Bukan Wanita Pengganti

Bukan Wanita Pengganti
Bab 41, Akhirnya terungkap


__ADS_3

Terlihat Chana keluar dari kamar kecil dan menunjukan hasilnya kepada dokter. "Dok, lihatlah?" ucap Chana memberikan hasil testpacknya kepada dokter.


Dokter pun tersenyum ketika melihat garis dua, "syukurlah, sesuatu dengan dugaanku," jawab dokter menghela nafas lega.


"Oya, di mana suamiku?" tanya Chana.


"Tadi sih saya melihat beliau keluar untuk mengangkat telpon," jawab dokter.


Chana pun mengerti dan berniat untuk menyusul Asdam. Ketika Chana membuka pintu, Chana melihat Asdam yang berlari begitu cepat di koridor rumah sakit menuju keluar.


"ASDAM!?" teriak Chana memanggil suaminya yang terlihat sangat buru-buru. Takut jika ada sesuatu, Chana pun ikut berlari untuk menyusul Asdam.


Ketika sudah berada di pintu keluar, Asdam langsung menuju ke mobilnya dan langsung pergi meninggalkan Chana yang masih berusaha untuk mengejarnya.


Chana terlihat bingung dengan Asdam yang tiba-tiba saja meninggalkan darinya dengan raut wajah yang terlihat sangat tegang.


Bertepatan dengan Asdam yang sudah akan pergi dari parkiran, sekertaris Rein dan Nomnom pun datang dengan tepat waktu.


Melihat mobil yang tidak asing, Chana pun langsung mendekati mobil sekertaris Rein.


"Sekertaris Rein, cepat ikuti mobil Asdam di depan sana!" ucap Chana yang langsung masuk ke dalam mobil dengan panik..


Sekertaris Rein merasa jika ada sesuatu yang salah, ia pun tidak banyak tanya dan langsung mengikuti perintah Chana.


"Chana, ada apa ini?" tanya Nomnom yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Sekertaris Rein.


Nomnom pun mengerti tatapan Rein dan ia pun meralat ucapannya sebelum Chana menjawab. "Oh, maksud saya, Nona, apa yang terjadi dengan tuan Asdam? kenapa dia meninggal anda sendirian? bukankah katanya anda sakit?" tanya Nomnom.


"Aku gak sakit, Nom, aku hamil. Aku gak tau apa yang mau Asdam lakukan. Kenapa dia terlihat sangat buru-buru!" jawab Chana yang terus memantau mobil Asdam yang terlihat melaju dengan kecepatan tinggi.


"Oh, my lady lady lady..! selamat untuk anda Nona Chana, saya ikut senang mendengarnya!" sahut Nomnom sangat antusias.


"Selamat untuk anda Nona Chana," sahut Sekertaris Rein juga.


"Terima kasih," jawab Chana singkat. Entah mengapa perasaan Chana terasa tidak enak. Matanya masih terus memantau mobil Asdam. Chana benar-benar tidak ingin kehilangan jejak Asdam.

__ADS_1


Tidak berselang lama, akhirnya mobil Asdam berbelok dan menuju ke apartemen milik Misha.


Chana pun menutup mulutnya tidak percaya. Sekertaris Rein dan Nomnom yang belum tahu tentang kepulangan Misha terlihat tidak mengerti ada apa sebenarnya yang terjadi.


Ketika Asdam turun dari mobil, ia langsung berlari sekuat tenaga. Tidak ingin berlama-lama, Chana pun langsung menyusul Asdam tanpa banyak kata-kata lagi..


Sekertaris Rein dan Nomnom pun hanya bisa mengikuti Chana dan Asdam tanpa banyak bertanya lagi.


Ketika Asdam menaiki lift, Chana pun langsung bergegas masuk ke dalam lift sebelahnya. Karena buru-buru, akhirnya sekertaris Rein dan Nomnom ketinggalan untuk masuk ke dalam lift.


"Ah, ya ampun! Chana kenapa sih kok buru-buru banget!?" keluh Nomnom melihat angka yang harus di tuju, yaitu lantai tiga puluh (30).


Sekertaris Rein pun tidak ingin banyak kata-kata lagi. Sekertaris Rein juga merasakan jika ini tidak akan baik untuk Chana maupun Asdam.


Melihat pangerannya bergegas menaiki tangga darurat, Nomnom pun dengan terpaksa mengikuti langkahnya.


Meskipun Nomnom masih merasa letih pada betis kakinya karena sudah maraton banyak putaran, kini ia masih harus menaiki tangga sampai ke 30 lantai.


