
Malam ini Asdam terlihat lelah, lelah pada pikiran dan tenaga. Ia masuk ke dalam kamar dan melihat Chana yang duduk melamun di atas balkon sambil menatap bulan.
Melihat Chana yang terlihat sendu, Asdam pun sepertinya mulai membuka pikirannya. Asdam merasa sangat bersalah dengan sikapnya selama ini kepada Chana.
Asdam merasa, jika ia terlalu kasar dan berburuk sangka kepada Chana.
Chana sudah banyak berkorban untuk menikah dengannya gara-gara kakaknya.
Asdam hanya berfikir, hanya demi nama baik keluarga, Chana rela melepasnya kekasih, mungkin. Atau pun meninggal masa-masa lajangnya, ataupun masa karirnya yang sedang ia bangun.
Asdam merasa dirinya terlalu keras dan kasar untuk sekedar mendengarkan sebuah penjelasan. Rasa kaget, sakit, tidak percaya sudah menutup mata dan hatinya.
Asdam pun mendekati Chana dan duduk di sampingnya. Chana terlihat kaget ekspresinya masih terlihat tenang.
"Chana?" Asdam membuka suara namun tatapannya jauh tertuju pada bintang dan bulan.
"Iya?" Chana pun menatap rahang Asdam nampak tirus.
"Hmm.. meskipun sampai saat ini masih tidak mengerti, tetapi aku kini sadar jika aku terlalu kasar padamu," ujarnya.
Chana pun tersenyum. "Aku mengerti kemarahan mu," sahutnya.
"Chana, aku tidak ingin menakan hidupmu hanya karena perjodohan konyol ini. Maka dari itu, mari lahirkan anak dan kita akan berpisah," ujar Asdam membuat Chana pun mendelik.
Asdam kini menatap mata Chana yang ternyata terlihat bulat dan nampak indah. Baru Asdam sadari, jika Chana memiliki wajah yang lebih manis dan imut. Namun hatinya masih belum jatuh kepada perasaan yang mendalam.
Asdam hanya baru menyadari fisik Chana, bukan pada perasaannya yang masih kalang kabut memikirkan cintanya yang berkhianat.
"Asdam, apakah kamu yakin apa yang kamu katakan?" tanya Chana meyakinkan.
"Lahirkan dua anak, satu untuk penerus keluarga ku dan satunya untuk penerus keluarga mu. Yang mereka inginkan hanyalah, dia darah saling menyatu. Darah kita tidak akan menyatu sampai terlahir seorang anak," ujar Asdam dengan yakin.
Mendengar ucapan Asdam, Chana hanya bisa menghembuskan nafas ketidak berdayaan. Ia sendiri masih sangat bingung harus bagaimana.
"Chana?" Asdam menatap mata Chana dan Chana pun hanya bisa membalasnya dengan tatapan kosong.
"Aku tidak tahu bagaimana cara memulainya," ujar Asdam membuat Chana pun tertawa secara perlahan sampai akhirnya ....
__ADS_1
"Hahahaha... kamu tidak tahu cara buat anak? Asdam, orang seperti mu bener-benar tidak dapat di percaya," sahut Chana merasa tergelitik mendengar pengakuan Asdam..
Asdam pun tidak terima dengan tuduhan Chana. "Bukan itu maksud aku, Chana!" ujar Asdam menjelaskan.
"Lalu, apa?" tanya Chana yang masih menahan geli di perutnya.
Melihat wajah Chana masih meremehkan, Asdam pun langsung mendorong Chana sampai Chana terlentang di sofa.
Asdam menatap mata Chana yang mendelik kepadanya. Suasana kini terlihat sangat sunyi dan canggung. Jantung Chana berdegup kencang dan nafasnya memburu.
Asdam dengan lembut menyeka beberapa helai rambut Chana yang menutupi wajahnya. Sikap Asdam benar-benar membuat Chana merasa mati kutu.
Melihat kepanikan mulai menyelimuti ekspresi wajah Chana, Asdam tertawa dan kembali duduk seperti semula.
"Hahaha, begitu saja sudah tegang," ejek Asdam menertawai Chana.
Chana yang kesal karena sudah di kerjain pun langsung mengigitnya lengan Asdam.
"AUUW!" ringis Asdam kesakitan.
"Kenapa? apakah kamu berharap aku akan melakukannya?" sindir Asdam mengejek Chana.
Chana pun mendelik dan melototi Asdam. "Kamu! isht, ya enggaklah, gilak aja!" elak Chana dengan cepat.
"Apa kamu masih berfikir jika aku tidak bisa membuat anak?" tanya Asdam.
