
Chana hanya mengangguk dan tersenyum canggung. Chana sangat mengerti apa yang di maksud oleh mama Beckham.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
"Kamu jaga dirimu baik-baik, ya? Oya, dokter kandungan akan datang hari ini, kan? ingat, kamu jangan kemana-mana dan jaga kesehatan tubuhmu. Setelah kecelakaan itu, mamah tidak mau kamu kenapa-napa lagi," ujar Nyonya Beckham.
"Iya, mah. Meskipun mamah sangat sibuk, tapi mamah masih ingat jadwal pemeriksaan Chana." Chana pun memeluk mertuanya dengan lembut. Chana sangat terharu dengan kasih sayang mertuanya untuk dirinya.
"Iya, donk. Demi keturunan keluarga Marquez, mamah harus tetap ikut adil mengawasinya. Lahirkan putra-putri yang baik untuk keluarga Marquez, kamu harus janji kepada mamah?"
"Baik, mah. Chana akan menjaganya sebaik mungkin ketika Chana nanti hamil," jawab Chana.
"Bagus, ya sudah, mamah berangkat dulu ya. Jaga dirimu baik-baik, jika mau joging jangan keluar rumah, joging di taman belakangnya saja, oke!?"
"Oke, mah. Hati-hati di jalan ya, mah?"
"Iya, sayang!"
Chana pun menatap punggung kuat milik ibu mertuanya. Sekeras itu mereka bekerja dan berjuang untuk keluarga. Tetapi, Nyonya Beckham sepertinya kehilangan jati diri atas keibuannya. Terlalu lama terjun ke dunia pekerjaan, Nyonya Beckham lupa jika anak-anak pun tidak hanya butuh uangnya, melainkan kasih sayang dan juga perhatiannya.
Chana pun memandangi kepergian ibu mertuanya dengan hati yang cukup prihatin. Setelah beberapa saat, Chana pun teringat Nomnom yang masih juga tidak menunjukkan batang hidungnya.
"Anak itu kemana sih, katanya ngajak joging, jam segini masih belum juga muncul!" gumam Chana kesal.
Ketika Chana masuk ke dalam kamarnya, Ia sangat terkejut ketika melihat Nomnom yang masih tidur dengan posisi melintang dan terlentang.
"NOMNOOOOOM..!" teriak Chana dengan kencangnya. Tetapi, Nomnom masih terlihat pulas, bahkan suara dengkurannya pun semakin kuat.
Chana pun berjalan ke dapur untuk mengambil sesuatu.
"Nona Chana, apakah ada yang dapat saya bantu?" tanya seorang pelayan yang sedang memasak di dapur.
"Apakah ada lemon?" tanya Chana.
"Ada, Non. Sebentar saya ambilkan," ujar pelayan yang langsung mengambil lemon untuknya.
"Ini, Non. Em, apakah mau saya buatkan minuman jus lemon?" tanya pelayan di kira Chana akan membuat minuman.
"Oh, tidak. Ini bukan untuk minuman, tapi untuk menyadarkan orang yang sedang sekarat," ujar Chana tersenyum kepada pelayan membuat pelayan hanya menggaruk-garuk kepalanya karena tidak mengerti apa yang di maksud dengan kata-kata Chana.
Chana pun dengan iseng memeras lemon ke mulut Nomnom yang ternganga sangat lebar. Ketika tetesan air lemon jatuh ke mulut Nomnom, Chana pun merasa ngilu pada mulutnya sendiri. Tidak dapat di bayangkan betapa kecutnya ini.
Nomnom pun mengecap lemon yang masuk ke dalam mulutnya secara tidak sadar, kemudian... "Uweeeek....Aaaaaaa... uweeeeek ....!" Nomnom pun terjingkat dari tidurnya sambil melepehkan sesuatu dari mulutnya..
__ADS_1
"Hahahaha...!" Chana pun tertawa melihat ekspresi wajah Nomnom.
"Oh my lady lady lady..! Chana, kamu masukin apa ke dalam mulut ku!" teriak Nomnom terkejut.
"Ini..!" jawab Chana menunjukan lemon yang masih ada di tangannya. "Sebelum olah raga, setidaknya kamu harus memakan sesuatu yang bisa membantu mempercepat untuk membakar lemak," lanjutnya mengejek.
"Bukannya turun lemak yang ada asam lambung, gue!" sahut Nomnom kesal, namun wajahnya yang manis membuat Chana tidak berhenti tertawa.
"Hahahaha..!"
"Tawa mulu! udah ah, aku mau mandi dulu!" ujar Nomnom yang langsung ke kamar mandi.
Chana pun hanya menggelengkan kepalanya sambil berkata, "aku tunggu di halaman belakang, buruan!" teriak Chana.
"Terserah!" sahut Nomnom yang masih kesal dengan Chana.
