
Nomnom terlihat membawa motornya dengan kecepatan sedang. Nomnom sangat penasaran bagaimana bisa Chana hilang dan pelakunya adalah Ziga.
Ketika sedang sedang berhenti di lampu merah, Nomnom sepertinya melihat seseorang yang tidak asing di matanya. Dia adalah Ziga.
Ya, Nomnom melihat Ziga yang sedang mengendarai mobilnya. Nomnom yang tidak mau kehilangan jejak pun langsung mengikuti Ziga.
Meskipun Ziga telah menyamar dengan menggunakan kumis dan jenggot palsu, tetaplah Nomnom masih dapat mengenali Ziga karena mereka sempat lama berkenalan.
Nomnom langsung mengikuti Ziga dari belakangnya. Nomnom sengaja menggunakan kain untuk menutupi wajahnya dan juga mencoba mengambil jarak sedikit renggang agar Ziga tidak menyadarinya.
Sudah hampir 30 menit Nomnom mengikuti Ziga tetapi mereka masih juga belum sampai-sampai. Sampai akhirnya, motor miliknya mati karena kehabisan bensin.
Nomnom lupa jika motornya memang membutuhkan bensin, dan dia malah mengikuti Ziga yang arahnya menuju ke jalan sepi dan juga melewati banyak hutan.
"Oh my lady lady lady....! kenapa pakek mogok sih nih motor!" umpat Nomnom kesal. "Kemana Ziga membawa Chana pergi. Ah, aku harus segera menghubungi sekertaris Rein!" gumam Nomnom yang langsung mengambil ponselnya.
Sialnya, di jalan sepi seperti ini di mana akan ada sinyal. "Oh my lady lady lady ...! apa iya aku harus manjat ke pohon!?" ujar Nomnom benar-benar sangat kesal sekali.
Tidak ada pilihan lain, Nomnom harus memanjat pohon agar mendapatkan sinyal. Setelah susah payah Nomnom memanjat pohon, akhirnya dia berhasil mendapatkan sinyal meskipun hanya satu atau dia tingkat saja.
Nomnom tidak mau membuang-buang waktu lagi. Ia langsung menelepon sekertaris Rein.
Sekertaris Rein yang sedang berdiri menyimak ibu dari Ziga memberikan klarifikasi atas ketidaktahuannya terhadap apa yang Ziga lakukan kepada Chana. Ibu dari Ziga hanya mengetahui jika putranya kini sedang bekerja di Korea.
Sekertaris Rein yang melihat handphone berdering pun langsung menjauh dan mencari tempat yang nyaman untuknya.
"Hallo?" ucap Sekertaris Rein mengangkat telpon dari Nomnom.
Nomnom yang pertamakali mendengar suara Sekertaris Rein kembali sejak saat itu pun merasa sangat bahagia sekali. Nomnom tidak percaya jika kini pangeran pujaan hatinya sudah siuman dari komanya.
"Hay!" jawab Nomnom ragu-ragu.
__ADS_1
Sekertaris Rein pun langsung mengenali suara itu. Hatinya merasa sangat bahagia sekali, namun ia tidak bisa mengungkapkannya.
"Kamu?" Sekertaris Rein malah terdengar sangat kaku.
"Iya, ini cuma aku, Nomnom." jawab Nomnom merasa sendu mendengar suara ketua dari Sekertaris Rein. Padahal, bukan maksud Rein bernada ketus, ia hanya sulit tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
"Ada apa!" tanya Sekertaris Rein yang lagi-lagi terdengar kasar.
"Hmm, aku ingin memberi tahu, aku baru saja melihat Ziga. Kami tadi melewati lintas xxx dan kami memasuki daerah dengan jalan yang sangat sepi dan sulit sinyal. Aku sampai memanjat pohon!" sahut Nomnom menjelaskan.
"Apa! terus, sekarang di mana Ziga berada?" tanya Sekertaris Rein yang langsung terlihat antusias.
"Aku ketinggalan jejaknya karena bensin ku habis di tengah jalan. Aku akan tunggu kalian di atas pohon, aku akan Sherlock." sahut Nomnom.
"Baiklah, tunggu kami. Aku akan segera datang!" jawab Sekertaris Rein yang langsung memberi tahu semuanya tentang apa yang dia dapat.
"Apa! ya sudah, ayo kita segera berangkat!" sahut Asdam yang langsung merasa sangat senang dan antusias mendengar ada kabar tentang Chana.
