
Pagi ini terlihat Asdam terburu-buru turun dari tangga dan berniat akan ke kantor. Nampak sepertinya Asdam sedang ada urusan yang sangat penting dan tergesa-gesa.
Namun langkahnya terhenti karena suara khas adiknya memanggilnya.
"Kakak!?" panggil Alden..
"Ada apa, Alden?" tanya Asdam.
"Kak, bisakah kakak datang ke sekolahan? guru meminta wali murid untuk datang ke sekolahan untuk membahas soal perpisahan sekolah," ujar Alden memberi tahu.
"Kakak akan segera mengirim orang untuk menjadi wali mu. Kamu tenang saja, maaf karena kakak tidak bisa saat ini, Kakak sedang ada meeting penting ke luar kota kali ini," jelas Asdam.
Alden pun langsung terlihat seperti raga yang kehilangan nyawanya. Wajahnya terlihat pucat dan terlihat sangat dingin.
"Tidak perlu, kak. Aku tidak butuh wali kali ini," ujar Alden dengan nada yang sangat kecewa membuat Asdam bener-benar merasa sangat bersalah.
"Alden!?" Asdam pun mencoba untuk mengejar adiknya yang terlihat berlari menuju mobil. Namun, sebuah tangan menghentikan Asdam, ia adalah Chana.
"Asdam, izinkan aku yang menjadi wali Alden. Aku janji akan datang ke sekolahannya hari ini," ujar Chana.
Asdam pun terlihat tidak suka Chana memegang tangannya membuat Chana menyadari jika ia belum melepaskan tangan Asdam.
"Ma-maaf, aku tidak bermaksud," jelas Chana.
"Kamu tidak perlu jadi walinya. Dia tidak akan suka. Dia sudah biasa di wakilkan oleh anak buah ku," jelas Asdam menolak.
"Kamu tahu, aku pernah berada di posisi Alden, jadi aku lebih paham bagaimana perasaan Alden sekarang ini," ujar Chana menjelaskan.
"Anak manja seperti mu mana tahu soal Alden, anak yang sangat mandiri!" sindir Asdam.
",Kamu bahkan tidak paham adik mu sendiri. Sudahlah, di izinkan atau tidak, aku akan tetap menjadi wali murid Alden, titik!" ujar Chana dengan tegas.
"Aku tidak akan pernah mengizinkan!" tolak Asdam dengan tegas pula.
"Baiklah, aku akan telpon mamah sekarang juga!" ancam Chana.
Asdam pun langsung tidak berkutik kala Chana berniat mengambil ponselnya dan berniat untuk menelpon Nyonya Beckham.
"Sudahlah, terserah kau saja!" cetus Asdam yang langsung meninggalkan dengan raut wajah tidak suka atas kekalahannya kepada Chana.
Chana pun hanya tersenyum melihat ketidak berdayaan Asdam dengan ancamannya.
__ADS_1
"Kamu boleh punya nyali, tetapi akulah yang memegang talinya," gumam Chana berbangga diri sebab mertuanya selalu berada di pihaknya.
Chana pun bergegas membawa mobil barunya. Hanya sekelas mobil kelas biasa namun sangat cocok dengan selera Chana.
Chana pun bergegas ke sekolahan Alden. Setelah sampai, Chana terlihat sedikit bingung harus masuk ke mana. Karena dia sendiri tidak pernah masuk ke sekolah elit.
Selama ini Chana hanya sekolah di sekolahan umum. Makannya ke dua orang tuanya tidak sudi hadir di acara perpisahan sekolahnya, orang tuanya memilih untuk hadir di acara perpisahan sekolah Misha, sebab Misha bersekolah di sekolah yang sangat elit, sesuai dengan kemauan orang tuanya.
Jarak usia yang hanya selisih satu tahun, membuat Chana dan Misha bersekolah di waktu yang bersamaan. Karena Chana cukup pintar membuat sekolah bersedia menerima Chana.
Saat sekolah kelas dasar, Misha berusia 7 tahun dan Chana 6 tahun. selisih yang sangat singkat.
Chana memandangi sekolah elit itu dengan perasaan takjub.
"Misha, bukankah dulu kamu sekolah di sini? aku baru tahu, jika biaya sekolah kita dulu berbanding sangat jauh. Kamu benar-benar menghabiskan uang papah untuk sekolah di sini," gumam Chana menggelengkan kepalanya.
Tidak ingin berfikir lebih lama, Chana pun berjalan mencari keberadaan Alden. Saat bertanya dengan seorang satpam, Chana pun di arahkan ke sebuah ruangan auditorium yang terlihat sangat mewah.
