
Keseharian Evelyn sekarang di sibukkan mengurus kay. memang sudah menjadi tugas tuti, namun Evelyn ikut menghandle dalam mengasuh kay. sedangkan laura, kembali di sibukkan dengan diet dan pemulihan tubuh agar wanita itu bisa bergelut kembali ke dunia modelling.
Evelyn tak perduli, bahkan sikapnya kini menjadi dingin dengan kakak iparnya. Udah ngaduin ke kavian, tetapi pria itu jelas tak bisa berkutik karena dia nggak tega ngomel - ngomel sama istri yang udah berjuang buat ngeluarin sosok penerus albuzer.
" Non eve, Kalau capek istirahat ajah. biar tuti yang mandiin dede kay " Terang tuti
Evelyn menggeleng. " Aku pen lihat kay tengkurap, kan udah tiga bulan yah? "
Tuti tersenyum simpul mengagumi sosok nona mudanya yang memang sangat cermat sekali tentang pertumbuhan kay yang notabennya hanya seorang keponakan. dan rada sayang Evelyn melebihi rasa sayang seorang aunty. Pada umumnya memang di usia tiga bulan seorang bayi sudah belajar tengkurap bahkan ada yang sudah bisa tengkurap. jadi tak heran kalau Evelyn bertanya - tanya.
" Dede kay kan gendut non, beratnya ajah udah delapan kilo. kalau mau tengkurap kaya' nya rada susah. coba di stimulasi dulu non " Terang tuti.
Evelyn tertawa membenarkan ucapan tuti " Gendut banget sih anak mommy " Evelyn mencubit hidung kay yang nyungsep ketutup pipi gembul.
Tuti tersenyum, dia jadi menyesal dahulu sudah berbuat tak baik dengan majikan mudanya. Evelyn memang bermulut pedas dan suka semaunya, tetapi nyatanya wanita cantik itu lebih berhati bak malaikat di banding laura yang terkenal dengan kelembutan dan kebaikannya.
Evelyn mendudukkan pantat di alas tikar dengan sedikit kesusahan, pasalnya usia kandungan sudah 38 week jadi gerak sedikit dia harus lebih hati - hati dan sangat pelan dan memungkinkan dia akan bersalin minggu depan.
Di tikar, Kay sedang memegang mainan donat. kakinya bergerak - gerak menghentak lucu. mata kay berbinar, saat wajah Evelyn tepat berada di depan wajahnya. sepertinya bayi gendut itu sangat bahagia akan kehadiran Evelyn.
" Hallo kay, belajar tengkurap yuk ! "
Kay tertawa, bahkan tangannya bergerak - gerak menggapai rambut Evelyn yang menjuntai. Hati Evelyn bagai tersihir, makin bucin dengan bayi susuannya itu.
Evelyn mendorong pelan punggung kanan kay, dan ajaibnya bayi itu langsung mengikuti arahan Evelyn. kay jadi berbaring miring, kepalanya refleks menunduk mengambil ancang - ancang tengkurap. tangan kanan kay bergerak - gerak dan brukk..
Evelyn dan tuti bertepuk tangan kecil saat bayi gembul itu sudah berhasil tengkurap dengan tangan bertumpu di lantai, kepalanya juga refleks mendongak.
Berulang kali, Evelyn mengulangi gerakan yang sama. menstimulasi kay agar tubuhnya terbiasa tengkurap. dan bisa tengkurap mandiri tanpa bantuan dari stimulasi Evelyn.
Evelyn menarik badan, berpegangan pada sisi ranjang.
" Shhh " Desisnya karena merasakan keram dan nyeri luar biasa.
" Non nggak papa ? " Tanya tuti khawatir.
Evelyn menggeleng " Cuma pen rebahan "
" Tuti tuntun ya ke kasur "
Evelyn mengangguk saja, menurut saat tubuhnya di papah oleh tuti.
Evelyn menghela nafas lega saat punggungnya sudah mendarat sempurna di kasur. Berulangkali menghembuskan menghirup oksigen dan menghembuskan nafas saat rasa nyeri menyerang perut bagian bawahnya. Kalau biasanya di sebut dengan kontraksi palsu.
" Tuti bawa dede kay ke kamar sebelah ya non " Izin tuti.
Evelyn hanya mengangguk, memejamkan mata saat kantuk menyerang.
÷÷÷
Sembilan bulan bukan waktu sedikit, Ibarat nya seperti sembilan tahun bagi shakti. Di tengah malam yang hanya berpenerangan cahaya rembulan, shakti duduk di gazebo area hutan yang terletak di belakang asrama. Hanya sekadar di temani kopi dan Camilan roti namun membuatnya betah berlama - lama di area menyeramkan itu. Butuh dua tahun lagi agar dia bisa pulang ke indonesia tapi impian itu musnah, manakala dia di rekrut salah satu perusahaan besar yang terletak di Britania Raya. Perusahaan yang bergerak di bidang Food and drink sama seperti perusahaan ayahnya, efras. Tetapi F&D company adalah perusahaan terbesar nomor tiga di dunia.
