
Waktu memperlihatkan jam 4:00 malam. Asdam yang tertidur pun terbangun karena ia merasa jika tempat tidur di sebelahnya kosong. Ketika Asdam membuka matanya, benar saja jika di sana tidak ada istrinya.
Suara mesin jahit yang lirih menarik perhatian Asdam. Ketika Asdam melihat ke tempat meja jahit yang ia sewa untuk Chana menjahit. Asdam pun menghela nafas berat usai mengetahui jika istrinya masih saja menjahit dengan sangat telaten.
Asdam berjalan pelan menghampiri Chana yang masih menggerakkan tangannya untuk menyeimbangkan kain dan juga benang jahit agar tidak melenceng.
"Chana, apakah kamu tidak tidur semalaman?" tanya Asdam memegang pundak Chana dari belakang.
Chana dengan mata yang memerah tersenyum kepada Asdam. "aku tidak ada waktu untuk tidur," jawab Chana.
"Mata mu memerah, kamu pasti sangat mengantuk?" tanya Asdam.
Chana pun menggelengkan kepalanya. "tidak kok, aku tidak ngantuk. Aku sudah biasa begadang untuk menyelesaikan jahitan."
"Mata mu tidak bisa berbohong," ujar Asdam memperhatikan mata dan wajah Chana yang terlihat kelelahan.
"Aku tidak apa-apa, sungguh. Maafkan aku yang sudah menganggu tidur mu. Pasti suara mesin ini membuat tidur mu terganggu ya?" tanya Chana memegang tangan Asdam.
"Apakah ini karena aku meminta kamu membuatkan baju untuk ku juga? jika memang ia, aku pinta biarkan saja baju untuk ku tidak usah di buat. Biar punya Alden saja yang di buat," ucap Asdam yang justru merasa bersalah karena sudah membebani Chana.
"Ini bajumu sudah jadi," jawab Chana tersenyum. "Aku memang ingin membuatkan baju untuk Alden, tetapi aku lebih bersemangat untuk membuatkannya terlebih dahulu untukmu. Besok aku akan baru buatkan untuk Alden."
Asdam pun memeluk Chana dengan sangat erat. Entah mengapa kini Asdam merasa sangat beruntung memiliki Chana di sisinya.
"Kamu mencintaiku?" tanya Asdam.
"Aku selalu mencintai pangeran ku." jawab Chana. "kamu tahu, aku selalu tidak sabar untuk pulang dan memperlihatkan hadiah yang kamu berikan padaku waktu kecil dulu," lanjutnya dengan antusias.
"Kamu menyimpannya sangat baik?"
"Ia dong!" sahut Chana. "Aku selalu menyimpannya dengan baik." lanjutnya.
"Ya sudah, kita tidur dulu yuk? besok di lanjut lagi?"
"Enggak-enggak, aku harus menyelesaikan ini sedikit lagi. Besok biar aku langsung menyelesaikan yang milik Alden."
"Tapi ini sudah jam 4 pagi."
__ADS_1
"Aku waktu 10 menit lagi. Aku akan selesaikan ini untukmu," ujar Chana memohon.
"Baiklah, aku akan menemani mu." jawab Asdam yang mengambil posisi duduk di samping Chana.
Chana menatap Asdam dengan seksama, membuat Asdam bertanya-tanya. "Ada apa?"
"Aku lapar." jawab Chana tersenyum.
"Aku akan carikan makan untuk mu. Tunggu di sini," ujar Asdam yang langsung berdiri dan memakai jaketnya lalu keluar tanpa mengatakan apapun.
Chana pun tersenyum terharu. Jantung berdetak berdebar-debar tidak karuan karena merasa senang dengan segala perhatian yang Asdam berikan untuknya. Hanya mengatakan ingin, Asdam pun langsung mewujudkannya tanpa nanti-nanti.
Namun, sesaat Chana kembali murung. Mata merahnya bukanlah karena ia tidak tidur. Sebenarnya Chana sudah sempat tidur di sofa 1 jam lamanya sampai suara handphone membangunkannya.
Telpon itu adalah dari mama Tirana. Mama Tirana menceritakan segalanya kepada Chana jika Misha ingin pulang. Mama Tirana menceritakan keras kepalanya si Misha yang kekeh tidak mau berobat dan ingin pulang ke apartemen seorang diri.
"Mah, kenapa Misha tidak pulang ke rumah aja? kenapa harus ke apartemen?" tanya Chana.