Karena datang belakangan, jadi Chana duduk di kursi bagaian belakang. Chana mendengar seksama kepala sekolah yang akan memperkenalkan anak-anak yang akan ikut tampil di atas panggung.
Jika status sosial keluarganya tinggi, maka semakin tinggi pula status yang akan anak murid itu terima sebagai pemerannya.
Jika sebuah drama, maka ia akan menjadi ratu dan rajanya.
Jika soal puitis, maka ia membawakannya dengan narasi terpanjang.
Di sini, siapa yang terkaya, dialah yang terdepan dan terunggul.
Chana menyimak seksama apa yang akan Alden tampilkan. Awalnya Chana menduga jika Alden yang introvert tidak akan mengikuti kegiatan apapun untuk di tampilkan di acara perpisahan nanti. Namun ternyata, pada akhirnya nama Alden di panggil untuk bermain piano solo.
Mata Chana tercengang ketika Alden naik panggung dan ikut bergabung dengan anak-anak lainnya yang akan ikut tampil.
Alden terlihat tidak bahagia seperti anak-anak lainnya yang melambaikan tangan kepada orang tua mereka. Alden terlihat menundukkan kepalanya membuat Chana merasa sangat sakit hati.
Sungguh Chana tidak tega melihat ekspresi Alden. Andai bisa, Chana ingin berteriak dan memberikan dukungan kepada Alden.
Namun Chana sendiri terpaku karena Chana takut jika Alden tidak menyukai kehadirannya.
Acara di tutup dengan pertunjukan Alden yang akan mencoba memainkan piano.
Alden terlihat sangat keren dan sangat mempesona. Semua orang hanyut dalam irama yang Alden ciptakan.
__ADS_1
Chana pun tidak tahan untuk tidak meneteskan air mata. Setiap nada tinggi yang Alden tekan, rasanya semakin kuat rasa sakit yang Alden pendam selama ini.
Usai uji pertunjukan selesai, semua orang hening karena masih hanyut dalam irama Alden.
Prok
Prok
Prok
Suara tepukan tangannya terdengar nyaring di telinga Alden. Alden pun menoleh ke arah tepukan tangan yang sangat membuat hatinya terketuk.
Alden sangat-sangat tidak percaya usai matanya melihat sosok jauh di atas sana. Rasanya sangat sulit untuk ia ekspresikan. Haruskah ia senang, atau marah? entahlah, saat ini Alden hanya bisa membeku menatap Chana yang berteriak namanya dengan kuat.
"Aldeeeeeeeen...semangaaaaaat... kakak mendukung muuuuuuu.... huuuuuuuuu...!" suara teriakan Chana di sambut tepuk tangan semua orang yang ada di dalam auditorium.
Usai acara selesai, Chana pun menunggu Alden di depan pintu keluar. Namun sudah satu jam Chana menunggu, Alden tidak juga kunjung keluar. Chana berfikir jika Alden sedang ada rapat dengan para guru dan teman-temannya. Namun, teman-temannya sudah pada pulang, membuat Chana merasa cemas.
"Maaf, Non, ada yang dapat saya bantu?" tanya seorang satpam.
",Oh, pak, saya sedang menunggu adik saya bernama Alden, apakah dia sudah pulang apa belum ya, pak?" tanya Chana.
"Oh, dek Alden, dia masih ada di ruang latihannya. Jika mau, bisa antar ke ruang latihannya," ujar sang satpam.
"Terima kasih, pak," sahut Chana.
Chana pun mengikuti pak satpam ke ruang latihan Alden. Usai sampai, Chana pun tidak langsung membuka pintu, Chana mencoba mendengar getaran irama emosi yang Alden mainkan. Sampai akhirnya, Chana pun membuka pintu usai Alden selesai memainkan pianonya.
Alden nampak kaget ketika melihat kakak iparnya masih berada di sekolahnya.
"Kenapa kau masih di sini?" tanya Alden terkejut.
"Alden, aku sangat kagum padamu," puji Chana.
"Aku tidak butuh pujian mu!" cetus Alden yang langsung berdiri dan berniat untuk meninggalkan Chana.
Chana pun tidak menghalangi Alden, namun, Alden sendiri menghentikan langkah kakinya usai mendengar suara piano terdengar.
Ketika Alden membalikan badannya, Alden tidak percaya jika Chana-lah yang memainkan pianonya. Alden tidak percaya jika kakak iparnya dapat memainkan piano juga.
Samar-samar, Alden pun tersenyum secara diam-diam.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
(Jangan lupa like dan komen ya:)