Shakti kalut, hanya bisa menjambak rambut sebagai pelampiasan dari penatnya kepala. Pasalnya, perusahaan besar itu tak pernah main - main. Alexander cow, presdir F&D sendiri yang turun tangan mengulurkan tangannya untuk menawarkan posisi bagus di perusahaan. Jadi, bagaimana mungkin shakti bisa mengelak dari kekuasaan Alexander.
Di tengah peliknya pikiran, Tiba - tiba shakti merasakan sesuatu yang nyeri begitu menusuk dada. tetapi dia nggak tahu dadanya nyeri karena apa. Rasanya aneh, sakit, ngilu dan sesak. Shakti beranjak dari duduk nya, berjalan sedikit pelan karena merasakan dadanya menjadi bertambah sesak. Bahkan untuk bernafas saja rasanya sulit sekali.
" H..Help ! " Lirih shakti.
Di belahan bumi negara indonesia raya, Kavian beserta rini berlari ke arah ruangan dimana merupakan ruang tempat Evelyn bersalin.
" Ennghhh... Ya allah " Keluh Evelyn saat sepersekian menit mengejan, kepala tak kunjung keluar. Padahal pembukaan sudah lengkap.
" Ve " Rini mendekat ke arah ranjang. Wanita itu panik luar biasa saat di perkumpulan arisan mendapat kabar dari Landung, bahwa Evelyn di larikan ke rumah sakit. dan sialnya di rumah hanya ada ART dan laura.
Di sudut ruangan tepatnya di sofa, laura dan tuti sedang duduk. Baby kay yang berada dalam gendongan tuti seolah merasakan ikut cemas dengan keadaan Evelyn. Jari kay menunjuk ke arah ranjang membuat gerakan melambai menyiratkan bahwa bayi gembul itu ingin menghampiri aunty nya. Usianya memang baru tiga bulan, tetapi tubuhnya sangat aktif bergerak.
__ADS_1
" Dede kay di luar yuk, sama sus ! " Bujuk tuti.
Kay hanya menoleh kecil, kembali menatap evelyn yang berada di ranjang. Baru saja Tuti beranjak berdiri, tetapi kay sudah menangis kencang seolah bayi gendut itu tak mau keluar dari ruangan.
" Jangan berisik, kay ! Aunty mu lagi kesakitan " Sungut laura
Kavian menoleh cepat, melayangkan tatapan tajam nya ke arah istrinya yang berbicara dengan nada tinggi terhadap putra kecilnya.
Laura hanya melengos sembari menyilakan tangan. seolah dia tak perduli dengan kemarahan suaminya.
" Mohon maaf ya, yang berada di ruangan biar suaminya saja " Ucap suster eka.
" Biar saya saja dok, yang di dalam " Usul kavian.
" Apa ? " Pekik laura tak terima.
" Aku pak de bayi nya jadi nggak ada salahnya berada di ruangan " Kilah kavian
" Enggak bisa " Ketus laura
" Mending keluar deh, gue empet banget lihat kalian " Sungut Evelyn dengan suara lirih.
Rini mendengus, mendorong kavian untuk keluar " Biar mamih yang jaga "
Kavian menurut saja, mengambil alih kay untuk di gendong. selain dengan Evelyn, kay hanya mau anteng kalau sama kavian, daddy nya.
" Tarik nafas dalam, ya buk " Arah suster eka
" Huffftttt " Evelyn menarik nafas panjang lalu menghembuskan nya perlahan.
" Eeeeeeengghhhh "
" Aaarrghhhh "
" Ayok bu, semangat kepalanya sudah kelihatan " Ujar suster eka dengan mata awas di depan area bawah Evelyn
" Duhhh " Keluh suster eka saat kepala Baby belum juga keluar.
" Mungkin bayinya besar sus " Ujar suster yang lain
" Mungkin jalan satu - satunya di sekop " Ujar suster eka.
Rini meneguk ludah kasar, menatap iba wajah Evelyn yang sudah memucat dengan bibir membiru.
" Tahan yah sayang, " Rini mengelus puncak kepala Evelyn. perlahan buliran bening terjun membasahi pipi.
Suster eka meninggalkan ruangan. sedangkan dua suster lainnya sibuk mengecek infus dan juga memeriksa detak janin baby.
" Silahkan tanda tangan buk " Ujar suster eka menyodorkan selembar kertas persetujuan untuk tindak lanjut.
Tanpa berpikir panjang, Evelyn menyambar kertas. dengan tangan bergetar, Evelyn mencoretkan tinta hitam ke kertas itu.
" Tunggu dokter fadli ya buk " ujar suster eka berlalu dari ranjang. tepatnya menuju keluar ruangan.
" Mih " Tangan Evelyn bergetar, makin kencang mencengkeram tangan rini.
Rini berkaca matanya, kembali mengelus kepala lalu turun ke punggung.
" Tahan yah sayang "
" Ve "
Di ambang pintu sana, Nana berdiri dengan wajah panik. Wanita itu Mendekat ke arah ranjang tepatnya ke arah putrinya yang sedang terbaring lemah.
Evelyn melengos, menggigit bibirnya kuat saat dadanya menjadi sesak. dan itu amat sakit baginya karena merasakan sakit di berbagai sisi.
