Bukan Salahku Menjadi Madu

Bukan Salahku Menjadi Madu
Eps. 71


__ADS_3

Brukkkk


" Awss " ringis astrid saat keningnya membentur sudut meja.


" Berani kamu keluar dari rumah, saya patah kan lehermu " Ancam Damian menuding tepat ke wajah astrid.


" Aku bukan peliharaan mu, brengsek ! " berang astrid.


Damian berjongkok, menarik kasar rambut astrid membuat kepala wanita itu sampai mendongak.


" Dengar jal*ng ! mulai saat ini kau menjadi budakku dan kau harus menuruti semua perintah ku "


" shhh " desis astrid yang merasakan perih di kepalanya.


" Kau pikir aku sudi, hah ? cuihh " astrid meludah tepat di wajah Damian.


" Brengsek " umpat Damian.


bruk !


" aaaa " pekik astrid saat kepalanya serasa berdenyut sakit akibat benturan tembok.


" Sam, seret jal*ng ini ke club " titah Damian dan di angguki oleh sang bodygoard.


Astrid mengerutkan kening saat menyadari sang bodygoard itu terasa familiar. tapi dia tak ingat pernah bertemu dimana.


Astrid terus berpikir keras sampai tak sadar dirinya sudah berada di depan club.


" Kau pria yang mengacau di rumah menantuku ? " tanya astrid kepada sam saat dia mulai ingat bahwa lelaki berbadan besar itu adalah lelaki yang sama yang datang dengan lika saat mengacau di rumah kavian untuk menjemput Evelyn.


Sam menyunggingkan senyum, sorot matanya terlihat datar dan dingin " anda benar nyonya " sahutnya tanpa beban.


" Apa hubungan Damian dengan lika? kenapa Damian mengerahkan mu untuk membantu lika ? " tanya astrid bingung.


" Mereka sepasang kekasih " sahut sam enteng.


" Apa ? " pekik astrid


Keterkejuatan astrid buyar, saat tubuhnya di tarik kasar oleh Damian menuju ke arah tangga.


Bugh !


" Aaaa " Tubuh astrid melayang, dan mendarat tepat di atas kasur. Damian membuka pintu dimana pintu itu menghubungkan ke Walk in closet.


Damian keluar dari walk in closet, melempar kain lingerie tipis berenda tepat ke wajah astrid.


" Pakai itu ! " titah galak Damian.


Astrid mengerutkan kening, memandang Kesal ke arah kain tipis itu.


" Kenapa aku harus memakainya ? " tanya astrid


Damian mendekat, membelai pipi astrid dengan lembut " Kau suka bercinta kan? dan kau suka bergonta ganti pasangan kan? aku akan membantu mu mencari kesenangan untuk bercinta dan berganti pasangan sesuka mu "


Astrid melotot lebar, tangannya bergerak menepis tangan astrid dari wajahnya.


" Apa maksudmu Damian ? " teriak astrid.


Damian menyilangkan tangan, menatap jengah ke arah wanita cantik yang tak lagi muda itu " Aku sudah bilang kan, kalau kau menjadi budakku sekarang "


" Kau mau menjual ku ? " tebak astrid.


Damian mengangguk mantap


" Bajingan ! " umpat astrid. tubuhnya bergerak, menerjang wajah Damian dan menggoreskan kuku panjangnya tepat mengenai pipi putih itu.


Sratttt.


" Kau ! " Damian mengangkat tinggi tangannya, namun detik kemudian tangannya melemah dan turun dengan perlahan.


" Jika saja wajahmu belum terbayar, sudah ku pastikan wajahmu cacat " Sungut Damian dengan mata menajam.


" Kau pikir aku mau menurutmu ? " ketua astrid.


Damian tak menggubris, menarik kasar dress astrid hingga sobek. Damian mendorong tubuh astrid Hingg terbaring telentang. pria itu menunggangi tubuh astrid bagaikan menunggangi seekor kuda.


Mata astrid memanas, saat tubuhnya benar - benar polos tanpa sehelai benang pun. Damian tertawa membahana, mengikat tangan astrid di kepala ranjang. berikutnya, pria itu mengikat kedua kaki astrid di kaki ranjang.


setelah memastikan astrid tak bisa bergerak sedikitpun, Damian keluar dari kamar untuk memanggil sang pelanggan yang telah membayar mahal tubuh astrid.


