Bukan Salahku Menjadi Madu

Bukan Salahku Menjadi Madu
RIP ariel


__ADS_3

brukk


" aawwws "


hana memegangi perutnya saat tanpa sengaja terpentok ke meja prasmanan.


" maaf ya mbak ! "


hana menoleh ke belakang dan didapati seorang gadis yang membungkuk kepadanya.


kening hana mengerut, merasa tak asing dengan gadis itu " fitri kan? "


gadis itu mendongak " hana "


" elo ngapain disini ? " tanya hana dengan wajah yang masih sama, bingung.


" engggh,, gue kerja part time. " jelas fitri sembari menggaruk tengkuknya.


hana menelisik penampilan fitri yang sekarang memakai kaos dan celana jeans


" elo mau pulang? kan acaranya belum selesai ? "


" ahh, engggh iyah.. gue ada acara mendadak. ya udah gue cabut dulu ya. buru - buru soalnya " sahut fitri. tanpa menunggu jawaban dari hana, gadis itu melangkah lebih dulu tanpa memperdulikan hana yang sudah membuka mulut, hendak bertanya kembali.


" dasar aneh " gumam hana sembari menggelengkan kepala


shakti celingukan ke setiap penjuru aula, cowok itu mengamati satu persatu manusia yang sedang menikmati hidangan di meja bundar yang terjejer rapi.


" ngumpet dimana sih? " gerutu shakti dengan matanya yang bergerak liar mencari keberadaan gadisnya yang entah menghilang kemana.


" duh,, mules banget iki. opo aku pulang saja ya " keluh Landung. rupanya gadis itu sudah bolak - balik ke kamar mandi hingga sepuluh kali.


" loh, non Evelyn kemana? " Landung berjalan ke tengah aula membelah kerumunan manusia yang sedang asyik bercengkrama. namun gadis itu tak menemukan majikannya.


gadis itu akhirnya menghampiri Shanti yang juga sedang berjalan mondar - mandir mencari keberadaan Evelyn.


" mas Shakti, lihat non eve nggak? " tanya Landung menepuk pundak shakti.


Shakti berbalik badan " ini gue juga lagi nyari "


" Landung pulang dulu ya, sakit perut mas. nggak papa yo? " izin Landung.


shakti mengangguk," iya, gue telepon supir"


landung menyimpulkan senyum " ya sudah. titip non eve ya, ! "


Shakti mengangguk, kembali berjalan mencari gadisnya.


÷÷÷


ariel bangkit berdiri, cowok itu mencekal tangan Evelyn yang hendak meraih handle pintu.


" mau kemana, hah? " bentak ariel


" lepasin gue ! " evelyn berontak, berusaha melepaskan cekalan ariel yang membuat pergelangan tangannya perih.


" aaaa " pekik Evelyn saat ariel menjambak rambutnya.


plak !


satu tamparan mendarat di sebelah pipi Evelyn. membuat wajah gadis itu memerah, menahan amarah dan kesal karena tak bisa melawan. gadis itu menatap penuh kebencian ke arah ariel.


" lo pikir bisa semudah itu pergi, hm? " ariel menyeringai puas.


" ssshh " desis Evelyn saat sebelah tangan cowok itu kembali meremas dadanya. bahkan cowok itu mencubit keras puncak dadanya.


ariel memajukan wajahnya, hendak mencium bibir Evelyn.


cuih !


Evelyn meludah tepat di wajah ariel membuat cowok itu meradang.


plak !


kembali, tamparan keras mendarat di pipi wajah cantik Evelyn.


" bajingan ! dasar pelacur ! " maki ariel mencengkeram dagu Evelyn. cowok itu hendak mencium kembali namun Evelyn melengos. ariel melepaskan cengkraman di dagu menatap penuh kabut gairah ke arah gadis yang terlihat berantakan namun itu menambah kesan mempesona.


" aargghhh " pekik ariel saat Evelyn menginjak salah satu kakinya. kelengahan cowok itu digunakan Evelyn untuk melepaskan diri.


" sialan ! " umpat ariel.


