
Langkah kaki yang baru berjalan beberapa langkah, reflex berhenti. umpatan ariel seolah - olah memancing harimau kelaparan yang bersembunyi di tubuh Evelyn.
Evelyn masih mempertahankan kewarasan, dengan tidak menggerakan tubuh. Gadis itu menyalurkan amarahnya dengan mengepalkan tangan. ada banyak pasang mata yang menatap ke arahnya, menunggu langkah apa yang ingin gadis itu lakukan.
Evelyn menghembuskan nafas panjang, menepis kobaran amarah yang menjalar ke tubuhnya. Setelah sepersekian detik berdiam, kewarasannya mengalahkan desiran amarahnya. akhirnya, Evelyn memilih melanjutkan langkah menuju ke lorong kelas.
" cewek anjing, pelacur sialan ! perebut suami orang. gue bersumpah, bakal bales kelicikan elo ! " teriak ariel menggebu - gebu. tangannya menunjuk - nunjuk ke punggung Evelyn.
kaki yang baru berjalan dua langkah itu berhenti lagi. kali ini Evelyn berbalik, menatap nyalang ke arah ariel yang kelihatannya masih ingin memaki - maki.
" ARIEL ! " bentak Evelyn, dadanya bergemuruh naik turun. ini batas kesabarannya. kalau sampai cowok itu buka mulut lagi, entah apa yang akan terjadi.
" Riel mending lo pake baju !. udah selesai juga kan permainannya. please ! ini demi kebaikan elo " usul samsul menyodorkan seragam ariel.
" lo diam aja ! " bentak ariel.
samsul merengut kesal. menghempaskan seragam ariel dengan kasar. bocah itu melenggang pergi dengan mata yang sudah berkaca. samsul memang paling nggak bisa di kasarin apalagi di bentak.
" satu kata laknat keluar dari mulut elo.. gue bakal jait mulut jelek lo itu " ancam Evelyn.
ariel menyeringai sinis. tanpa rasa malu, cowok itu mendekat ke arah Evelyn. masih dengan keadaan tubuhnya yang setengah toples.
" kenapa? memang faktanya kan kalau elu pelakor? pelacur yang ngangkang di depan suami orang " makinya lagi
bughh
ariel terdorong mundur saat kaki Evelyn mendaratkan pukulan di perutnya.
sudah di peringatin kan jangan buka mulut. yang namanya sabar itu ada ambang batasnya. namun, seperti nggak punya rasa kapok, ariel malah terkekeh. menatap sinis ke arah Evelyn yang hanya berjarak satu meter darinya.
Melihat senyum sinis ariel, cloe dan livy menggeram marah. Rasanya pengin ikut menendang setiap sisi tubuh cowok menyebalkan itu hingga babak belur. sekalian ke tulang - tulangnya yang hanya sebesar sedotan itu menjadi patah. biar cowok itu enggak berani memasang wajah sengak dan arogan.
semua pasang mata menatap ngeri ke arah empat siswa yang berada di tengah - tengah itu. hawa gelap dan sengit memenuhi area aula. siapa yang nggak hafal dengan sosok Evelyn. yang akan membuat gaduh kalau ada yang berani mengganggu. ini masih terbilang aman, karena gadis itu nggak melempar ariel ke atap. atau menghancurkan benda - benda sekelilingnya.
" kenapa diam? Ngerasa ? mau ngeles apalagi elo? seantero 99 juga udah pada tau kalau elu udah nikah sama suami orang. bahkan guru - guru juga udah tau. ckkk gue heran deh, kenapa modelan cewek kaya elu nggak di tendang aja dari sekolah " nah, nah, udah tau yang di pancing ratu kegaduhan. cowok itu malah dengan pedenya maki - maki. ckkkk. yang nulis juga pengin langsung hapus namanya.
dengan gerakan cepat Evelyn sudah menyambar leher ariel, mencekiknya dengan erat. ariel nggak tinggal diam, tangan cowok itu menyambar rambut Evelyn yang tergerai bebas.
cloe dan livy mencekal tangan ariel, mengunci pergerakan cowok itu. tapi, tau sendiri tenaga cowok lebih besar. saking emosinya, ariel menghempas tangan cloe dan livy, sehingga kedua gadis itu terpental dan jatuh. tangan Evelyn sudah melayang di udara, hampir mendarat di pipi jeleknya ariel. namun nahas, tangannya di cekal lebih dulu oleh ariel.
