
Ini adalah malam terakhir Ziga bersama dengan Chana. Ziga meminta izin kepada Chana, agar dirinya di perbolehkan tidur di sampingnya malam ini.
"Aku janji tidak akan melakukan apapun seperti biasanya." ujar Ziga.
"Aku percaya padamu," jawab Chana yang spontan langsung memeluk Ziga.
Chana bukan ingin merayu Ziga, tetapi itu adalah ungkapan terima kasih sebesar-besarnya kepada Ziga karena akhirnya dia mau melepas dirinya.
Ziga pun mencium kening Chana dalam-dalam. Ini adalah ciuman terakhir yang akan ia berikan kepada Chana.
Kepergian Ziga ke kota adalah, ia hanya ingin memastikan seberapa besar perjuangan Asdam mencari keberadaan Chana.
Ternyata, selama ini Asdam udah mencari keberadaan Chana. Asdam diam-diam menyewa detektif untuk mencari keberadaan Chana, sampai akhirnya, sudah 4 bulan berlalu, barulah Asdam menyiarkan hilangnya Chana.
Karena itulah, Ziga melepaskan Chana. Ziga akhirnya percaya jika Asdam bener-benar sudah mencintai dan akan melindungi Chana.
Di tambah dengan kegigihan Chana yang ingin kabur darinya. Ziga semakin tak ada alasan untuk selalu menahan Chana.
Meskipun sakit tetapi Ziga harus rela demi cintanya dapat bahagia.
Di sisi lain, terlihat Asdam dan Sekertaris Rein menyelinap mencari jalan untuk masuk ke dalam vila.
Sedangkan di dalam, Ziga sudah tertidur sambil memeluk Chana. Mereka sudah terlelap nyenyak sehingga tidak menyadari jika akan ada penyusup yang masuk ke dalam.
Derasnya suara aliran sungai karena habis hujan lebat sore tadi, membuat Ziga dan Chana tidak menyadari jika ada suara klotekan, suara Asdam dan Sekertaris Rein yang berusaha untuk membuka kunci rumah.
Berkat keahlian sekertaris Rein, akhirnya mereka berhasil membuka pintu rumah dengan mudah. Sebab, Ziga sendiri tidak pernah membuat pengaman dobel.
Asdam dan sekertaris Rein menyelinap dengan sangat hati-hati. Mereka mencari keberadaan Chana.
Sampai akhirnya, Asdam dan Sekertaris Rein berada di lantai atas dan pelan-pelan membuka pintu kamar.
Mata Asdam melebar ketika melihat Chana dan Ziga tidur saling berpelukan satu sama lain.
__ADS_1
Matanya langsung memerah dan jantungnya langsung memburu di bakar api cemburu.
Bayangan Asdam jauh ke luar galaksi, padahal apa yang lihat tidak seperti dugannya.
"F*CK!" teriak Asdam membanting pintu membuat Ziga dan Chana kaget di buatnya. Ziga dan Chana pun langsung bangun dari tidur mereka dan langsung terkejut ketika melihat kedatangan Asdam dan Sekertaris Rein.
"Asdam?" Chana terlihat sangat bahagia ketika melihat suaminya datang.
Tapi, kini pikiran Asdam tidak tertuju pada istrinya. Pikiran Asdam saat ini adalah, bagaimana dia bisa segera mungkin melenyapkan pria kurang ajar yang sudah beraninya menyentuh istrinya.
"Sini kau brengsek!" tukas Asdam emosi dan langsung mendekati Ziga dan langsung menyeretnya dan menghajarnya dengan membabi buta.
Ziga yang baru saja bangun dari tidurnya belum siap apapun sehingga ia tidak bisa melewati Asdam yang sudah seperti orang menggila.
BUGH
BAGH
BUGH
"STOOOOP!" teriak Chana histeris. Chana berlari menghampiri Asdam, tetapi sekertaris Rein memegangnya.
"Lepaskan aku Rein, lepaskan!" teriak Chana memohon agar sekertaris Rein melepaskannya.
"Asdam, STOOOOOP!" teriak Chana dengan suara yang sangat keras membuat Asdam langsung menghentikan hantamnya.
