
"Katakan padaku, bagaimana bisa kamu bersama dengan Misha dan membiarkan kekasihmu menikah dengan ku?"
Asdam dengan duduk santai menghadap jendela sambil tersenyum sarkas. Entah apa lagi yang merasuki jiwa sikopat Asdam. Tetapi sepertinya ia sangat tertarik dengan sandiwara semua orang.
Di balik telpon, terlihat Ziga dengan gugup menelan salivanya dengan sulit.
"Aku tidak perlu menceritakan bagaimana pengorbanan ku untuk orang yang aku cintai agar bahagia. Tapi sepertinya aku salah besar dengan membiarkan Chana menerima derita ini sendirian. Awalnya aku percaya padamu, tetapi ternyata aku salah besar. Asdam, katakan padaku, di mana Chana sekarang!?" tanya Ziga dengan tegas di balik telpon.
Nafas Asdam pun terlihat memburu ketika mendengar jika Ziga sangat mencintai istrinya. Tetapi, entah gengsi atau apa, Asdam masih menyulitkan dirinya sendiri agar dapat memahami keadaan Chana.
"Dengar, kamu tidak hak saat untuk mendekati istriku lagi. Chana adalah istri ku, dan Misha adalah kekasihku, aku akan pastikan kamu tidak akan pernah mendapatkan keduanya!" sahut Asdam dengan keegoisannya.
"Heh!" Ziga berdecak jijik. "Asal kamu tahu Asdam, aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan Misha. Foto-foto mesra aku dengan Misha, itu hanyalah sebuah lelucon untuk mengelabui dirimu. Misha memang tidak tahu apa-apa, karena akulah yang sudah merekayasa semaunya agar kamu percaya dengan drama yang orang tuamu ciptakan. Tapi satu hal yang harus kamu ingat, jangan sekali-kali kamu menyakiti Chana. Karena aku dan Chana sudah berkorban banyak untuk nama besar keluarga mu. Jika saja aku mendengar kamu menyakiti Chana, maka kamu akan berurusan dengan ku!" ancam Ziga.
Asdam semakin terpanas-panas mendengar pengakuan Ziga. Asdam sangat sulit untuk menerima semua ini. Dirinya yang di tipu, kini hanya menjadi bahan lelucon mereka semua.
Asdam mematikan panggilan itu karena sudah tak ingin berbicara dengan Ziga lagi. Di lanjutkan juga hanya akan semakin membuat harga dirinya jatuh.
Ketika sedang dalam fase emosi, tiba-tiba saja Asdam teringat jika Chana saat ini tidak tahu di mana kabarnya.
Asdam pun langsung keluar dari apartemen Misha dan berniat untuk menemui Chana di rumah. Asdam sangat yakin sekali jika saat ini Chana sedang berada di rumah.
Ketika sampai di rumah, Asdam langsung naik ke tangga dan menuju kamar dengan terburu-buru.
Ketika Asdam membuka pintu kamar, Asdam tidak menemukan Chana di mana pun..
Asdam pun membuka pintu balkon, buka kamar mandi, buka pintu ruang salin, namun semua tiada keberadaan Chana.
"Di mana wanita itu!?" gumam Asdam merasa penasaran.
Asdam pun turun ke lantai dasar untuk mencari Chana..
Ketika mau ke arah dapur, Asdam melihat Nomnom yang membawa tas besar. Sepertinya Nomnom akan pergi dari rumah ini..
"Hey, kamu!" panggil Asdam kepada Nomnom.
__ADS_1
Nomnom pun menoleh ke arah Asdam dengan mata yang sudah memerah dan juga bibir yang terlihat Jontor karena kebanyakan menangis.
Nomnom melihat Asdam dengan penuh kebencian. Nomnom pun berjalan ke arah Asdam yang memanggilnya, dan ....
PLAK! (suara tamparan keras)
Asdam mendelik ketika menerima tamparan dari seorang asisten.
"Kamu!?" Asdam pun mendelik ke arah Nomnom.
Namun Nomnom tidak takut sama sekali dengan Asdam.
"Apa!? kamu mau pukul aku juga!? PUKUL!" Nomnom mendekatkan pipinya. "CEPAT PUKUL SEBELAH MANA YANG KAMU MAU TUAN ASDAM MARQUEZ TERHORMAT!" teriak Nomnom mata yang berapi-api.
"Tidak puas kamu membuat Chana pergi! Tidak puas kamu membuat sekertaris Rein koma sekarang! Kamu melakukan semua ini hanya untuk Misha di wanita licik itu! HAH!" teriak Nomnom dengan kesal..
