
Lentikkan jemari Chana bermain anggun menekan setiap tuts pada piano. Gerakan yang sangat halus dan pilihan nada yang serasi dengan auranya, membuat Alden merasa terkagum-kagum dengan kakak iparnya.
Jiwa yang Chana pancarkan, membuat sudut pandang Alden terhadap dirinya berubah.
Ternyata dia tidak sekejam yang aku pikirkan, batin Alden.
Setelah usai, Chana pun menghela dan tersenyum. Ia tidak percaya jika ia masih sangat pandai memainkan piano.
"Alden, menurut mu bagaimana? apakah masih ada kesalahan dalam permainan ku?" tanya Chana tersenyum. "Aku sudah cukup lama tidak memainkannya," lanjutnya.
Alden masih ragu harus bagaimana merespon Chana, sebab sikapnya selama ini membuatnya merasa malu pada dirinya sendiri.
"Kakak ipar, kau bermain dengan bagus," puji Alden dengan suara yang lirih, namun masih dapat terdengar oleh Chana.
Mata Chana pun berkaca-kaca, ia tidak percaya jika kali ini Alden mau memanggilnya kakak. Ini benar-benar hari yang sangat hoki bagi Chana. Ia tidak akan melupakan tanggal ini.
"Alden, terima kasih," ucap Chana terharu.
"Kakak ipar, dapatkah kau membuatkan aku setelan jas yang keren untuk tampil esok?" tanya Alden mencoba untuk lebih dekat dengan Chana.
Chana pun melepaskan senyumnya dan menghampiri Alden. "Tentu adik iparku, aku akan membuat setelan jas yang keren untukmu. Aku janji kau akan menjadi pria tertampan," ujar Chana dengan semangat.
Kali ini, Chana dan Alden pulang bersama. Terlihat Alden ingin menanyakan sesuatu namun ia ragu.
Chana dapat melihat kerikuhan yang Alden perlihatkan. "Alden, ada apa? katakan saja apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Chana..
"Em, bagaimana kabar kak Misha? apakah dia baik-baik saja?" tanya Alden.
"Em, aku sendiri belum tahu pastinya. Mamah belum mengabari aku lagi, terakhir aku dengar, katanya Misha sudah siuman dan mulai akan menjalankan pemeriksaan lanjut untuk mengambil tindakan operasi," jawab Chana.
"Andai kak Misha sembuh, apakah dia akan kembali pada kak Asdam?" tanya Alden ragu-ragu.
Chana pun tersenyum. "Aku tidak masalah, tapi permasalahannya adalah orang tua mu. Kalo sendiri, jika memang mereka ingin bersatu, aku tidak keberatan, toh memang sebenarnya aku sendiri tidak menginginkan pernikahan ini," jelas Chana.
"Itu tidak mungkin," jawab Alden.
"Maksudnya?" tanya Chana.
"Ya tidak mungkin mama dan kakek menerima kak Misha kembali."
"Tapi jika Asdam dan Misha bertekad, mereka bisa saja," ujar Chana.
"Apakah kak Chana yakin berpisah dengan kak Asdam?"
"Aku rasa tidak hak untuk menghalangi mereka. Tunggu saja sampai Misha benar-benar sembuh, aku akan menceritakan semuanya pada Asdam."
"Lalu, jika sampai kak Misha tidak tertolong?"
__ADS_1
"Itu tidak mungkin, Misha pasti akan sembuh!" elak Chana dengan tegas. Meskipun selama ini hubungannya dengan Misha tidak kurang baik, namun ia tidak akan terima jika Misha pergi begitu saja.
Alden pun terdiam tidak ingin lagi membahasnya. Ketika suasana hening, tiba-tiba saja sebuah truk dengan sengaja melaju dengan cepat dari arah berlawanan ke depan mobil Chana.
"AWAS KAK!" teriak Alden terkejut.
Chana pun tidak ada pilihan lain selain membanting setir ke kiri, membuat mobil itu menghantam pembatas jalan.
BRUAK!
Suara benturan terdengar cukup keras, dan mobil terlihat rusak cukup parah.
Alden mau pun Chana sama-sama tidak sadarkan diri sampai di rumah sakit. Alden dan Chana di letakan dalam satu ruangan.
Samar-samar mata Chana pun bergerak dan terbuka secara perlahan. Ketika matanya terbuka, Chana melihat ada Asdam di sampingnya.
"Kau sudah sadar?" tanya Asdam terlihat cemas.
"Aku di mana?" tanya Chana.
"Kau di rumah sakit," jawab Asdam.
"Adik iparku, kemana?" tanya Chana teringat jika ia bersama dengan Alden.
"Dia ada di sampingmu, Alden baik-baik saja," jawab Asdam.
"Apakah dia baik-baik saja?" tanya Chana.