Evelyn mnundukkan kepala saat ariel mengangkat tangan, jarak satu inci tangan kurus cowok itu hampir menyentuh pipi mulus Evelyn. but, pahlawan kesiangan datang dan mencengkeram kuat tangan ariel.
ariel menoleh kesamping, menatap jengkel ke arah darrel yang masih mencengkeram tangannya.
" pengecut ! beraninya sama perempuan " maki darrel memelintir tangan ariel dan menguncinya di punggung.
" aaarrggghhh ! lepasin ! " erang ariel merasakan tangannya hampir patah.
satu lagi pahlawan kesiangan datang. fokus semua murid beralih ke arah Shakti yang merengkuh kedua pipi Evelyn.
" kamu nggak papa? " tanya shakti membolak balik pipi Evelyn.
Evelyn mengangguk lucu, ekspresi wajahnya juga nggak tegang dan nggak jutek kayak tadi pas sama ariel. ekspresi Evelyn Lebih kaya ekspresi yang teraniaya.
shakti mengacak rambut Evelyn, tangannya terulur mengelus pipi gadis itu. penginnya si meluk, tapi belum berani. nggak tau kenapa, dia masih kurang sreg kalau harus memulai duluan. cowok itu berbalik, menatap ke arah ariel yang meringis. karena tangannya masih di pegangin darrel.
Shakti mengusap ujung hidung. menatap tajam tepat ke manik mata ariel yang menatapnya penuh dengan kesombongan.
" gue nggak tau, perjanjian apa yang udah kalian buat. tapi yang namanya kalah, itu berarti memang dia nggak mampu. dan satu hal yang paling gue benci adalah, seorang cowok yang berani main tangan ke cewek "
bukan hanya ariel yang tertohok, darrel juga merasa tersindir. cowok itu sampai membuang muka untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.
" dan satu lagi, gue peringatin ke elo. jangan coba - coba buat ngusik ketenangan cewek gue. karena gue nggak bakal tinggal diam "
mata ariel melotot mendengar pengakuan dari shakti. begitupun juga seluruh kerumunan yang berada di aula. mereka sampai menutup mulut yang menganga lebar.
wajah mereka kelihatan syok dengan mata yang membola. nggak melanjutkan ucapannya lagi, Shakti meninggalkan aula sembari merengkuh pinggang Evelyn. berjalan melewati mereka semua yang matanya melotot, mengikuti punggung pasangan itu sampai menghilang di sepanjang lorong kelas.
__ADS_1
darrel mendorong tubuh ariel, sampai ariel jatuh tengkurap ke lantai. begitupun juga dengan beberapa siswa yang ikut melangkah pergi meninggalkan aula. karena tontonan gratis telah usai.
dukkk
" ini balasan dari gue, karena elo udah dorong gue "
dukkk
kaki livy menendang bahu ariel yang masih tengkurap di lantai.
" aarggghhh " kembali mengerang saat tangan cloe mendarat di kepala, menjambak rambut ariel sampai badan cowok itu berguncang.
" sialan, pergi lo semua, anying ! " maki ariel menatap jengkel ke arah dua gadis itu.
di permalukan seperti ini. oh nggak bisa diam aja dong. beribu rencana licik menari - nari di otaknya. ariel masih menatap nyalang ke arah punggung livy. tentunya nggak cuma mereka berdua. ada si biang onar yang menjadi sasaran utamanya.
dari semenjak kelas sepuluh, ariel udah nggak suka sama Evelyn. cowok itu selalu saja mencari celah gadis itu sampai ngorek latar belakangnya yang nggak bisa dia temukan sama sekali. karena memang Evelyn berasal dari keluarga terpandang.
baru di kelas 11 ini, ariel mengetahui fakta kalau Evelyn menjadi istri kedua. dan itu menjadi kartu as untuk meruntuhkan kesombongan gadis itu. namun nahas, lagi - lagi dia kalah telak. dan lebih parahnya dia di permalukan di depan seluruh penghuni sekolah.
