
Iqbal dan Ifal menatap dingin ke arah shakti yang masih terduduk dengan wajah kusut khas bangun ngebo.
Iqbal menelisik pakaian shakti yang bisa di bilang sederhana. kaos dan celana yang shakti pakai bahkan enggak bermerk, karena kaos yang di kenakan shakti itu punya nya haikal yang di beli di pasar obral.
" Elu kenapa lari nya kesini nyet ? " sewot iqbal yang kesal karena merasa enggak di butuhkan.
Udah denger cerita nya haikal tadi pasal shakti di tendang kakaknya, bukannya iba dua bocah itu malah marah - marah
Kening shakti mengekrut " terus harus kemana ? "
" Ke basecamp lah nyet, atau kalau enggak elu ke rumah mamih gue " kesal iqbal menatap frustasi ke wajah polosnya shakti.
" Gue enggak ada uang buat makan sehari - hari di basecamp. kalau di rumah elu, alu enggak deket sama mamih rania " aku nya polos.
Iqbal berdecak " minimal elo ngabarin gue lah, jangan kek gini. sembunyi - sembunyi..jangan kek orang susah beneran "
Bibir shakti mencebik " orang gue cuma bawa badan doang , enggak bawa hp. gimana bisa ngabarin? "
" Kenapa elo enggak ngabarin gue? " kini giliran melotot ke haikal.
" Kalau gue kabar - kabar, dikira lagi nyari donasi buat faqir miskin " kilah haikal, terkekeh saat pantatnya di tabok oleh shakti.
" Gara - gara elu, pawang lu ngamuk ke basecamp. " timpal ifal.
" Ho'oh, Pakai nendang - nendang gue lagi.. " sambung iqbal.
Kening shakti mengkerut. dia ini baru bangun tidur jadi nyawanya belum kumpul. Akibatnya otaknya loadingnya lama.
Haikal menaikan satu alis " Evelyn ke basecamp ? "
bagai mendapat tiupan do' a ruqyah, shakti tersadar .cowok itu bahkan beranjak bangun dari duduk nya.
" Evelyn ke basecamp? " tanya shakti antusias.
Iqbal dan ifal mengangguk serempak
" iya dia bangunin kita suruh nyari elo.. belum jalan, eh malah dia kabur. " dumel iqbal
Haikal terbahak, melihat ekspresi iqbal yang kelihatan kesel banget. dan haikal menebak, kalau iqbal udah kena selepetan maut nya Evelyn.
" Kaya'nya elo nggak akan bisa lepas dari dia shak " ucap haikal di sela tertawa.
Shakti mengulum senyum, menunduk untuk menyembunyikan wajah senengnya.
" Emang elu mau lanjutin hubungan lu sama dia shak ? " tanya iqbal
Shakti mengangguk " Udah terlanjur masuk parit sekalian aja nyebur " jawabnya tanpa pertimbangan.
Ifal menyemburkan kopi, mengelap mulut yang basah kena semburan dengan kaos.
" Ajegelee lu bos, elu nantangin abang lu sendiri ? " tanya ifal tak percaya.
" Bukan nantangin, gue bukan type cowok yang pengecut. kalau gue lari atau pergi dari Evelyn, sama aja gue ngasih sayatan luka yang menganga untuk dia. Eve enggak pernah dapet cinta dari kakak gue, jadi nggak ada salahnya dong kalau gue ngasih cinta ke dia ? " kilah shakti membela diri.
Ketiga teman shakti menggaruk tengkuk, jadi bingung kalau udah begini.
Tangan haikal terulur, menepuk pelan bahu shakti " seperti yang gue bilang kemarin, jodoh enggak akan kemana. anggap aja ini ujian. dan elo harus lulus dan bisa melewatinya "
Haikal yang paling deket sama shakti jadi dia lebih tau akarnya gimana, dan haikal juga membenarkan kalau memang kavian enggak ada rasa sedikitpun untuk Evelyn.
÷÷÷
Pagi - pagi rumah udah ramai sama cerocosan astrid yang tiada henti. wanita itu kegirangan dengan tangan sibuk mengangkut beberapa barang yang di pesannya via online.
" Kumat lagi tu ulet bulu ? " tanya Evelyn dan di balas kekehan oleh Landung.
" Non belum tahu ya kalau Non laura lagi hamil " jawab Landung tanpa menoleh. gadis itu sibuk menuang susu ke gelas.
" Yang bener lo ? " tanya Evelyn antusias.