Astrid menatap nanar punggung suaminya, dalam hatinya bersumpah tidak akan pernah memaafkan ataupun melepaskan pria durjana itu.


÷÷÷


Di belahan bumi london, rini tampak terkejut mendapati putra sulung dan menantunya berdiri di depan mata.


" Kavian, laura " gumam rini


" Mih, " laura mendekat, memeluk mertuanya.


Rini celingukan ke belakang tubuh menantunya " kalian cuma berdua ? "


Laura mengangguk " iya, Evelyn enggak .au ikut "


" Shakti juga nggak ikut ? " tanya rini sembari menarik pelan menantunya duduk di sofa.


Laura melirik sebentar ke arah suaminya yang dengn santai nya mendudukkan pantatnya di sofa, lalu menatap mertuanya yang masih serius menunggu jawaban.


" Enggak " Laura menggeleng lemah.


Tak ada kecurigaan rini mengangguk paham, wanita itu pikir kedua remaja itu tak ikut karena tak mau ketinggalan pelajaran.


" Kalian kok nggak ngabari mamih si kalau mau kesini ? " tanya rini


" Surprise mih " kavian yang menyahut.


Rini menelisik wajah menantunya yang semakin hari kian mengurus " Kamu sakit sayang ? "


Laura menunduk " Enggak mih, aku.. "


Kavian mendekat, memeluk ibunya secara tiba - tiba " selamat ya mih. mamih akan menjadi oma "


Mata rini membelalak lebar. cepat, tangannya mendorong tubuh kavian, menatap bergantian wajah putra dan menantunya yang sama sekali enggak ada raut gurauan.


" Ma..mamih enggak salah denger kan ? " tanya rini dengan mata berkaca.


Kavian menggeleng dengan mata yang juga berkaca. " enggak mih, mamih akan jadi oma untuk anakku dari rahim laura "

__ADS_1


Rini menutup mulutnya yang ternganga, wanita itu berhambur memeluk kavian dan laura sangat erat. sungguh kebahagiaan mana yang begitu indah selain mendengar bahwa ada jabang bayi yang hidup di rahim menantunya.


" Hey,, hey,, ada apa ini? kenapa kalian menangis ? " Efras mendekat, ke arah tiga manusia yang masih berpelukan dengan terisak.


" Laura hamil " sahut rini setelah melerai pelukan.


Mata efras membelalak lebar " benarkah? " pria itu duduk di samping rini.


Rini mengangguk yakin " Kita udah tua ya pih, " kekehnya sembari menoleh.


Efras ikut terkekeh " Iya, bentar lagi kita mati "


Rini menabok paha suaminya " jangan ngomong gitu dong pih, masa' cucu belum lahir mau mati "


Laura sendiri hanya diam membisu tak sumringah seperti yang lainnya.


÷÷÷


" Ngapain sih lu tiap hari nangkring di kamar gue " Protes iqbal yang tak di gubris oleh Evelyn.


" Suka - suka gue lah, " sungut Evelyn mendelikan mata.


" Keluar sana ! " usir iqbal mendorong bahu Evelyn.


Evelyn tak terima, gadis itu menyambar rambut iqbal dan menjambaknya brutal.


" Aduuuhhhh " keluh iqbal. Tangan iqbal terulur meraih rambut Evelyn. membalas jambakan evelyn ultak kalah kencangna.


" Arrrgghhhh,, honey tolongg ! Sakittttt " teriak Evelyn.


Enggak cuma Shakti, bahkan haikal dan darrel pun ikut masuk ke kamar saat mendengar teriakan Evelyn.


" Lu apain cewek gue ? " galak shakti, berlari dan mendorong tubuh iqbal.


" Ckkk, cewek prik ! " gerutu iqbal menatap kesal ke arah cewek yang selalu membuat darah tinggi.


Haikal menoyor kening iqbal " Jangan kasar - kasar sama cewek cantik " omel haikal.


Iqbal memutar bola matanya malas, menatap sengit wajah Evelyn yang memasang wajah kelinci di depan teman - temannya.


" Dia jambak aku, honey " adu Evelyn, nemplok ke tubuh shakti.