÷÷÷
Evelyn merengut sebal. menatap jengkel ke arah shakti yang sekarang ini lagi berkemas buku. bukan mau pulang sih, tapi mau mempersiapkan diri buat lomba di tingkat kabupaten. jadilah Evelyn merajuk karena enggak pulang bareng.
shakti mencubit bibir manyun Evelyn, membuat bibir gadis itu tambah manyun.
" jan gemas - gemas, nanti aku khilaf " canda nya dengan senyum se cool mungkin.
tangan Evelyn menabok bahu Shakti " ngeselin bangat ! gue pulang sama siapa? "
shakti terkekeh " kaya anak tk aja, suka bingung kalau nggak di jemput. naik taxol kan bisa "
Evelyn mengeratkan gigi mencubit keras pinggang Shakti " kamu mau aku di culik, hah? " sewotnya, menatap dengki ke arah cowoknya yang nggak ada peka - pekanya.
shakti menggeleng dengan tawa kecil " mereka nggak akan berani. sebelum mereka nyulik, mereka udah terkapar duluan di selokan "
" superwoman " Sahut shakti menunduk dengan senyum tipis. pengin lihat dengan jelas, bentuk senyum gadisnya yang selalu membuatnya menggila.
liat cowoknya menunduk dengan jarak yang terlalu dekat, apalagi bibir merah dan tipis itu yang berada tepat di depan bibirnya, nggak bisa kalau Evelyn menganggurkan begitu saja.
cup !
jadilah gadis itu mengecup singkat bibir merah menggoda itu. shakti nggak protes, dia hanya terdiam memandang lembut ke arah wajah gadis di depannya. mungkin cowok itu juga menikmati, atau pengin di cium lagi. ckkk itulah yang ada di isi kepalanya Evelyn.
lama saling diam, membuat Evelyn jadi gemas. gadis itu memajukan wajah, bibirnya mencoba meraih bibir merah Shakti yang terkatup rapat.
oh god, jantung Shakti hampir melompat dari tempatnya, saat bibir kenyal nan basah Evelyn telah mendarat di bibirnya. Shakti meneguk ludah, saat benda tak bertulang itu menyesap bibir bawahnya.
tangan shakti mencengkeram celana abu - abunya, menyalurkan rasa geli dan desiran aneh yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Evelyn tak tinggal diam, mendorong dada shakti hingga pantatnya terpentok meja. dengan sekali dorongan dari tangan Evelyn, tubuh shakti sudah ambruk telentang di atas meja.
Evelyn merapatkan tubuh, menindih, menekan tubuh Shakti, seirama dengan gerakan bibirnya.pelan, Evelyn menggigit bibir bawah shakti yang sudah kebas dan membengkak, membuat cowok itu membuka mulutnya mempersilahkan lidah Evelyn untuk masuk, menjelajahi rongga hangat mulut nya yang beraroma mint dan terasa manis.
Evelyn melenguh, saat lidahnya bertubrukan dengan lidah shakti. gadis itu merasakan sesuatu yang keras di bawahnya yang menekan perutnya.
Evelyn makin rakus menikmati bibir kekasihnya, saat mendengar lenguhan lirih yang keluar dari bibir mungil Shakti.
" shak, udah di tungguin ! "
shakti segera mendorong tubuh Evelyn, meraih pinggang gadis itu saat gadisnya hendak terjatuh.
evelyn berdecak, menatap sebal ke arah darrel yang diam di ambang pintu, mengalihkan tatapan ke arah taman depan kelas.
shakti bangkit dari atas meja. mengacak rambut Evelyn sebelum pergi.
" nanti mbak laura jemput. hati - hati ya ! kabari kalau udah sampai rumah " pamitnya, meninggalkan Evelyn yang masih cemberut.
__ADS_1
shakti merangkul pundak darrel, mengedipkan sebelah mata sebelum benar - benar menghilang dari pandangan gadisnya.
lagi kesel, tapi liat cowoknya ganjen begitu. jadilah bibir manyun itu tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman tipis.
setelah mengantarkan shakti ke ruang guru, darrel berlari kecil, menuju ke ruang kelas Evelyn. berharap gadis itu masih berada di kelasnya.
darrel mendesah, tangannya di tekuk di sisi pinggang " udah pulang kali ya? " tanya nya ke bangku.
cowok itu lantas bergegas ke luar, celingukan ke kanan dan ke kiri. tatapannya terkunci di bawah, dimana gadis itu sedang berjalan di parkiran sekolah.
nggak mau kehilangan jejak, darrel berlari di di sepanjang lorong kelas, lalu berbelok untuk menuruni tangga.