"Papah kamu sangat marah kepada Misha gara-gara dia berniat mencelakai kamu. Mamah sangat bingung dan kepala mama serasa sakit memikirkan papah dan kakak mu yang sama-sama kaku dan keras kepala." terdengar suara isak tangis Mama Tirana yang di tahan.
"Mah, apakah aku harus jujur kepada Asdam?" tanya Chana dengan mata yang sudah memerah dan jantungnya serasa sangat sakit memikirkan segala kerumitan ini.
"Jangan sayang, mengatakan yang sebenarnya kepada Asdam tidak akan menyelesaikan masalah, yang ada masalah akan bertambah besar," ujar Mama Tirana. "Papahmu dan keluarga Marquez tidak akan membiarkan Asdam tahu semuanya." imbuhnya.
Chana pun dengan berat mematikan panggilan Mama Tirana. Jika di lanjutkan, mereka pun tidak akan menemukan ujungnya.
Chana sudah tidak bisa tidur lagi memikirkan Misha. Akhirnya ia pun melanjutkan menyelesaikan jahitannya yang tertunda. Tidak lama kemudian, Asdam pun bangun dan menemaninya.
Bertepatan dengan selesainya baju untuk Asdam, pintu hotel terbuka dan terlihat Asdam masuk membawa dua mie gelas dan beberapa minuman dan makanan yang ia beli di sebuah minimarket 24 jam yang berada dekat dari hotel.
"Hore ... makanan sudah datang..!" seru Chana mendekati Asdam dan merebut makanan yang Asdam bawa.
"Apakah sudah selesai?" tanya Asdam.
"Baru saja." jawab Chana sambil membuka bingkisan yang Asdam bawa. Mata Chana pun mendelik ketika melihat mie panas yang Asdam bawa. "Aku lapar sekali."
"Makanlah dengan perlahan, itu masih panas," ucap Asdam mengingatkan Chana.
__ADS_1
Chana tersenyum dan mengangguk, lalu meniup mie itu dengan tidak sabaran. Chana makan dengan lahap, dan di susul oleh Asdam yang ikut makan bersamanya.
Mata Chana kembali memerah dan Asdam berfikir jika Chana kepedasan. Bahkan air mata sempat menetes dari sudut matanya.
"Huhah! ini pedas sekali..!" ujar Chana sambil mengelap air matanya dan mengelap ingusannya.
"Benarkah? aku pikir kamu suka pedas? aku ingat waktu makan malam saat bersama keluarga kala itu, kamu mengambil sambal yang cukup banyak saat itu," ujar Asdam mengingat jika Chana suka pedas.
Chana pun dengan cepat mencari jawaban lainnya. "Apa mungkin karena semalaman aku begadang, jadi mataku juga terasa perih," ujar Chana.
Karena sebenarnya Chana masih teringat dengan Misha sehingga membuatnya kembali pilu dan sakit.
"Ya sudah, habis makan kita tidur kembali. Jangan paksakan dirimu. Jaga kesehatan mu juga," ujar Asdam sambil mengelus rambut Chana dengan lembut. Chana pun mengangguk dan tersenyum.
"Jika itu terasa sangat pedas, kamu bisa memakan milikku." tawar Asdam.
"Tidak, ini enak kok." tolak Chana tersenyum. Chana pun kembali pada posisi tenang dan kembali memakan mienya dengan pelan-pelan.
Asdam memperhatikan Chana dengan seksama. Asdam sepertinya dapat merasakan jika ada yang salah dengan Chana. Namun Asdam sendiri tidak mengerti apa itu.
Setelah makan beberapa saat akhirnya Chana pun tertidur dengan nyenyak. Asdam menyelimuti tubuhnya dan mencium keningnya dengan lembut penuh kasih dan sayang. Asdam pun mengambil posisi rebahan di samping Chana dan membelai rambutnya dengan lembut. Terus dan menerus Asdam membelai rambut Chana sampai matanya tertuju pada handphone Chana yang menyala.
Sepertinya ada pesan masuk untuk Chana, tetapi Asdam hanya meliriknya saja, karena Asdam merasa jika ia belum berhak untuk memeriksa dan mengatur privasi Chana.
Keputusan Asdam yang menghargai privasi Chana benar-benar dapat menyelamatkan Chana, sebab pesan itu ternyata dari Misha.
Entah apa isi pesan itu, simak selanjutnya di bab berikutnya... jangan lupa like dan komen ya...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...