Bukan Salahku Menjadi Madu

Bukan Salahku Menjadi Madu
Eps. 79


__ADS_3

" Jadi kalian udah kenal ? " Tanya shakti dengan wajah sinis


" Udah lama ? "


" Kenal dimana ? " Berondong nya dengan nada jutek.


Ifal terkekeh, menepuk pundak galang yang melamun dengan senyum terlukis


" Di tanya in ngab "


Galang tak menyahut, hanya melirik sekilas ke ifal. lalu beralih menatap lagi, wajah cantik Evelyn yang sekarang ini udah terlihat banyak perubahan. lebih fresh dan lebih anggun nggak se bar - bar dulu.


Evelyn melirik sebentar ke arah galang yang sedari tadi memang memperhatikannya, bahkan cowok itu sambil bertopang dagu melayangkan senyum manis yang tak pernah pudar sama sekali.


Evelyn menatap takut - takut wajah shakti yang terlihat datar dan kesal. lalu dia beranikan diri untuk mengangguk, karena nyatanya dia sangat mengenal sosok galang.


" I.. iya, kita udah kenal "


" Kita temen deket " Sambung galang.


" Lo inget nggak ve, pas kita main petak umpet malem - malem di kolong jembatan ? Yang itu, si mang parto nakut - nakutin pakek sarung putih, nyamar jadi pocong. hahahha.... Elo nggak lupa kan kalau si abil kencing di celana? hahahhaha " imbuhnya, ketawa - ketiwi yang sayangnya enggak ada yang nanggepin.


Si haikal melengos, ngampet ketawa banget. liat muka ketekuknya shakti sama liat ketawanya galang. ckkk,, aseli kaya' lagi liat monyet ngejek Harimau.


Evelyn menanggapi dengan senyum canggung. lalu menunduk saat shakti melayangkan pelototan.


Iqbal menepuk pundak shakti, niatnya sih, mau ngademin suhu yang kerasa panas. seperti suhu panas panggangan oven.


" Lanjut ke misi " Ucapnya.


Haikal menjentikkan jari, " Kita punya pasukan lebih dari pasukannya Damian "


Evelyn mengerutkan kening " Pasukan? "


" Jadi.... awss " Kata shakti terpotong saat kakinya di injak haikal.


" Ini misi rahasia. sekalipun crush elo yang tau enggak nutup kemungkinan rencananya bocor " Bisik haikal di telinga shakti.


Shakti mendengus, mendorong kasar dada haikal dan beringsut duduk di sebelah evelyn. enggak malu - malu meong lagi, shakti dengan manjanya menyandarkan kepala di bahu evelyn yang terekspos. Evelyn menoleh kecil, tangannya terulur naik untuk mengelus pipi kekasihnya yang lagi mode manja itu dengan lembut.


Enggak tau kalau pasangan itu menjalin hubungan, tapi lihat kemesraan yang bak permen yupi itu Galang jadi menebak kalau mereka berdua suka sama suka.


Galang mengepalkan tangan, menatap tak suka kemesraan yang pasangan itu pamerkan .


" Jadi gimana ? " tanya ifal, melirik evelyn yang memperhatikan.


" Ve, dedek kaya' nya udah ngantuk. mending kelonin sono ! " Usul iqbal dan di hadiahi pelototan haikal.


" Cuma sekali doang... demi... " Iqbal menaik turunkan alis.


Haikal berdecak, hanya bisa menatap tubuh Evelyn dan shakti yang berjalan ke arah kamar.


Galang mengeratkan gigi. Yang pasti nya enggak terima kalau temen kesayangan alias cewek idaman lendat - lendot sama cowok lain. Awalnya dia nyerah pas tau Evelyn udah married, tapi denger - denger Evelyn enggak ada perasaan sama suaminya. dan itu denger nya kemarin - kemarin pas dengar cerita dari haikal. udah niat banget mau pedekate lagi sama Evelyn tapi sayangnya dia harus di gelud kenyataan kalau Evelyn punya affair sama adik iparnya sendiri dan Lebih bikin dia dongkol adalah si adik iparnya Evelyn itu adalah si shakti. Ckk. satu kata yang keluar dari batin galang. Asw.