Asdam pun mengerutkan keningnya tidak terima ketika Nomnom mengatakan jika Misha adalah wanita licik.
Karena di mata Asdam, ia dan Misha adalah korban yang sangat di rugikan.
"Memang tidak ada gunanya bicara orang yang tidak berguna!" ujar Nomnom yang langsung pergi meninggalkan Asdam..
Nomnom benar-benar bingung luar biasa saat ini. Sekertaris Rein koma, dan Chana malah menghilang entah kemana.
Nomnom juga harus membantu Sekertaris Rein untuk membayar rumah sakit, karena Nomnom tidak tahu harus kemana untuk menanyakan keluarga besar Sekertaris Rein. Soalnya, ketika Nomnom bertanya dengan para pelayan lain tentang keluarga besar Sekertaris Rein, mereka mengatakan jika selama ini sekertaris Rein hanya tinggal sendiri, bahkan ada yang mengatakan jika sekertaris Rein adalah anak yatim piatu.
Untuk sementara, Nomnom masih menggunakan tabungannya. Setelah Nyonya Beckham dan tuan Paulo pulang, Nomnom baru akan meminta pertanggung jawaban mereka sebagai bos.
Asdam mengusap wajahnya dengan kasar. Ia sangat tertekan dan juga syok dengan masalah yang kasih sesegar ini.
Setelah terdiam sejenak, Asdam yang awalnya berdiri kursi meja makan pun langsung berdiri dan ia pun akan membalaskan sakit hatinya kepada orang-orang yang sudah bermain-main dengannya.
Sepertinya, tamparan Nomnom tidak membuat Asdam sadar. Justru Asdam semakin berkorban untuk balas dendam.
Asdam pun mengambil ponselnya dan menelpon seseorang. "Sudah saatnya, sebarkan berita itu sekarang juga!" ujar Asdam memerintah seseorang.
__ADS_1
Asdam pun langsung menuju ke kamarnya dan mandi lalu bersalin pakaian kerja dengan rapi.
Asdam melihat dirinya sendiri di cermin yang memantulkan kegagahan dan ketampanan yang sangat arogan.
Setelah siap, Asdam pun keluar dari kamar. Ketika akan turun, tiba-tiba saja pintu kamar Alden terbuka. Terlihat sepertinya Alden sedang mau melakukan les piano.
"Kak Asdam? kapan kakak pulang? Oya, kak Chana bagaimana? apakah dia sakit? atau, apakah kak chana hamil?" tanya Alden dengan polosnya. Karena Alden masih belum tahu apa yang sebenarnya terjadi..
Mengingat jika Alden juga tahu yang sebenarnya, membuat Asdam menatap adiknya dengan tatapan yang sangat dingin.
"Dia tidak hamil." jawab Asdam singkat. Asdam mengatakan apa yang dia ingat ketika saat di USG, janin Chana masih terlihat kosong. Jadi, Asdam belum tahu jika Chana saat ini sedang hamil.
"Em, apakah sakitnya parah? di mana kak Chana sekarang?" tanya Alden.
Melihat kepolosan adiknya, Asdam pun semakin kesal di buatnya.
"Alden, kakak sudah tahu jika Misha sakit," ujar Asdam membuat Alden seketika langsung terlihat seperti hampir tersedak dengan air luarnya sendiri.
"Ka-kak, Asdam sudah tahu? apakah kak Chana yang menceritakannya?" tanya Alden gugup.
"Tidak! aku tahu sendiri!" jawab Asdam.
"Terus, sekarang di mana kak Chana!?" tanya Alden.
"Aku tidak tahu dan aku tidak perduli dengan wanita pembohong sepertinya!" jawab Asdam dengan acuh tak acuh.
"Kak, kamu tidak bisa melakukan ini kepada Kla Chana. Kak Chana tidak bersalah, kak!" ucap Alden mencoba untuk membela Chana.
Namun pembelaan Alden kepada Chana semakin membuat Asdam merasa sangat marah. Asdam hanya merasa, kenapa semua orang pada membela Chana, mengkhawatirkan Chana, selalu menanyakan keberadaannya.
Mengapa tidak ada yang bertanya bagaimana perasaannya, bagaimana kondisi Misha yang sudah sekarat saat ini. Asdam bener-benar jatuh dalam lobang hitam bersama dengan Misha. Sehingga, hanya pemikiran Misha yang dapat Asdam dengar saat ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1