
Evelyn menunduk seraya memainkan air . gadis itu hanya melirik ke arah shakty yang menatapnya dingin dan datar. ini pertama kalinya dia merasa kikuk di depan bocah tengil itu. ah, ini pasti gara - gara kejadian tadi pagi sehingga membuatnya jadi canggung sekarang.
haikal sendiri melipat tangan didada menanti apa yang hendak temannya lakukan.
yah, haikal tak menampik tatapan berbeda dari tatapan shakty terhadap Evelyn. kalau kata iqbal, seperti ada something.
tatapan shakty semakin menajam saat matanya menangkap tubuh mulus Evelyn yang tercetak jelas di balik seragamnya. walaupun hanya penerangan ala kadarnya, namun masih bisa di lihat dengan jelas apa yang ada di balik seragam putih itu.
" lo nggak bawa sabun ? " tanya Evelyn memecah keheningan.
haikal menepuk keningnya lalu menampilkan deretan giginya yang rapih.
Evelyn mengerucutkan bibir. gadis itu menyambar dua handuk yang di letakkan di atas bambu kecil yang di tancapkan di tanah pinggiran sungai.
" balik badan lo pada ! " titahnya galak.
Evelyn melepaskan seragam dengan cara menutup tubuhnya dengan handuk itu. sesekali gadis itu melirik ke arah dua cowok yang berdiri membelakanginya.
kedua pasang mata cowok itu melotot sempurna saat mendapati tubuh Evelyn yang hanya di balut handuk sebatas dada dan paha serta handuk yang membalut kepalanya.
cepat, shakty melepaskan jaketnya dan mengenakannya ke tubuh Evelyn " nggak risih apa, tubuh lo di liat cowok ? " sungut shakty
bibir Evelyn mencebik " haikal nggak punya bathrobe, jadi ya pakek ini. seadanya, awsss " desis Evelyn yang tak sengaja menginjak sesuatu di bawahnya.
" ouchh, sakit banget " keluhnya dengan wajah meringis.
" mana yang sakit " haikal yang berada didepan lantas berlari kebelakang, berjongkok memeriksa kaki Evelyn
tangan yang hendak menyentuh kaki mulus itu di tepis kasar oleh shakty " jan pegang - pegang ! " omelnya menatap sengit ke arah haikal
haikal memutar bola matanya malas " gue cuma pen periksa doang, takutnya berdarah. posesif bett elah. kek elo lakiknya dia. herman gue"
shakty tak menggubris, cowok itu berjongkok mengamati telapak kaki Evelyn yang memang mengeluarkan darah. dengan gerakan cepat, cowok itu menggendong Evelyn ala brydal style secara tiba - tiba. membuat gadis yang tak siap itu jadi memekik.
" arrghhh,, turunin shak " Evelyn memukul dada shakty dengan kencang.
" diem ! " ucap shakty dengan nada kesal, merasakan dadanya yang linu dan perih.
" iishh, lepasin nggak. malu tau ! " omel Evelyn masih dengan memukul dada bidang cowok tengil itu.
shakty mengeratkan giginya. setelah sampai di ambang pintu, cowok itu dengan kurang ajarnya melepaskan gendongan membuat Evelyn memekik kesakitan.
" awwsss... anying ! shakty ****** " umpat Evelyn menatap jengkel ke arah shakty yang tersenyum smirk.
" tadi ngomel - ngomel minta di turunin. giliran di turunin ngumpat. dasar nenek lampir " gerutu shakty membuat Evelyn mencak - mencak.
dengan gesit, gadis itu berdiri hendak meraih tangan shakty namun tubuhnya terhuyung kala merasakan nyeri di telapak kakinya.
" ouuchhh,, sakit " rintih Evelyn dengan mata berkaca.
shakty segera merengkuh tubuh Evelyn dan memapah gadis itu duduk di kursi kayu. tangan shakty bergerak menyentuh telapak kaki Evelyn. cowok itu mendesah kala melihat pecahan beling yang menancap di telapak kaki Evelyn.
" lo ada p3k ? " tanya shakty ke arah haikal dan di jawab dengan anggukan.
hana menatap tak berkedip pemandangan di depannya. dimana, dengan lincahnya, shakty bergerak kesana kemari mengambil air hangat dan tissue. dengan telaten, cowok itu meengelap darah yang mengucur di sela kaki Evelyn.
evrlyn menggigit bibirnya, menahan rasa nyeri dan perih yang bersamaan, tangan mungil nya meremas bahu shakty untuk menyalurkan rasa sakitnya.
kepala shakty mendongak menatap sendu ke arah Evelyn yang sudah meneteskan air mata. pelan, shakty mencabut beling kaca yang menusuk telapak kaki gadisnya.