" Kenapa elu biarin mereka nangkring di kamar ? " tanya haikal kesal.


" Ckk, kalau enggak kaya' gitu? nanti si eve denger rencana kita " sahut iqbal tak kalah kesal.


" Tapi nggak gitu juga kan ? lagian kenapa kalau eve tau? dia enggak ember ya " protes haikal.


Iqbal menoyor kening haikal " Gimana sih, elo tadi yang ngotot biar ini di rahasiain "


" Yang jelas, ini juga ada hubungannya sama shakti. dan kalau eve tau nggak bakal dia biarin shakti jotos - jotosan " imbuh iqbal.


" Terus kenapa elu bawa - bawa galang ? " tanya Brandon ke ifal.


" Gue punya dendam kesumat sama babi itu ? " Terang galang.


" Lu punya masalah apa sama dia ? " kepo brandon


" Dia yang punya masalah sama gue " Ketus galang.


" Masalah Apa ? " lqbal ikut kepo.


Galang menunduk, menyembunyikan matanya yang memanas " Dia ngebunuh abang gue, bang genta " lirih galang.


Evelyn merebahkan tubuh ke ranjang, saat shakti mengkodenya untuk mendekat.


" Kok kamu kenal sama bang galang? " tanya Evelyn, meletakkan kepala di paha shakti.


Shakti menggaruk tengkuknya, diam sejenak untuk berpikir. Mau ngomong apa enggak perihal balapan. Tapi dia enggak mau kalau sampai nanti Evelyn mengetahuinya dari orang lain.


" Aku kenal pas tanding balap minggu lalu " terang shakti dengan jari yang sibuk mengusap - usap bibir evelyn.


" Kamu sering ikut balapan ? " tanya Evelyn memicing.


Shakti nyengir kuda " Cuma beberapa kali sih"


" Ckkkk " Evelyn nabok perut shakti.


Shakti cengengesan, mengecup bibir Evelyn yang lagi manyun.


" Enggak lagi kok, janji " Shakti mengacungkan dua jari.


" Apa sih manfaatnya ? aku dulu sering sih di ajakin bang galang nonton balap. seru, tapi aku nggak suka aja " Evelyn menarik badan, ikut menyandarkan puggung ke kepala ranjang.


Shakti menautkan tangan, lalu mengecup punggung tangan Evelyn cukup lama.


" Aku terpaksa sayang, aku butuh uang buat ke inggris, dan dengan keadaan aku yang seperti ini nggak mungkin aku bisa berangkat kesana "


Evelyn menarik tangan, bersedekap dengan tatapan tajam " Kamu jadi ke oxford? " tanya Evelyn, dingin.

__ADS_1


Shakti mengedikkan bahu " Enggak tau entar. Kita kan mau menikah. jadi.... kalau aku kesana aku juga bakal bawa kamu. dan aku perlu uang tambahan lagi buat biaya hidup disana " Terang shakti.


Evelyn menggigit bibir, memutar otak. Dia jadi ikut mikir kalau seandainya dia ngintil shakti ke inggris, itu nggak akan baik karena dia bakal jadi beban Disana. tapi kalau dia enggak ikut, mana tahan kalau dia jauh - jauh sama kesayangan.


" Kalau kamu cancel gimana? " Usul Evelyn.


" Aku enggak lulus SMA dong sayang, karena aku udah pindah jalur kelas. enggak segampang buang kulit mangga, sekolah juga punya aturan " Ucap shakti seraya terkekeh.


Evelyn berhambur memeluk shakti, meletakan kepala di dada shakti yang sedikit melebar. Tiap hari banting tenaga jadilah otot - otot nya mulai kebentuk.


" Terus aku gimana ? kamu mau ninggalin aku ? " tanya Evelyn dengan nada bergetar.


