
seperti biasa, setiap pulang sekolah Evelyn harus belajar les privat dengan suaminya untuk mendongkrak nilai ujian. saat ini, pasangan pasutri itu duduk selonjoran di karpet yang terletak di dalam kamar evelyn.
suasana menjadi lebih enjoy tak seperti biasanya, karena sesekali mereka tertawa renyah bahkan berguaru.
" ya ampun,, dosa apa aku,, sampai memiliki istri sebodoh dirimu ! " keluh kavian sembari memijit pelipis namun di sertai kekehan.
tanpa sadar sudut bibir evelyn terangkat mendengar suaminya mengklaim dirinya sebagai istrinya.
" elo banyak dosa kali, jadi punya istri kaya gue " sahutnya enteng
kavian mendengus " aku akan cari dosa apa yang kumiliki agar terhindar dari istri bodoh sepertimu "
Evelyn merapatkan bibir, disertai gelengan. sangat tak habis fikir, kenapa suaminya itu selalu merendahkan dirinya. gadis itu memilih kembali fokus ke pekerjaannya daripada meladeni mulut cabe rawit suaminya.
ctakk
Evelyn mengerucutkan bibir saat beberapa kali mendapat sentilan di keningnya.
" dasar bodoh !,, hitung yang benar.. ! " omel kavian .
" ishh... " reflex Evelyn memukul bahu kavian membuat pria itu melotot jengkel.
ddrrrtt ddrrttt
kavian meraih ponsel yang tergeletak di atas karpet, pria itu mendengus kesal melihat nama si penelpon. kavian mengabaikan panggilan itu dan meletakkan kembali ponselnya ke atas karpet.
pria itu menoleh saat evelyn menyodorkan buku jawaban untuk di koreksi. kavian menggeleng membuat bahu evelyn melemah. gadis itu menggeplak kepalanya sendiri merutuki kebodohannya yang belum bisa menguasai materi soal. kavian terkekeh, tangannya terulur mencubit gemas pipí evelyn. " makanya yang teliti ! "
diperlakukan manis seperti itu membuat pipinya memanas. bahkan gadis itu menundukkan wajah untuk menyembunyikan rona di pipi.
drrtt drrttt drrrrtttt.
kavian berdecak, " ckkk, "
pria itu menyambar ponselnya dan bangkit berdiri mengangkat panggilan.
" kalau sampai salah ngitung lagi,, saya lempar kamu ke kolam ikan ! " ancamnya berlalu meninggalkan ruangan.
evelyn menjulurkan lidah menatap sengit punggung suaminya yang kian menjauh dari pandangan.
shakty turun dari arah tangga dengan langkah lebar. cowok itu celingukan ke setiap sudut ruang tengah seperti tengah mencari sesuatu.
" nyari apa mas ? " tanya landung saat mereka berpapasan
shakty diam sejenak lalu melirik nampan berisi dua gelas teh dan beberapa camilan " ada tamu ? " tanyanya, mengabaikan pertanyaan landung
Landung mengikuti arah pandang shakty, kepalanya lantas menggeleng " ini buat nona muda sama tuan muda mas "
kening shakty mengkerut " Evelyn sama mas kavi ? "
Landung mengangguk " iya. mereka lagi belajar mas, jadi saya inisiatif buatin minum sama cemilan "
" gue yang antar " tawar shakty.
Landung menggeleng cepat " jangan mas,, biar saya saja ! "
" udah nggak papa, dimana ? " shakty mengambil alih nampan itu dan berbalik badan.
" di kamar non Evelyn, ya sudah Landung ke dapur ya mas.. "
deg !
jantung shakty mendadak berhenti berdetak, bocah itu meneguk ludah dengan susah payah. tubuhnya menegang seketika, mengingat bayangan tadi malam yang membuatnya susah tidur. badannya berbalik, namun rupanya si art sudah ngacir ke dapur.
shakty berdecak kesal merutuki kebodohannya. dengan langkah berat, dia berjalan ke arah kamar yang letaknya tak jauh dari ruang tengah.
shakty berhenti di sisi kanan pintu, bocah itu melongok ke dalam untuk memeriksa keadaan. shakty bernafas lega karena di dalam kamar hanya ada Evelyn yang sedang tengkurap dengan tangan sibuk mencoret - coret buku.
dengan perlahan, shakty meletakkan nampan di atas meja. cowok itu menyandarkan punggung di sisi meja memperhatikan Evelyn yang serius mengisi jawaban soal.