Landung mengangguk lemah " iya non, landung yakin si nenek bangkotan itu akan cari perkara sama non eve "
Eve mengibaskan tangan " biarin, yang penting sekarang gue punya peluang untuk menjanda "
Landung tergelak, " husss ngomongnya, pamali " Landung nabok lengan Evelyn
Evelyn terkekeh " mamih rini kan yang ngomong gue di jadiin mantu untuk gantiin laura bunting. dan sekarang dia udah bunting jadi gue enggak di perlukan lagi di sini. toh shakti udah pergi, udah bukan dari keluarga ini buat apa aku di sini. nggak ada tujuan aku berada di sini. jadi ini kesempatan bagus buat aku hengkang dari rumah mamih rini " terang Evelyn panjang lebar.
Landung meneguk ludah kasar, dia juga tahu perihal itu. namun, Landung enggak rela kalau harus berpisah dengan nona nya. walaupun nona nya itu super ajaib tapi justru itu membuat warna di rumah besar ini.
" Jangan ngomong begitu non, nanti Landung sama siapa ? " tanya Landung dengan mata yang sudah berkaca.
Evelyn tersenyum simpul, merangkul pundak Landung " Elo gue tugasin disini buat momong anaknya laura entar, roman - roman nya si istri tua enggak care sama anaknya "
" Noh, liat mukanya manyun gitu " Evelyn menuding ke arah laura yang memasang wajah jutek, sedangkan di depannya astrid sedang sibuk mengeluarkan barang belanjaan berupa baju - baju bayi dan perlengkapan bayi lainnya.
Landung mengangguk setuju
" Non laura lagi di gondeli demit non " terkikik saat laura menoleh dengan kening mengkerut. suara Landung itu cempreng dan keras jadi dari jarak jauh pun suara nya bisa di dengar.
__ADS_1
Evelyn terkekeh, pelan tangannya menoyor kening Landung " ngatain majikan lo, kualat ! "
Landung nyengir kuda " khilap "
Evelyn berjalan ke arah laura dan astrid yang sekarang duduk di sofa ruang tengah. gadis itu berdiri tepat di depan kedua wanita dewasa itu, mengamati satu persatu baby prepare yang sangat lucu. baju dengan berbagai macam model serta topi bayi dengan berbagai macam bentuk, ada juga kaos kaki imut yang bermotif macam - macam. Evelyn mengambil si kaos kaki, menatap kain kecil itu dengan sedikit senyuman.
' Jadi pengin bikin bayi ' monolognya dalam hati.
Laura mengerutkan kening, saat madunya itu cengengesan sambil melamun.
" Kenapa ve ? " tanya laura.
Evelyn mendongak, menatap kakak madunya yang belakangan ini terlihat agak kurus dan memucat. Evelyn mendudukkan pantat ke samping laura, menatap kakak madunya dengan kepala di topang dengan tangan.
" Elo kek orang sakit " ucapnya
Astrid mendelik sebal " orang hamil ya seperti itu, "
Evelyn meringis " yang sakit mana? "
Laura mendengus, melengos saat adik madunya mulai kepo dengan kandungannya. dia itu paling sebal kalau di tanya perihal kandungannya, bawaannya suka dongkol dan jengkel.
" Nggak usah bahas itu, lagian mamih nih yang aneh. anak belum lahir udah heboh "
Kening Evelyn mengerut " Gue juga bakal kek gitu kali kalau gue hamil. seneng kan mau punya baby, pen borong se toko - tokonya "
Laura memutar bola mata jengah, beranjak dari duduk nya memilih meninggalkan astrid dan Evelyn. lagi kesel malah di tambah kesel sama Evelyn yang cerewet menanyai kehamilan nya.
Astrid melirik sebentar, kembali berkutat dengan barang - barang di depannya. enggak memperdulikan keberadaan Evelyn seolah - olah astrid menganggapnya makhluk astral.
" Elo berarti udah kawin dua kali ? " celetuk Evelyn membuat astrid mengerutkan dahi.
Evelyn selonjoran, menghadap astrid dengan tatapan datar " Elo ibunya haikal atau laura ? " imbuhnya santai.
Deg !
Astrid menoleh cepat, wajahnya menjadi panik seketika. astrid celingukan ke sekeliling sudut ruangan yang hanya di dapati Landung yang sedang mengelap kaca lemari. Sebenarnya landung menguping, tapi gadis itu pura - pura tak mendengar.
" Kamu jangan asal bicara ? " geram astrid dengan suara pelan.
Evelyn terkekeh, menatap geli ke arah astrid yang menjadi gelisah dan salah tingkah.
" Kenapa panik ? pasti ada sesuatu yang di sembunyiin nih " ucap Evelyn dengan wajah di buat mengintimidasi.
Wajah astrid pias, kembali menunduk untuk menyembunyikan wajah pucat " Nggak ada yang di sembunyikan. mending kamu pergi dari sini. ganggu tau ! " sewot nya.
