Bukan Salahku Menjadi Madu

Bukan Salahku Menjadi Madu
eps. 49


__ADS_3

Seorang petugas MC yang berada di atas panggung membacakan inti acara, yaitu peniupan lilin dan pemotongan kue.


kavian berjalan di atas karpet penuh wibawa menuju ke atas panggung dengan tangan yang di apit oleh istri pertamanya. dipanggung itu telah berdiri sebuah kue tiga tingkat berwarna putih yang di letakkan di atas meja. dan di atasnya kue tersebut sebuah logo perusahaan di bentuk dengan indah.


tepuk tangan dan sorak riuh menggema di dalam aula, saat kavian meniup lilin berangka 65. ya, perusahaan albuzer grup, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang finger food dan juga minuman kemasan telah berdiri selama enam puluh lima tahun lamanya.


pria itu lantas memotong kue bagian teratasnya, menyodorkan sepiring kecil kue itu untuk istri pertamanya.


" terima kasih untuk istriku yang selalu menjadi penyemangat ku " ucapnya di micofon.


laura menatap haru ke arah suaminya. pelan, tangannya bergerak mengambil piring itu. laura mengecup kening kavian cukup lama, menumpahkan bentuk kasih sayangnya. tepuk tangan kembali menggema di ruangan , menambah meriah suasana acara.


Semua mata menatap kagum ke arah pasangan berwajah rupawan di atas panggung itu. mereka terlihat serasi baik dari rupa wajahnya maupun dari kemistrinya. walaupun sudah bertahun - tahun menikah, namun seolah seperti pasangan baru.


astrid melirik sinis ke arah Evelyn yang berdiri tak jauh darinya. wanita itu benar - benar puas karena evelyn seolah tidak di anggap istimewa oleh menantunya.


sedangkan Evelyn menunduk, senyum kecil terbit di bibirnya. dia nggak ngerasa cemburu ataupun iri, namun lebih ke perasaan damai karena dia nggak ngerasa terabaikan atau istilahnya tidak merasa tak dianggap, seperti kebanyakan pelakor yang akan meradang jika melihat keromantisan istri sah dan suaminya di khalayak publik.


setelah sesi pemotongan kue, kini dilanjutkan dengan acara hiburan. yaitu, pertunjukan sebuah aktrasi dan sulap ada juga penampilan penyanyi solois terkenal yang ikut meramaikan acara.


jam menunjukkan pukul sepuluh malam, dimana beberapa jenis hiburan sudah selesai di tampilkan.setelahnya para tamu undangan di persilahkan menikmati hidangan.


" selamat nak kavian, om bangga, kamu benar - benar luar biasa. semoga perusahaan kamu semakin maju dan berjaya " aksen, ayah darrel menjabat tangan.


" selamat ya kav, " sambung angel memeluk kavian.


laura memutar bola matanya malas. jengah dengan ke agresifan pelakor berkedok teman kecil suaminya itu.


astrid mengembangkan senyum, saat kekasihnya datang menghampiri.


" sen ! " wanita itu lantas berhambur, bergelayut manja di lengan aksen.


aksen tersenyum manis. lelaki itu menurut saja, saat tangannya di tarik oleh astrid.


" kav "


nggak cuma kavian tapi beberapa orang juga menoleh ke arah pasangan yang tak lagi muda itu.


Wajah kavian mengerut bingung memandang aksen kekasih astrid penuh pertanyaan.


astrid tertawa kecil " ini temanku "


aksen mengulurkan tangan " selamat pak kavian. sungguh kehormatan bagi saya bisa hadir di acara pengusaha sukses seperti anda "


kavian tersenyum, membalas uluran jabatan dari lelaki paruh baya itu " anda berlebihan sekali, terima kasih juga atas kehadirannya. "


" eumh,, kalian sudah lama mengenal ? " tanya kavian.


" sepertinya saya tidak asing dengan anda " imbuh kavian


aksen menarik satu sudut bibir namun sangat samar sehingga tak kentara sama sekali " ya, bukankah kita sempat bertemu di pelelangan tender beberapa bulan lalu "


kavian tergelak " benarkah ? "


" ya, saya aksen Damian " sahut aksen.


aksen, ayah darrel terkekeh " nama aksen pasaran sekali ya " guraunya dan di hadiahi tabokan kecil oleh sari dan di sambut gelak tawa dari mereka.