Chana pun berjalan ke taman belakang yang cukup luas. Bahkan luasnya hampir sama seperti taman-taman yang ada di pinggiran kota.
Chana belum pernah menyelusuri halaman belakang ini sepenuhnya. Dia hanya melihat taman belakang dari atas balkon kamarnya yang menghadap ke taman belakang dan juga menghadap ke kolam renang. Balkon kamar Asdam cukup besar sesuai dengan ukuran kamarnya yang besarnya dua kali lipat dari kamar Chana sendiri. Padahal kamar Chana sendiri sudah cukup besar menurutnya.
Chana sebelum berlari memutuskan untuk olah raga pemanasan terlebih dahulu. Ketika baru akan mulai, Chana melihat Alden yang sudah berkeringat pulang ke rumah. Sepertinya Alden juga habis lari pagi di taman belakang.
"Alden?" sapa Chana.
"Kamu habis maraton?" tanya Chana.
"Oh, iya kak. Kak Chana juga mau maraton?" tanya Alden.
"Iya, ini kakak sedang nunggu teman kakak, Nomnom."
"Oh, asisten baru kakak itu ya?"
"Iya, tapi lebih tepatnya dia sahabat kakak," jawab Chana.
Alden pun hanya mengangguk, "ya sudah, Alden masuk dulu ya kak. Alden mau istirahat dan mandi," ujar Alden berpamitan.
"Oh, iya."
Ketika Alden masuk ke dapur untuk ambil air putih, Nomnom pun ke dapur untuk untuk ambil air putih juga untuk di bawanya.
"Hay, tuan muda tamvan, habis olah raga juga ya?" tanya Nomnom ramah.
Alden adalah kulkas seribu pintu, jelas dia tidak akan semudah itu menjawab pernyataan orang asing. Alden hanya melirik Nomnom sekilas seolah-olah menganggapnya tidak ada.
__ADS_1
Nomnom pun merasa mati kutu ketika di cuekin oleh anak berusia 15 tahun. Rasa sakitnya pun terasa sampai ke ubun-ubun.
"Dasar brondong sombong, tunggu sampe langsing nanti, tidak hanya sekertaris Rein, kau pun akan menatapku sampai matamu mau copot, tunggu saja!" gumam Nomnom dengan kesal.
Setelah mengambil sebotol air putih, Nomnom pun berjalan ke halaman belakang dan menemui Chana.
"Hey, udah berkeringat aja?" sapa Nomnom.
"Lama banget, sih!? keburu panas tau," ujar Chana.
"Gapapa, sekalian berjemur biar eksotis, hehehe..!" jawab Nomnom.
Akhirnya mereka pun berlari mengelilingi taman bunga sampai 3 putaran. Chana yang biasanya kuat, entah mengapa rasanya dia kali ini terasa sangat lemah.
Berbeda dengan Nomnom, ketika ia berlari, ia selalu melihat sekertaris Rein ada di depan matanya dan menunggu kedatangannya, sehingga dia terus berlari untuk mengejar sekertaris Rein.
Ketika Chana berhenti, "Nom, udahan yuk? aku capek banget nih!" ujar Chana namun tidak di dengar oleh Nomnom yang terus lari sekuat tenaga.
Bayang-bayang sekertaris Rein membuat kuping Nomnom budek.
Di sisi lain, terlihat Asdam yang menggeliat dan menyadari jika istrinya sudah tidak ada di sampingnya. Asdam pun bangun dan melihat dirinya yang sudah memakai baju, padahal Asdam ingat ia tertidur tanpa menggunakan apapun.
Asdam pun tersenyum, ia sudah mengira jika istrinyalah yang sudah memakaikannya baju.
Asdam pun berjalan ke balkon untuk menghirup udara pagi. Ketika sedang menikmati suasana pagi, matanya pun tertuju pada Chana yang sedang berlari dengan lemas mengikuti Nomnom yang terlihat sangat bersemangat.
Chana terlihat seperti sangat lemas dan terlihat sangat kelelahan. Asdam yang melihat itu dari atas balkon terlihat panik melihat istrinya yang sepertinya akan tumbang.
Dan ... belum juga Asdam akan turun, Chana pun pingsan tanpa sepengetahuan Nomnom yang terus terbayang-bayang oleh sekretaris Rein.
"CHANAAAA!" teriak Asdam membuat Alden yang sedang berenang di kolam pun ikut menengok.
Alden juga melihat dari kejauhan jika kakak iparnya sudah pingsan. Alden pun langsung naik dari kolam renang dan berlari ke arah Chana.
Asdam pun tidak kalah cepatnya menuruni anak tangga sambil berteriak ke pelayan. "CEPAT PANGGIL DOKTER!" teriak Asdam sambil terus berlari ke taman belakang.
................
Jangan lupa like dan komen karya ini supaya otor semangat up up dan up...:)
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
__ADS_1
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