Namun sialnya, gerakan cowok itu lebih gesit dari pergerakannya. ariel menarik lengan Evelyn dengan kasar, lalu menghempaskan gadis itu kelantai hingga kepalanya membentur ke besi pembatas balkon yang hanya setinggi lutut.


ariel berjalan mendekat kearah Evelyn yang sekarang ini terduduk dengan tangan mencengkeram erat pembatas besi. mata cowok itu terlihat memerah bahkan urat nya tercetak jelas di rahangnya.


dengan gerakan kelinci, Evelyn berhasil menghindar dari tubrukan ariel. mata ariel melotot saat sebelah tangannya melesat jauh ke bawah dari pembatas besi. di karenakan gerakannya yang terlalu cepat, menyebabkan cowok itu terdorong maju kebawah balkon. dan nahas cowok itu harus bergelantungan dengan satu tangan di pembatas balkon.


" aarrghh " erang ariel saat merasakan tangannya ngilu dan keram karena tak bisa menahan bobot tubuhnya.

__ADS_1


Evelyn melongok kebawah, gadis itu mengulurkan sebelah tangannya " pegang tangan gue Riel ! "


" brengsek ! gue nggak mau mati " erang ariel saat pertahanan tangannya mulai melemah. cowok itu menunduk kebawah, wajahnya memucat saat menyadari tubuhnya berada di ketinggian yang sangat tinggi.


" cepat ! pegang tangan gue ! " teriak Evelyn,


ariel berusaha mendorong tubuhnya ke atas dengan sebelah tangannya berusaha menggapai uluran tangan Evelyn. namun sial, tenaganya sia - sia karena kakinya tanpa Sadar terus bergerak - gerak menendang udara, menyebabkan sebelah tangannya yang berada di pembatas besi semakin keram dan perlahan melemah.


" aarrrrggggghhhh "


" ARIEL ! " teriakan Evelyn melengking di udara. mata gadis itu melotot lebar menyaksikan tubuh ariel terjun ke bawah dengan posisi telentang.


brakk !


ariel terjatuh tepat di atas kaca mobil, bahkan serpihan kaca mobil itu sampai menembus ke dalam perutnya.


" uhuk.. uhukk " ariel memuntahkan darah segar cukup banyak. cowok itu menghembuskan nafas terakhir dengan keadaan mata melotot lebar.


" argghhh " pekik beberapa tamu yang berada di pelataran gedung.


" astaghfirullahal'adzim " beberapa satpam tampak tergopoh - gopoh menghampiri sebuah mobil SUV berwarna hitam yang di atasnya berbaring seorang pemuda laki - laki.


beberapa tamu yang berada di dalam aula berangsur keluar, mereka semua menutup mulut, menatap ngeri pemandangan di depannya.


" hiks " tangan Evelyn masih terulur ke bawah, dengan sebelah tangannya digunakan untuk membekap mulut. Evelyn menggeleng keras seolah menepis bahwa penglihatannya salah.


" aarghh " erang Evelyn saat merasakan perih di kepalanya.


" cewek sial, kenapa enggak elo yang mati aja sana ! " geram cindy menarik paksa rambut Evelyn yang setengah tergerai.


" lepasin gue cindy ! stop... sakit banget " teriak Evelyn. merasakan nyeri yang amat luar biasa karena tangan cindy masih berada di kepalanya


" diam ! " bentak cindy, gadis itu berjalan cepat dengan taglngan yang menyeret rambut Evelyn menuju ke lantai bawah tak memperdulikan rintih kesakitan Evelyn.


bukk


plak


plak


cindy mendorong tubuh Evelyn hingga membentur dinding saat berada di dalam lift. tak cukup sampai disitu dua tamparan keras mendarat di pipi Evelyn yang sudah basah. bahkan sudut bibir Evelyn sedikit mengeluarkan darah. kedua tangan cindy mengepal menyalurkan amarah yang berada di ujung tanduk. seluruh tubuh cindy bergetar dengan pipi yang sudah basah dengan air mata.


" pembunuh ! " teriak cindy


suara cindy menggema di dalam lift


" gue bukan pembunuh ! " teriak Evelyn tak kalah keras dengan suara cindy.


tinnn !


bukk


lagi, cindy mendorong Evelyn yang dalam keadaan lemah sampai kepalanya membentuk ke lantai dengan posisi tengkurap.


shakti dan beberapa yang berada di aula menoleh ke luar pintu aula dimana sebuah pintu alternatif terbuka lebar. menutup setelah mengeluarkan dua orang gadis yang sedang bergulat.


plak !


cindy bahkan sudah menindih tubuh Evelyn menampar pipi Evelyn yang sudah sedikit lebam itu.


" CINDY ! " teriak shakti melengking. cowok itu berlari menghampiri kedua gadis itu. cowok itu menarik paksa tubuh cindy dan mendorongnya keras hingga terduduk ke lantai.


