
Sebuah rumah minimalis terpencil di sebuah hutan, terlihat seseorang sedang mengaduk susu, tangannya berputar searah jarum jam sampai susu kental berlarut sempurna.
Pria itu berjalan ke sebuah kamar yang terlihat ada tangan yang di borgol ke dipan kasur. Dia adalah Chana.
"Hay, sudah bangun?" sapa pria yang tidak asing di mata Chana.
"Zi-ziga?" Chana sangat tercengang melihat mantan kekasihnya ada di depan matanya saat ini.
"Iya sayang, ini aku," jawab Ziga dengan raut wajah tanpa berdosa. Ia berjalan ke sisi Chana dan memberikan susu kepada Chana.
Chana yang masih syok hanya diam dan tidak tahu harus berkata apa.
Ziga merasa sangat lucu melihat ekspresi Chana yang terlihat sangat menggoda baginya.
"Kau tahu, aku gila memikirkan tentang kepergian mu dari sisiku, aku pikir aku mampu, tapi nyatanya, aku harus menjauhi mu dari pria busuk itu!" ujar Ziga tersenyum sarkas kepada Chana.
__ADS_1
"A-apa maksud kamu, Ziga?" tanya Chana tidak mengerti. "Lalu, ini kenapa tangan aku di ikat seperti ini? lepaskan aku Ziga!?" lanjutnya.
"Sayangku, bukankah kau sudah berjanji akan bersedia menikah denganku, aku akan segera memanggil pendeta untuk menikahkan kita, aku berjanji," sahut Ziga semakin tidak nyambung.
"Ziga, apa maksudnya ini? kamu tahukan kalo aku sudah menikah Asdam!?, aku gak bisa nikah sama Ziga!" sahut Chana yang kini mulai merasa was-was kepada Ziga.
"Mana? aku tidak melihat siapapun selain kita di sini!" jawab Ziga dengan santai, namun ekspresinya seperti sikopat yang sangat menakutkan.
"Ziga, please, kenapa kamu jadi seperti ini?" tanya Chana yang kini merasa sangat pilu. Air matanya menetes deras, ia merasa sangat ketakutan sekaligus merasa tidak percaya dengan apa Ziga lakukan padanya.
"Sayang, kamu menangis?" Ziga dengan lembut mengelap air mata Chana. "ini pasti perbuatan pria kurang ajar itu. Kamu tenang aja sayang, aku akan segera melenyapkannya dan membakar jasadnya agar dunia pun tidak menerima bangkainya!" ujar Ziga dengan mata yang berapi-api ketika mengatakan hal mengerikan itu dari mulut Ziga.
"Oh ya?" Ziga terlihat terkecoh. "tapi, bagaimana dengan sekertaris bodoh itu?" tanya Ziga dengan ekspresi yang masih santai, namun wajahnya jelas tergambar kebengisan yang sangat menakutkan.
"Sekertaris Rein baik-baik saja, Ziga. Sungguh kami baik-baik saja!" jelas Chana dengan tatapan memohon agar segera di lepaskan.
__ADS_1
"Kalo begitu..." Ziga berdiri dan menghadap ke jendela. "Kalo begitu..." Ziga mengulangi kata-katanya dan kini menatap Chana. "Kalo begitu, akulah yang tidak baik-baik saja. HAHAHAHA!"
tawa Ziga membuat Chana langsung merasa tersentak. Chana bahkan hampir jantungan mendengarnya.
Melihat kegilaan Ziga, Chana pun hanya bisa menangis sesegukan dengan pilu.
"Uuuuuu... sayang, apakah aku menyakiti mu?" Ziga langsung mendekati Chana dan mengelap air matanya dengan gila.
"Ziga, ada apa denganmu, mengapa kamu jadi seperti ini, kamu bukan Ziga yang aku kenal." ujar Chana dengan lirih dan menyayat hati.
PRANK!
Ziga tiba-tiba saja membanting susu di gelas yang ia pegang sedari awal.
"Aaaaaaaaaaaaa.....!" Chana berteriak karena kaget dan takut.
__ADS_1
"KAMU! KAMULAH WANITA YANG TIDAK AKU KENAL LAGI! DASAR WANITA LICIK, WANITA SIALAN! WANITA MATRE! WANITA MURAHAN! DASAR PELACUR!" teriak Ziga membabi buta.
Chana pun semakin seperti kena asma setelah mendengar cacian Ziga yang sangat menyakiti hati.