" ve " darrel mencekal tangan Evelyn, membuat kaki yang hendak keluar dari gerbang jadi terhenti.
Evelyn mengerutkan kening, menatap penuh pertanyaan ke arah darrel yang sekarang ini lagi ngos - ngosan. mengatur nafas yang ter'engah - engah. Evelyn menaikkan satu alis, menunggu darrel yang masih ngos - ngosan. capek tentunya karena habis lari.
" pulang bareng gue ya ! "
Evelyn membuang pandangan jadi beralih menatap ke arah daun pohon beringin di atasnya. masih diam dengan tatapan lurus ke atas, barangkali bisa liat penampakan mbak kunti di siang bolong yang biasa di perbincangkan oleh kedua temannya.
darrel mengikis jarak, menatap lembut ke arah Evelyn yang benar - benar nggak minat untuk menatap wajahnya.
" cuma hari ini aja pulang bareng gue, sebagai ucapan maaf gue yang sangat terlambat ini "
Evelyn menurunkan kepala menatap sinis ke arah darrel yang menunggu jawaban.
" enggak " sahutnya singkat. ketus dan wajahnya yang di buat sejutek mungkin.
darrel menggigit bibir, nggak rela banget kalau terus di cuekkin sama cewek yang dulunya ngejar - ngejar dia.
" next time ! " negonya darrel.
Evelyn hanya menggeleng. bahkan gadis itu langsung berbalik badan karena bener - bener udah eneg liat mukanya darrel.
darrel mendesah, tangannya terulur menyentuh pundak Evelyn.
" nggak usah sentuh - sentuh " ketus Evelyn dengan kepala menoleh menatap datar tangan darrel yang berada di pundaknya. maksudnya itu kode ya, agar tangan itu menyingkir.
darrel tersenyum getir, menurunkan pelan tangannya. Evelyn melanjutkan langkah, keluar dari gerbang utama dan berdiri di sisi jalan yang berada tepat di samping gerbang.
" elo beneran pacaran sama Shakti? "tanya darrel dengan tatapan terfokus ke arah jalan raya, menatap satu persatu kendaraan yang berlalu lalang.
" bukan urusan elo ! " ketus Evelyn membuang muka ke samping.
darrel menoleh ke sisi kanannya. menatap sendu mantan kekasihnya yang selalu terlihat cantik di matanya.
" maaf " ucapnya seraya menunduk
" nggak usah lebay, gue juga udah lupa " ketus Evelyn.
darrel mengukir senyum, kepalanya mendongak dengan wajah yang memancarkan binar bahagia.
" jadi, gue di maafin? "
Evelyn terkekeh " gue lupa bukan berarti nggak ngerasa sakit hati ya, luka yang elo kasih masih membekas disini " telunjuknya ke dada
darrel mengarah pandang ke telunjuk Evelyn, meneguk ludah saat menyadari betapa indahnya bentuk bulatan kenyal gadis itu. cowok itu sampai tak berkedip. di hatinya sangat merutuki otaknya yang tetiba berpikiran liar. salahkan Evelyn yang sudah menampilkan adegan kissing kepadanya.
dia memang pernah berciuman dengan cindy, tapi nggak se ambisi saat lihat adegan ciuman evelyn dan shakti. apalagi liat bibir Evelyn yang sekarang ini membengkak. ckkk, beneran nggak rela banget udah kecolongan cowok lain.
" liatin apa lo? " Evelyn mendorong wajah darrel membuat cowok itu terhuyung.
darrel tersenyum canggung, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal untuk menghalau salah tingkahnya.
" elo sering ciuman sama Shakti ?" tanya nya lancang.
" kepo " sungut evelyn menatap jengkel ke arah darrel.
__ADS_1
darrel mengulum bibir. belum di maafin sih, tapi hatinya jauh Lebih baik karena Evelyn sudah mau berinteraksi dengannya. yah, walaupun masih kelihatan jutek dan untouchable.