Bukan Salahku Menjadi Madu

Bukan Salahku Menjadi Madu
Eps. 68


__ADS_3

" Silahkan tuan Damian, jangan sungkan "


Kavian menarik kursi, mendudukkan pantat di kursi yang biasa di tempati oleh efras.


Damian tersenyum tipis, mengiris steak di atas piring yang sangat menggugah selera. makanan seenak itu terasa hambar jika yang menyuguhkan nya adalah seorang rival yang amat di bencinya. namun, Damian berusaha bersikap sewajarnya mengingat rencana nya sudah hampir matang.


Setelah usai dengan makan malam, mereka bercengkrama di ruang keluarga.


" Jadi, maksud saya datang ke kediaman pak kavian adalah untuk menyampaikan maksud baik saya " tersenyum ke arah astrid yang menunduk malu - malu meong.


Kavian menatap kedua pasangan yang tak lagi muda itu bergantian, lalu tersenyum lebar saat menyadari keduanya sama - sama tersipu.


" Silahkan tuan damian ! Saya terima maksud baik dari anda. "


Astrid dan Damian berpandangan, lalu sama - sama menunduk menyembunyikan wajah mereka yang memerah.


" Saya dan Astrid sepakat untuk melanjutkan hubungan kami ke jenjang yang lebih serius. dan kami sudah menetapkan tanggal hari bahagia itu " terang Damian.


Kavian dan Laura beradu pandang, wajahnya kelihatan sangat terkejut. namun tak mengurangi rasa bahagia mereka mendengar orang tuanya hendak membina rumah tangga.


" Kami menerima apapun keputusan yang mamih ambil. karena hidup mamih sepenuhnya adalah pilihan mamih sendiri " Ucap kavian.


" Terimakasih ya sayang, " ucap Astrid dengan wajah bahagia.


" Untuk resepsinya biar saya yang urus " ucap Damian setelah keluar dari kediaman kavian.


Kavian tertawa " Itu bukan masalah besar. Mertuaku sudah ku anggap ibu kandung ku sendiri jadi kalaupun saya harus mengeluarkan biaya bukan sesuatu yang berat "


Damian menarik sudut bibir samar " Ya, tentu. siapa yang tidak tahu seberapa Kaya seorang Presdir Albuzer grup "


Kavian tertawa canggung, enggak gitu maksudnya. bukannya menyombongkan diri tapi dia mengatakan itu atas dasar fakta karena memang dia sudah menganggap astrid sebagai ibu kandungnya sendiri.


" Assalamu'alaikum "


mereka serempak menoleh, menatap ke arah pak catur yang berdiri di teras undakan.


" Wa'alaikumussalam " Sahut kavian berjalan mendekat.


" Ada angin apa sampai pak catur menyempatkan waktu ke gubug saya ? " tanya kavian.


Pak catur terkekeh, melirik sebentar ke arah Damian yang menatapnya terkejut " saya kesini mau ada perlu sama nak shakti pak "


" Kalau begitu, saya pamit dulu pak kavian ! " Ucap Damian. dan melangkah pergi setelah mendapat anggukan.


Pak Catur mengikuti punggung Damian sampai pria itu benar - benar meninggalkan kediaman kavian.


" Mobilnya sama dengan yang ada di rumah bu lika. orangnya juga sama " gumam pak catur lirih.


" Kenapa pak catur ? " tanya kavian yang tak di gubris karena pak catur masih sibuk mengamati mobil Damian yang perlahan menjauh.


" Pak catur " kavian menepuk pundak pak catur, membuat pria tampan itu terjengit kaget.


Laura dan astrid terkekeh,


" Maaf pak, " ucap pak catur menggaruk tengkuk.


Kavian tertawa kecil " Mari pak masuk kedalam ! " kavian menarik lengan pak catur untuk mengekornya ke dalam rumah.


" Jadi, shakti mengambil kelas akselarasi ? " tanya kavian.