Shakti menarik Evelyn untuk bangkit berdiri, mendekap hadis itu ke pelukannya.


cindy nggak tinggal diam, gadis itu kembali menerjang tubuh Evelyn.


sraatt


" awwss... hiks "


lima goresan cakaran cindy berhasil mengenai lengan Evelyn. dengan sekuat tenaga, shakti kembali mendorong tubuh cindy hingga jatuh kembali.


" cukup ! " bentak shakti.


" cewek gila, nggak waras ! " sungut shakti menatap tajam ke arah cindy yang menatap Evelyn penuh amarah.


" dia yang gila shakti ! dia pembunuh ! dia yang udah dorong ariel " adu cindy menggebu - gebu.


Evelyn menggeleng, mempererat pelukannya ke pinggang shakti. Evelyn mendongak dengan tatapan sendu dan mengiba menatap penuh karapuhan ke arah kekasihnya yang memandangnya penuh kebingungan.


" enggak shak, kamu harus percaya sama gue. ariel jatuh sendiri, dia nyerang gue, dia mau lecehin gue shak. mereka berdua jahat shak. mereka nyuruh pelayan buat bohongin gue. " adu evelyn.


shakti menatap miris ke arah wajah kekasihnya yang terlihat berantakan. tanpa berpikir panjang pun. cowok itu akan percaya melihat keadaan gadis itu yang cukup kacau shakti mengecup pipi Evelyn bertubi - tubi mengusap wajah basah kekasihnya yang sangat menggores hatinya.


shakti mendekap cukup erat tubuh ramping Evelyn menyalurkan kasih sayang dan dukungannya. pemandangan romantis itu tak luput dari beberapa tamu undangan kavian bahkan melotot melihat pemandangan ambigu itu.


" dia bohong ! " teriak cindy.


gadis itu menoleh ke arah aula dimana tubuh ariel sudah digotong dan di rebahkan ke alas karpet.

__ADS_1


cindy menangis histeris, menjambak rambutnya frustasi. beribu penyesalan menyusup ke dadanya. seandainya dia nggak menyetujui usulan ibunya pasti kejadiannya tidak akan seperti ini. sedangkan lika, sudah terduduk dengan posisi berlutut menangis tak kalah histeris melihat keponakannya meninggal dengan keadaan mengenaskan.


" Ariel, maafkan tante ! " gumam lika.


" mih, " cindy berhambur memeluk lika menumpahkan kesedihannya di pelukan ibunya. semua tamu menunduk bahkan beberapa dari mereka ada yang menangis. shakti membawa Evelyn turut ke kerumunan dengan posisi masih memeluk gadisnya.


" apa - apaan ini shakti ?" sungut kavian dengan sedikit berbisik. pria itu menatap kesal ke arah adiknya yang tak menggubris.


wajah bocah itu tertekuk menatap jengkel kakaknya saat menarik paksa tubuh Evelyn. kavian memindai penampilan Evelyn yang sudah berantakan " ada apa ini ? " tanya kavian dengan wajah bingung.


evelyn menggeleng gadis yang awalnya sudah merasa tenang itu kembali menangis. jauh di dalam lubuk hatinya, suaminya juga akan ikut memojokannya.


lika mendongak ke arah Evelyn yang menunduk. wanita itu bangkit berdiri, berjalan melangkahi mayat ariel dan mengikis jarak dengan Evelyn


" arrghhh " erang Evelyn saat rambutnya kembali di tarik oleh lika


" heyy ! lepaskan ! " teriak kavian. pria itu mendorong kasar tubuh lika hingga jatuh menimpa mayat ariel.


laura segera merengkuh Evelyn yang sudah menangis pilu. " sudah ! nggak papa. " wanita cantik itu mengelus lengan Evelyn dengan lembut.


" biarkan aku mencabik - cabik wanita jahat itu ! biar ku balas pembunuh itu ! " teriak lika membuat shakti mengepalkan tangan.


Damian sendiri melengos, mengumpat lirih saat melihat kebodohan yang sudah lika perbuat. apa wanita itu tak berpikir dulu sebelum perbuat.


kavian mengerutkan kening menatap bingung kepada wanita yang tiba - tiba menyerang istri mudanya.


" ada apa ini? apa maksud anda ? apa maksud jatuhnya keponakan anda dengan Evelyn ? " tanya kavian penuh selidik.


darrel menyilangkan tangan, menatap sinis ke arah mantan mertuanya yang dia yakini dalang di balik semua ini. dalam hatinya bersorak karena wanita jahat itu telah menuai apa yang dia perbuat.


