
Evelyn menggigit bibir, menatap layar ponsel yang telah menghitam. Enggak sengaja mendengar percakapan Shakti dan seseorang yang entah siapa. bicaranya emang pakai bahasa inggris tapi dia mudeng sama artinya.
" Duhh " Keluh Evelyn, mendadak panik dan gelisah.
Evelyn mondar - mandir, mencoba menghubungi kembali nomor Shakti namun nomornya enggak aktif. Evelyn membanting ponsel, merebahkan badan ke kasur dengan mata kelap - kelip memandangi lampu kamar.
" Gini amat sih, LDR. Apa katanya tadi? Hape suami gue di sita seminggu ? Ashhh " Kesalnya ke lampu. memukul kasur dengan sentaan nafas kasar.
Evelyn mendesah, menarik guling untuk di peluk. Evelyn tersenyum tipis, memandangi guling yang menguar aroma tubuh suaminya. Aroma maskulin yang begitu menyengat seakan cowok itu berada di sekitarnya.
" Aku mana bisa kalau sehari tanpa kabar dari kamu " Gumamnya lirih.
Lamat - lamat memandangi guling yang dia anggap jelmaan suaminya, tanpa sadar Evelyn memejamkan mata, menjemput kantuk yang berat.
÷÷÷
Sudah Satu bulan lebih, Shakti enggak menghubungi Evelyn, Dan yang terjadi adalah Evelyn mengurung diri dengan kesibukan membaca buku di kamar. Karena memang hanya itu yang biasa di lakukan. dia juga jadi giat belajar supaya bisa ke terima di universitas unggulan. andaikan dia sepintar suaminya, pasti dia udah nyusul ke oxford.
Evelyn mengernyitkan dahi, menutup sebuah novel yang menceritakan tentang perjalanan seorang gadis remaja liar yang berhijrah menjadi seorang muslimah. Evelyn menutup mulut saat sesuatu dari dalam perutnya hendak ia keluarkan.
" Ueeekk "
Evelyn berlari kencang ke dalam kamar mandi, menuju ke arah closet dan memutahkan ampas makanan dari perut.
" Ueeekkk,, Uekkkk "
Mungkin tiga kali muntahan, Evelyn baru berhenti. tubuh Evelyn merosot, lemas tak bertenaga seolah energinya terkuras habis. di pegang nya perut nya yang masih kerasa dikoyak, kaya' di unyel - unyel sampai - sampai dia ngerasa pengin ngeluarin lagi isi perutnya lagi.
" Uwekkk "
Kini cairan kuning yang keluar dari mulut, karena hanya itu yang tersisa di dalam perutnya. Evelyn menarik diri, dengan sempoyongan, gadis itu keluar dari kamar, menuruni tangga dengan tangan berpegangan di pegangan besi tangga. Evelyn memegangi kening yang terasa berdenyut, penglihatannya tiba - tiba buram dan..
Brukkk..
" Non eve " Teriak Landung, melempar kain pel dan berlari ke arah nona mudanya.
" Non, bangun " Landung menepuk pipi Evelyn.
" Nyonya, Mas kavi, non laura, bik siti, tuti, kang Amrul " Teriak Landung memanggil semua penghuni rumah.
Kavian dan laura yang baru menuruni tangga sontak terkejut, mereka berjalan cepat, menghampiri tubuh Evelyn yang terkelepar di lantai.
" Evelyn " Kavian menepuk pipi Evelyn,
Tak ada pergerakan kavian membopong tubuh Evelyn " Kita bawa ke rumah sakit " Ucap kavian
" Ada apa ? " Teriak rini keluar dari kamar dan hanya memakai bathrobe dan handuk yang melilit di kepala
" Non Evelyn pingsan nyonya " Terang Landung
" Apa ? " pekik rini.