Pak catur mengangguk " iya pak, dan kedatangan saya kesini untuk menyampaikan bahwa shakti lulus seleksi..jadi bisakah saya bertemu dengan Shakti? "


Kavian menggosok dagu, melirik ke arah istrinya yang menhnduk sembari meremas jarinya.


" Bapak sudah menghubungi dia ? maksudnya menghubungi lewat ponsel ? anak itu enggak ada di rumah. "


" Saya sudah menghubungi nomornya pak tapi enggak aktif " terang pak catur.


" Shakti kan enggak bawa ponsel hon " celetuk laura.


" Silahkan ! " Lansung meletakkan cangkir berisi kopi ke meja.


Pak catur mengangguk, tersenyum ramah saat Landung membungkuk.


" Bapak enggak bakal nemu dia di sini. dia udah pindah rumah " Sambung Evelyn


Kening pak catur mengerut melirik ke arah kavian yang melayangkan pelototan tajam ke arah Evelyn.


" Maksudnya, gimana ya nak Evelyn ? " tanya pak catur bingung.


" Shakti kan udah di lempar ke jalanan. jadi dia enggak ada disini. kalau bapak mau nemuin dia mending besok aja di sekolah " Evelyn menjulurkan lidah ke arah kavian setelah menyampaikan kalimat aduan.


Kavian mendengus, menatap jengkel ke arah istri keduanya yang ngomong tanpa beban.


" Maaf pak kavian, Apa benar yang Evelyn katakan ? " tanya pak catur hati - hati.


" Ini masalah keluarga saya pak catur, jadi enggak sepantasnya kalau saya membeberkan aib " sahut kavian, dingin.


Pak catur tersenyum canggung, menoleh ke arah evelyn yang memasang wajah kesel


" Nak Evelyn tau dimana keberadaan nak shakti? "


Evelyn tak langsung menyahut, melirik sebentar ke arah kavian yang juga terlihat kepo.


" Enggak, tanya aja sama haikal ! " sahut Evelyn jutek.


÷÷÷


Dinginnya malam yang menembus kulit seolah bukan halangan shakti untuk menyerah. suara jangkrik dan katak saling bersahutan, mengiringi langkah shakti menyusuri beceknya persawahan.


Shakti membenarkan letak senter yang berada di kepala, menatap awas beberapa belalang yang bergerombol di tanaman padi yang sudah layu karena sudah di panen.


Tangan besarnya bergerak pelan, menangkap beberapa ekor belalang dan memasukannya ke botol. Shakti tersenyum menatap dua botol yang sudah terisi penuh. lalu menoleh ke belakang, dimana ada haikal yang masih berjongkok dengan tangan sibuk bergerak ke sana kemari menangkap si belalang.


" Pulang yuk ! " ajaknya, berjalan menghampiri haikal.

__ADS_1


" Entar deh, punya gue belum penuh " sahut haikal dengan mata melirik ke botol yang masih terisi setengah.


" Gue istirahat di sana ! " shakti menuding ke pinggiran sawah.


Haikal mengangguk saja, berjalan mundur saat melihat gerombolan belalang di tanaman padi.


Tak berselang lama, hana menghampiri dengan sebuah rantang di tangan.


" Maem dulu shak, " hana menyodorkan rantang itu.


" Kamu ngapain repot - repot kesini? malem - malem becek. bentar lagi gue juga pulang han " tegur shakti tak enak.


Hana tersenyum tipis, tangannya bergerak membuka rantang plastik tiga susun " Kamu kan dari sore belum makan shak, nanti magh loh. lagian ini udah jam sebelas nanti kamu ngantuk nggak jadi makan "


Shakti menunduk dengan senyum tipis, enggak kepedean sih, tapi dia memang bisa membaca gelagat hana yang suka cari perhatian..tapi sayangnya dia nganggep hana udah kaya' sodara sendiri. " Makasih ya jadi ngerepotin "


Hana menggeleng " Enggak, justru gue seneng. makan di sawah kaya' gini malem - malem berasa kaya' di Drakor.. hihihi "


" uhukk... uhukkk " Shakti tersedak kuah kecap.