" aarrgghh,, hiks,, hiks " erang evelyn saat pecahan beling itu berhasil dicabut.
bapak tampak tergopoh - gopoh keluar dari kamar menghampiri ke tiga remaja yang berada di ruang tamu itu
" ya allah, nak eve. kenapa kakinya ? " tanya bapak ikut berjongkok mengamati kaki Evelyn.
Evelyn masih terisak dengan tangan meremas lengan shakty,. pelan, shakty merengkuh bahu Evelyn untuk menyandar ke perutnya. " tadi abis terkena beling pak, udah di cabut kok belingnya " jelas shakty
" cepat di bawa ke rumah sakit ya, takut infeksi " tutur bapak dan di angguki oleh shakty.
__ADS_1
" kami pamit dulu ya pak, nanti handuknya biar besok saya kembalikan " pamit shakty seraya menggendong tubuh Evelyn dan membawanya keluar.
hana membuang muka melihat pemandangan romantis di depannya, ada gelenyar nyeri yang menyusup ke ulu hatinya. walaupun berkali - kali ia berkaca ke cermin seraya mengatakan bahwa dirinya amat jauh di katakan pantas bersanding dengan shakty,, namun tak bisa memungkiri hatinya tercabik kala melihat pria idamannya menaruh perhatian terhadap gadis lain.
" ada - ada saja, kok bisa sih kaki nak eve ke tancep beling ? " tanya bapak keheranan.
haikal menggaruk alis " tadi abis mandi di sungai pak, pas pulang nggak sengaja injek beling "
mata bapak melotot detik berikutnya tangannya mendarat ke kepala haikal " bocah gendeng. kenapa malam - malam mandi di sungai ? " omel bapak
bibir haikal mengerucut " dia yang maksa kok pak, katanya nggak mau mandi disini. nggak bisa berendam. "
" lagian ngapain sih, pakek ngajak - ajak anak manja mampir ke rumah reot kita? nyusahin kan jadinya. " omel hana dan dihadiahi sentilan di bibir oleh haikal.
" mulut ! " omel haikal membuat hana mencak - mencak. detik berikutnya gadis itu nyelonong masuk ke kamar.
dengan sangat perlahan, shakty mendaratkan tubuh Evelyn ke jok mobil. cowok itu Segera melajukan mobilnya setelah memasuki ruang kemudi. hening tak ada pembicaraan selama perjalanan. sesekali, shakty melirik ke arah Evelyn yang menggigit bibir seraya mengeluarkan air mata. di lihat dari dalamnya goresan pecahan kaca itu, sudah bisa di gambarkan betapa sakit dan perihnya kaki gadis itu.
" shak "
" hm "
" laper " rengek Evelyn.
shakty mengulum bibir. cowok itu menepikan mobilnya ke sisi jalan tepatnya di seberang tenda kedai sate.
cowok itu bergegas turun, melangkah lebar menuju ke arah kang sate, yang lagi ngipas - ngipas panggangan sate lalu memesan dua porsi sate ayam. mungkin sekitar 20 menit, sate yang shakty pesan telah siap dan di sajikan di seterofom.
" nih " shakty menyodorkan satu kotak sterofom berisi sate itu ke arah Evelyn.
shakty tersenyum tipis saat melihat Evelyn yang memakan sate itu dengan lahap. shakty mendengus kala melihat tubuh Evelyn yang terpampang jelas terkena sinar lampu mobil walaupun tak tampak dari luar, namun tetap saja cowok itu risih melihat bahu telanjang gadis itu yang menggoda iman.
" jaketnya mana ? " tanya shakty celingukan.
" tuh " Evelyn menuding ke arah jok belakang dimana jaket dan handuk tergeletak di sana.
" kenapa di lepas ? "
shakty menghela nafas, tangannya bergerak membuka seterofom itu. Memilih tak melanjutkan protesannya karena dia yakin gadis kepala batu itu tak akan memperdulikan omelannya. kedua remaja itu tampak anteng menyantap sate masing - masing. Evelyn menenggak air minumnya setelah hidangan satenya habis tak bersisa
" ambilin tissue " Evelyn menuding ke arah dashboard dimana tissu itu berada di dekat kemudi.