"kalau begitu tuan Damian, silahkan nikmati hidangan dan makan malam yang terlambat ini " usul kavian.


" ayok om "


aksen dan keluarganya berserta Damian dan astrid kini sudah berada di depan hidangan.


mereka duduk di kursi yang memang tersedia untuk menikmati hidangan.


" non, Landung mau ke toilet dulu ya, sakit perut " izin Landung sembari memegangi perutnya.


" ckkk, makanya kalau makan di filter dulu jangan asal makan. " omel Evelyn menatap jengkel ke arah Landung yang memang sedari tadi tak hentinya memakan hidangan prasmanan.


Landung nyengir kuda. tanpa menjawab, gadis itu ngacir ke toilet.


Evelyn mendengus, gadis itu lebih memilih duduk di salah satu kursi di depan meja bundar. gadis itu mengerucutkan bibir, saat shakti masih asyik bergurau, bercengkrama dengan haikal dan teman - temannya.


lika mengikuti arah pandang ariel, dimana seorang gadis bergaun merah muda sedang duduk sendirian di kursi yang hanya berjarak tiga meter dari tempatnya duduk.


bukan rasa tertarik, tapi lebih ke rasa pengin menelan hidup - hidup itulah yang ada di sudut pandang lika.


" kamu kenal gadis itu ? " lika menuding Evelyn.


ariel menyunggingkan senyum " siapa yang nggak kenal dewi kegelapan itu "


lika mengerutkan kening. kalau dilihat dari sudut rupa wajah memang nggak kentara kalau gadis cantik itu memiliki sisi gelap. tapi yang namanya muka bisa nipu kan? buktinya putrinya yang terlihat polos itu tak sepolos wajahnya.


cindy tertawa kecil " elo benci banget sama dia ? "

__ADS_1


ariel mendengus " lebih dari itu "


cindy menatap serius ke arah sepupunya yang memang dari tatapannya kentara sekali kalau cowok itu nggak suka sama Evelyn.


"kenapa elo sebenci itu ? " tanya cindy menyipitkan mata.


ariel menoleh ke samping, menatap sinis ke arah kakak sepupunya yang memasang wajah bingung " kaya' elo nggak benci aja sama dia, pake' nanya segala "


cindy terkekeh " gue nggak benci si, gue cuma kurang suka. karena dia selalu merasa lebih unggul dari gue "


" actually, dia emang lebih unggul dari elo " sulut ariel, menyeringai puas ke arah cindy yang kelihatan nggak trima.


" seenggaknya, gue nggak ngangkang di depan suami orang " sahut cindy.


ariel menjilat bibir bawahnya " itu yang bikin gue penasaran "


lika masih menyimak obrolan kedua remaja itu. " maksudnya apa cin? " tanya lika dengan alis meliuk


" mama nggak tau ya kalau mas kavian elvano punya dua istri ? nah cewek itu istri keduanya. " cindy menunjuk dengan dagu ke arah Evelyn


lika menutup bibir yang menganga, memang dia baru tau kalau kavian,cseorang pengusaha sukses yang terkenal dengan citranya yang bagus telah memiliki dua istri.


lika menyeringai " kamu nggak ada kepikiran buat bikin perhitungan ke gadis itu ? "


ariel menoleh cepat " kalau ada celah, gue nggak akan pikir panjang buat bikin gadis itu hancur " sahut ariel menggebu - gebu.


lika mengkode ariel dan cindy untuk mendekat. lalu membisikkan sesuatu ke Telinga mereka berdua.


" bagaimana? "


ariel tersenyum smirk " ide tante memang selalu briliant "


cindy menggeleng cepat " mamih serius ? nggak ah, aku takut. dia kan backingannya sultan semua "


lika berdecak " kamu itu memang bodoh dari lahir ya. justru itu, kita bisa memanfaatkannya untuk menghancurkan gadis itu sampai ke akar - akarnya."


" mending lo nurut aja.. bukannya lo juga empet sama dia? kalau rencana gue berhasil, gue yakin darrel nggak akan mau lagi deketin dia " usul ariel.


cindy mendesah. gadis itu berpikir sejenak. jelas seribu kali harus dia pertimbangkan untuk rencana yang terlalu berbahaya itu. jadi kalau gagal, bisa tamat riwayatnya. sedangkan ariel sudah beranjak berdiri. cowok itu menatap tajam ke arah cindy yang masih bergeming di tempat duduknya.