Shakti mengecup puncak kepala Evelyn, mengusap pipi gadisnya yang sudah basah. Jujurly, dia yang paling enggak bisa jauh - jauh dari Evelyn.


" Aku akan cari cara nanti. yang jelas aku juga nggak rela ninggalin kamu "


÷÷÷


" Aaarggghhhh " Pekik astrid, menggema di ruangan gelap. Tepatnya ruang bawah tanah yang sengaja di bangun oleh Damian untuk mengeksekusi para korbannya.


Damian menarik sudut bibir, melempar palu yang dia gunakan untuk memukul kaki astrid.


" Ini akibat dari wanita Tak berguna seperti mu "


" Dasar iblis ! " berang astrid.


" Sshhh " Desisnya merasakan ngilu di kaki kanannya. bisa bayangkan, tulang kecil di pukul oleh palu yang beratnya sekitar dua kilo gram. sudah di pastikan rasanya sakit luar biasa. seakan tulangnya remuk bahkan terasa seperti hancur.


Plak !


Satu tamparan mendarat di pipi astrid.


" Jaga mulut busuk mu, sialan ! masih belum cukup pukulan nya, hah ? " Bentak Damian.


Astrid melengos, menggigit bibir yang terasa bergetar dengan kencang, sudah di pastikan, bibirnya berdarah.


Tok Tok Tok


" Masuk, ! " titah Damian.


Klek


Pintu kayu reot terbuka. menampilkan sosok pria tinggi berdiri di ambang pintu dengan nampan berisi makanan dan minuman.


" Siapa yang menyuruhmu membawa makanan ? " Sentak Damian. matanya memicing menatap awas wajah bawahannya yang tertutup masker.


" Maaf tuan, sudah lancang ! aku membawa, satu mangkuk belatung dengan air got sebagai menu makan malam nyonya tercinta " terang sang bodygoard yang ternyata adalah sam.


Damian terkekeh, Mengkode sam untuk masuk ke dalam.


" Baiklah. tak ada ruginya aku merekrut mu. Kau memang bawahanku. lebih pintar dan keji " menepuk pundak sam, lalu bergidig saat ribuan belatung bergerak di dalam mangkuk.


Sam lantas merogoh saku, mengeluarkan ponsel dan memberikannya ke astrid.


Astrid mengerutkan kening. menatap bingung ponsel yang berada di depannya.


Sam berdecak, menurunkan masker nya " Cepat, telefon kavian ! Kita tak punya waktu "


Astrid membeliak, mengangguk cepat. Astrid menyebutkan nomor yang memang dia hafal dengan nomor menantunya.


Sam segera menekan tombol hijau, kembali berdecak saat beberapa kali panggilan belum terjawab.


" Hallo. kav ! ini mamih. tolong mamih kav, Damian menyekap mamih di bawah tanah di bar. dia berniat mau menghancurkan perusahaan mu. please ! tolong mamih kav, mamih enggak mau mati di tangan bajingan itu. biarkan mamih bongkar kejahatan nya agar dia membusuk di penjara. biar mamih jadi saksi kejahatannya " Ucap astrid panjang lebar saat telepon terhubung.


" Apa? " pekik kavian di seberang telepon.


" Oke. aku kesana. mamih tunggu ya ! " imbuh kavian.


" Nanti sam yang akan mengantarmu ke sini " sahut astrid.


" Sam ? " Tanya kavian, bingung.


" Iya, pokoknya kamu kesini. dan ingat, ja... "


" Hallo... hallo... "


" Kok mati sih " gumam astrid.


Prok... Prokkk.... Prokkk


Astrid dan sam menoleh, lalu melotot saat di ambang pintu Damian menyeringai.


" Kamu pakai sambungan wifi ? " bisik astrid.


Sam nyengir kuda " Iya, "


" Bagus, Sam ! tapi.... aku suka caramu. dan aku senang karena aku tak perlu menggiring sendiri pria sombong itu datang ke neraka ku "


Astrid dan sam beradu pandang, sama - sama meneguk ludah dengan jantung yang memompa cepat.