Ketika semua orang bergegas mau pergi, Ibu dari Ziga pun berlari menyusul..
Semua orang nampak ragu-ragu untuk mengajak ibunya Ziga. Tetapi Misha menjawab, "mari, Bu." jawab Misha..
"Tapi!?" Asdam terlihat ragu-ragu.
"Aku tahu arah yang di maksud itu. Itu adalah vila adikku yang sudah lama di tinggalkan. Aku baru ingat jika kami masih memiliki Vila yang berada di sisi tebing di balik hutan xxx." jelas ibu dari Ziga.
Mendengar itu, semua orang pun akhirnya setuju untuk membawa ibu dari Ziga ikut dengan mereka.
"Berapa lama kita menuju ke sana?" tanya Nyonya Beckham.
"Kurang lebih 6 jam." jawab Ibu dari Ziga.
__ADS_1
"Oh, shitttt!" umpat Asdam merasa tidak sabar. "Kenapa dia bisa membawa istri ku ke tempat sejauh itu." lanjutnya.
Jika di hitung, jarak dari rumah ke vila adalah 1 hari perjalanan.
"Asdam, tenangkan dirimu, sayang." ujar Nyonya Beckham agar anaknya dapat mengontrol dirinya.
Sekertaris Rein dengan ketrampilan mengemudinya. Dia benar-benar tidak akan mengurangi kecepatan jika tidak ada kendaraan lain.
Bahkan di saat di pengkolan pun, Sekertaris Rein hanya mengurangi sedikit saja.
Misha dan ibu dari Ziga tidak kurang-kurang berdoa kepada tuhan agar mereka selamat sampai tujuan.
Di sisi lain, Nomnom terlihat kelaparan menunggu kedatangan Sekertaris Rein dan kawakannya. Sudah 4 jam ia menunggu kedatangan mereka di atas pohon, mana hari sudah akan gelap, Nomnom merasa sangat ketakutan.
Sedari tadi ia berada di atas motor, dapat di hitung mobil yang lewat. Itu saja hanya mobil proyek pembawa kayu.
Setelah menit demi menit berlalu, matahari benar-benar terbenam dengan sempurna. Hawa dingin membuat Nomnom merasa merinding. Namun Nomnom masih bertahan untuk tetap berada di atas pohon agar sekertaris Rein tetap menerima sinyal darinya.
Nomnom takut, jika ia turun sinyal akan hilang dan mereka kehilangan jejak. Tanpa Nomnom tahu, jika sebenarnya mereka sudah membawa ibu dari Ziga yang mengetahui jalan ke arah vila. Jadi sebenarnya Nomnom sudah tidak perlu lagi.
Padahal juga, jika sudah memasuki kawasan hutan, sebenarnya sekertaris Rein pun akan kehilangan sinyal sehingga koneks akan terputus.
Setelah beberapa jam menunggu, akhirnya Nomnom dapat melihat sebuah mobil yang melaju ke arahnya.
Tetapi, karena memang Sekertaris Rein dari awal tidak menggunakan Sherlock yang Nomnom kirim, jadi Sekertaris Rein dan semuanya terlupa akan Nomnom yang sedari tadi sudah menunggu mereka.
Ketika Nomnom akan turun dari pohon, mobil itu pun melaju begitu saja tanpa memperdulikan Nomnom.
Karena hari yang sudah gelap dan banyak pohon rimbun, jadi Sekertaris Rein tidak melihat motor Nomnom yang berada sedikit masuk ke pinggiran jalan, di tambah Nomnom yang berada di atas pohon.
Ketika Nomnom turun ke bawah, ia pun sangat kecewa ternyata dirinya di tinggal begitu saja.
__ADS_1
"HAAAAAAAY!" teriak Nomnom memanggil. Tetapi mobil melaju begitu cepat membuat mereka tidak mendengarnya.
"Astaga, aku tidak percaya ini, mereka meninggalkan aku begitu saja. Isht, awas ya, aku akan meminta uang sayembaranya. Iiiiiiiiiiiiiiih, sekertaris Rein, kamu jahat banget sih!" umpat Nomnom merasa bingung seorang diri, mana hari sudah gelap, ia tidak tahu harus bagaimana lagi. Mau menelpon Sekertaris Rein pun pasti handphone sekertaris Rein tidak ada sinyalnya.