Kavian melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi, membelah padat nya senja sore kota metropolitan. Tepat tiga puluh menit, mobil yang kavian bawa sampai di parkiran rumah sakit besar yang terletak di Jakarta timur. Kavian menuruni mobil dengan membopong tubuh adik iparnya. Di belakangnya, Laura tampak cemas mengekor langkah suaminya menuju ke dalam rumah sakit itu. Tubuh Evelyn di letakkan di brankar, di dorong oleh beberapa perawat dan di masukkan ke ruang igd.
Sang dokter mendorong pelan dada kavian saat pria itu hendak masuk ke dalam ruang igd.
" Tolong tunggu di luar " Titah sang dokter
Kavian menurut. mendudukan pantat di kursi besi dengan di sampingnya, laura mengelus punggungnya lembut.
" Kaya' nya Evelyn enggak kelihatan sakit loh, kenapa tiba - tiba pingsan " celetuk laura.
Kavian menyandarkan kepala di tembok, menerawang menatap plafon putih. Dia membenarkan ucapan laura dan ya, memang Evelyn beberapa hari ini terlihat bugar enggak kelihatan sakit. tapi mana tahu, karena Evelyn selalu ngurung di kamar.
Klek
Lamunan kavian buyar saat seorang dokter keluar. Kavian segera beranjak dari duduk, menghampiri sang dokter yang wajahnya kelihatan berseri.
" Bagaimana dok dengan adik saya ? " Tanya kavian.
Si dokter membenarkan kacamata, menatap lamat wajah kavian dan laura bergantian.
" Anda suaminya ? " tanya sang dokter.
" Bukan, saya kakak iparnya " Sahut kavian
Sang dokter manggut - manggut lalu menerbitkan senyum tipis.
" Selamat, anda menjadi uwak " Ucap dokter
Kavian melotot sempurna, begitupun juga dengan laura yang melotot dengan mulut terbuka. pasangan suami istri itu berpandangan, sama - sama menyiratkan wajah kebahagiaan.
" J..jadi adik saya hamil dok? " tanya kavian memastikan.
Sang dokter mengangguk sembari tersenyum " Selamat ya pak, tolong sampaikan berita bahagia ini kepada suaminya "
" Pasti dok " Jawab kavian mantap.
Sang dokter membungkuk kecil, meninggalkan kavian dan laura setelah mendapat anggukan
Kavian duduk Dengan helaan nafas lega, lelaki itu menoleh saat terdengar derap langkah cepat.
" Kav " Seru rini sambil berlari.
__ADS_1
" Bagaimana keadaan Evelyn ? " Tanya rini khawatir.
Kavian mengembangkan senyum, Menatap ibunya dengan tatapan berseri.
..." Mih. selamat ya, Mamih akan mendapatkan satu cucu lagi "...
Rini mengerut bingung, menatap penuh tanya ke arah putranya " Maksudnya apa ? "
" Evelyn hamil mih " Terang laura
Rini menatap menantu dan putranya bergantian seolah memastikan kebenaran dan mencari kebenaran dari ucapan laura
" K.kav ? " Tenggorokan rini tercekat.
Kavian merangkul pundak rini, mendudukkan badan ibunya yang terlihat lemas " Simpan dulu kebahagiaan kita, mari kita beri semangat kepada pelaku pembuat Shakti junior "
÷÷÷
Shakti berjalan lebar menyusuri lorong asrama, matanya menatap dingin lurus kedepan.
Brakkk
Pintu yang di tendang oleh shakti adalah kayu pilihan jadi hanya bergetar kala di tendang sekencang itu.
Dark menaikkan satu alis, menatap heran tubuh menjulang shakti yang berdiri di ambang pintu seperti orang kesurupan. wajah memerah dan Gigi mengerat, jangan lupakan matanya yang coklat bagai seperti elang yang siap menyambar ular kobra.
" F*ck you ! " Jari Shakti menunjuk wajah dark.
" What ? " Tanya dark santai seolah tak gentar dengan tingkah Shakti.
" Cowok anjing ! Balikin hape gue " shakti menarik kerah dark, hingga cowok bertubuh atletis itu tertarik berdiri
Dark mengerutkan kening, dia nggak tau apa yang di omongin shakti.