Asdam menatap Chana dengan wajah bengisnya. Asdam sedikit tidak percaya mendengar istrinya mengasihani musuhnya.
"Istri ku, apakah kau sudah di cuci otak olehnya. Pria sepertinya, sudah tak layak hidup di bumi." ujar Asdam sambil mengeluarkan pistol dari balik jasnya.
Melihat itu, Chana pun langsung sekuat untuk lepas dari Sekertaris Rein dan berlari untuk menyelamatkan Ziga.
Ketika pelatuk akan Asdam lepaskan, tiba-tiba saja Chana langsung melindungi tubuh Ziga menggunakan tubuhnya.
__ADS_1
Sontak Asdam pun sangat-sangat terkejut melihat itu. Asdam menurunkan pistolnya dan menjatuhkannya dengan lemas.
"Sayang, menjauh darinya." ujar Asdam dengan pelan memerintah Chana.
"Tidak, Asdam. Dengarkan aku dulu. Tidak semua masalah bisa kamu selesaikan dengan menghajar orang seperti ini!" sahut Chana yang masih memasang badan untuk melindungi Ziga yang terkulai lemas.
Mendengar itu, Asdam semakin runtuh ke dasar bumi. Bagaimana bisa, kehadirannya adalah untuk menyelamatkan istrinya, namun istrinya justru malah menyelamatkan seseorang yang sudah membuat masalah di rumah tangga mereka.
"Sayang, apa maksud kamu melindungi bajing'an ini. Dia sudah membuat kamu seperti ini dan kamu masih?. Sayang, menyingkir lah darinya atau aku-!" Asdam mencoba memperingati Chana.
"Atau apa? atau kamu akan melenyapkan kami berdua!? Asdam, kamu salah paham, Ziga sama sekali tidak menyakiti aku!" ujar Chana menjelaskan jika luka-luka yang ada di tangan dan kakinya bukan karena di siksa oleh Ziga, melainkan karena ia jatuh dari motor sendiri. Chana menggelengkan kepalanya. Dia sungguh sangat kesal dengan Asdam yang sangat sulit untuk menurunkan egonya.
Asdam pun hanya bisa menggeram di dalam hatinya. Tangannya mengepal kuat dan juga rahangnya mengeras membuat aura di rumah itu seketika langsung terasa mencengkram.
PRANG!
Asdam langsung melampiaskan amarahnya dengan menghancurkan kaca yang ada di belakangnya.
Chana menutup telinganya karena sangat kaget dengan apa yang Asdam lakukan.
Asdam yang tidak berdaya karena sikap Chana yang lebih membela Ziga pun langsung tertunduk lemas.
Sedangkan Ziga, dia hanya bisa tersenyum dalam diam. Meksipun rasanya nyawanya sudah ada di ujung tanduk, namun Ziga masih bisa bertahan sejauh ini..
Ziga akhirnya dapat menyimpulkan. Meskipun Chana milik Asdam, tetapi dia tetaplah pemenangnya. Meksipun kini Ziga harus menghembuskan nafas terakhir, Ziga tidak akan pernah menyesal, karena kini ia sudah tahu bagaimana perasaan Chana kepadanya. Begitulah pikir Ziga.
Chana pun kini berada di ujung kebingungan. Di sisi lain, suaminya ada di depan matanya dengan perasaan kecewa menyelimuti hati. Di sisi lain, ada Ziga yang sedang membutuhkan pertolongan karena keadaanya yang sangat parah.
Ketika sedang dalam keadaan bingung, tiba-tiba saja para polisi datang masuk ke dalam.
Bersamaan dengan itu, ibu dari Ziga juga masuk dan melihat putranya sudah tak berdaya tepar di lantai.
"Zigaaaaa!" teriak Ibu dari Ziga histeris melihat keadaan anaknya. "Pak, cepat tolong anak saya, cepat pak!" ujar Ibunya Ziga panik meminta agar pak polisi segera membawa anaknya ke rumah sakit.
__ADS_1
Para polisi pun langsung bergegas menolong orang seharusnya mereka bawa ke kantor polisi jadi ke rumah sakit.
Ibunya Ziga sudah tidak mempedulikan sekitarnya lagi. Dia langsung mengantar anaknya untuk pergi rumah sakit.