Bukan Salahku Menjadi Madu

Bukan Salahku Menjadi Madu
Eps. 70


__ADS_3

Shakti mendudukkan Evelyn kedalam bathub. lalu tatapannya memindai tubuh Evelyn yang terbuka karena gadis itu hanya memakai bikini.


" Kenapa pakaiannya kaya' gitu sih ? " omel Shakti dengan bibir manyun.


Evelyn mencebik " ya kali gue berenang pakai gamis "


Shakti tertawa, saat otaknya bertraveling membayangkan kekasihnya barenang mengenakan gamis.


" Ya enggak pakai bikini doang kali "


" Iya, iya, cintaku sayangku " sahut Evelyn dengan wajah di buat segemas mungkin.


Shakti berjongkok, menatap lamat - lamat wajah gadisnya yang tak berpoles make up sedikitpun. justru itu terlihat imut dan natural.


" Cantik banget sih " shakti mengelus pipi Evelyn.


Evelyn mengulum senyum, menyambar bibir shakti dan menyesapnya sebentar " Kalau enggak cantik nggak mungkin dong sampai kamu rela di usir "


Shakti menyentil kening Evelyn " Kan kamu yang ngerayu aku, jadinya khilaf deh macarin kakak ipar sendiri " terkekeh setelah mendapat cubitan di pinggang.


Evelyn mengerucutkan bibir, mendorong dada shakti hingga bokongnya mencium basahnya lantai kamar mandi " nyebelin ! " sewotnya.


Shakti terkekeh, mengecup kening Evelyn cukup lama " Becanda, jangan ngambek dong "


Evelyn tak menggubris, menyalakan kran dan mengisi bathub, sesekali melirik shakti yang tersenyum manis ke arahnya.


Evelyn menuang sabun cair saat bathub terisi penuh. lalu melucuti bikini nya dan melemparnya ke wajah Shakti.


" Ihhh,, nggak sopan sayang " tegur shakti melempar bikini Evelyn ke ember.


Evelyn tertawa, mencubit bibir shakti yang manyun itu " abis nya kamu ngeselin "


Shakti mencekal tangan Evelyn, mengecup jari gadis itu seraya memejamkan mata. Evelyn mengulum senyum, mengelus pipi shakti dengan sebelah tangannya


" Makasih ya, karena kamu nggak ninggalin aku " lirih Evelyn.


Shakti membuka mata, tersenyum sembari kembali mengecup jari Evelyn " Aku janji nggak akan ninggalin kamu. dan kamu juga harus janji untuk setia menunggu aku"


Evelyn mengangguk mantap, merengkuh tubuh shakti dengan erat " makasih sekali lagi. aku sayang kamu, honey "


Shakti meneguk ludah, saat sesuatu yang terasa kenyal dan empuk menekan dadanya.


" Sayang, kamu lagi enggak pakai baju loh " Shakti mendorong bahu Evelyn sembari memejamkan mata.


Evelyn menunduk, tersenyum saat dirinya memang lagi toples " ini juga bakal jadi milik kamu kok, kenapa takut ? "


Shakti beranjak bangun. membalik badan dan memunggungi Evelyn " aku keluar " pamitnya sebelum menutup pintu.


Mungkin sekitar satu jam, evelyn baru keluar dari kamar mandi. gadis itu menuju kamar dengan tubuh yang hanya terbalut handuk yang menutupi dada dan pahanya.


" Cewek gila ! pakai baju dulu dong " omel iqbal saat berpapasan dengan Evelyn.


Ifal menjilat bibir, mengikuti punggung Evelyn sampai menghilang di balik pintu " gimana shakti enggak khilaf, do'i semenggiurkan itu "


Haikal menoyor kening ifal " Jangan omes lo ! "


Di dalam kamar, Evelyn tersenyum kecil. menatap wajah damai shakti yang sudah tertidur lelap. Gadis itu membenarkan letak selimut lalu mengecup bibir shakti yang setengah terbuka.


