Bukan Wanita Pengganti

Bukan Wanita Pengganti
Bab 33, pikiran kurang tenang


__ADS_3

"Alden, 5 menit lagi tampil ya? bersiap dari sekarang," ujar salah guru mengingatkan Alden.


Alden nampak menganggukkan kepalanya dengan lesu. Lima menit lagi ia akan tampil, tetapi kakaknya tidak kunjung datang.


Alden pun menghela nafas berat sebelum ia melihat sosok dua sejoli yang sedang berlari ke arahnya.


"Aldeen ...!" teriak Chana berlari sambil membawa paper bag di tangannya. Bersamaan, Asdam juga berlari di belakang Chana.


Alden tersenyum sumringah ketika melihat kakak iparnya berlari dengan penuh semangat mendatanginya.


Entah dorongan dari mana, Alden pun ikut berlari ke arah Chana.


"Alden, maafkan kami terlambat, mobilnya tadi pecah ban, ini cepat ganti bajunya!" ujar Chana dengan cepat sambil menahan nafasnya karena ngos-ngosan setelah berlari-larian di gedung sekolah yang cukup besar.


"Kakak!?" mata Alden berkaca-kaca. "Aku akan ganti sekarang," lanjutnya karena ia sudah tidak waktu lagi.


"Kami akan tunggu di dalam," ujar Asdam menyemangati adiknya.


Pertama kalinya kakaknya datang ke sekolah untuk melihatnya, hal ini benar-benar membuat Alden sangat terharu.


"Baik, kak!" sahut Alden bersemangat.


Ketika Alden pergi untuk salin baju, Asdam pun memeluk Chana dengan sangat erat. Terlihat matanya berkaca-kaca.


"Hay, ada apa? kita tidak terlambat, hanya hampir terlambat saja," ujar Chana membalas pelukan suaminya.


"Terima kasih." ujar Asdam.


"Terima kasih?" tanya Chana tidak mengerti.

__ADS_1


Asdam pun menatap mata Chana dengan seksama. "berbakat kamu, akhirnya aku memiliki kesempatan untuk melihat adikku tampil. Ini.. ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki ke sekolahan ini setelah sekian lama aku lulus dari sekolah ini. Aku selalu ada alasan untuk menghindari setiap panggilan Alden untuk datang ke sekolah. Setiap Alden mengadakan acara lomba di sekolah, aku tidak pernah hadir, dan mungkin ini adalah pertunjukan terakhir adikku di sekolah ini, karena setelah ini dia sudah tidak bersekolah di sini lagi. Berkat kamu, akhirnya aku berada di sini untuk memberi dukungan pada adikku. Terima kasih banyak."


Mata Chana pun ikut berkaca-kaca mengingat bagaimana senangnya Alden ketika melihat kakaknya datang. Chana tidak dapat membayangkan, berapa lama adik dan kakak terpisah karena kesibukan yang sebenarnya bisa di atur.


"Aku ikut senang untuk kalian, jadi kamu tidak perlu berterima kasih padaku. Justru akulah yang berterima kasih padamu karena mau menyempatkan diri untuk ikut bersamaku dan menolak panggilan mamah yang memintamu untuk hadir meeting hari ini."


Asdam pun dapat berkata-kata lagi. Berapa beruntungnya dia memiliki Chana di sisinya saat ini. Jika bukan Chana, mungkin selama hidupnya Asdam tidak akan pernah melihat perkembangan adiknya yang sangat besar.


Asdam hanya bisa memeluk Chana dengan erat seolah-olah tidak mau kehilangannya lagi untuk yang kedua kalinya.


Pertunjukan pun akhirnya di mulai. Pembukaan acara di tampilkan pertunjukan Alden yang cukup memukau. Mata Asdam tidak henti-henti mengagumi adiknya yang ternyata memang memiliki bakat yang sangat luar biasa.


Setelah acar pembukaan selesai, Alden pun duduk di antara Asdam dan Chana untuk menyaksikan pertunjukan drama teman-temannya.


"Kakak tidak percaya kau sehebat ini. Harusnya kakak tidak pernah melewatkan pertunjukan mu selama ini," ujar Asdam memuji Alden.


"Ini semua berkat kakak mu, Chana." ucap Asdam memuji Chana di depan Alden..


"Aku tahu," jawab Alden yang menatap Chana dengan penuh rasa terima kasih.


Adik dan Kakak itu menatap Chana dengan seksama dan tersenyum penuh arti. Namun tatapan mereka membuat Chana salah tingkah karena malu.


"Ke-kenapa kalian menatapku seperti itu? aku tidak melakukan sesuatu yang luar biasa," ujar Chana merasa salting di tatap oleh dua pria tampan.


Alden dan Asdam tersenyum melihat Chana yang salting.


"Kak, terima kasih banyak untuk bajunya. Ini benar-benar nyaman dan terasa pas di badanku," ujar Alden.


"Syukur jika kamu suka."

__ADS_1


"Oya, kak Chana dekat dengan Davis? pianis terkenal itu? ini sungguh luar biasa. Bisakah kakak Chana meminta Davis agar mau menjadikan aku salah satu muridnya." punya Alden dengan antusias.


"Kamu tahu dari mana?" tanya Chana heran, karena Chana tidak tahu jika acara Davis kemarin di siarkan secara streaming juga.


"Waktu konser Davis, ulang tahun kakak juga di rayakan di sana. Itu benar-benar sangat luar biasa." Alden tak henti-henti memuji kakak iparnya.


Chana pun nampak gusar ketika mengetahui jika acara itu di tonton di seluruh dunia. Chana merasa tidak enak hati jika sampai Misha dan Ziga melihat semua ini.


Apakah ini alasan Misha meminta pulang?pantas saja Misha kemarin malam marah-marah gak jelas dan mengutuk ku. batin Chana.


"Alden, apakah kamu benar-benar ingin menjadi seorang pianis?" tanya Asdam dengan serius. Karena Asdam tahu, jika orang tuanya tidak akan membiarkan ini. Kedua orang tuanya kini sedang mati-matian membangun perusahaan di AS untuk masa depan Alden.


"Iya, kak!" sahut Alden antusias.


"Baiklah, kakak akan coba menghubungi teman kakak agar mau menerima kamu menjadi muridnya. Dia juga pasti merasa sangat memiliki murid hebat seperti mu," ujar Chana.


"Terima kasih, kak." sahut Alden.


Asdam pun terdiam dengan pikirnya sendiri. Asdam harus melakukan sesuatu agar kedua orang tuanya setuju agar membiarkan Alden menentukan pilihannya sendiri.


Sedangkan Chana pun kembali membisu. Matanya memang tertuju pada pertunjukan di panggung, namun pikirannya melayang memikirkan Misha yang kemungkinan sekarang sudah sampai juga kerumah.


Ancaman Misha tempo hari membuat Chana sulit bernafas. Bagaimana jika Misha menghubungi Asdam diam-diam. Hati Chana benar-benar terasa tidak nyaman saat ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2