" tunggu apa lagi?" tanya ariel dingin


" jangan bawa - bawa gue kalau rencananya gagal, awas lo ! " ancam cindy.


" cerewet ! " omel ariel.


" ckk. Punya babu nyusahin banget " dumelnya, beranjak berdiri berjalan ke arah toilet.


" mbak ! "


kaki yang hendak masuk ke belokan jalan akses toilet jadi terhenti. Evelyn berbalik, menatap bingung ke arah seorang pelayan yang berdiri di belakangnya.


" eumh, maaf apa benar dengan mbak evelyn? " tanya gadis itu


Evelyn mengangguk " ya, ada apa? " tanyanya bingung


" saya di suruh eumh pak kavi untuk menyampaikan pesan kalau mbak Evelyn sedang di tunggu di balkon lantai tiga"


kening Evelyn mengkerut, agak janggal dengan pesan yang di sampaikan sang pelayan.


" mari mbak ! " ajak pelayan itu.


Evelyn bergeming, tetapi melihat sang pelayan yang memiliki wajah polos dan lugu, Evelyn mencoba meyakinkan diri dan mengikuti gadis itu menuju ke lantai lift.


" maaf ya mbak, saya antar sampai disini. masih ada pekerjaan "


pelayan itu membungkuk, sebelum meninggalkan Evelyn di sebuah ruang divisi yang terletak di lantai tiga.


Evelyn lantas melangkah pelan, kepalanya celingukan kw sudut ruangan yang tampak sepi hanya ada beberapa komputer itu pub dalam keadaan mati.


klekk


Evelyn membuka pintu akses yang menuju ke balkon. mata Evelyn memicing saat siluet seorang lelaki yang mengenakan jazz berwarna gold berdiri memungginginya.


keadaan halaman balkon nggak terlalu terang, karena hanya di sinari oleh sinar bulan.


Evelyn melangkah ragu, gadis itu menepuk punggung lelaki itu.


" elo ! " Evelyn bergerak mundur saat cowok yang tak lain adalah ariel telah berbalik badan, menatap tajam ke arahnya.


" iya " sahut ariel menyilangkan tangan.


" elo yang nyuruh pelayan itu untuk manggil gue? " tanya Evelyn penuh selidik.


Santai, ariel mengangguk.

__ADS_1


Evelyn berdecak " mau apa lo? urusan kita udah selesai ? elo mau ngajak taruhan lagi? "


ariel terkekeh " enggak, gue nggak sebego itu yang mau - maunya ngadepin cewek selicik elo"


Evelyn tersenyum sinis " ngomong aja takut kalah. "


ariel menggeleng, cowok itu berbalik, menatap lurus ke depan memandang hamparan lampu kelap - kelip.


" elo tau, dalam sejarah hidup gue, nggak ada yang namanya kekalahan. karena apa? karena gue hebat, gue sempurna. dan gue nggak terima kalau gue harus di kalahkan oleh cewek selicik elo"


" itu cuma permainan ariel, kenapa elo anggep serius ? " tanya Evelyn sedikit heran.


ariel berbalik, cowok itu berjalan, mengikis jarak " elo bilang cuma permainan? " tanyanya dengan sorot menajam.


Evelyn menautkan alis saat melihat raut berbeda dari wajah ariel, wajah cowok itu memerah dengan rahang mengerat.


" elo bugilin gue, dan elo bikin satu sekolahan ngetawain gue dan elo masih bilang itu cuma permainan? Dimana otak elo ? " bentak ariel menggebu - gebu.


" elo yang mulai duluan ariel ! kenapa elo protes. salahkan diri elo sendiri ! " sahut Evelyn dengan suara meninggi.


ariel menekan lidah di pipi " gue lupa, kalau gue lagi ngomong sama dewi onar. "


Evelyn mendengus " udah deh nggak usah banyak cincong. tujuan elo apa nyuruh gue kesini? "


ariel menyeringai, cowok itu merapatkan tubuh dan mendorong tubuh Evelyn ke tembok.