" Tidur yang nyenyak yah " Gumam Evelyn sembari menatap wajah tampan kekasihnya.


" Kamu kok kurusan sih " gumam Evelyn, memperhatikan tangan dan bahu shakti yang tampak mengurus.


" Maafin aku yah, gara - gara aku kamu harus menderita kaya' gini. harusnya aku yang keluar dari rumah besar, bukan kamu " Evelyn menunduk, mengecup punggung tangan shakti yang sedikit gelap.


Pasalnya, setelah pulang sekolah cowok itu berkerja di depan kompleks rumah haikal, menjadi kuli bangunan untuk menyambung hidup. jadilah kulitnya sekarang agak gelap akibat berpanas - panasan.


Hati evelyn mencelus melihat kekasihnya di usia yang tergolong sangat muda harus banting tulang mencari rezeki. Apalagi, shakti terbiasa hidup mewah dan enggak pernah yang namanya mengangkut barang berat apalagi berjemur di bawah sinar matahari.


Evelyn mengusap pipinya yang basah, kembali menunduk dan mengecup pipi shakti cukup lama.


" Aku sayang kamu. tolong bertahan yah, aku janji buat jaga hati aku ! " gumam Evelyn sembari mengelus kepala shakti dengan lembut.


÷÷÷


POV Astrid


Namaku, Ayunda Kinara dan Orang biasa memanggilku ayu. aku adalah gadis yatim piatu yang hidup di panti asuhan yang terletak di kota semarang.


Pada jenjang sekolah tinggi, tepatnya di universitas negeri yang terletak di kota semarang, aku bertemu dengan Kusno Hidayanto senior ku, seorang lelaki keturunan jawa yang berwajah tampan dan banyak di gandrungi oleh teman seangkatan. selain dia tampan, dia juga pria yang cerdas dan ramah.


Siapa sangka dari sekian banyak gadis yang mengaguminya, hatinya berlabuh ke padaku yang notabennya hanya seorang gadis buangan di panti asuhan yang tak jelas asal usulnya. kami semakin dekat seiring waktu berlalu. kedekatan kami semakin intens menginjak semester ku yang ke'enam.


Kami melakukan hubungan terlarang sebelum kami menghalalkan hubungan. jadilah aku dan kusno harus berhenti sekolah dan menikah di usia muda.


Aku begitu senang ketika aku telah menyandang status istri dari seorang lelaki tampan yang begitu baik hati. namun, rasa cinta dan sayangku lambat laun pudar. selain karena kehadiran dua buah hatiku, juga karena ekonomi kami yang semakin memburuk.


Kusno hanya berijazah SMA dan dia tidak memiliki pekerjaan yang menjanjikan. ketegangan demi ketegangan mulai terjadi saat diriku benar - benar setres menghadapi peliknya kemiskinan.


aku bosan miskin, dan aku juga bosan terhina. semua teman - teman ku perlahan menjauh, bahkan tak sedikit dari mereka yang kerap menhina ku karena kehamilan ku di luar nikah dan juga status sosial ku yang rendah.


di umur putra putri ku yang sudah menginjak tujuh tahun, aku nekad pergi ke kota meninggalkan kedua anakku yang masih kecil.


" Maafkan mama nak ! " gumamku menatap sendu ke arah dua bocah yang berlari mengejar ku.


Bagai kesetanan, aku menulikan pendengaran. tak menghiraukan teriakan mereka yang memanggil namaku dan tak menghiraukan tangis mereka yang begitu menyayat.

__ADS_1


Kusno memandang nanar mobil yang membawaku, sesekali pria itu juga memanggil namaku.


Hingga tiba di kota, aku di suguhkan oleh gedung mencakar langit dan juga beberapa indahnya ukiran gedung yang menjulang di depanku.


Aku tersentak saat sebuah klakson mobil berbunyi keras di belakangku yang nyaris menabrak tubuhku.