Evelyn tak menyahut, menatap lamat - lamat wajah astrid yang kelihatan banget kalau dia lagi nyembunyiin sesuatu.
Astrid tersenyum mengejek " sebelum aku pergi dari sini, aku akan buat kamu lebih dulu di tendang oleh kavian "
" Coba kita lihat nanti ! " Ucap Evelyn mencondongkan badan.
Astrid mengatupkan bibir, menatap penuh kekesalan ke arah madu putrinya yabg ia anggap sebagai benalu dari rumah tangga laura.
÷÷÷
Shakti turun dari motor, menepuk pundak haikal sebelum nyelonong masuk ke koridor kelas. haikal sendiri menggeleng, tersenyum kecil saat shakti nyerobot masuk ke ruang konseling.
" Gue akan selalu do'ain elo shak. semoga elo sukses dan berhasil ngelewati cobaan ini " gumamnya.
" doorrrr "
" Monyet... monyet... monyettt... " latah haikal. mendelik judes ke arah darrel yang terbahak.
" Kampret lo ! " sungut haikal ke arah lorong dimana darrel udah ngacir duluan.
Haikal mendengus, saat anya dengan santai mendudukkan pantat ke jok motornya.
" Nggak usah nempel - nempel elah " haikal mendorong dada anya dengan punggung, saat gadis itu memepedkan tubuhnya ke punggung haikal.
Anya tertawa kecil, mencubit bibir haikal yang lagi manyun " Di kasih enak malah marah - marah. ckk "
" Gue bukan ifal yang demen lobang landak " sarkasnya.
Anya menabok punggung haikal " Ngatain lobang gue lo ya, kalau gue kasih juga entar elo ketagihan "
" Dihh,, najis " sungut haikal. menuruni motor dan nyelonong pergi meninggalkan anya yang masih berada di jok motornya.
Bibir anya mencebik dengan jari menuding punggung haikal " Gue bakal bikin elo bertekuk lutut di bawah gue "
plak !
" aaaa " jerit anya
" Jan gangguin haikal, gue sunat entar " ancam Evelyn dengan jari menuding wajah anya.
Anya meninju angin dengan sebelah tangan mengusap bekas geplakan Evelyn " Cewek Tai "
Beraninya ngumpatin dari jauh, karena kalau ngumpat di depan Evelyn bisa - bisa kepala dia langsung botak. udah kapok mancing kemarahan Evelyn jadilah anya hanya mengegrutu sendirian kaya orang edan.
__ADS_1
Evelyn celingukan di ambang pintu kelas, mencari - cari cowok yang beberapa hari ini enggak kelihatan batang telinganya. tatapan Evelyn tertuju ke haikal, dimana cowok itu sedang sibuk di depan buku.
" Elo nggak ketemu shakti kal ? " tanya Evelyn berdiri di depan meja haikal.
Haikal mendongak, tersenyum manis saat melihat bidadari cantik di depannya. pelan, kepalanya menggeleng.
Bahu Evelyn melemah, gadis itu melangkah gontai menuju ke mejanya yang terletak paling depan. tepat nya di depan mejanya haikal .
" Elo kangen sama Shakti ? " tanya haikal.
Evelyn tak menyahut, merebahkan kepala ke atas meja dengan mata yang sudah berkaca.
Haikal mendesah, menutup buku dan berjalan maju. duduk di sisi meja sambil memandangi kepala Evelyn yang berada di atas meja.
" Elo cinta mati sama shakti ? " tanya haikal namun tak di gubris sama sekali.
Tangan haikal terulur, menarik ikat rambut Evelyn membuat rambut yang terkuncir kuda itu tergerai bebas.
" Ve " panggil haikal , karena Evelyn tak terganggu sama sekali. padahal biasanya cewek itu langsung meledak kalau ketenangannya di ganggu.
" Hm " sahut Evelyn tanpa menoleh.
" Mau denger cerita gue nggak ? " tanya haikal.
" Enggak " ketus Evelyn masih di posisi yang sama.
Haikal terkekeh, menunduk dengan senyum asem. di lihat dari sikap Evelyn seperti itu jelas menandakan kalau kelembutan dan kasih sayang yang gadis itu tujukan hanya untuk shakti seorang.
" Ada seorang pangeran, dia di usir dari istana kerajaan karena mencintai putri kerajaan musuh. si pangeran mengembara menaiki gunung setinggi langit untuk menjemput putri cantik itu yang menunggunya di puncak gunung. di bawah gunung, si pangeran bertemu naga, dan naga itu mengatakan kalau mau sampai ke puncak gunung harus bertapa lebih dulu agar si pangeran mempunyai kekuatan dan bisa naik ke puncak gunung dengan cepat tanpa bersusah payah berjalan yang mungkin bisa memakan waktu bertahun - tahun "
Evelyn terdiam menyimak cerita haikal yang sebenarnya ada makna tersirat dalam cerita itu.
