Bukan Wanita Pengganti

Bukan Wanita Pengganti
Bab 59, sengaja membuat kesal


__ADS_3

Malam ini Chana menggunakan gaun hitam yang sangat cantik sekali, sebab ia akan ikut bersama dengan Asdam di acara pernikahan temannya yang bertema black fashion.


Chana menyeimbangkan kiri dan kanan agar kedua sisi terlihat sempurna dari pantulan cermin.


Asdam yang berdiri sambil bersandar pada jendela balkon pun terlihat bingung dengan tingkah Chana yang terlihat seperti memperlambat waktu.


Chana sudah hampir 30 menit sendiri berdiri di depan cermin untuk meyakinkan jika penampilannya sudah sangat sempurna.


Ini adalah pertama kali dalam hidupnya kodangan bersama dengan suaminya sendiri. Apa lagi, ini adalah acara pernikahan mewah seorang pejabat dan pembisnis, kawan dari Asdam, jadi Chana harus bener-benar tampil memukau agar Asdam tidak merasa malu.


"Ayolah, kau sudah berada di depan cermin selama 30 menit?" Asdam berjalan ke arah Chana dan dengan gemas mencium pundak Chana dan memeluknya.


"Aku takut akan mempermalukan kamu di depan teman-teman mu?" ujar Chana.


"Kamu adalah wanita tercantik, apa perduli tentang kata-kata temanku. Meksipun kamu menggunakan daster sekalipun, aku tidak akan mempermasalahkannya, karena kamu sudah selalu cantik di mataku," puji Asdam membelai wajah Chana yang sangat mulus dan imut.


"Aisht, kamu ini bisa saja." pipi Chana terlihat memerah karena malu.


"Ayo kita berangkat, aku gak mau kita pulang terlambat, aku tidak mau kamu kelelahan, aku tidak mau terjadi apa-apa dengan kamu dan juga calon anak kita." ujar Asdam mengelus lembut perut Chana yang masih terlihat biasa karena kandungan baru masuk sebulan.


Chana akhirnya benar-benar diratukan oleh sang kekasih tanpa rasa ragu dan bimbang, tanpa bayang-bayang ketidak ikhlasan Misha.


Di lantai bawah, sudah ada Sekertaris Rein yang sudah siap dengan setelan kemeja hitam yang sangat cocok untuknya.


Entah apa karena bawaan nyidam, tiba-tiba saja Chana bener-benar sangat menyukai bau parfum yang di gunakan oleh Sekertaris Rein.


Bahkan Chana sampai mengendus -ngendus tubuh sekertaris Rein seperti kucing yang penasaran sama sesuatu.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Asdam yang langsung mendorong Sekertaris Rein dengan pelan dan dia langsung berdiri di mana bekas sekertaris Rein berdiri.


"Asdam, aku mau kamu pakai parfum yang sama kayak sekertaris Rein. Kayaknya aku suka deh sama wanginya," ujar Chana dengan sedikit aleman.


Asdam pun langsung mencium tubuhnya sendiri, Asdam merasa tersinggung karena Chana tidak memberi respon pada parfum mahal yang ia gunakan.

__ADS_1


"Memangnya kenapa sama parfum ku? apakah kamu gak tau, parfum ku adalah parfum yang sangat langka, aku baru membelinya dua minggu yang lalu, lagian, kamu sendiri yang memilihkan parfum ini untukku?" ujar Asdam heran.


"Em, iya waktu itu aku suka sama parfum yang kamu pakai, tetapi sekarang aku lebih suka parfum yang sekertaris Rein gunakan, kalo kamu g mau beli yang kaya gitu, ya udah, di mobil aku duduk di samping sekertaris Rein aja!" ancam Chana. Sepertinya Chana bener-benar ngidam oleh bay parfum yang sekertaris Rein gunakan.


Sekertaris Rein pun menahan tawanya ketika melihat reaksi Asdam yang seperti orang tidak berguna di depan kemauan sang istri.


"Oke-oke, demi calon anakku, aku akan membeli parfum sekertaris Rein," jawab Asdam yang langsung menghampiri sekertaris Rein.


