, memepedkan badan dan menyandar di bahu Evelyn.
" Dua hari lagi aku harus terbang ke inggris " Adunya lesu.
Evelyn melotot, spontan mendorong kepala shakti menjauh dari bahunya.
" Enak aja ! Kok aku di tinggal sih ? " Marah nya
Shakti menghela nafas, bahunya merosot dengan wajah yang tambah ke tekuk.
__ADS_1
" Aku juga nggak mau sayang, tapi aku harus terbang soalnya jadwal kelas ku udah di atur dari sana. Seperti yang aku bilang, sekolah punya aturan dan salah aku karena ambil keputusan ini dengan tergesa - gesa "
Evelyn berkaca matanya. Dia enggak rela banget kalau harus jauh dari suaminya.
" Terus aku gimana dong ? " Tanya Evelyn dengan bibir bergetar.
Shakti mengulurkan tangan, menggapai wajah Evelyn yang sudah basah.
" Maaf ya sayang, mungkin untuk sementara kamu tinggal di rumah mamih rinu dulu. lagipula aku cuma tiga tahun di sana dan kalau liburan aku sempetin pulang " Bujuk shakti.
Evelyn melengos, bersedekap dengan dada naik turun. di gigit bibirnya untuk menghalau rasa sesak nya dada.
Shakti menghela nafas berkali - kali, sebelah tangannya terulur menarik tangan Evelyn dan menggenggamnya erat.
" Ayok kita hadapi ini sama - sama dan kita harus bisa lewatin semua rintangan. Usaha itu nggak akan mengkhianati hasil. tolong percaya sama aku setelah ini ada hamparan bunga bermekaran di ladang keberhasilan "
Kepala Evelyn bergerak pelan, menoleh ke arah suaminya yang menatapnya teduh. Evelyn membalas tatapan Shakti mencari sebuah kesungguhan yang terpancar di mata indah dan gelap pekat milik suaminya.
Evelyn menunduk, mengecup tangan shakti cukup dalam menghela nafas berat dengan lirih " Tapi kamu jangan macem - macem ya di sana ! " Peringatnya galak.
Shakti terkekeh, Tangannya terulur mencubit hidung mancung Evelyn.
" Aku nggak doyan bule sayang.. aku doyan nya sama cewek dalam negeri. Cantik, manis, gemesin"
Evelyn tersipu, menonjok pelan perut Shakti " Nyebelin "
Shakti menarik bahu Evelyn membawa istrinya ke dalam dekapan hangat.
" Boleh nggak aku masuk sekarang ? " Izinnya
Evelyn memejamkan mata dengan tangan yang bergerak memukul dada shakti
" Apaan sih " kesalnya.
Shakti melerai pelukan, menangkup wajah Evelyn dengan kedua tangan.
Evelyn membuang arah, mensalting saat shakti menatapnya berkabut.
Shakti terkekeh, menarik tangan Evelyn untuk rebahan di ranjang. Evelyn menurut saja membiarkan suaminya naik ke atas tubuh, mengungkungnya.
Evelyn masih membuang arah, malu untuk sekadar menatap wajah shakti yang penuh minat kala menatapnya.
" Look at me, honey !" Shakti menarik dagu evelyn, mencengkeramnya lembut.
Kepala Shakti bergerak maju, menyambar bibir Evelyn yang berwarna merah muda alami tanpa polesan lipstik. Di hisapnya bibir bawah dan bibir atas Evelyn bergantian dengan tempo pelan, lalu menyesapnya kuat seiring desiran aneh yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Tangan Evelyn bergerak, mengalung ke leher Shakti dan menekan kepala suaminya untuk memperdalam hisapan bibir.
Kini giliran Evelyn yang mendominasi ciuman, lidahnya menerobos masuk ke mulut hangat dan wangi mint suaminya, membelit dan menari di dalamnya membuat pasangan halal itu melenguh nikmat.
Bunyi decapan menggema di ruang kamar kedap suara itu, mengalun indah mengiringi suara angin dan kicau burung di gelap nya malam.
Shakti menarik kepala saat merasakan oksigen sudah menipis. cowok itu ngos - ngisan dengan dada naik turun. begitu pun juga dengan Evelyn yang sama - sama ngos - ngosan .
Evelyn terkekeh, mengusap sisa saliva di bibir lembut suaminya dengan ibu jari.
" Payah " Ejeknya.
Shakti tak menyahut, tersenyum menunduk mengamati dua benda kenyal yang sedikit menyembul di balik lingerie istrinya.
Bibir shakti bergerak maju, mencium dalam - dalam aroma belahan bukit kenyal Evelyn yang beraroma vanila yang sangat memabukkan dan membangkitkan sesuatu di bawahnya.
Tangan shakti bergerak, menurunkan dua tali lingerie di bahu istrinya hingga terpangpang lah dua bukit kenyal yang besar dan menggoda iman.
Ciuman shakti bergeser, tepatnya ke benda mungil berwarna merah muda yang mengacung tegak. menghisap nya kencang hingga membuat Evelyn meringis.
Tangan Evelyn terulur, mengusap pelan dan menekan kepala shakti yang berada di sebelah kanan dadanya. mata Evelyn menatap awas bibir suaminya yang bergerak seperti bayi sangat imut dan menggemaskan hingga tanpa Sadar bibir evelyn tertarik ke atas membentuk senyum tipis
Enggak cuma menghisap, shakti juga menggigiti kecil dan itu beneran nyeri dan ngilu namun rasa niat lebih mendominasi. bibir mungil Evelyn mengeluarkan alunan merdu seiring gigian shakti yang semakin intens. jelas itu membuat tongkat ajaib shakti menggeliat dan memberontak di balik celana piyamanya.