" Brengsek " Shakti menghempas tubuh dark.
" ****. What the hell ? ( Sialan. Apa - apaan ) " Kesal dark. tak mengerti kenapa cowok imut itu tiba - tiba marah dan lebih membuatnya kesal lagi adalah dark tidak tahu apa yang shakti bicarakan.
" Give my ponsel ( Berikan ponsel ku )" ketus Shakti.
" I am not keep your ponsel, bro ( Saya tidak menyimpan ponsel mu, bro ) "
" Arghh " Shakti menjambak rambutnya frustasi. ya memang beberapa minggu lalu dark sudah membagi ponsel siswa yang tersisa dan sayangnya Shakti tak mendapatkan ponselnya.
Tangan shakti bergerak, kembali menuding wajah Dark yang semakin mengerut bingung.
" Awas lu ya, kalau sampai elu ketahuan bohong, gue sunat lo " Ancam shakti sebelum melenggang pergi dari kamar dark.
" Ashh " Shakti mengacak rambut belakang frustasi.
Lamborghini warna putih yang merupakan hadiah pemberian Deon telah sampai di sebuah parkiran gedung menjulang yang merupakan sebuah apartemen yang di huni oleh efras. Shakti keluar dari mobil, melangkah lebar dan menyapa seorang security yang berjaga di apartemen.
Shakti menaiki lift menekan tombol angka dua puluh dan berdiam sembari menunggu lift berdenting.
Shakti kuar dari ruang sempit otomatis itu, kembali melangkah lebar menuju ke unit nomor tiga.
" Selamat siang, Tuan Albuzer yang terhormat " celetuk shakti di ambang pintu
" Oke, saya akan rahasiakan. sudah dulu ya " Efras mematikan ponsel. melirik jengah wajah tengil putranya yang masih berada di ambang pintu.
" Apa kamu kelaparan ? sehingga mau berkunjung ke sini ? " Sinis efras
Shakti mencebik " Enggak... Aku kesini mau minta duit " Sahut shakti enteng, duduk di sofa dengan seenaknya.
Efras terkekeh " Papih bilang juga apa, kamu nggak bakal sanggup hidup tanpa uang papih "
Shakti memutar bola matanya jengah " ini urgent pih, hape ku ilang jadi butuh duit buat beli hape "
" Kamu kan di asrama, jadi siswa unggulan. nggak penting lah pegang hape. tugasmu fokus belajar" sahut efras, menyelipkan sebatang rokok ke bibir.
Shakti berdecak " Kan aku jadi nggak bisa telfon bini pih " Rengeknya.
Efras tertawa kecil, tangannya bergerak menggetok kepala shakti " istrimu aman sama mamih "
" Tapi pih kalau aku rindu gimana coba ? " Sungut shakti
" Oke, besok papih antar ponsel baru ke asrama " putus efras
Shakti melirik arloji yang sekarang menunjukan pukul delapan pagi, yang mana dia harus mengikuti kelas. jadi tak mungkin kalau sekarang dia membeli ponsel
" oke "
÷÷÷
" Shh " Desis Evelyn sembari memegangi kepala.
Rini tersenyum lembut, mendorong pelan bahu Evelyn agar rebahan kembali di kasur. Posisinya sudah di rumah, jadi Evelyn sekarang berada di kamar nyamannya.
" Jangan banyak gerak dulu sayang. Kamu masih lemes. Makan dulu yah " Rini menyodorkan sesuap nasi beserta ayam kesukaan Evelyn
Evelyn menutup hidung, sebelah tangannya mendorong kasar sendok itu
" Kenapa ? Mual ? " Tanya rini
__ADS_1
Evelyn menggeleng " Bau "
Rini mengerutkan kening, mencium piring berisi nasi dan sepotong ayam kecap itu.
" Enggak kok, " sahut rini bingung.
Evelyn menggeleng, beringsut tengkurap
Rini tersenyum..maklumi tingkah Evelyn yang memang rata - rata di alami oleh beberapa orang hamil
" Kamu mau makan apa? " Tanya rini sembari mengelus kepala Evelyn.