Cepat, hana menyodorkan botol mineral " pelan - pelan dong ! " ucap hana sembari menepuk punggung shakti.


Shakti nyengir kuda, menepis lembut tangan hana yang berada di punggungnya.


" Woyyy jurig, sini lo ! " seru hana menggema di sawah.


Haikal berdiri dengan dengusan " Ngapain lo kesini ? " teriak haikal.


" Anter makanan" teriak hana.


Kening haikal mengerut, berjalan ke arah hana dan shakti yang sekarang sudah menyantap makanan.


" Elu belum makan han ? " tanya haikal heran, karena hana makan dengan begitu lahap.


Hana menggeleng sembari mengunyah " belum, Nunggu kalian soalnya "


Haikal melongo, dengan wajah syok, tak seperti biasanya hana menungguinya makan.


" Nggak salah denger gue ? "


Hana tak menggubris, menyuwir ayam kecap dan meletakannya ke rantang shakti.


" Kebanyakan han, " protes shakti.


" Ini kan emang di masak buat elo " sahut hana masih dengan menyuwir ayam.


" Buat gue sini ! " haikal menyodorkan rantangnya.


Hana mendorong kasar rantang haikal " Elo udah punya jatah "


" Cih, pilih kasih " sewot haikal. melirik sebal ke arah hana yang tak menggubris. bahkan tangannya masih sibuk menyuwir ayam yang berukuran besar.


÷÷÷


" Damian mana sih ? " gumam astrid celingukan ke sudut bar.


" Mas, lihat Damian nggak? " tanya astrid ke bartender baru, yang berganti sift dengan haikal.


" Tuan aksen Damian bukan buk ? " si bartender menutup bibir saat mendapat delikan galak oleh astrid.


" Iya, siapa lagi ? dia pelanggan vip disini " sewot astrid yang kesal di panggil ibuk.


Si bartender menggaruk tengkuknya dengan senyum canggung " kaya' nya lagi nangkring si atas "


Astrid mengerutkan kening, " kamu yakin itu mas Demian? "


Si bartender menggeleng " Kurang paham buk, eh mbak. tapi kalau enggak salah pak Damian yang rambutnya pirang kan? "


Astrid tampak berpikir, lalu menggeleng dengan dengusan


" coba deh, aku lihat " menarik diri dan berjalan ke arah tangga.


Saat berada di depan pintu, kening astrid mengernyit saat samar - samar terdengar suara des*han yang begitu nyaring. walaupun Rungan kedap suar, tetapi karena pintu sedikit terbuka jadilah suaranya yang begitu keras itu terdengar keluar, bahkan menyamai suara alunan musik dj.


Tanpa pikir dua kali, astrid mendorong pintu yang memang tak terkunci itu.


Bukk !


Astrid menjatuhkan tas mahalnya. memundurkan badan dan menutup mulutnya yang terbuka lebar. Matanya melotot lebar, dengan jantung berjingkrak - jingkak hendak melompat dari tempatnya.


" DEMI " teriak astrid menggema di ruang kamar.


Damian menoleh cepat, menarik selimut untuk menutupi tubuh toplesnya.


Astrid berjalan mendekat, menatap nyalang wanita seusianya yang terlihat santai bahkan nggak ada rasa takut sedikitpun.


plakk !


Satu tamparan lolos ke wajah risa, wanita yang rupanya telah bergumul dengan Damian.


" Brengsek ! Beraninya kau menyentuh kekasihku " berang astrid.


Astrid bahkan menerjang tubuh risa, menjambak brutal dan mencakar wanita itu.


" aaaa " jerit risa memegangi rambut dengan sebelah tangan menepis kuku astrid yang menggores wajah nya.