÷÷÷


" Mau kemana hon, ? " tanya laura saat melihat kavian tergesa - gesa menuruni tangga.


Kavian berhenti sejenak, lalu berbalik badan. kepalanya menengadah, menatap lampu kristal mewah yang begitu menyilaukan.


" Aku ada meeting mendadak " Dustanya. berjalan mendekat lalu berlutut untuk mengusap perut laura yang masih rata.


" Selarut ini ? " Tanya laura penuh selidik. menunduk, mengamati wajah berseri kavian saat menatap perutnya. entah mengapa, dia jadi sedikit posesif dengan suaminya. kadang kala dia juga enggak mengizinkan kavian pergi.


Kavian menggaruk tengkuk, enggak mungkin jujur. nanti yang ada bakal bikin istrinya khawatir.

__ADS_1


" I... iya. aku juga nggak tau. client minta bertemu mendadak " Mengecup cukup lama perut itu sebelum beranjak berdiri.


" Ya sudah ya, nanti aku telat " menjawil dagu laura.


Laura mendengus, meyilangkan tangan dengan mata elang mengikuti punggung suaminya yang berbalut jaz hitam. Sama seperti malam - malam sebelumnya, dia enggak ikhlas kalau harus di tinggal pergi oleh suaminya. tetapi rasa nggak ikhlas ini terasa lebih dominan. bahkan ada gelenyar penyesalan membiarkan suaminya pergi.


Laura berlari kecil menuju pintu utama, tepatnya hendak mencegah suaminya agar tak pergi. tetapi langkah kakinya yang kecil jelas kalah jauh di bandingkan dengan kaki jenjang suaminya. dan sialnya, pria itu bahkan sudah menyalakan mesin, melaju pelan keluar dari gerbang.


" Hon, Honey ! " teriak laura yang sayangnya nggak bisa di dengar oleh suaminya.


" Ada apa sih teriak - teriak ? " tanya rini, yang baru saja keluar dari kamar.


" Mih, kavi pergi mih " Sahut laura panik.


Rini mengerutkan kening melirik bokong mobil yang sudah menghilang di balik pagar


" Memangnya pergi kemana? "


" Dia bilang mau meeting mih, tapi perasaan aku enggak enak " Terang laura.


Rini menyimpulkan senyum, mengelus rambut terawat menantunya dengan sayang.


" Enggak papa sayang, mungkin itu bawaan bayi. Lagi pula udah biasa kok kavi seperti itu, pergi larut malam, bahkan pulang pagi " Bujuk rini, menuntun laura untuk masuk ke dalam.


÷÷÷


Mobil yang kavian bawa, berhenti tepat di parkiran bar. keningnya mengerut saat bar yang biasa nya ramai itu terlihat sepi. bahkan tak nampak sekali satu orang pengunjung.


Kavian menuruni mobil, melangkah lebar menuju ke dalam bar. Kavian mengepalkan tangan saat ternyata bar itu penuh dengan beberapa pria berbadan kekar dan berbaju hitam. Di ambang pintu yang menuju ke arah belakang, diggo mengkode kavian untuk mengekor. dengan tanpa rasa takut sedikitpun kavian mengikuti langkah diggo, lalu masuk ke dalam lift untuk menuju ke ruang bawah tanah.


Tepat di depannya, sebuah pintu kaca berdiri tegak. Diggo mendorong pintu kaca itu lalu melangkah masuk mendahului kavian. Mata kavian bergerak liar, mengamati sudut ruangan yang penuh dengan barang rongsokan berserakan. Kening kavian mengerut saat diggo berhenti, mendorong pintu berbahan kayu tua yang sudah reot seperti tak terawat. tak memperdulikan itu, kavian melangkah masuk mengikuti diggo yang sudah berjalan lebih dulu, sekitar satu meter di depan.


" Mih " Digoo mendorong dada kavian saat pria itu hendak maju.


Kavian melayangkan tatapan tajam, dan itu sama sekali tak membuat diggo takut ataupun kikuk.