Evelyn terjengit kaget saat shakty melempar pisang goreng yang mengenai bukunya.
Evelyn berdecak kesal menatap jengkel ke arah shakty yang malah cekikikan sambil mengunyah pisang goreng.
" ngapain kesini ? ganggu aja ! " sungut Evelyn dengan bibir manyun lima centi.
shakty mendekat, cowok itu duduk di sebelah Evelyn memperhatikan soal yang di garap gadis itu.
shakty menggelengkan kepala " kalau elo pakai cara itu kelamaan,, rumit juga pengerjaannya "
Evelyn mendelik " terserah gue lah. "
shakty menoyor kening Evelyn " gue sumpahin elo bego sampai bebek bisa salto. di kasih tau,, ngeyel "
Evelyn mendorong kasar bahu shakty membuat bocah itu terjatuh miring " nyumpahin gue lu,, gue cip*k entar,, mau lo? " ancam Evelyn.
shakty mencebik " Omes mulu.. pantes bego !"
Evelyn tak menggubris, gadis itu kembali berkutat ke buku. Evelyn berdecak kesal merasa buntu dengan pengerjaan soal yang tak kelar - kelar.
shakty menarik paksa buku itu lalu mencoretkan rumus di sana " coba pakek rumus ini "
__ADS_1
Evelyn melotot judes, namun tetap menurut. gadis itu mulai mengerjakan soal berdasarkan rumus yang dicatat oleh shakty.
sudut bibir shakty terangkat kala mendapati jawaban Evelyn benar " gimana? udah mudeng belom ? "
" lumayan sih... kasih contoh soal lagi yang sama kek yang ini "
shakty mencibir " tuh kan, gampang ! "
Evelyn nabok tangan shakty " cepet ahh, gue laper ! "
shakty mengangguk, kini mereka jadi serius mengerjakan soal. mungkin sekitar lima belas menit mereka berhenti dari aktivitas belajar. Evelyn bangkit berdiri mengambil nampan dan meletakkan ke atas karpet. mereka kini asyik memakan pisang goreng dan beberapa cemilan kering.
" mas, di cari temen - temennya di luar " bik siti berdiri di ambang pintu dengan spatula di tangan..
shakty mengangguk beranjak berdiri meninggalkan Evelyn yang jadi merengut sebal.
÷÷÷
kavian berjalan dengan langkah lebar menyusuri lorong - lorong panjang rumah sakit. pria itu berhenti di meja resepsionis, dimana ada dua orang perawat yang berjaga.
" mbak.. kamar dengan nama pasien laura gabriele bastian di ruang nomor berapa ya? " tanyanya ke mbak berseragam putih itu.
" sebentar ya pak ! " seorang perawat itu lantas memeriksa layar monitor.
" di kamar dahlia, nomor 3 pak "
" terimakasih mbak ! "
kavian lantas berjalan cepat menuju ke ruang yang di maksud. pria itu lantas membuka pintu ruangan yang khas beraroma obat - obatan.
Saat pintu terbuka lebar, hatinya tiba - tiba mencelus melihat wanita yang dicintainya terbaring lemah di atas ranjang pasien.
kavian melangkah mendekati ranjang single , tangannya perlahan terulur menyentuh kepala istrinya dengan lembut. pria itu bahkan meneteskan air mata merasakan sesak di dadanya. walaupun ia merasa kesal dengan istrinya, tetapi jauh di lubuk hatinya tak akan tega melihat kesayangannya terluka sedikitpun.
laura membuka perlahan matanya, saat merasakan sesuatu yang basah jatuh ke lengannya
" mas " gumamnya lirih, berusaha untuk duduk dengan kedua tangan menopang di sisi badan.
" jangan banyak gerak, tiduran aja" kavian menekan bahu laura dan membaringkan kembali wanitanya.
" mana yang sakit ?..." tanyanya memindai tubuh istrinya dari atas ke bawah
" cuma lecet sedikit di lutut, nanti juga langsung pulang "
kavian mengarahkan pandangan ke lutut istrinya, dimana hanya ada kain berwarna putih yang menempel disana.
kavian bernafas lega, lalu mengecup pipi istrinya " beneran nggak papa? "
" cuma syok aja kok mas "
Mata laura memanas, cepat kepalanya bergerak ke samping mengalihkan pandangan. rasa sakit di hatinya belum benar - benar mereda. namun, melihat kelembutan dan kekhawatiran suaminya membuatnya sedikit terenyuh.