" ckk, yang sakit keknya kaki elo deh bukan tangan lo" decak shakty namun tetap menurut mengambil tissue itu dan meletakkannya di paha terekspos Evelyn.
" ssshh " desis Evelyn saat merasakan kembali nyeri di kakinya.
Evelyn menyandar ke jendela mobil. kakinya ia selonjorkan dan di letakkan di paha shakty. spontan, shakty memukul kaki itu.
" awww, sakit bego ! " omelnya dengan wajah meringis.
" elu sih, Ngadi - adi " omel shakty seraya meniup telapak kaki Evelyn yang terluka.
" ekhem " Evelyn berdekhem untuk menetralkan tubuhnya yang mendadak salah tingkah saat menyadari dirinya berada seintim ini dengan shakty.
" ekhhemm ekheem " dekhemnya lagi dengan keras karena shakty sama sekali tak menggubris. bocah itu hanya memutar bola matanya malas dan kembali menyantap satenya.
tangan Evelyn terulur mengusap bibir shakty saat melihat noda bumbu sate yang menempel di sudut bibir cowok itu.
tubuh shakty menegang, reflex cowok itu menghentikan aktivitasnya. shakty membuang muka saat Evelyn menjilat jari bekas usapan bumbu kacang itu. shakty terburu - buru menenggak minumnya saat merasakan hawa panas yang menjalar ke tubuhnya.
Evelyn meraih handuk dengan sedikit susah payah karena letak handuk itu berada di jok belakang. Tangannya menggosok - gosok rambutnya lalu melirik ke arah shakty yang memainkan ponsel. tangan sebelah cowok itu di gunakan untuk mengelus telapak kakinya yang terluka.
" shak, bantuin " rengeknya manja. mode modusnya kembali beraksi.
shakty meletakkan ponselnya ke atas dashboard. menurut, tak mengomel ataupun memprotes seperti biasanya. cowok itu mencondongkan badan lalu mengambil alih handuk di tangan Evelyn.dengan lembut, cowok itu menggosok rambut Evelyn, sesekali melirik wajah gadis yang tepat didepannya yang menatap tak berkedip ke arahnya.
shakty menghirup dalam - dalam ujung rambut hitam Evelyn. matanya terpejam kala indra penciumnya mencium aroma susu yang menguar dari rambut terawat itu . Evelyn tersenyum tipis, kupu - kupu di dalam hatinya tengah menari - nari dengan girang. dia mengenyahkan segala rasa pesimis yang menyelubungi hatinya. begini saja sudah cukup membuatnya bahagia, karena cowok di depannya tak ilfeel ataupun menghindarinya seperti yang ia khawatirkan siang tadi.
cup
__ADS_1
dengan seenak dengkul, Evelyn mengecup bibir shakty. lalu, segera menarik bibirnya saat cowok itu melotot tajam ke arahnya.
kesal, shakty menyentil bibir Evelyn " nakal "
bibir Evelyn mengerucut, kepalanya maju hendak mencium bibir shakty namun dengan gesit, cowok imut itu menghindar, membuat Evelyn merengut sebal.
shakty terkekeh saat Evelyn merajuk melipat tangan di dada seperti bocah yang kehilangan permen. " jan nyosor mulu ah, belum muhrim "
" ish, gemes tauk. makanya jan deket - deket " ucapnya kesal.
shakty menggelengkan kepala dengan tawa kecil merasa heran mengapa ada spesies betina se bar - bar Evelyn
" nanti kalau udah halal. sekarang, no ! " shakty menggerakkan jarinya.
Evelyn tertegun, menatap tak berkedip bocah di depannya. apa katanya tadi ? belum halal? maksudnya apa? apakah cowok itu memberikan lampu hijau kepadanya?
Evelyn mengalihkan pandangan menyembunyikan rona di wajahnya.
" kenapa tadi pagi langsung pergi ? " tanya shakty setelah beberapa menit mereka terdiam.
mereka masih di posisi yang sama diam di dalam mobil. bahkan mobil SUV berwarna putih itu masih terparkir cantik di sisi jalan. Evelyn mengalihkan pandangan ke arah jendela, gadis itu menyandar pada kaca mobil.
" gue,, malu " gumamnya lirih yang masih bisa di dengar.