"Oh, my lady lady lady ...! ada apa sih sama orang-orang ini, kenapa hari ini orang-orang aneh-aneh banget," gumam Nomnom terlihat kelelahan padahal ia baru saja sampai di lantai tiga.


Melihat Sekertaris Rein yang sudah jauh berada di atas, Nomnom dengan terpaksa terus melanjutkan langkah kakinya untuk menyusul.


Asdam pun langsung bergegas menuju ke tempat yang sudah tidak asing baginya. Karena dahulu, ini adalah tempat istirahatnya ketika ia lelah bekerja.


Chana nampak sulit bernafas kali ini. Jantungnya berdebar-debar tidak karuan. Chana tahu jika ini akan berakhir. Segalanya sudah tidak dapat di tutup-tutupi lagi.


Chana mencoba untuk menenangkan dirinya agar tetap tenang dan akan mencoba untuk menjelaskan semuanya kepada Asdam dan juga Misha.


Terlihat Asdam dengan perlahan membuka pintu apartemen milik Misha, ternyata pintunya tidak kunci.


Asdam dengan ragu-ragu masuk ke dalam dan melihat sosok seorang wanita yang duduk di kursi roda sambil menghadap ke jendela.


Terlihat Misha hanya seorang diri, mungkin perawat dan juga asisten rumah tangganya sudah pulang.


Asdam nampak bergetar ketika melihat kondisi Misha yang berada di luar jangkauannya.

__ADS_1


"Mi-misha Alonza?"


suara Asdam membuyarkan lamunan Misha yang terlihat sangat pedih sekali. Terlihat air mata yang terus membasahi pipinya.


Misha pun memutarkan badan dan juga kuris rodanya ke arah sumber suara.


Kini dua pasang mata akhirnya saling bertatapan kembali. Perasaan marah, perasaan kecewa, ketidakadilan, ketidakpercayaan, tercampur aduk di dalam diri mereka.


Melihat wajah pucat Misha yang terlihat murni dan tidak di buat-buat, membuat Asdam semakin terpecut-pecut dalam dadanya.


"Asdam?" Misha pun semakin deras meneteskan air matanya ketika saat bibirnya menyebut nama seseorang yang selama ini menemani hidupnya.


"Misha, apa yang terjadi padamu?" tanya Asdam yang langsung berlutut di bawah Misha dan memegang ke dua tangannya.


Misha pun menggelengkan kepalanya merasa tidak percaya dengan sikap Asdam yang saya bergaya jika ia tidak tahu apa-apa.


"Asdam, kau meninggalkan aku di saat aku koma sehari sebelum pernikahan kita. Hanya karena kamu tahu aku sakit, kamu dengan tega menikahi adikku sendiri.... Hiks...hiks...!" Misha pun tak kuat menahan air matanya lagi. Rasanya sangat sekali mengingat pengkhianatan semua orang kepadanya. "Kenapa Asdam! kenapa harus Chana!? kenapa kamu tidak mencari wanita lain di luar sana!? kenapa harus adikku sendiri!" lanjutnya sambil memukuli wajah dan baju Asdam yang terlihat sedang menunduk dan mencerna semua apa yang di katakan oleh Misha.


"Puas kamu Asdam! puas kamu melihat aku menderita seorang diri seperti ini!? puas kamu bercinta, bermain, bermesraan dengan adikku sendiri di atas penderitaan aku! KEJAM KAMU ASDAM, KEJAAAM!" Misha pun mendorong Asdam dengan kuat sampai-sampai ia pun terjatuh dari kursi rodanya.


BRUK!


"Misha!?" Asdam pun mencoba untuk membantu Misha yang terjatuh.


"Lepaskan aku!" teriak Misha menolak pertolongan dari Asdam.


Asdam terlihat sangat sakit mengetahui semua ini. Sampai sini, Asdam sudah dapat menyimpulkan jika segalanya adalah rekayasa. Semua hanyalah tipu daya orang-orang yang gila kuasa.


Asdam pun bangkit dengan sekujur tubuhnya yang luka karena amarah. Asdam pun berjalan menjauhi Misha karena sikap tempramental akan kambuh kembali. Sungguh Asdam sudah tidak tahan dengan tekanan batin yang sangat menyiksa jiwanya.


BRUAAAAK!


(Asdam membanting tv LED besar milik Misha)


"HUAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

__ADS_1


Asdam pun akhirnya berteriak sekuat tenaga untuk melepas api di bergejolak dalam jiwanya.


Yups, akhirnya ketahuan juga, bagaimana kisah selanjutnya, jangan lupa like dan komen ya, beri dukungan agar otor semangat up up up:)


__ADS_2