Sang pengemudi keluar dengan gagahnya. seorang pria tampan yang ku perkirakan seusia di atas suamiku itu mendekat, menatapku dengan tatapan terkejut dan mulut terbuka.


" Astrid " ucapnya membuatku bingung.


Pria itu mendekat, menyentuh bahuku begitu lembut. aroma parfum mahal dan maskulin begitu menyengat di penciumanku, menyalurkan desiran aneh yang mengalir di dada.


" Sayang, ini benar dirimu ? " pria itu memelukku erat, seolah aku adalah seseorang yang amat di rindukannya.


" M..maaf, anda siapa ? " tanya ku bingung.


pria itu melerai pelukan, menatap wajahku lamat - lamat " ah maaf mungkin aku salah orang "


Aku menunduk, menyembunyikan wajah yang merona. baru pertama kali ini aku melihat pria yang begitu tampan.


" Oh iya, sedang apa disini ? " tanya nya lembut.


" Ennggghh,, aku baru datang ke kota. dan sedang mencari pekerjaan "


pria itu manggut - manggut " Glen, glen bastian " pria yang bernama glen menyodorkan tangan.


Aku menatap tangan itu terlebih dulu, mengulurkan tanganku pelan sembari mendongak menatap wajahnya yang sempurna tanpa celah " Ayunda kinara " jawabku lirih


Glen tersenyum, menarik lembut tanganku masuk ke dalam mobil. " Mari ku antar ke penginapan. kau pasti belum mempunyai tempat tinggal "


Itulah awal pertemuan kami, dan seiring berlalu hubungan kami semakin dekat. Satu fakta mengejutkan terkuak, dimana aku di pertemukan dengan sworang wanita tua yang terbaring lemah di ranjang.


Wanita yang di perkirakan berusia lebih dari setengah abad itu menatapku terkejut. tatapan yang sama seperti tatapan yang glen layangkan ke arahku.


" Astrid " gumam wanita itu


Glen tersenyum, mendorong pelan punggungku dan menekan bahu ku untuk duduk di ranjang.


" Namanya ayunda kinara. seorang bayi yang di temukan di bawah jembatan oleh aiman, pemilik yayasan panti yabg terletak di semarang " terang glen membuat ku sontak terkejut


" Ayu, sekarang namamu adalah ayunda Angeline "


glen berjongkok mengelus pipiku dengan lembut " Jadilah istriku dan jadilah astrid untukku dan putriku "


Aku menatap tak berkedip lelaki di depanku seiring bunga yang bermekaran di ladang dadaku. siapa yang akan menolak pria tampan nan kaya ? sungguh bodoh jika itu ada. dan aku tak akan mungkin menolaknya. aku mengangguk yakin, menerima lamaran glen yang secara tiba - tiba.


Hingga pada akhirnya, pernikahan kami dilaksanakan dan aku di pertemukan dengan gadis remaja dengan wajah cantik bak bidadari.


" Laura, salim dong sama mamih " titah glen


Laura mengerucutkan bibir, tangannya menyilang dengan tatapan sebal.


Glen terkekeh " ayolah ! mamihmu baru pulang dari new York. dia masih capek jangan merengek seperti itu "


Kening ku mengerut menatap penuh pertanyaan ke arah lelaki di sampingku. sedangkan glen, mendorong punggungku, membawaku ke dalam kamar yang begitu mewah.


" Astrid adalah kakakmu ayu " terang glen sembari menunduk.


" Dia seorang model muslimah cantik yang memiliki banyak penggemar " glen meletakan kepalan tangan di tembok, menatap jendela kamar dengan tatapan tajam.


" Dia meninggal dalam kecelakaan maut akibat mobilnya disabotase " jelas glen.


