
Mata tajam itu menatap wanita yang berdiri kaku di belakang pintu kamar. Asdam tidak melepaskan tatapannya meskipun Chana nampak sangat rikuh dengan tatapan itu.
Asdam pun perlahan berjalan mendekati Chana yang terlihat bingung harus bagaimana. Sakit di kepalanya membuat sulit untuk berfikir apa mengambil tindakan yang tepat untuk menghindari Asdam.
"A-asdam, aku harus istirahat," ujar Chana yang memberanikan diri berjalan ke arah Asdam dan melewatinya begitu saja.
Chana langsung menuju kasur dan merebahkan diri. Asdam nampak terdiam melihat Chana yang sepertinya sengaja menghindarinya.
Tetapi sepertinya memang ada hal penting yang harus Asdam bicarakan.
"Chana, ada yang ingin aku tanyakan?" ucap Asdam mendekati Chana.
"Iya, apa? katakan saja," jawab Chana.
"Aku hanya ingin bertanya, jika memang Misha berselingkuh dengan teman lelakinya itu, apakah kau tahu di mana mereka?" tanya Asdam perihal Misha.
Chana pun terdiam, dia sangat bingung harus berkata apa kali ini.
"Aku berjanji tidak akan balas dendam ataupun menyakiti dia. Aku hanya ingin bertanya padanya, mengapa dia melakukan ini padaku, padamu, dan juga Alden," ujar Asdam yang masih berdiri dan menatap Chana dengan tatapan mata penuh kekecewaan dan pertanyaan yang menyelimuti hatinya.
Apa maksudnya pria ini? Misha melakukan apa terhadap Asdam, Aku, dan juga Alden. Bukankah Misha adalah korban yang sesungguhnya dari keserakahan orang tua kami. batin Chana.
"A-apa maksud kamu, Asdam?" tanya Chana.
"Aku sudah menangkap supir truk yang sengaja ingin menabrak kamu dan juga Alden. Dia mengaku jika dia suruh oleh seseorang yang bernama Misha," jelas Asdam.
__ADS_1
"APA!?" Chana pun langsung loncat dari kasur, membuat kepalanya langsung mencekit-cekit. "Awh!" Chana pun spontan langsung sempoyongan.
Asdam yang melihat itu pun langsung segera menolong Chana dan membantunya agar tetap berdiri.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Asdam.
"Aku tidak apa-apa," jawab Chana yang langsung melepaskan tangan Asdam yang memegangi tangannya. Chana pun memilih untuk duduk sendiri.
"Asdam, aku tidak mengerti apa yang kamu katakan. Misha tidak akan pernah berbuat seperti itu padaku," ujar Chana mencoba untuk membela kalanya, meskipun hatinya terasa ragu.
"Dia menghancurkan pernikahan kami, lalu dia pergi meninggalkan aku dengan kekasihnya, kini, setelah dia tahu aku menikahi adiknya, bahkan dia dengan tega ingin membunuhmu dan juga adikku. Wanita licik itu, aku tidak mengerti apa maunya," jelas Asdam dengan geram.
Chana hanya terdiam mendengarkan Asdam yang mencaci maki Misha. Chana sendiri tidak tahu harus membela siapa saat ini. Andai benar Misha-lah yang melakukan itu, maka Chana sendiri tidak bisa menyalahkannya sepenuhnya. Namun, Chana sendiri tetap tidak bisa untuk mengatakan yang sebenarnya pada Asdam tentang ini.
Asdam pun mengerutkan keningnya mendengar jawaban Chana.
"Mengerti? mengerti soal apa?" tanya Asdam.
"Oh, tidak, tidak! bukan apa-apa. Sudahlah, mungkin ada seseorang yang sedang mengadu domba. Mereka ingin menyalahkan Misha demi ke untungan mereka sendiri," jawab Chana.
Asdam pun terdiam mendengarkan jawaban Chana. Asdam merasa sangat curiga dengan gelagat Chana yang terlihat aneh.
Namun, Asdam sendiri memang tidak bisa memastikan apakah benar itu Misha atau bukan, sebab begini ceritanya ......
Malam setelah kecelakaan Chana dan juga Alden, Asdam diam-diam menyelidiki sendiri mobil truk yang mencoba untuk mencelakai Chana.
__ADS_1
Asdam menyuruh seseorang secara diam-diam tanpa sepengetahuan siapapun termasuk sekertaris Rein. Sampai pada akhirnya, kurang dari 24 jam, Asdam dan orang suruhannya berhasil menemukan mobil yang sudah mencelakai Chana.
BRUAK! (suara hantaman)
Asdam membanting supir truk itu dengan kuat sampai tubuhnya membentur meja.
"Tuan, ampuni saya! Sungguh saya hanya di perintah oleh seseorang!" ujar supir itu meringis kesakitan.
"Siapa orang yang sudah berusaha ingin melenyapkan istri dan juga adikku? CEPAT KATAKAN!" bentak Asdam sambil menodongkan pistolnya ke kepala supir truk itu.
"Ampun, Tuan! tolong jangan bunuh saya, saya sungguh tidak tahu siapa yang memerintahkan saya, dari suaranya dia adalah seorang wanita," jawab supir truk itu dengan ketakutan.
"Seorang wanita? apakah dia Misha?" tanya Asdam.
"Iya Tuan, iya, namanya adalah Misha," jawab supir itu asal. Sebab sebenarnya dia sendiri tidak tahu siapa yang sudah memerintahkannya.
Mendengar supir itu mengatakan iya, Asdam pun langsung merasa lemas dan tidak berdaya. Perasaannya sangat hancur dan tidak menduga jika Misha akan melakukan hal ini.
Supir truk itu pun, ketika Asdam lengah, dia kabur dengan cara lompat ke pinggir laut, karena mobil truk itu saat ini berada pelabuhan ilegal.
BYUR!
Ketika mendengar suara itu, Asdam pun langsung turun dari kapal dan langsung pergi meninggalkan pelabuhan.
...****************...
__ADS_1