
SHI*T
PRAAAANG
Asdam membanting guci mahal milik Nyonya Beckham. Asdam menatap semua orang suruhannya dengan tatapan mematikan.
Semua kru terlihat hanya bisa menundukkan kepala mereka. Tatapan mereka terlihat sangat bingung dan tidak berdaya. Sebanyak apapun uang yang Asdam keluarkan, nyatanya tidak membuahkan hasil yang memuaskan.
"Apa kalian lihat guci yang pecah itu! jika kalian melihatnya, jadikan itu motivasi diri kalian agar bisa bekerja lebih keras lagi agar tidak senasib dengan guci itu!" ujar Asdam dengan urat-urat menahan amarah.
"Maaf, Tuan. Kami sudah melakukan upaya yang terbaik. Kamu bahkan sudah bekerjasama satu sama lain dengan kru yang lainnya, tetapi sangat sulit untuk menemukan di mana jejak nona Chana saat ini berada," ujar salah satu ketua.
"Selama satu Minggu, bahkan kalian tidak bisa menemukan apapun, lalu kalian berkata jika kalian sudah melakukan upaya terbaik. HAH!" Asdam benar-benar sangat emosi dengan jawaban orang suruhannya.
Semua orang hanya yang hampir berjumlah 56 orang hanya bisa berdiri dengan kaki gemetar.
10 orang ketua kru berdiri tegap di depan rekan-rekan mereka dengan jiwa setengah melayang. Terlihat jika mereka sangat menyesal karena sudah bersedia bergabung dengan keluarga Marquez. Mereka baru berhadapan dengan Asdam, entah bagaimana jadinya jika mereka juga berhadapan dengan Nyonya Beckham.
Sekertaris Rein pun maju dan berkata, "Yang masih bersedia untuk melanjutkan, silakan kalian bekerja kembali dengan lebih teliti. Dan yang tidak mau melanjutkan pencarian, kalian bisa berhenti, dan juga kalian akan berhenti dari pekerjaan kalian sebagai Intel." ujar Sekertaris Rein mengancam.
Semua orang pun terlihat sangat gundah dengan pilihan gila yang harus mereka pilih. Tidak ada pilihan lain, karena mereka adalah Intel swasta, jadi mereka lebih akan tunduk kepada siapa yang sudah membayar mereka.
Semua orang memberi hormat kepada Asdam dan meminta izin untuk kembali mencari informasi tentang keberadaan Chana saat ini.
Setelah semua orang pergi, Asdam terlihat sangat lemas dan mengusap wajahnya dengan gusar.
"Sekertaris Rein, apa kamu sudah menanyakan semua teman-teman Chana?" tanya Asdam.
"Semuanya sudah di selidiki, Tuan." jawab Sekertaris Rein.
"Itu, teman Chana yang yang gendut itu, siapa namanya, kamu juga sudah memastikan jika Chana tidak bersamanya?" tanya Asdam.
__ADS_1
Sekertaris Rein terdiam sesaat. Entah kenapa, mendengar Asdam mengatakan jika Chana adalah wanita yang gendut, hati kecilnya sedikit tidak terima. Karena Sekertaris Rein bener-benar sudah berhutang banyak hal tentangnya.
"Maaf, Tuan, namanya adalah Nomnom. Nomnom sudah pergi sebelum aku sadar." jawab sekertaris Rein.
"Pergi kemana? bukankah dia kembali belajar untuk lebih mendalami dunia fashion, Chana pernah mengatakan padaku!?" ujar Asdam.
Sekertaris Rein kembali terdiam. Dia bingung harus berkata apa kepada Asdam.
"Sebenarnya tidak begitu, Tuan." ujar sekertaris Rein.
"Apa maksud kamu?" tanya Asdam.
"Em, Nomnom mengatakan padaku jika ia ingin pergi. Dia tidak mau lagi berada di dunia desainer dan Fashion karena dia mendapatkan hinaan yang luar biasa karena bentuk tubuhnya. Dia berpamitan kepadaku di malam sebelum aku terbangun." jawab Sekertaris Rein.
Asdam pun sepertinya langsung mengerti sesuatu.
"Tunggu-tunggu!? kamu sadar ketika Nomnom berpamitan ingin pergi? jangan bilang, kamu sadar itu gara-gara Nomnom akan pergi? Kamu-?" Asdam semakin sangat penasaran.
"Tuan, dia wanita yang sangat baik, dia membantuku di saat ku sekarat, dia membantu membayar perawatan ku ketika aku sedang koma dan tidak ada siapapun yang perduli dengan biaya pengobatan ku, karena anda sendiri tidak bertanggung jawab," jelas Sekertaris Rein berbicara apa adanya.