" Jadi shakti lagi bertapa gitu ? " tanya Evelyn mendongak.
Haikal tertawa pelan " kenapa elo nanya gitu ? "
" Elo cerita kaya' gitu maksudnya apa? elo lagi ngumpamain gue sama shakti kan ? " sewot Evelyn.
Haikal tersenyum tipis, mengangguk mantap.
" Shakti lagi bertapa di ruang konseling " jelas haikal membuat Evelyn mengerutkan kening.
" Dia enggak akan masuk kelas ini lagi, karena kelasnya udah pindah di ruang konseling. dan mungkin di kelas sana juga enggak akan lama karena sebelum awal semester Shakti udah lulus " terang haikal membuat mata Evelyn melotot lebar.
Beberapa menit lagi bel masuk, tapi Evelyn enggak peduli. dia beranjak bangun, menyenggol bahu haikal membuatnya nyaris terhuyung. Haikal geleng kepala dengan kekehan saat tubuh Evelyn sudah melesat dan menghilang di balik pintu kelas.
" Keberanian dewi kegelapan enggak ada obat " gumamnya lirih.
Evelyn terus berlari di sepanjang lorong kelas, menabrak beberapa siswa lain yang berpapasan bahkan dia juga sampai menabrak pak catur yang hendak menyambangi pintu kelas.
Pak catur membenarkan kaca mata dengan dengusan. menatap kesal ke arah anak duduk nya yang terkenal seenaknya. dan sialnya, bocah itu malah punya backingan pemilik yayasan. ckkk,.
Evelyn berpegangan di handle pintu, mengatur nafas yang masih ngos - ngosan. sebelah tangannya bertumpu ke lutut lalu kemudian menyeka dahinya yang basah.
Enggak langsung masuk, Evelyn melongok celah pintu ruangan yang sedikit terbuka. matanya berbinar saat melihat punggung seorang cowok yang memunggungunya yang enggak asing.
Evelyn menarik handle pintu sepelan mungkin, kepala nya melongok lebih dulu untuk memastikan keadaan sepi.
Kaki Evelyn bergerak maju, jalan dengan langkah lebar menuju punggung lebar yang amat di rindukannya.
Shakti mengerutkan kening saat kedua telapak tangan mungil menutup matanya. bibirnya mengulas senyum saat mencium aroma vanila yang begitu menyengat hidungnya. wangi khas seorang Evelyn yang sangat di hafal nya.
Tangan shakti bergerak, menyentuh tangan halus dan lembut evelyn. menariknya ke bawah tepat ke bibirnya. mencium dalam - dalam aroma yang menguar dari telapak lembut gadisnya.
" Sayang ! " sapa shakti menoleh ke belakang.
Bibir Evelyn mengerucut, tangannya bergerak menyilang menatap penuh kekesalan wajah shakti yang cengengesan tanpa aib.
" Kenapa menghindar ? " tanya Evelyn dengan nada dingin.
Shakti menggeleng, membantah ucapan Evelyn karena memang dia nggak bermaksud menghindar.
" Aku nggak punya cara buat hubungin kamu " kilahnya jujur.
Evelyn manyun, mendudukkan pantat di pangkuan kekasihnya.
" Kamu nggak kangen apa sama aku ? "
Shakti tersenyum, tangannya terulur menyelipkan anak rambut Evelyn ke telinga.
" Kangen " ucapnya dengan suara serak.
kebiasaan dapet jatah enak - enak, berhubung pisah dua hari jadi gairahnya terbendung dan meronta - ronta ingin di ledakan.
Evelyn mengulas senyum, memajukan wajah untuk menyambar bibir kenyal shakti. Evelyn menyesap bibir itu dengan dengan lembut dan tangan yang sudah berada di leher atletis cowok itu.
Shakti memejamkan mata, menikmati sesapan demi sesapan yang terasa menggebu dan candu. tangannya reflex bergerak, merengkuh pinggang Evelyn dan mer*mas nya.
Evelyn melenguh seiring gelenyar aneh menjalar ke tubunya saat merasakan sentuhan tangan shakti di pinggangnya yang begitu lembut.
__ADS_1
Evelyn mememepedkan tubuh hingga dada kenyalnya terasa menekan dada Shakti. Shakti kalang kabut, di bawahnya bahkan sudah berdenyut - denyut nyeri. jadilah dia mendorong dada Evelyn setelah kehilangan oksigen. Keduanya ngos- ngosan dengan kening yang saling menempel. matanya memejam menikmati sisa - sisa madu yang telah mereka reguk bersama.