"Tidak apa-apa, dia sedang tidur, dia sudah siuman sedari tadi," jawab Asdam.
"Oh, syukurlah." Chana pun menghela nafasnya dengan lega.
"Chana, bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Asdam.
"Entahlah, awalnya semuanya baik-baik aja, sampai akhirnya ada sebuah mobil truk dari arah berlawanan yang sepertinya sengaja menabrak ku," jawab Chana mencoba mengingat.
"Kamu sedang tidak sengaja ingin mencelakai adik ku kan?" tanya Asdam memastikan.
Chana pun melirik Asdam dengan kesal, pria ini punya otak tidak sih! menyebalkan sekali.
"Dengar ya, kalo aku mau mencelakai Alden, aku tidak mungkin membahayakan diriku sendiri!" jelas Chana dengan tegas.
Asdam pun hanya mengangguk mengerti, merasa tidak berdosa dengan pernyataan yang sudah menyinggung perasaan Chana.
"Baiklah, tunggu sini dan jangan kemana-mana. Aku ada urusan penting," ujar Asdam meninggalkan Chana.
Chana sebenarnya ingin Asdam ada di dekatnya untuk sementara, karena Chana merasa jika kejadian tadi di sengaja, sepertinya ada seseorang yang ingin mencelakai dirinya.
__ADS_1
Namun Chana malu dan tidak berani. Chana mencoba untuk mengambil tasnya dan mencari ponselnya.
Terlihat 50 panggilan dari Nomnom dari pagi hingga malam. Chana terlupa tidak mengabarkan Nomnom jika ia akan menghadiri sekolah Alden, dan malah ia pun kecelakaan dan tidak sadarkan diri sampai malam.
Ketika Chana akan menelpon Nomnom, tiba-tiba saja sebuah pesan WhatsApp masuk, dan itu dari Ziga.
Chana pun merasa jantungnya terasa sakit ketika mendapatkan notifikasi pesan dari Ziga. Namun Chana dengan berani membuka pesan itu.
Ternyata pesan-pesan itu adalah foto-foto Ziga dan Misha. Di foto terlihat Misha yang sedang menyadarkan kepalanya di pundak Ziga di sebuah taman rumah sakit.
Foto itu terlihat sangat hati-hati agar infus tidak terlihat. Bahkan Ziga sudah mengedit foto itu agar wajah pucat Misha terlihat fresh dan cantik.
Hati Chana kembali merasa bimbang dan ragu. Perasaannya berkecamuk tidak karuan atas ketidakberdayaannya.
Andai Misha tidak sakit, mungkin saja ia dan Ziga kini akan hidup bahagia bersama. Kelembutan dan kedewasaan Ziga benar-benar Chana butuhkan. Hanya Ziga yang selama ini dapat mengerti dirinya.
Namun bagaimana lagi, takdir sudah membawanya ke sini, Chana hanya perlu bersalah lebih lama lagi.
Chana pun tidak membalas pesan Ziga dan hanya membagikan foto itu ke nomor sekertaris Rein.
Kini tugas sekertaris Rein-lah menginformasikan tentang Misha dan Ziga.
Sekertaris Rein yang masih berada di sebuah pertemuan mendapatkan notifikasi pesan dari Chana. Sekertaris Rein pun hanya bisa menghela nafas berat karena ia harus ikut adil dalam drama keluarga besar ini.
Ketika Sekertaris Rein akan mengirimkan foto-foto mesra Ziga dan Misha, tiba-tiba Asdam menelponnya.
Usai permisi oleh kliennya, Sekertaris Rein pun mengangkat telpon dari Asdam.
"Hallo!?"
"Sekertaris Rein, Chana dan juga Alden kecelakaan. Alden menelpon ku ketika ia sadar. Aku penasaran jika kecelakaan ini adalah kesengajaan, aku meminta mu untuk segera menyelidiki kasus ini," ujar Asdam dengan tegas.
"Baik, Tuan, akan segera aku tangani," sahut Sekertaris Rein. "Tuan?" sekertaris Rein pun memanggil Asdam sebelum ponsel di matikan.
"Iya?"
"Aku akan mengirimkan informasi terbaru tentang Nona Misha dan juga selingkuhnya."
Asdam pun tidak menjawab dan memilih untuk mematikan panggilan. Raut wajahnya langsung terlihat bengis usai mendengar nama Misha.
Ketika Sekertaris Rein mengirimkan fotonya, Asdam pun semakin memanas sampai rasanya tubuhnya terasa terbakar.
Asdam yang masih berada di dalam pun langsung menyalakan mesin mobil dan melaju cukup keras di jalanan tanpa arah tujuan yang jelas. Yang penting saat ini Asdam sedang ingin melampiaskan kekesalannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
(Jangan lupa like dan komen ya:)
__ADS_1