"Sekertaris Rein, kamu dengarkan apa Keinginan istri ku tadi, jadi aku akan membeli parfum mu, dan kamu harus membeli parfum yang baru dan jangan sama!" ujar Asdam meminta parfum Sekertaris Rein.


"Harganya 22 juta, tuan!" jawab sekertaris Rein.


"Aku tahu kamu membelinya cuma di harga 12 juta," jawab Asdam kesal dengan sekertaris Rein yang kini sudah lebih berani meledek dan mengejeknya.


"Iya, tapi tetap saja saya ingin menjualnya dengan harga segitu," jawab sekertaris Rein tetap tak mau ngalah.


"Sayang, ayolah, duitmu kan banyak?" rengek Chana.


Tidak berdaya dengan kemauan sang istri, Asdam akhirnya pun mengiyakan keinginan sekertaris Rein. "oke-oke, 22 juta, akan aku transfer uangnya," ujar Asdam sedikit kesal menatap Sekertaris Rein.


Sekertaris Rein dan Chana menahan tawa dengan ekspresi Asdam bak kepiting rebus. sebagai seorang CEO dan anak dari perusahaan orang tuanya, Asdam tidak berkutik ketika sekertarisnya sudah berani lancang padanya di atas perlindungan sang istri.


"Sekertaris Rein, saya ini terakhir kamu memperlakukan saya seperti ini!" ujar Asdam mengancam Sekertaris Rein sambil berjalan ke tangga untuk kembali ke kamar mengambil uang cash.


Sekertaris Rein dan Chana pun tertawa.


"Hahaha... Sekertaris Rein, apa kamu tadi lihat ekspresinya. Kita harus berhasil membuat kejutan di hari ulang tahun sekarang ini." bisik Chana.


Jadi, sebenarnya Asdam sedang ulang tahun hari ini. Makannya Chana sedari awal sengaja membuat kesal hati Asdam. Ternyata, tidak sulit bagi Chana membekas kertas di atas lilin.


"Tenang, Nona, semuanya akan beres," jawab Sekertaris Rein yang sudah pro dengan Chana..


Setelah Asdam mendapatkan uangnya, ia pun langsung memberikannya kepada Sekretaris Rein.

__ADS_1


"Ini uangnya, sekarang mana parfumnya?" ujar Asdam memberikan uang itu dan meminta haknya.


"Ini, Tuan!" sekertaris Rein pun memberikan botol parfum yang hanya berisi setengah, bahkan sudah mendekati akan habis.


"Apa ini?" tanya Asdam kesal dengan isi parfum yang tinggal sedikit lagi.


"Saya tidak mengatakan jika isinya masih full kan, Tuan?" ujar sekertaris Rein membalas.


"Hm, sudahlah, kita sudah terlambat!" ujar Asdam menghela nafas berat dan enggan untuk berdebat lagi.


"sudahlah sayang, segitu juga cukup kok, nanti kita beli yang baru lagi ya?" ujar Chana mencoba untuk menghibur Asdam yang kini sudah terlihat sangat kesal sekali.


"Ini semua demi kamu dan calon kita." jawab Asdam dengan ekspresi sesabar mungkin.


"Kamu adalah calon ayah yang baik."


"Itu sudah pasti!"


Kini, mereka telah sampai ke acara pernikahan teman Asdam. Acaranya cukup megah dan mewah. Chana terlihat sangat terpukau.


"Asdam, jangan jauh-jauh dariku ya, aku bisa tersesat di sini sendirian," bisik Chana.


"Iya, Chana, aku akan selalu berada di sisimu," jawab Asdam dengan lembut.


Ketika mereka memasukinya gedung, terlihat sepasang mata sedang memata-matai mereka berdua dengan tatapan tajam.


Seseorang itu memakai topi dan juga masker hitam sehingga tidak jelas bagaimana penampakan wajah aslinya.


Sekertaris Rein setelah memarkirkan mobil, ia memperhatikan sekitar dan melihat sekilas pria misterius itu yang sedang menatap tuannya.


Namun hanya sekilas, tiba-tiba saja pria misterius itu menghilang di kegelapan malam.


Sekertaris Rein hanya menduga-duga jika ia telah salah lihat saja, sebab, setelah sadar dari komanya, sering mendapatkan hal-hal aneh yang ia rasakan.

__ADS_1


...........


__ADS_2