Shakti menunduk, mencium rambut Evelyn dalam - dalam " Udah jangan sedih, nanti aku sunat dia "


" Pffftt " darrel ngampet ketawa, melirik iqbal yang matanya hendak meloncat dari tempatnya.


" Hihhh " iqbal bergidig.


Haikal terkekeh, merangkul tubuh iqbal dan darrel untuk keluar dari kamar " yok pergi ! tuan putri mau bobok " ucap haikal sembari berlalu.


Shakti tertawa pelan memandangi tubuh temannya yang perlahan hilang di balik pintu. tatapannya beralih ke bawah, dimana Evelyn masih stay di pelukannya.


" Kamu ngantuk ? " tanya Shakti.


Evelyn mengangguk.


" Ayok, aku antar pulang.


Evelyn menggeleng " No, aku mau bobok sini "


" Nanti mas kavi nyariin " protes shakti.


Shakti menggigit bibirnya, ada sengatan nyeri yang menjalar ke ulu hatinya. dia juga kangen sama mamih rini tetapi dengan keadaan nya yang seperti ini dia enggak yakin kalau ibunya juga akan berada di pihaknya. dulu banget pas dia masih di rumah besar dia juga sering ke london nyusul papih efras yang kadangkala berbulan - bulan disana. dan sekarang, dia enggak tau apakah masih bisa ketemu sama mereka apa enggak.


Shakti mengusap sudut matanya yang basah, lalu melengos saat Evelyn mendongak menatap nya yang terdiam membisu.


" Kamu nangis ? " tanya Evelyn sembari menarik dagu shakti.


Shakti tertawa kecil, menggigit bibir untuk menghalau tangisnya agar tak pecah " sssiapa yabg nangis " ucapnya dengan suara bergetar.


Evelyn melerai pelukan, merengkuh tubuh Shakti dan mendekapnya erat " Enggak papa, nangis aja ! aku siap kok jadi wadah air mata kamu " ucap Evelyn sembari mengelus kepala shakti.


Tubuh shakti bergetar hebat dengan suara tangis yang samar karena wajahnya terbenam di dada Evelyn. sekuat apapun di mencoba tegar, namun nyatanya dia masih merasa rapuh. meninggalkan keluarga, meninggalkan ibu yang melahirkannya bagaikan kehilangan setengah nyawanya.


Evelyn memejamkan mata, mengusap kepala shakti dengan begitu lembut. capek dengan posisi seperti itu, Evelyn merebahkan tubuh shakti, kembali mendekap tubuh itu saat tangis nya belum mereda.


" Maaf " gumam Evelyn sembari mengecup puncak kepala shakti.


Shakti menggeleng di dada Evelyn, mengecup benda kenyal di depannya sebelum melepas pelukan.


" Kenapa minta maaf ? kamu enggak salah, ini semua udah takdir. aku berharap takdir ini adalah jalan menuju ke menara kebahagiaan " ucap shakti.


Evelyn tersenyum tipis, mengecup mata shakti yang basah " Kamu sabar yah. kita pasti bisa melewati ini semua "


Shakti mengangguk, kembali meletakan kepala nya di dada Evelyn " Aku bobok kaya' gini ya ! " izinnya dan di angguki oleh Evelyn.


Evelyn melepaskan kaosnya, menyisakan bra nya yang berwarna putih. Dengan tergesa - gesa, shakti menarik cup bra itu, melahap benda kenyal yang selalu menjadi candunya.


Udah ketagihan sama benda kenyal yang satu itu, dan yang namanya ketagihan enggak bisa di kendalikan. jadilah shakti berlanjut menyelam ke kubangan dosa.


Evelyn meringis, menunduk untuk mengamati kegiatan shakti yang semakin lihai memainkan dadanya. bibir Evelyn mengulas senyum saat bibir tipis shakti nggak mau melepas puncak dadanya.


Atensi Evelyn teralihkan saat suara dering ponsel berbunyi nyaring. Evelyn menyambar ponsel yang terletak persis di sebelahnya, menekan tombol hijau dan muncullah wajah suaminya.


Evelyn melototkan mata, melirik ke bawah dimana shakti masih sibuk di dua gunungnya dengan mata terpejam. ingin melepas bibir shakti, tapi dia enggak mau kesenangannya hilang. jadilah Evelyn menaikkan ponsel dan mengarahkannya ke jidat.