" gue cuma mau minta pertanggung jawaban. " sahut ariel membelai wajah Evelyn.


cepat, tangan Evelyn menepis kasar tangan ariel. " nggak usah sentuh - sentuh. jijik gue !"


ariel tertawa kecil " gue lebih jijik sama elo, jijik sama cewek yang dengan suka rela ngangkang di depan suami orang "


" jaga mulut elo ! gue nggak semurah itu " berang Evelyn.


" oke, kita buktikan "


bukk


ariel menarik paksa tangan Evelyn, menghempas tubuh gadis itu hingga jatuh terduduk.


" aws " ringis Evelyn saat merasakan perih di sikunya.


cindy yang berada di balik tembok membekap mulut, gadis itu masih mengarahkan ponsel ke arah dua remaja itu.


ariel melempar jas, membuka dua kancing kemejanya. cowok itu menjilat bibir saat melihat dua gundukan kenyal Evelyn yang sedikit menyembul keluar karena dress-nya sedikit melorod kebawah.


" ngapain lo ? " Evelyn beringsut mundur menutup dadanya dengan telapak tangan


" jangan di tutup sayang, gue pengin lihat ! " titah ariel menatap lapar ke arah dua gundukan itu.


" pergi ! " bentak Evelyn saat ariel merangkak mencekal kakinya.


" lepas ! " bentak Evelyn meronta, menggerakkan kaki saat cowok itu berhasil meraih kedua kakinya.


dengan gerakan cepat, tubuh ariel sudah menindih paha Evelyn, cowok itu mencekal leher gadis itu lalu membenturkan ke lantai.


" aws " ringis Evelyn memegangi kepala. matanya Mulai kunang - kunang, namun dengan sekuat tenaga, gadis itu mempertahankan kesadarannya.


" minggir ! atau elo akan tau akibatnya ! " ancam Evelyn menatap nyalang cowok yang berada di atasnya. dengan lancang nya, sebelah tangan cowok itu sudah mendarat di sebelah gunung kenyalnya.


" diem ! nikmati aja " bentak ariel meremas kasar dada Evelyn. sebelah tangan cowok itu mengeratkan cekalan tangannya membuat Evelyn meringis, merasakan ngilu di dua sisi.


" uhuk.. uhuk " Evelyn terbatuk, merasakan sesak di dadanya. ariel mencekik lehernya cukup kencang menyebabkan lehernya nyeri.


tangan ariel yang berada di dada evelyn bergerak turun, menuju ke inti bawah hadis itu. mata ariel berbinar saat benda segitiga yang berbalut kain berwarna putih berenda terpampang jelas di depan matanya.


masih dengan tangannya yang berada di leher Evelyn, cowok itu memajukan wajah, mengendus - endus goa berbentuk segitiga itu dengan mata terpejam. Evelyn menggeleng, air matanya perlahan menetes, membasahi pipi mulusnya.


ariel mendongak, bibirnya tertarik ke atas membentuk senyum iblis. " gue akan buat, elo nggak akan pernah lupa dengan kenikmatan malam ini "


" Riel, please, leepasin gue ! " Evelyn berkata memohon dengan wajah yang sudah basah. gadis itu mencoba keberuntungan dengan memelas, siapa tau sisi baik ariel akan mengabulkan.


ariel terkekeh " gue suka elo kaya' gini. bikin junior gue pengen cepet - cepet masuk kesini " telunjuknya ke tengah inti Evelyn.


Evelyn mengepalkan tangan, mata gadis itu memerah, menatap penuh kebencian ke arah cowok yang sekarang menciumi lembah segitiganya yang masih tertutup kain putih. ariel menyingkap dalaman Evelyn tanpa melepasnya. cowok itu kembali memajukan wajah, menjulurkan lidah ke tengah inti segitiga itu.


bukkk


dengan sekuat tenaga yang tersisa, Evelyn menendang perut ariel dengan lututnya.


" aarggghhh "


ringis ariel saat tangan Evelyn mendarat di kepalanya, mencengkeram rambut cowok itu cukup keras. saat tangan ariel yang berada di lehernya terlepas, Evelyn mendorong tubuh cowok itu hingga terjungkal ke belalang.


brukkk.

__ADS_1


" brengsek ! " umpat ariel saat bokongnya menyentuh lantai.


__ADS_2