" Hallo, menantu ku yang tampan " Damian memutar kursi, menjadi menghadap kavian.


" Lepaskan mamih astrid " Suara berat dan dingin kavian justru membuat Damian terbahak.


" Hahahah.. Sabar dulu dong. kita bermain - main saja dulu, " Usul Damian tersenyum setan.


Kavian mengepalkan tangan saat salah satu bawahan Damian menarik rambut astrid yang acak - acakan.


Membuat kepala itu terdongak ke ata., waja h astrid sudah terlihat buruk. Bahkan terdapat banyak sayatan dan lebam - lebam


" Kav " Lirih astrid.


Damian melirik sebentar ke arah astrid lalu menampilkan senyum smirk ke arah kavian.


" Kau " Telunjuk kavian dengan mata menajam


" Turunkan tangan mu " bentak diggo menurunkan tangan kavian dengan kasar.


" Kenapa? Suka - suka akulah. dia kan istriku "


Damian menjentikkan jari, mengkode dua bodygoarnya untuk maju ke arah kavian.


" Kau bermain dulu dengan mereka ! kalau kau menang, aku akan melepaskan istriku yang bodoh itu "


Dua bodygoard bertato itu maju, lalu melayangkan bogeman yang tak tepat sasaran. kavian berkelahi sengit dengan dua pria berbadan besar itu, beberapa barang bahkan terlempar untuk menghalau serangan kedua bodygoard yang membabi buta.


Kavian yang memang sedari pelajar telah bergelut di bidang taekwondo jelas tak merasa kesulitan sama sekali. dua bodygoard itu bukanlah masalah besar untuknya. tapi yang namanya Damian enggak menyerah, pria licik itu menambah dua bodygoarsnya untuk menyerang kavian. Satu lawan empat. ckkk..


Sam berdecak kesal, menarik diri dari persembunyian dan pergi keluar dari bar.


÷÷÷


Shakti mengucek mata, lalu ngusel ke dada Evelyn saat terdengar dering panggilan begitu memecah gendang telinga. bocah itu juga menutup telinga agar tak mendengar suara berisik ponsel itu.


" Apa sih " Gerutunya, makin ngusel ke dada. saat dering tak kunjung berhenti.


Evelyn mencubit pipi shakti saat cowok itu kembali mengulum puncak dadanya, lalu menunduk, menjauhkan kepala cowok itu.


" Angkat dulu " Lirih Evelyn. mengusap pipi kekasihnya.


Shakti memanyunkan bibir, menyambar ponsel dan beranjak bangun.


" Hp nya haikal " Gumam shakti.


" Kal, ada telfon nih " teriak shakti, berjalan keluar dari kamar.


Evelyn berbalik badan jadi tengkurap. kembali memejamkan mata yang masih terasa berat.


" Om sam " Kening haikal mengerut, lalu menekan tombol hijau.


" Halo om " Sapa haikal.


" Kal, Cepat kamu dan teman - teman mu kesini ! Kavian dan Astrid dalam bahaya . kamu cepat kesini "


tuutt


" Kenapa kal? " tanya Shakti


" Mas kavi sama mama astrid dalam bahaya, om sam tadi ngabarin " jelas haikal.


Shakti mendelik terkejut. Tanpa a b c, bocah itu menyambar jaket di sofa, mengambil kunci motor Brandon dan berlari keluar dari basecamp.


Haikal sendiri ikut panik, lalu membangukan galang dan lainnya. sebenarnya rencananya belum kelar, tapi ibarat nya bendera pasukan musuh udah di kibarkan, jadi nggak mungkin dong kalau diem aja.


Shakti membawa motor dengan laju tinggi, menyerobot, menyalip kendaraan yang lainnya dan tak memperdulikan teriakan, umpatan dan teguran bunyi klakson yang bersahut - sahutan. Yang jelas, dia nggak mau kalau sampai kakaknya kenapa - napa, mengingat siapa sosok Damian yang tanpa belas kasih, menyiksa dan menghabisi para korban.

__ADS_1


__ADS_2