" aku lagi nyeberang, nggak sengaja ke seremped motor" terangnya, jarinya menyeka sudut matanya yang basah.
laura menoleh dengan senyum tipis " kamu liat kan ,, aku nggak papa? " imbuhnya
kavian menggeser kursi, menundukan pantatnya disana. Tangannya bergerak meraih jemari laura dan mengecupnya dalam - dalam.
" apa kau yakin istrimu benar - benar tergila - gila dengan kariernya ? "
" oh jangan naif, dia cantik dan sempurna. mana ada lelaki yang tak tertarik dengannya "
" kau jangan terlalu membiarkan istrimu berkelana di luar "
kata - kata angel tadi pagi masih melekat di otaknya. yah, mereka memang sedekat itu. karena kavian sendiri sudah menganggap wanita itu seperti adiknya. pada akhirnya, kavian membenarkan ucapan angel yang mana kepercayaannya terhadap laura kian menipis . sesungguhnya, memang tak ada manusia yang tak luput dari kesalahan, bisa saja suatu saat istrinya akan mengkhianatinya mengingat, di luar sana banyak pria yang jauh lebih sempurna dari dirinya.
tangan laura bergerak, menyentuh kepala suaminya. perlahan, jemarinya mengusap kepala itu dengan lembut. ada kelegaan di hatinya melihat suaminya yang kembali bersikap hangat.
" hon,, apa sebaiknya kamu berhenti bekerja ? " tutur kavi
laura menurunkan tangan yang berada Di kepala suaminya, wanita itu mendesah dengan raut wajah berubah menjadi masam.
" hon, jangan hubungkan semua masalah dengan pekerjaanku, aku enjoy dengan karierku. ini cuma kecelakaan biasa.. aku nggak papa kan ? " ucapnya sedikit kesal.
kavian memejamkan mata dengan helaan nafas berat. pria itu mencoba untuk tersenyum. walaupun mulutnya sudah gatal ingin menceramahi istrinya. Melihat keadaan istrinya yang tak berdaya, kavian memilih merapatkan bibir tak ingin mengulang pertengkaran lagi yang mengakibatkan istrinya bersedih.
÷÷÷
" nyet, lo jadi ikut lomba olimpiade ? " tanya haikal, bocah itu mengeluarkan buku - buku dari tas ranselnya.
shakty mengedikkan bahu " ada dua kandidat yang di seleksi. kalau gue si terserah pihak sekolah mau milih siapa.. "
" ada duitnya nggak ? " tanya iqbal dengan mulut penuh mengunyah pisang goreng.
" gue denger ada,, yang kayak tahun kemaren itu." jawab shakty mulai membuka buku paket
" ikut aja nyet, lumayan kan ! " usul haikal
shakty menggeleng " ada Safia yang jadi kandidat juga, kayaknya dia lebih butuh dari pada gue "
iqbal mencibir " bilang aja udah bosen duit "
__ADS_1
bugghhh
" si anying " iqbal mengusap kepala yang kena lemparan bantal.
shakty menyentil bibir iqbal " mulut lo kudu di ruqyah, biar tobat ! kalau perlu di cuci pakai debu di basuh tujuh kali " ucapnya mengundang gelak tawa.
" sialan ! gue bukan doggy " gerutu iqbal menatap jengkel ke arah teman - temannya yang tertawa renyah.
" noh,, dengerin anak sholeh lagi ngomong " timpal ifal.
" diam lu babi " sungut iqbal kembali mendapat sentilan di pipi.
haikal mengucek mata, memastikan penglihatan saat melihat Evelyn berjalan santai melewati 4 bocah yang duduk di ruang tengah .
" ehh, nyet.. lu ngandangin Evelyn ? " celetuk haikal membuat teman - temannya menoleh
cepat shakty menoleh ke arah pandang haikal. jantung shakty serasa mau copot, tubuhnya juga menegang melihat ke tiga temannya menatap tak berkedip ke arah Evelyn, yang berdiri di depan kulkas yang terletak tak jauh dari ruang tengah.
sedangkan Evelyn kembali berjalan santai ke arah mereka tanpa canggung sedikitpun.
" Evelyn ! " panggil ifal.