"Tidak, sekarang aku paham kamu adalah suhu-nya!" sahut Chana yakin.
Asdam pun hanya tersenyum melihat ekspresi wajah Chana. Kini, Chana terlihat seperti lepas dari perasaan yang menyekapnya. Ekspresi wajah Chana kini terlihat lepas dan tidak seperti tertekan dari sebelumnya.
"Aku hanya bingung dari mana harus memulainya, karena aku tidak ingin menyentuh wanita yang tidak mau aku sentuh, dan aku tidak ingin memaksanya," jelas Asdam membuat suasana kembali terasa canggung.
Sepertinya mereka saling mengerti perasaan satu sama lain. Asdam tidak ingin memaksa Chana, dan Chana sendiri memang belum siap untuk itu.
Nyonya Beckham yang awalnya ingin memberikan sebuah obat penyubur alami dari kakek pun sedari awal telah menyaksikan kedekatan Asdam dan juga Chana.
Dari waktu Asdam menindih tubuh Chana, Nyonya Beckham diam-diam bersembunyi dan menguping pembicaraan Chana dan juga Asdam. Nyonya Beckham merasa senang karena akhirnya Asdam mau membuka kenyataan.
__ADS_1
Nyonya Beckham pun pelan-pelan keluar dan langsung memberi kabar bahagia ini kepada kakek dan juga suaminya. Nyonya Beckham menceritakan keseruan Asdam dan juga Chana yang mana mereka sudah mau mulai terbuka.
"Mah, jika begitu, kita harus membelikan tiket untuk mereka agar mereka bisa bulan madu bersama, bagaimana? Papah akan meng-cancel semua jadwal papah ke luar kota agar bisa menghandle yang ada di sini. Jangan lewatkan kesempatan ini, mumpung mereka belum berubah pikiran!" seru Tuan Paulo merasa bersemangat.
Kakek pun tersenyum mendengar kabar bahagia ini. Sebab, ia sendiri selalu sulit bernafas ketika melihat Asdam yang selalu berpura-pura romantis kepada Chana hanya agar dirinya percaya jika semuanya baik-baik saja.
Ketika Nyonya Beckham dan tuan Paulo sibuk mencari tiket bulan madu untuk Asdam dan juga Chana, di sisi lain, terlihat suasana mulai memanas.
Tuan Bea- dengan kasar menampar istrinya di dalam kamar mereka.
PLAK! (suara tamparan)
"AHK!" Mama Tirana pun meringis kesakitan.
"Beri pelajaran pada anak itu. Aku benar-benar sudah muak dengannya. Aku akan memberhentikan biaya pengobatan untuknya, biar dia merasakan apa akibatnya melawan papahnya sendiri! Apa yang akan aku katakan pada keluarga Marquez, jika memang benar Misha-lah yang sudah mencoba untuk mencelakai Chana!" Tuan Bea- terlihat sangat marah dan emosi.
Nyonya Tirana hanya bisa menangis dan pasrah tatkala Tuan Bealonza mengambil ikat pinggang dan mencambuk punggungnya.
"AHK!
"AHK!
Nyonya Tirana hanya bisa menahan kepedihan ini seorang diri. Nyonya Tirana sendiri sudah mencoba bertahan bertahun-tahun lamanya menghadapi suaminya.
Semua demi keluarga dan anak-anak agar dapat hidup dengan layak.
Namun, kemarahan Tuan Bealonza bukan tanpa alasan.
Sewaktu mereka di jodohkan dan menikah, diam-diam pada kala itu Nyonya Tirana menjalin hubungan gelap dengan seorang pria.
Ketika kehamilan Misha, tuan Bealonza tidak percaya jika itu adalah anaknya. Namun, tes DNA mengatakan jika anak itu tetaplah anaknya.
Meksipun begitu, bayang-bayang kemesraan Nyonya Tirana dan kekasih gelapnya pada masa itu, terus terbayang-bayang di kepala tuan bea- sampai saat ini. Maka dari, setiap Nyonya Tirana melakukan kesalahan ataupun anaknya melakukan kesalahan, Tuan Bea- akan sangat marah dan mengingat pengkhianatan Nyonya Tirana untuk mencari alasan agar dapat bisa menyiksanya.
Meskipun Nyonya sudah tidak lagi berhubungan dengan pria itu, namun amarah Tuan Bea-tetap tidak semudah itu hilang.
Alhasil, hanya karena kesalahan di masa lalu, nyonya Tirana harus merasakan akibatnya sampai sekarang.
__ADS_1