Bukan Wanita Pengganti

Bukan Wanita Pengganti
Bab 10 Urusan privasi masing-masing


__ADS_3

Terlihat Chana dengan lemas masuk ke dalam butiknya. Raut wajahnya yang lesu membuat Nomnom merasa terheran-heran.


"Syantik... kenapa lagi, kok wajahnya di tekuk gitu sih?" tanya Nomnom.


Chana menahan kepedihannya dan menggelengkan kepalanya.


"Aku buatkan jus jambu ya? aku baru saja memborong banyak buah di supermarket," ujar Nomnom mencoba untuk memberikan waktu luang untuk Chana yang terlihat sedang tidak ingin di ganggu.


Nomnom baru kali melihat sahabatnya seperti ini. Ini sangat tidak bisa, namun ia sendiri tidak berani berkata lebih banyak.


Tidak berselang lama, tiba-tiba saja seorang pria masuk ke dalam butik, dia adalah Asdam.


Entah apa yang ingin Asdam lakukan di butik Chana.


Melihat ada yang datang, Nomnom berhenti memotong jambu dan langsung menyambut tamu yang datang.


"Pagi tuan tampan, ada yang dapat saya bantu?" sambut Nomnom ramah dengan gayanya yang genit.


"Chana ada?" tanya Asdam.


"Emmm .... ada namun dia sedang tidak enak badan. Biar saya saja yang menemani anda untuk memilih pakaian yang bagus. emm, atau anda ingin mendesain baju? biar saya gambarkan, saya juga ahli dalam bidang ini," ujar Nomnom meyakinkan Asdam..


"Tidak perlu, saya hanya perlu bertemu dengan istri ku. Apakah dia sakit? di mana ruangannya?" tanya Asdam merasa tidak sabaran usai mendengar jika Chana sakit.


"Apa! Oh my lady lady lady .... seriously, youuuu...!? tunggu tunggu tunggu, aku harus memastikannya .. ini tidak mungkin, my princess belum married, you know!"


Nomnom membelalakkan matanya dan berlari dengan tubuhnya yang gembul. Kepalanya serasa ingin pecah karena terkejut karena ternyata sahabatnya sudah menikah. Bahkan dia menikah bukan dengan kekasihnya, melainkan orang lain yang Nomnom tidak ketahui.


"Chaanaaaaa....!" teriak Nomnom sambil pintu membuat Chana pun kaget dan terjungkal dari kursinya.


"AW!" pekik Chana.


Asdam yang mengikuti Nomnom ikut melihat ketika Chana terjungkal dari kursinya karena terkejut.


Asdam pun menyerobot Nomnom dan berlari mendekati Chana yang terlihat sedang meringis kesakitan.


"Hay, kamu tidak apa-apa?" tanya Asdam membuat jantung Chana serasa mau copot karena kehadirannya yang tiba-tiba.

__ADS_1


Nomnom pun hanya bisa membeku melihat adegan di depan matanya. Sungguh Nomnom masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


"A-aku tidak apa-apa. Tapi, kenapa kamu ada di sini?" tanya Chana.


"Mama meminta aku untuk menjemput mu untuk datang ke villa kakek. Ada acara peresmian keluarga di sana. Kau dan aku harus hadir," ujar Asdam menjelaskan.


"Hah? mengapa mendadak sekali?" tanya Chana.


"Mendadak karena mereka sendiri terkadang tidak dapat menetapkan jadwal karena kesibukan mereka. Jika ada waktu, mereka akan langsung membuat acara dadakan seperti ini," jelas Asdam perihal orang tuanya.


"Aku ganti baju dulu ya?" tanya Chana.


Asdam menatap Chana dengan seksama. Membuat Chana merasa heran.


"Kenapa?" tanya Chana.


"Kata orang gendut itu kamu sakit?" tanya Asdam membuat Nomnom yang sedari tadi memperhatikan mereka langsung tidak terima ketika dirinya di katai gendut.


"Heeeey lidah buaya, enak saya mengatakan saya gendut. Saya tidak gendut, hanya adalah orang seksi yang sedikit gemoy!" jelas Nomnom jelas.


Chana pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Sedangkan Asdam hanya terdiam seribu bahasa.


"Jika begitu aku akan menunggu mu di mobil. Gantilah pakaian mu. Ingat, jangan gunakan setelan celana, kakek tidak suka," ujar Asdam mengingatkan Chana.