__ADS_1
Shakti memakan habis dua dada istrinya menciptakan lukisan kemerah - merahan di sekujur dada dan leher.
Evelyn menunduk, mengamati kegiatan shakti yang terus bergerak ke bawah, lalu berhenti di lubang semut yang tertutup kain lingerie.
Shakti menyingkap kain itu, menampakkan kain berenda warna hitam berbentuk segitiga. Dengan tergesa - gesa, Shakti menarik kain segitiga itu dan juga menarik lingerie. Shakti melempar dua kain itu secara asal, membelalak lebar saat lekuk tubuh indah istrinya tercetak jelas di depan mata hingga berangsur tersimpan di memori otaknya.
" How beautiful you are " puji shakti. tangannya terulur menyentuh dan mengusap lubang semut istrinya.
Evelyn menggigit bibirnya saat sesuatu terasa menggelitik area bawah tubuhnya.
Shakti menunduk lagi, memajukan kepala dan mengendus lubang semut yang menguar aroma khas seorang Evelyn. harum dan memabukkan.
Lidah shakti terulur, menempel ke sesuatu yang lembab dan basah itu. Evelyn membekap mulut dengan tangan karena enggak mau suara anehnya keluar. Masih dengan menundukkan kepala Evelyn mengamati kepala suaminya yang maju mundur cantik menghisap habis lubang semut nya.
" Shak, mau pipis " Celetuk Evelyn.
Shakti mengulas senyum, tak menggubris apalagi menyahuti. masih dengan kegiatannya bahkan bibirnya semakin kencang menghisap itu agar istrinya segera mencapai puncak kenikmatan. sungguh kebanggaan kalau istrinya mengerang nikmat di bawah kungkungannya.
Evelyn bergerak gelisah, kakinya menegang saat sesuatu hendak ia pipis kan.
" Akhhh " Tak tahan, evelyn pun reflex menyemburkan cairan di area bawahnya. Nafas Evelyn tersengal dengan dada naik turun merasa plong dan lega bahkan terasa sangat nikmat dan sulit ia gambarkan rasa nikmat itu.
Setelah memastikan tidak ada yang keluar lagi, shakti beringsut bangun, memposisikan diri di atas istrinya.
" Allohumma jannubna syaitona wajannubi syaitoni maa rozaktana " gumam shakti lirih.
Evelyn menunduk, mengamati sesuatu yang keras menggesek bibir lubang semut nya. Bibir evelyn kembali mengalun indah bahkan tubuhnya merinding dan menggelinjang. Shakti tersenyum puas menatap lamat tubuh istrinya yang terkulai pasrah di bawahnya.
" Aku nggak tau pastinya, tapi kata orang kalau pertama kali akan terasa sakit bahkan berdarah - darah. tolong tahan yah sayang " mengecup bibir Evelyn yang terbuka setelah mengatakan itu.
Evelyn menggigit bibir lagi, meringis saat benda keras menerobos perlahan. sangat sakit dan nyeri sekali
" Enghhh " Evelyn mencengkeram punggung shakti yang entah sejak kapan sudah toples. mencengkeram erat hingga mungkin terdapat goresan di kulit suaminya.
" Arrgghh.. sakit shak, hiks " Evelyn menutup mulut dengan punggung tangan, mendongak seiring meneteskan air mata saat benda keras itu terasa mengoyak dan berhasi masuk ke bagian bawahnya.
Shakti menunduk, menghela nafas karena baru setengah dari tongkat ajaibnya yang berhasil masuk ke lubang kecil milik istrinya. Shakti menyeka dahi yang basah oleh keringat. sungguh ini lebih sulit dari soal matematika yang dia kerjakan
" Maaf yah.. ini akan jauh lebih sakit " Shakti menyambar bibir Evelyn, menyesapnya lembut untuk menghalau rasa sakit yang di derita istrinya akibat ulah nya.
jleb !
Dengan sekali sentakan, tongkat ajaib Shakti terbenam sepenuhnya ke dalam lubang semut.
" Aduhhhh " pekik Evelyn kencang dan bisa di pastikan orang yang berada di luar mendengarnya.
Shakti tersenyum, membiarkan tongkatnya berdiam di dalam lubang tanpa pergerakan. yang pastinya dia menunggu agar si tongkat menyesuaikan diri di dalam lubang sampai si lubang benar - benar bisa menerima kehadiran tongkatnya yang bisa di bilang berukuran besar dan panjang.
Shakti memperhatikan bibir Evelyn yang terbuka, bergerak menghembuskan udara secara perlahan.
" Masih sakit ? " Tanya shakti saat sepersekian menit bergeming di posisi semula dan Evelyn sudah terlihat tenang
" enggak sih, cuma kaya' ngeganjel "
Ya Salam !
Shakti menggulung bibir mendengar sahutan polos dari istrinya. terkekeh saat Evelyn menatapnya bingung.
" Udah enggak penasaran kan ? " Tanya shakti
Evelyn terkekeh " Kan belum selesai ritual nya.. jadi masih penasaran dong "
Shakti tertawa kecil " Beneran yah, aku nggak akan kasih ampun untuk dua malam ke depan "
Shakti mengedipkan mata, menggerakannya perlahan dan teratur. gerakannya bisa di bilang sangat pelan karena takut istrinya masih kesakitan.Shakti mempercepat gerakannya saat istrinya terlihat sudah beradaptasi dengan si tongkat
Derit ranjang mengiringi alunan merdu yang keluar dari bibir pengantin baru itu dan satu jam lamanya aktivitas mereka, keduanya akhirnya mengerang nikmat saat mencapai pelepasan.
Shakti ambruk ke atas tubuh Evelyn. membenamkan kepala di ceruk leher istrinya. keduanya kembali ngos - ngosan dengan keringat membanjiri badan toples mereka.
__ADS_1