Evelyn menoleh cepat " Pengin makan martabak kukus yang topingnya pakek Durian "
Rini tergelak " Nyari dimana mamah ? "
Evelyn berdecak " Nggak mau tau, pokoknya aku maunya makan itu "
" Katanya kamu enggak suka makanan bau - bauan. durian kan bau " Heran rini.
Evelyn mengedikkan bahu " Aku cuma pen makan itu aja " kekeuhnya.
" Landung " Teriak rini.
Landung yang memang berada di depan kamar Evelyn sontak berlari
" kenapa nyah ? " tanya landung.
" Tolong cari... "
" Enggak " potong Evelyn.
" Hah ? " Rini menganga bingung.
" Gue maunya pak de nya bayi yang nyari " Sahut Evelyn
Rini dan Landung berpandangan
" Pak de ? " tanya rini.
Evelyn mengangguk mantap
Rini terdiam sejenak " Kavi ? "
Evelyn mengangguk antusias.
" Tapi mas mu lagi kerja sayang " Sahut rini
" telfon aja. Tapi aku maunya dia yang nganter kesini "
Rini menghela nafas, mengkode Landung untuk mengambil ponsel.
Beberapa saat, Landung datang dengan sebuah telpon gagang di tangan
" Halo " Sapa kavian di seberang telepon
" Kav, boleh minta... " Ucapan rini terpotong saat telepon di rebut oleh Evelyn.
" Pak de, tolong beliin Martabak kukus yang topingnya pakek durian. oh ya jangan lupa susu sama kejunya yang banyak. Gue tunggu satu jam. dan inget kudu cari kalau enggak gue sumpahin anak elo sama mbak laura ileran " Evelyn mematikan sambungan telepon setelah mengatakan itu.
Rini meneguk ludah kasar, sungguh baru pertama kali lihat orang ngidam se bossy menantunya. yang membuatnya Ketar - ketir adalah permintaannya aneh - aneh.
Kavian mendengus saat mendapati titah Evelyn. apa katanya tadi? harus dapat ? kalau enggak anaknya ileran. dan kenapa anaknya yang ileran, bukan anak Evelyn dan shakti saja. ckkk. suka kadang - kadang emang. coba aja shakti di rumah pasti dia enggak keteteran kaya' gini.
" Angel, Kapan meeting nya ? " Tanya kavian
" Jam dua kav " sahut angel.
" Saya pergi dulu " Sahut kavian sambil berlalu.
" Mau kemana kav, ini sudah jam dua belas " protes angel.
" Mau nyari martabak buat nyonya albuzer yang lagi ngidam " terang kavian.
Maya yang sedari tadi menyimak terkekeh.
Angel memasang wajah muram " Laura ngidam ? "
" No, tapi nyonya kecil " Sahut kavian.
" Sudah dulu ya, saya mau pergi "
Angel mengangguk, menatap punggung kavian dengan tatapan kagum. sedikit dia ngerti tentang kondisi keluarga albuzer yang mana shakti sedang menempuh pendidikan di negara asing. dan angel menyimpulkan bahwa kavian yang berpegang atas tanggung jawab yang di pangku adiknya untuk menjaga mantan istrinya yang sudah transmigrasi menjadi adik iparnya.
" Beruntung banget sih yang jadi istri kamu " gumam angel yang bisa di dengar oleh maya.
Maya memutar bola mata jengah
" Katanya jodoh mencerminkan diri. berarti yang jadi jodohnya pak kavian memang seimbang sama pak kavi. sama - sama berhati malaikat. enggak kaya orang Konoha yang sirik dan licik berhati busuk dan dengki " Sambung maya, sinis.
Angel mendengus, menatap kesal wajah julid maya wajah yang kentara banget lagi nyindir.
Aku up nya lama. karena memang lagi di sibukkan kegiatan, tapi aku usahakan sekali up dua atau tiga bab.
__ADS_1