" Cukup astrid ! " Bentak damian. pria itu berusaha melindungi tubuh risa dari serangan astrid bahkan pria itu tanpa rasa bersalah memeluk erat tubuh risa yang sudah tergugu.


" Wanita gila ! " teriak risa.


" Kamu yang gila ! dasar pel*cur sialan " sentak astrid berusaha menggapai tubuh risa dalam dekapan Damian.


" Aku bilang cukup, brengsek ! " Damian mendorong kasar tubuh astrid membuat wanita itu terjatuh dan punggungnya terpentok sisi meja.


" Arrgghhh " erang astrid saat punggungnya terasa ngilu dan sakit.

__ADS_1


" Jangan sentuh dia ! " Damian menuding ke arah risa.


" Apa ini, Damian ? " teriak astrid dengan mata berkaca.


" Kau berselingkuh ? " tanya astrid dengan suara lemah.


Damian mendengus, melirik ke arah risa yang sudah terdiam dari tangisnya.


" Kau pergilah dulu, sayang ! " Damian mengelus rambut risa dengan lembut.


Risa mengangguk, beranjak turun dengan tubuh yang masih toples lalu memungut pakaiannya. Risa melayangkan tatapan tajam, sebelum benar - benar melenggang pergi dari kamar.


Astrid membeku mendengar sebutan sayang yang di tunjukkan untuk selingkuhan nya. seolah pria itu enggak menganggapnya ada. tatapan astrid awas mengamati gerak gerik Damian, yang dengan santai memakai celana nya di depan astrid, membuat astrid mual saat barang panjang yang mengkilat karena lendir selingkuhannya terpangpang jelas di wajahnya.


" Ada apa datang kesini ? " tanya Damian datar.


Astrid menganga, menatap tak percaya kepada laki - laki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.


" Kamu berjanji akan menjemput ku fighting baju, damian. "


" Berjam - jam aku menunggu hingga tengah malam, kamu enggak datang dan aku di kejutkan dengan pemandangan menjijikan ini? " imbuh astrid dengan wajah yang sudah basah.


" Aku lupa " sahut Damian enteng.


" Apa ? " pekik astrid.


" Aku sibuk belakangan ini " jawab Damian tanpa menoleh, sibuk memakai kemeja.


" Sibuk dengan wanita murahan itu ? iya ? " berang astrid.


Damian menoleh cepat, menatap tajam ke arah astrid yang penampilan nya sudah kacau. " jaga mulutmu, sialan ! " bentak Damian.


" apa katamu? Kamu membelanya ? membela wanita yang dengan suka rela naik ke ranjang pria asing? " teriak astrid frustasi.


" apa bedanya dengan mu? kamu bahkan lebih menjijikan daripada nya. kalau saja kau tak di pungut glen bastian, kau bukan lah apa - apa sekarang " ketus Damian.


Kening astrid mengerut " apa maksudmu ? "


Damian terkekeh " kau kira aku bodoh ? aku tau segalanya tentang dirimu ayunda Angeline "


Astrid membelalak lebar, wanita itu dengan cepat menarik diri. wajahnya menjadi panik dan pucat


Damian tertawa membahana " Ayunda Angeline yang mengaku sebagai astrid Angeline. benar kan ? "


Damian mendekat, membelai wajah astrid yang pucat dan basah. Astrid meremas ujung gaunnya menunduk dengan jantung berdebar kencang.


" Astrid Angeline, model busana cantik yang tewas dari kecelakaan maut sepuluh tahun silam. dan glen bastian, pengusaha kaya raya yang terpukul akan kematian istrinya lalu menikahi ayunda Angeline sebagai ibu pengganti untuk putri semata wayangnya, Laura Gabriele bastian. " ucap Damian panjang lebar.


" Dar.. darimana kamu tahu ? " gagap astrid.