Chana pun mengangguk mengerti. Setelah mengatakan itu, Asdam pun keluar dan melewati Nomnom yang terlihat manyun padanya. Namun Asdam tidak perduli dengan itu.


"Nomnom, cepat bantu aku carikan gaun yang cantik," ucap Chana yang langsung membuat Nomnom ikutan membantunya.


Di sela-sela mencari pakaian yang pas untuk Chana, Nomnom pun memberanikan diri untuk bertanya.


"Chana, sejak kapan kau menikah?" tanya Nomnom.


"Nom, aku mohon jangan bertanya sekarang, jika waktunya sudah tiba aku akan memberi tahu mu," jelas Chana.


"Aku tidak percaya kau tidak mengundang ku di acara pernikahan mu. Hiks..hiks..hiks...!" Nomnom merasa sakit hati saat ini. Chana yang sedang mengganti baju di ruang ganti pun merasa bersalah dengan sahabatnya karena tidak bicara padanya soal pernikahannya.


"Apakah kamu lupa mimpi terbesar ku? aku ingin menjadi salah satu Bridesmaids. Apakah aku gendut, makanannya kau tidak mengundang ku?" tanya Nomnom dengan perasaan yang sangat patah hati.

__ADS_1


Chana yang sudah mengganti bajunya langsung mendekati Nomnom yang terlihat sedang menutupi mukanya. Nomnom terlihat sangat sedih kali membuat Chana merasa serba salah.


"Nomnom ku yang manis, maaf aku tidak sempat memberi tahumu. Pernikahan ini sangat mendadak, jangankan kamu, aku sendiri pada saat tidak siap sama sekali. kami di jodohkan," ujar Chana menjelaskan..


"Menikah mendadak? apakah kamu hamil duluan?" tanya Nomnom.


"Tidak tidak tidak! bukan begitu, sudahlah, aku akan memberitahumu nanti. Jangan sedih ya, aku janji akan menceritakan segalanya padamu," ujar Chana mencoba untuk meyakinkan Nomnom.


"Janji?" tanya Nomnom memastikan..


"Iya, Janji!" tegas Chana..


Nomnom pun akhirnya menemani Chana untuk keluar. Asdam terlihat sudah menunggu di dalam mobil.


Asdam sendiri memang hampir tidak pernah menggunakan supir. Hanya sesekali itu saja harus sekertaris Rein.


Ketika Chana masuk ke dalam mobil, Asdam pun terdiam sesaat menatap Chana.


"Ada apa? apakah baju ini tidak pas?" tanya Chana memastikan.


"Bajunya bagus, tapi bisa kamu lepaskan perbedaan di kepala itu? aku rasa sudah cukup sandiwaranya," ujar Asdam sambil melepaskan kain kasa yang menutup bekas jahitan Chana.


Asdam mengira jika Chana sedang bersandiwara terluka agar ia merasa bersalah karena sudah bertindak kasar padanya saat malam pertama mereka. Asdam mengira Chana sedang mencari simpati keluarganya dengan menyudutkan namanya. Padahal Asdam sangat yakin ia sama sekali tidak membuat goresan pada kening Chana.


Namun, setelah kain kasa Asdam buka paksa, Asdam pun terkejut ketika mendapati ada jahitan di kening Chana.


"AW!" Chana pun kembali meringis karena Asdam tidak pelan-pelan, membuat jahitannya serasa di tarik.


"Apa? ini luka beneran? dari mana kamu mendapatkan luka ini?" tanya Asdam tidak percaya. Dia berfikir Chana sedang bersandiwara, namun ternyata ada luka di sana.


Chana pun terlihat bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin Chana mengatakan jika luka di dapat karena ia di lempar gelas oleh Misha. Chana pun dengan cepat berfikir untuk mencari alasan lainnya.


"Eeem ... sepertinya aku tidak harus menjelaskan apapun padamu," jawab Chana membuat Asdam menaikan alisnya, heran.


Melihat raut wajah Asdam, Chana pun kembali berkata, "Kita tidak cukup dekat untuk aku mengatakan semuanya padamu. Kita memang suami istri di mata keluarga kita, tapi urusanku adalah private ku dan urusanmu bukanlah masalah bagiku," jelas Chana melanjutkan.


Mendengar penjelasan Chana, Asdam pun tidak ingin ambil pusing. Asdam terdiam dan tidak menjawab sepatah kata pun. Namun terlihat dari wajahnya jika ia tidak suka dengan jawaban Chana yang ia lontarkan padanya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


(Jangan lupa like dan komen ya:)


__ADS_2