" dia dorong ariel ! " ini cindy yang menjawab. gadis itu sudah ikut berdiri tangannya menuding tepat ke arah Evelyn.


kavian menoleh ke samping meminta jawaban ke arah Evelyn yang masih sesenggukan di dada laura.


" katakan Evelyn ! katakan sesuatu ! apa benar yang gadis itu ucapkan ? " cecar kavian


Evelyn menggeleng keras, kepalanya mendongak dengan wajah sembab dan juga pipi lebam sana sini.


" enggak, dia bohong. mereka berdua jebak gue. nyuruh gue ke balkon. dia mau lecehin gue. dia jatuh sendiri karena mau nyerang gue. please , kalian percaya sama gue ! " sahut Evelyn frustasi.


kavian beralih menatap kedua wanita yang menjadi bisu. diam seribu bahasa. bahkan wajah mereka memucat.


" apa benar hah!? " bentak kavian.


lika menyunggingkan senyum. menatap sinis ke arah Evelyn " kamu pikir aku percaya sama omong kosong mu? keponakan ku tidak serendah itu yang mau - maunya menyentuh pelakor sepertimu. diluaran sana masih banyak gadis yang jauh lebih baik darimu. oh, aku tahu. pasti kamu yang melempar tubuhmu sendiri dan marah atas penolakan ariel, jadi kamu mendorong dia. iya kan, hah ? "


Evelyn menatap kesal ke arah wanita baya itu yang seenak jidat berbicara demikian. " cih. gue nggak sudi ngelempar tubuh gue sama cowok krempeng, jelek, kaya ariel. suami gue jauh lebih tampan dari dia. " kesal Evelyn menggebu - gebu.


" dan asal elo tau ya, cindy sama ariel yang nyuruh pelayan buat bohongin gue, kalau suami gue yang ganteng itu nyuruh gie ke balkon. dan ternyata apa ? yang gue temuin bukan suami gue yang ganteng itu melainkan cowok kerempeng buruk rupa, keponakan situ ! " imbuh Evelyn, merasa jengkel.


" apa buktinya, hah ? " berang lika.


" buktinya banyak, cctv. dan oh iya, pelayan yang mukanya tompelan yang udah bohongin gue juga jadi bukti " sahut Evelyn lantang.


hana mengerutkan kening, merasa nggak asing sama ciri pelayan yang di sebutkan Evelyn.


" anda dengar sendiri? biar petugas yang mengecek cctv nya " sambung kavian, pria itu tersenyum kemenangan saat wajah lika memucat.


" maaf pak, cctv nya rusak " sahut seorang pegawai


" apa ? " teriak kavian.


lika tersenyum smirk. oke kemenangan saat ini berpihak kepadanya.


" masih ada bukti satu lagi kan? pelayan yang ikut andil menjebak Evelyn " sambung shakti.


" cepat , cari pelayan yang mukanya tompelan. da cari kesini ! " titah kavian dan di angguki oleh kepalaya pelayan.


mungkin sekitar lima belas menit. beberapa pelayan berkumpul di aula. kavian menelisik satu persatu pelayan itu. namun, tidak di temukan seorang pelayan yang berwajah tompelan.


kavian memijit pelipis yang berdenyut " cepat cari lagi, barang kali dia ngumpet " usul laura.


beberapa security dan yang lainnya juga ikut mencari. sedangkan beberapa panitia membawa ariel ke ambulance yang memang sudah di persiapkan.


sang kepala pelayan menunduk, " maaf pak, kami tidak menemukan pelayan itu ! "


kavian mendengus," periksa cctv nya, dan cari pelayan itu sampai dapat "


staff bagian yang bertugas memeriksa cctv mengangguk. mereka berlari kecil menuju ke ruangan khusus yang berisi beberapa layar besar.


laura menuntun Evelyn menuju ke kursi dan juga di ikuti oleh Shakti dan yang lainnya. sedangkan kavian mondar - mandir menunggu oara bawahannya.


astrid menatap jengkel ke arah Evelyn yang sekarang di temani laura " maunya sih nggak percaya, tapi lihat sifat bengalmu itu membuat saya ragu"


" mih ! " tegur laura.


pak kusno menggeleng, tak habis fikir dengan duplikat ayu yang memang memiliki karakter sama persis.


" bapak yakin, kemenangan akan berpihak kepada yang benar " ucap pak kusno menyentuh puncak kepala Evelyn.

__ADS_1


__ADS_2