" Tolong, bantu aku menjaga laura. dia milikku satu - satunya. aku tak ingin dia menjadi salah satu korban dari kerakusan orang lain"


Penjelasan glen kembali membuat kening ku mengkerut " Jadi, Astrid.. eumh kakakku meninggal secara tidak wajar ? "


Glen mengangguk, mendekat ke arahku dan memelukku dari belakang " Iya, dan laura belum mengetahui hal ini "


Awalnya aku ragu dan tak setuju mengikuti kemauan glen, tetapi lambat laun aku terbiasa dan nyaman dengan gadis cantik dan lugu yang sekarang menjadi anak gadisku.


Kebahagiaan ku tak berlangsung lama, karena glen suamiku mengalami kecelakaan dan mengakibatkan nya tewas di tempat. aku dan laura terpuruk dalam kesedihan. dan kami harus menata hati kami perlahan - lahan.


Tibalah laura menikah dengan kavian, aku kembali merasakan kesepian. aku mulai menyukai dunia malam dan kehidupan bebas. entah sejak kapan itu di mulai. lebih jelasnya saat aku memutuskan untuk menetap di luar negeri.


Aku pulang ke indonesia saat aku terjebak bisnis ilegal disana. menyebabkan semua harta benda ku termasuk peninggalan suamiku ludes tak bersisa.


" Mih, ijab qobul akan di mulai " panggilan putriku, laura menyentak lamunan ku.


aku berbalik badan, menatap sendu wajah putri angkat ku yang begitu lembut dan polos. ya, aku memutuskan untuk mengikuti alur Damian, karena nyatanya aku tak bisa hidup tanpa kemewahan.


Acara di selenggarakan di hotel yang terletak di jakarta pusat. sebuah pernikahan yang mewah dan elegan tetapi tak sedikitpun membuatku bahagia. karena aku yakin, setelah semua ini bencana mulai menimpa ku.


Laura mengapit tangan ku menuju ke aula. aku menatap kosong kedepan, menatap satu persatu manusia yang antusias dan tersenyum penuh kebahagiaan. tatapan ku terhenti pada ketiga manusia yang menatap ku begitu intens.


Hatiku terenyuh saat tatapanku bersibobrok dengan mantan suamiku, kusno. wajahnya masih tampan dan gagah, hanya saja penampilannya yang begitu sederhana.


Hatiku mencelus saat mataku bersibobrok dengan kedua mata putra - putriku. buah hatiku yang selalu tersemat dalam lamunanku.


Aku menunduk, menyembunyikan mataku yang sudah berkaca. aku menarik nafas dalam, menghembuskan nafas perlahan saat ijab qobul di bacakan oleh Damian. lelaki yang begitu mengerikan di mataku.


÷÷÷


" Mamih rini enggak pulang ? " Tanya Evelyn.l dan di angguki oleh laura.


Evelyn menatap sebal ke arah laura yang masih sibuk dengan pekerjaannya, mengemasi pakaiannya ke dalam koper dan entah mau kemana wanita itu pergi.

__ADS_1


" Aku sama kavi mau ke london, kamu mau ikut ? " tanya laura.


" Dihh, ogah. ngapain ikut ?" sewot Evelyn.


" Kamu enggak kangen mamih rini ? " tanya laura.


" Nggak tau", sahut Evelyn acuh.


Laura mendengus, kembali mengemasi barangnya ke koper.


" Berapa lama di london ? " tanya Evelyn.


" tiga hari " jawab laura tanpa menoleh.


Evelyn mengulum senyum, berteriak dalam hati penuh kegirangan. karena dengan begitu dia bisa leluasa bertemu dengan shakti.


" Ya udah, hati - hati. kalau perlu yang lama " ucap Evelyn sebelum pergi.


Laura menggeleng sembari terkekeh " ada ya, pelakor modelan kaya' dia? denger suami mau liburan sama istri yang lain malah kesenangan. ckk "


" Sayang, sudah siap ? " tanya kavian sembari melongok di pintu.


Laura mengangguk, menggeret kopernya menuju ke lantai bawah.