Damian menyeringai sinis " apa sih yang enggak aku tahu ? "


" Bagaimana ya kalau laura dan kavian tahu tentang ini ? " Damian menggosok dagu, melirik ke arah astrid yang melotot lebar.


" Tolong, jangan katakan pada mereka ! " astrid memohon.


" Ada timbal balik, astrid. karena di dunia ini enggak ada yang gratisan " sahut Damian tersenyum setan.


" Apa mau mu ? " ketus astrid.


" Mau ku ? " tanya Damian dengan senyum mengejek.


Damian mengecup pipi astrid dengan lembut, seolah - olah wanita itu adalah wanita paling di cintainya. " gampang kok "


" Ikuti permainan ku " imbuh Damian sembari tersenyum manis.


Astrid tercengang, menatap tak percaya wajah Damian yang terkesan lembut dan ber peringai baik hati. dan astrid tersadar wajah yang pria itu tampilkan hanyalah kedok untuk menutupi kelicikan nya.


" Kecelakaan astrid enggak ada yang tahu kan? karena bastian menutup kasus itu ? begitupun juga dengan kavian yang enggak tahu tentang kecelakaan ibu mertua nya yang asli " ucap Damian masih dengan senyum indahnya.


Astrid melengos, menggigit bibir untuk berpikir jalan keluar, semburat penyesalan menyusup ke dada saat ternyata dia menjalin hubungan dengan pria dengan penuh tipu muslihat itu.


" Aku punya dua penawaran, ikuti alur ku atau ku bongkar rahasia mu " Damian menarik kasar dagu astrid. lalu menghempas dagu itu membuat astrid terhuyung dan menabrak tembok.


Damian melenggang begitu saja, meninggalkan astrid yang masih terpaku dengan kenyataan di depan nya. seolah itu adalah sebuah mimpi baginya.


" aaarrrrgghhh " erang astrid kesal.


prakkk !


Sebuah vas bunga yang berada di atas meja, meluncur jauh dan membentur lantai.


Astrid terduduk dengan tangis pilu menggema di ruang kamar, menatap punggung Damian yang perlahan menjauh dengan sejuta kekecewaan.


÷÷÷


Karena enggak enak sama pak catur, jadilah kavian mengizinkan Evelyn untuk mengantar shakti ke rumah haikal. dan juga karena bujukan dari laura, kavian akhirnya luluh.


Evelyn dan pak catur duduk di kursi plastik berwarna hijau, menatap awas pintu masuk yang sama sekali belum menunjukkan batang hidung ketiga anak yang lagi mbolang di sawah.


" Kenapa nggak besok saja pak catur ? " tanya pak kusno yang heran, pasalnya ini sudah jam dua belas lewat.


Pak catur bergerak gelisah, enggak enak juga karena bertamu tengah malam " enghh, masalahnya besok seleksi yang kedua pak dan bertempat di pusat kota. dan itu jadwalnya jam enam pagi " jelas pak catur.


Pak kusno manggut - manggut. lalu tatapannya beralih ke pintu di mana tiga orang remaja berjalan beriringan.


" Itu mereka pulang "


Evelyn dan pak catur mengarahkan pandang ke tatapan pak kusno. Evelyn berdiri lalu tersenyum manis ke arah shakti yang melotot terkejut.


" Sayang " shakti menjatuhkan botol belalang, berlari ke arah Evelyn yang berdiri di jarak dua meter darinya.


Namun, belum sempat tangannya menyentuh tubuh indah Evelyn, tubuhnya sudah di dorong pak catur hingga terjungkal ke belakang.


" Mau Ngapain kamu? " pak catur berkacak pinggang dengan wajah galak.

__ADS_1


Semua orang tertawa dengan gelengan saat Shakti tersenyum sembari menggaruk tengkuknya. saking girangnya liat kekasih nya berada di depan mata, jadilah dia enggak ngeh kalau ada pak catur juga di situ.


__ADS_2