" kenapa malu ? " tanya shakty menuntut
" gue udah kayak ja*ang tau nggak. gue sendiri malu sama diri gue sendiri yang nggak bisa mengendalikan diri. " Evelyn menoleh ke arah shakty yang menyimak dengan wajah serius.
" gue tau ini riskan, ini salah. karena posisi gue udah jadi kakak ipar lo. tapi posisi itu yang udah menjadi perantara kita dekat satu sama lain. lo liat sendiri kan posisi gue di hati kakak lo, gue bukan siapa - siapa di matanya. gue hanya orang asing di matanya. Dan sialnya, gue cuma di jadiin alat pencetak anak. hahh, ashuw " tuturnya panjang lebar diakhiri umpatan.
" gue nyaman sama lo shak, cuma elo yang ada saat gue butuh, cuma elo yang bisa nuntun gue di jalan yang benar. please ! tuntun gue jadi pribadi yang lebih baik. tuntun gue yang sampah ini jadi seseorang yang berguna dan berubah "
Evelyn tergugu, menangkup kedua wajahnya dengan tangan. shakty menunduk dengan memainkan jemarinya hatinya begitu ******* melihat gadis di depannya terisak pilu.
shakty menghela nafas panjang, tangannya bergerak menurunkan kedua telapak tangan Evelyn yang berada di wajah.
" ve, "
Evelyn mendongak dengan wajah sembab. kentara sekali kalau gadis itu sangat rapuh.
" elo mau tau isi hati gue ? " tanya shakty menatap dalam ke dua manik hitam Evelyn.
pelan, Evelyn mengangguk.
" if i am your future, are you ready to accept all sides of my situation? both strength or weakness " ( jika saya adalah masa depanmu, apakah kamu siap menerima segala sisi keadaanku? baik itu kelebihanku maupun kekurangan ku ).
Evelyn mengerjapkan mata mendengar ucapan shakty yang seolah sebuah mantra kekuatan jiwa. Evelyn mengangguk cepat dengan air mata yang kembali meluncur deras.
" so, you are my girl. My sweety." jelas shakty membuat evelyn membekap mulutnya tak percaya.
Tanpa menjawab, Evelyn segera menghambur ke pelukan cowok di depannya, ralat kekasih sahnya. gadis itu mengecup tengkuk shakty bertubi - tubi menyalurkan kebahagiaan yang menguap dari dasar hatinya.
shakty memejamkan mata, merasakan debaran aneh yang menjalar ke dadanya. pelan, tangannya membalas pelukan Evelyn.
shakty tau ini dosa, dan riskan. tapi, dia tak bisa menutup fakta kalau dirinya juga merasakan perasaan yang sama terhadap kakak iparnya.
melihat Evelyn yang terus di abaikan bahkan acapkali mendapat perlakuan kasar dari kakaknya, membuat perasaan cinta menggebu - gebu itu ingin sekali ia ungkapkan .
apalagi perasaannya terbalas, membuatnya semakin yakin memantapkan hati kepada gadis di dalam pelukannya. shakty bahkan sudah siap mendapat resiko kedepannya. yang mana sewaktu - waktu mau tak mau dirinya harus menelan pil pahit gadis pujaan nya di ambil oleh kakaknya. mengingat status mereka yang masih sah menjadi suami istri.
Shakty terkekeh saat melihat handuk yang melilit tubuh gadis itu nyaris merosot kebawah. cepat, tangannya bergerak membenarkan lilitan handuk itu.
÷÷÷
kavian melempar tas kerjanya ke sembarang arah, nyaris mengenai laura kalau saja wanita itu tidak gesit menghindar. bibir wanita itu mengerucut karena polesan lipstiknya jadi melenceng ke pipi.
" kok pulangnya larut banget sih ? lembur ? "
kavian hanya mengangguk, pria itu merebahkan tubuh ke atas kasur " Evelyn sudah pulang ? " tanyanya menatap lampu kamar.
__ADS_1
" belum,, lagi di jemput shakty " laura menghampiri suaminya lalu ikut merebahkan tubuh ke sampingnya.
kavian melirik alroji di pergelangan tangannya yang mana jam menunjukkan pukul 11 malam. pria itu berdecak, lalu bangkit berdiri menyambar kunci mobilnya. mendengar kedua remaja itu yang kembali menghabiskan waktu bersama reflex membuat darahnya mendidih, apalagi sampai selarut ini.