Kavian mengerutkan kening saat ponselnya hanya terpangpang jidat lebar milik Evelyn.


" Aku ingin lihat wajahmu ! " ucap kavian sembari menumpukan badan di pembatas balkon.


Evelyn mendengus, menurunkan ponsel dan memperlihatkan wajahnya yang tertekuk.


" Ada pa nelfon ? " tanyanya sewot.


" Aku cuma memastikan kalau kamu enggak macam - macam " kilah kavian, yang sebenarnya hanya alibi saja.


Evelyn memutar bola matanya malas, meringis saat shakti menggigit p*tingnya.


" Kenapa ? kamu sakit ? " tanya kavian saat menyadari wajah Evelyn seperti menahan sakit.


Evelyn mengangguk " iyah, tadi sore di gigit lebah " dusta nya.


Evelyn menunduk saat ternyata shakti menguping pembicaraan. cowok itu bahkan meremas kencang dadanya yang sebelah.


" Apanya yang di gigit ? " tanya kavian khawatir.


" Sus,, eh.. bokongnya " dusta Evelyn.

__ADS_1


Kavian terkekeh, menyentil ponselnya seolah - olah istrinya yang di sentil.


" Ada - ada saja "


" Udah dulu ya, masih sakit banget nih, nyut - nyutan " ucap Evelyn kembali meringis. pasalnya dia memang lagi nyut - nyutan karena Shakti dengan jahilnya menggigit perutnya.


Kavian tertawa kecil, memandangi wajah Evelyn yang lagi mode kucing kecil, menggemaskan dan lucu.


" Ya sudah, istirahat ya ! jangan tidur larut malam " pesan kavian "


tutt !


" Ckkk " decak kavian saat layarnya sudah menghitam.


Evelyn menghembuskan nafas lega, melirik ke arah cowok yang sudah terpejam.


" Dasar cowok tengil " omel Evelyn menjewer telinga Shakti.


÷÷÷


Astrid membuka kelopak matanya yabg terasa berat dan perih. tangannya bergerak pelan mengucek matanya yang benar - benar enggak bisa di buka.


Astrid menghembuskan nafas lega, karena kaki dsn tangannya sudah bebas tak lagi di ikat. Lalu tatapannya tertuju ke arah jam bulat yang tertempel di dinding dan sekarang menunjukkan pukul sebelas malam.


Astrid memijit tengkuknya yang terasa pegal. setelahnya, tangannya terulur kebawah menyentuh inti segitiganya yabg terasa ngilu dan perih. bayangkan, dia harus melayani tiga pria sekaligus dan satu orang pria menghabiskan waktu lebih dari satu jam.


Astrid menggigit bibirnya, matanya kembali memanas saat menyadari nasib nya yang begitu menyedihkan. mereka enggak cuma menidurinya, tapi mereka juga memberikan luka memar di sekujur tubuhnya. mereka menggunakan gesper untuk memukul punggungnya, mereka juga menggunakan tangan besar mereka untuk menampar bagian tubuhnya sana - sini.


Drrttt.. drrrt...


" H..halo " sapa astrid.


" Nyonya, ada berita bagus. Non Evelyn pergi keluar loh dari tadi siang. kaya' nya mau nemuin den shakti. nyonya bisa lapor sama mas kavi," sahut tuti panjang lebar.


Astrid berdecak " Jadi kau menelfon hanya mau menyampaikan itu? " sungut astrid.


" Iya nyah, itu kan kesempatan bagus biar mas kavi marahin non Evelyn " sahut tuti antusias.


Astrid mendengus sebal. sekarang dia udah nggak mau ngurusin gadis berandal itu karena hidupnya saja sudah enggak bisa ke urus


" Dengar ya tuti, jangan pernah menelfonku sebelum aku yang menelfonmu mengerti ! " sentak astrid


" Kenapa nyah? " tanya tuti bingung.


" Argghhh " pekik astrid saat rambutnya di jambak dan dengan cepat Damian merebut ponsel astrid.


" Beraninya kau mengadu ! " berang Damian.


" Siapa yang mengadu ? " ketus astrid.


Plak !


" Aaaa " astrid ambruk di kasur saat satu tamparan lolos ke wajahnya yang sudah melebam akibat ulah para pelanggannya.