Evelyn menoleh dengan alis mengkerut. ifal berdiri mendekat ke arah Evelyn. cowok itu menepuk - nepuk pipinya memastikan ini bukanlah mimpi.
" ini beneran lu ? kok,, lu disini? " ifal bertanya heboh.
Evelyn menggaruk tengkuknya yang tidak gatal bingung juga mau ngomong apa dan menjawab apa. Evelyn menoleh ke arah shakty yang kini menunduk pura - pura acuh dengan suasana ini.
" enggh iya ,, ini gue Evelyn.. lanjutin belajarnya gue ke dalem dulu ! "
cepat ifal mencekal tangan Evelyn " lu belum jawab pertanyaan gue,, lu tinggal disini ? "
Evelyn memejamkan mata menahan kesal karena cowok di depannya masih gencar menginterogasinya " kepo banget dah,,, belajar aja sana ! " ketus Evelyn menghempaskan tangan ifal.
haikal terkekeh " sok kenal lu,, emang enak di sembur "
ifal tak menggubris ejekan haikal. cowok itu masih memperhatikan punggung Evelyn yang menghilang di balik ruangan yang ia perkirakan adalah ruang kamar.
tangan ifal bersedekap, bocah itu menatap penuh selidik ke arah shakty yang kini pura - pura mengerjakan soal.
" lu nggak mau jelasin shak ? "
shakty mendongak " jelasin apaan? "
ifal menendang pantat shakty " nggak usah pura - pura polos deh lo,, ternyata elo lebih bejad dari gue " cemoohnya dengan kekehan
" maksud lo apa? " tanya shakty dengan suara meninggi.
" lo ngandangin Evelyn kan ? lo make dia ? " tuduh ifal dengan seringaian
tangan shakty mengepal, cowok itu bangkit berdiri. tangannya menarik kerah jaket ifal " ngomong sekali lagi lo,, gue patahin kaki lo ! "
" etss dah,, sabar,, sabar, santai,,, duduk duduk " haikal menuntun ifal dan shakty untuk duduk di sofa.
" fal, gue juga kepo, tapi,, gue tau shakty itu kaya apa.. nggak mungkin dia kaya gitu " haikal menghela nafas lalu beralih menatap shakty " dan elu shak, tolong jelasin ke kita biar nggak ada ke su'udzhonan "
" bener shak, jelasin ke kita. " iqbal menimpali
shakty membuang nafas kasar, menjatuhkan punggungnya ke sandaran sofa
" dia kakak ipar gue, dan,, dia,, bininya mas kavi " jelasnya to the point.
" hahhh " ucap mereka serempak
shakty terkekeh, lalu menggelengkan kepala.
" semua berjalan begitu saja,, itu di luar dugaan gue. awalnya gue juga syok. tapi,, itulah kenyataanya, Evelyn dinikahi oleh abang gue,, ashhh... " shakty menyugar rambut ke belakang.
" jadi,, gosip di sekolah bener? kalau Evelyn jadi simpanan orang ? " tanya haikal yang sukses mendapat geplakan tiga temannya.
" bukan simpanan, karna dia seatap sama istri pertama, dan lagi,, mereka juga nikah secara sah " protes shakty membela
haikal nyengir kuda " sorry "
" udah jelas kan? jadi kalau ada yang ngomong dia pelakor, kalian wajib bantu gue buat lem mulut mereka "
ifal memicing " lu sepeduli itu ? "
shakty memutar bola mata jengah " ya harus, itu juga nyangkut nama baik keluarga gue "
" Evelyn kan istri kedua apa bedanya sama pelakor ? " kilah iqbal
" ya beda, kalau pelakor itu ngerebut " jelas shakty
iqbal manggut - manggut " ya udah si, ngapain bahas ini, kita lanjutin aja belajarnya " usul iqbal, mereka pun mengangguk setuju.
Evelyn yang sedari tadi menguping, kini bernafas lega karena mereka semua terlihat tak mempermasalahkan statusnya. gadis itu lantas mengambil bukunya dan berjalan keluar dengan langkah pelan.
" mau gabung ? " tanya shakty saat Evelyn berdiri di depan mereka.
Evelyn mengangguk pelan lalu menatap satu persatu ke 4 bocah itu.
__ADS_1
" sini ! " shanty menepuk - nepuk sisi kirinya.
Evelyn menurut, gadis itu lantas duduk di sebelah shakty.