"Jika anak itu sudah ketemu juga, bawa dia ke hadapan ku, aku akan mengganti semua biaya yang sudah dia keluarkan. Dan ingat sekertaris Rein, aku bukan tidak mau bertanggung jawab, tetapi aku lupa karena aku sangat sibuk sekali saat itu. Ya sudah, ini sudah malam, kamu istirahat dan besok kita akan kembali melanjutkan perjalanan untuk mencari Chana." ujar Asdam yang langsung pergi meninggalkan Sekertaris Rein.
Sekertaris Rein ingin mengatakan sesuatu, namun ia tertahan karena taunnya sudah berjalan menaiki anak tangga.
......................
Di dalam kamar, Asdam hampir tidak pernah tidur dengan benar karena memikirkan bagaimana keadaan Chana saat ini.
Asdam selalu mengelilingi ruang salin untuk melihat-lihat koleksi baju dan aksesoris lainnya milik Chana.
Sampai akhirnya, matanya tertuju pada kotak kecil yang berada di sebuah laci kecil untuk menyimpan perhiasan Chana.
__ADS_1
kotak itu selalu menarik perhatiannya di setiap Asdam membukanya, namun Asdam tidak ada niat untuk membuka barang-barang privasi milik istrinya. Tetapi, malam ini, ia terlihat sangat penasaran dengan kotak tersebut.
Ketika Asdam membukanya, ia sangat terkejut, karena itu adalah kalung yang terbuat dari cangkang kerang kecil yang ia buatkan untuk Chana pada saat itu.
Chana selalu mengatakan jika ia memiliki kalung yang ia buatkan, tetapi Chana hampir tidak pernah menunjukannya padanya. Sehingga Asdam selama ini hanya percaya oleh bukti-bukti lainnya saja.
Namun sekarang, Asdam dapat melihatnya dengan mata kepalanya sendiri kenangan manis pada masa itu.
Asdam pun tak kuasa meneteskan air mata kepedihan. Rasa sesak dan rasa menyesal berkecamuk begitu saja di dalam dadanya.
"Chana, maafkan aku, jauh dari lubuk hatiku. Kembalilah sayang, di mana sekarang kau berada?" Asdam terlihat sangat hancur sambil memeluk kalung itu.
Asdam terkulai lemas dan meratapi kehancuran hatinya karena memendam rasa rindu dan juga rasa ketakutan yang mendalam. Asdam sangat takut jika sampai hal-hal buruk terjadi pada istri dan juga anaknya.
......................
Malam ini, terlihat Chana merebahkan tubuhnya karena ia harus beristirahat. Ziga dengan selalu telaten membantu Chana untuk menyelimuti tubuhnya. Chana hanya bisa mengucapkan terima kasih kepada Ziga.
Ketika semua sudah beres, Chana sudah menyelimuti tubuhnya tiba-tiba saja Ziga merebahkan tubuhnya di samping Chana..
Sontak Chana pun langsung kaget. "Loh, kamu ngapain tidur di sampingku?" tanya Chana.
"Aku bukan pria baji ngan seperti yang kamu pikirkan. Aku hanya ingin menemani mu sampai tidur, setelah itu aku akan membiarkan mu mimpi indah dengan nyenyak," ujar Ziga sambil mengelus-elus rambutnya.
Chana terlihat sangat ragu, ini menurutnya cukup berlebihan. "Ziga, aku lebih tenang jika aku tidur sendiri. Mau bagaimana pun, aku adalah istri orang, aku mohon," ujar Chana meminta Ziga untuk keluar.
"Besok aku akan membawa pendeta untuk menikahkan kita," ujar Ziga dengan santainya.
Chana pun mengerutkan keningnya tidak percaya dengan apa yang Ziga katakan.
"Ziga, jangan main-main ya, sudah cukup jangan berlebihan lagi. Aku tidak menikah dengan mu karena aku masih memiliki suami!" tukas Chana kesal.
__ADS_1
"Kalo begitu, aku akan melenyapkan orang itu, bagaimana?" ujar Ziga dengan santai sambil tersenyum. Tangannya mengelus rambut Chana kembali seperti orang yang tidak tahu diri..
Melihat wajah Ziga tanpa ekspresi, Chana pun malah semakin parno di buatnya. Ziga hanya tersenyum, ia saja sekali tidak menunjukan wajah kesal ataupun marah tau pun lainnya. Ekspresi ini membawa Chana merasa was-was sekali. Sepertinya, Ziga yang dulu kini telah berubah. Chana harus bisa segera lari dari terkaman pria gila ini.