" Udah pamit ke mamih astrid ? " tanya kavian


" Udah, mamih bilang titip oleh - oleh " sahut laura.


Kavian meraih koper, membawa koper itu menuju ke bagasi mobil.


" Kau jangan macam - macam saat aku nggak di rumah, ya ! " Galak kavian.


Evelyn memutar bola matanya jengah. tak menyahut ataupun membantah. mood nya lagi bagus jadi dia enggak menggubris cerocosan suaminya yang enggak enak di dengar itu.


Kavian menatap tajam Evelyn sebelum benar - benar masuk ke mobil.


Laura tertawa kecil, menepuk pundak Evelyn dengan lembut " Mbak berangkat ya. ingat jangan keluyuran di luar "


Evelyn mengangguk saja, melambaikan tangan ke arah mobil dengan semangat 45.


" Yess,, " girang Evelyn sembari berjoged di halaman.


pak Amrul terkekeh dengan gelengan " non Evelyn ketiban durian runtuh " gumam pak Amrul. yang memang hafal akal bulus Evelyn kalau nggak ada suaminya di rumah. dan yang pasti gadis itu akan menemui majikan bungsunya.


÷÷÷


" Jelaskan " Sari membanting foto, dimana darrel sedang memeluk tubuh hana yang terekspos.


" Aku kan udah bilang tadi, kalau aku nolongin hana kecebur kolam " aku darrel jujur.


" Bohong tante, darrel sering main kok di rumah hana. iya nggak nyet ? " tanya nya ke Shakti.


Shakti mengangguk ragu, dan itu di hadiahi


Pelototan tajam oleh darrel.


" Mamih nggak habis fikri yah sama otak kamu. kamu nggak kapok juga ya sama kejadian dulu pas sama cindy" Sari menggeleng.


" Hana bukan cewek kaya' gitu mah " bela darrel.


Shakti dan iqbal mengulum senyum, sedangkan ifal menaikkan satu alis.


" Mending nih ya tan, mereka di kawinin ajah. jangan sampai darrel khilaf beneran tante. kan jadi tante yang malu " kompor iqbal.


" Diem lo " sentak darrel memandang kaki iqbal.


Sari tampak berpikir, menimang kembali usulan iqbal.


" Toh tante enggak bakal rugi besanan sama pak kusno, udah orang nya baik, ramah, penyayang, kurang apalagi coba " kompor iqbal lagi.


Shakti dan ifal mengangguk setuju.


" Mih, percaya deh aku nggak ngapa - ngapain sama hana " kekekuh darrel.


" Udah deh rel, lu tanggung jawab. yang namanya setan kan nggak ada yang bisa menghindar, pasti ada aja caranya buat menyesatkan umat nabi " ngomongnya si ke darrel tapi ngeliriknya ke shakti yang wajahnya udah merah dan pucat. ke sindir pokoknya.


" Gue setuju tante, itung - itung punya temen kondangan " usul ifal.


" Tapi bener kamu lihat darrel ngapa - ngapain hana ? " tanya sari memastikan.


" Nah, tante liat sendiri kan fotonya ? mereka ciuman loh tante " sesat iqbal.


bugh !


Satu bantal melayang ke kepala somplak iqbal.


" Fitnah dia mih. jangan percaya mulut comberan nya dia " sungut darrel tak terima. karena memang nyatanya dia enggak ciuman sama hana.


" Sudah.. sudah... cukup.. mamih akan ngomongin ini ke papih.. dan tiga hari ke depan mamih akan ke rumah pak kusno " putus sari membuat darrel melotot lebar.


" Apa ? " pekik darrel.


Iqbal dan ifal bertos ria, sedangkan shakti jadi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


darrel menjatuhkan punggungnya kasar, menatap kesal satu persatu temannya yang bermulut setan itu.

__ADS_1


" Awas ya kalian " ancam darrel.


Iqbal dan ifal justru tertawa kencang. menertawai wajah darrel yang udah mirip bisul melendung.


__ADS_2