__ADS_1
Rini hanya melirik sebentar, kembali mengelus punggung Evelyn dengan lembut.
" Jeng Rini "
Rini mengalihkan atensi ke wajah besannya yang terlihat sembab dan kurus.
" Tolong jeng nana, jangan katakan sesuatu yang buruk. ini menyangkut Nyawa anak jeng nana sendiri. Walaupun jeng nana ibu yang buruk, tapi tetap saja do'a seorang ibu itu keramat " Ketus rini.
Nana menggeleng dengan tangis pecah
" Sayang, Tarik nafas yah hembuskan perlahan " Titah nana
Evelyn menoleh cepat, menatap sendu wajah ibunya yang nggak ada raut kemarahan sama sekali.
" Maafkan mamah ya !. jangan pikirkan apapun, fokus sama kelahiran anakmu "
Bibir Evelyn bergetar, matanya memanas. Digigitnya kencang saat rasa nyeri makin kuat dan intes di perut.
" Aarrghhhhh. " Evelyn yang tadinya miring, kini berbalik menjadi telentang. Refleks mengejan kuat saat timbul dorongan dari dalam perutnya.
" Aaargghhhhhh "
" Oeeee... Oeeee "
" ya allah " panik salah satu suster, berlari masuk ke ruangan saat mendengar suara tangis bayi.
Rini menangis tergugu, mendekap erat tubuh bayi mungil yang keluar begitu saja. Untung saja rini mengambil ancang - ancang dan dengan sigap ke bawah untuk menarik si bayi.
Salah seorang suster memanggil suster eka, dan satunya lagi mengambil alih si bayi untuk di bersihkan dan meletakkan ke dada Evelyn.
Bulir bening terus membasahi pipi saat bayi kecilnya menangis di dada Evelyn. Beribu ucapan syukur Evelyn gumamkan sebagai bentuk syukur atas Rakhmat yang telah terlimpah kepadanya. bahkan Tangis Evelyn tak bisa terbendung, pecah dan menggema di ruang bersalin.
÷÷÷
Sebuah Taman bunga bermekaran dan juga berpuluh - puluh pohon anggur mengelilingi taman itu. Sebuah wanita bergaun putih sedang bernyanyi riang dengan tepuk tangan mengiringi senandung lagu itu. Di depannya, seorang bayi cantik sedang duduk terbahak dan menggapai tangan si wanita.
Shakti tertegun, bibirnya tertarik ke atas membentuk senyum indah. Cowok itu berjalan pelan, menghampiri seorang wanita cantik berambut panjang yang sangat familiar. Bayi itu menatap polos ke arahnya, menatap dalam dan intens membuat hati shakti terenyuh dan terharu. Atensi si wanita kini berganti ke atensi si bayi, tersenyum lebar saat mendapati pujangga hati berada di depan mata
" Honey " Gumam si wanita.
Si bayi menoleh ke arah si wanita dengan tatapan bingung, lalu berganti menoleh ke si pria yang kini sudah duduk di depannya
" Siapa ? " Shakti bertanya
Si wanita tersenyum lalu menarik tangan si bayi untuk terulur menyambut tangan shakti yang hendak menyentuh pipi gembul bayi cantik itu.
" Sapa daddy mu " Titah si wanita
" Daddy " Seru bayi cantik itu
Shakti menatap bingung si wanita, seperti tatapan bingung juga terkejut.
" Daddy? " Tanya shakti
" Dia putrimu, honey " Sahut si wanita yang merupakan jelmaan evelyn.
Shakti menoleh cepat ke arah si bayi. Wajah bulat berisi, mata dengan manik coklat seperti warna mata miliknya. hidung mancung, namun tertutup pipi gembul, wajah cantik khas Evelyn yang tersirat di wajah cantik bayi itu. tanpa pikir panjang pun shakti bisa menebak kalau bayi cantik itu adalah titisan darahnya dan juga darah istrinya.
Tangan shakti bergerak pelan,merengkuh bayi gendut itu dan mengangkatnya menuju ke pelukan. Desiran hangat dan juga rasa bahagia menyelimuti dada seolah dia menemukan telaga di atas tanah tandus.
Shakti menggendong si bayi cantik yang membuatnya langsung jatuh cinta, membawa bayi itu berjalan bersama sang istri yang bergelayut manja merengkuh pinggangnya.
Shakti tersentak, membuka mata dengan cepat. dia celingukan ke sudut ruangan yang merupakan kamarnya. dia tertidur di atas sajadah dengan posisi duduk. rupanya setelah rasa sakit yang menyerang dadanya pulih, cowok itu memutuskan untuk sholat tahajud. setelah menunaikan sholat, cowok itu berdzikir sampai ketiduran.
Shakti meraup wajah dengan kedua telapak tangan, mensyukuri sebuah mimpi indah yang allah turunkan di tengah dzikirnya.
__ADS_1
Sebuah tasbih masih bergelang di sela jarinya. Shakti mencium tasbih itu. lalu bergegegas ke kamar mandi untuk berwudhlu kembali karena waktu sudah menunjukkan pukul empat pagi.
Cuma up satu bab !