" Kau pikir aku bodoh ? " bentak Damian dengan tatapan nyalang.


Di seberang telepon, tuti meneguk ludah kasar. cercaan demi cercaan yang keluar dari mulut Damian begitu jelas menusuk gendang telinganya karena memang dia belum mematikan sambungan telepon.


" Aaaaaarrrrgghhh, bajingan ! " Erang astrid saat rambutnya di seret turun dari ranjang dan dengan kejamnya, Damian menyeret rambut itu menuju ke kamar mandi.


Brakkk !


Tuti menjauhkan kepala, saat terdengar suara dentuman pintu yang terdengar keras di ponselnya. tubuh tuti bergetar dengan mata yang sudah berkaca.


" Nyo..nyonyah ! " gumam tuti dengan suara yang juga bergetar.


÷÷÷


Pak kusno mengerutkan kening, saat rumahnya di sambangi dua sosok pasangan yabg begitu di kenal nya.


" Sari ? " cuma pak kusno dengan wajah terkejut.


Sari menyimpulkan senyum, melirik ke arah hana yang juga menatapnya bingung.


" Kami enggak di suruh masuk nih ? " Tanya sari dengan nada memelas.


Pak kusno tersentak, lalu tertawa kecil " Mari silahkan masuk kedalam gubug kami "


Sari mengangguk, menarik tangan farrel untuk mengekornya.


" maaf yah. kami hanya menyediakan kursi lapuk " ucap pak kusno sembari terkekeh.


Sari nabok bahu pak kusno " kaya' sama siapa aja ! "


" Maaf pak kusno, kalau kedatangan kami mengganggu istirahat bapak " celetuk aksen setelah sepersekian menit mereka terdiam.


Pak kusno menggeleng " Justru kehormatan bagi kami bisa di datangi orang seluar biasa anda tuan aksen "


Aksen mencebik " jangan segan begitu, dimata kami enggak ada bedanya. kami sama - sama manusia biasa "


Aksen melirik jengkel ke arah darrel yang terlihat santai, bahkan cowok itu bermain ponsel.


" Kedatangan kami kesini adalah, untuk melamar hana menjadi menantu kami "


" Uhuk.. uhuk... " Haikal tersedak kopi.


" Monyet biadab ! " gumam haikal lirih, menatap tajam ke arah darrel yang hanya Meliriknya malas.


Pak kusno melirik sebentar ke arah haikal, lalu tatapannya beralih ke arah hana dan darrel bergantian " saya manut apa keinginan putri saya saja tuan aksen "


Darrel meletakkan ponsel, menatap lamat - lamat wajah hana yang menunduk " Kalau elo nolak gue berati fix, elo lesbi "


Hana mendongak dengan delikan sebal, memukul meja dengan kepalan tangan membuat kopi di atas meja itu muncrat akibat getaran meja plastik " Di pikir dulu sebelum ngomong ! " sungut hana.


Sari menjewer telinga darrel


" Aduhh sakit mih ! " keluh darrel.


" Ini sepadan untuk mulut kamu yang suka ngasal " omel mamih sari.


Pak kusno terkekeh, menepuk pelan puncak kepala hana " nak darrel anak yang baik, orang tuanya juga baik. bapak serahkan semuanya sama kamu hana, karena masa depan kamu, itu kamulah yang menentukan "


Hana menunduk, menatap orang tua farrel bergantian, wajah ramah, senyum indah sungguh membuat hatinya tergugah untuk menerima pinangan itu. tatapan hana berhenti ke darrel yang menatapnya intens dan juga ada keseriusan di wajah manis cowok itu.


Hana menghela nafas, menarik nafas dalam - dalam dan menghembuskannya perlahan. hana mengangguk yakin dan itu membuat semburat kelegaan di wajah orang tua darrel.


Darrel melengos, menyembunyikan bibirnya yang terkulum. ada bunga bersemi di lubuk hatinya. walaupun dia belum sepenuhnya menerima hana, tapi nyatanya dia enggak menampik ada rasa ketertarikan sama cewek yang berperingai galak itu.

__ADS_1


" Alhamdulillah " ucap kedua orang tua darrel.


Sari beranjak bangun, merengkuh tubuh hana dan mendekapnya erat " Makasih ya han, mamih seneng banget "


__ADS_2