
"Kak!? kakak Chana bangun, kak!?"
Alden terlihat berusaha memangku kepala kakak iparnya yang sudah tidak sadarkan diri.
Asdam yang berlari sekuat tenang pun akhirnya sampai ke halaman belakang yang cukup jauh, karena halaman belakang ini terlalu luas.
"Chana! kamu kenapa sayang!?"
Asdam pun langsung membopong Chana tanpa pikir panjang, dan di ikuti oleh Alden dari belakang.
"Kak, sudah panggil dokter?" tanya Alden.
"Sudah!" jawab Asdam sambil sedikit berlari karena ia sangat takut jika sampai terjadi apa-apa dengan Chana.
Di sisi lain, karena taman terlalu luas, Nomnom sampai tidak menyadari jika Chana sudah tidak ada lagi di belakangnya. Nomnom terus menikmati olah raganya tanpa mengetahui apa yang sudah terjadi di sekitarnya.
Sesampainya di dalam rumah, kebetulan dokter ahli kandungan datang untuk pemeriksaan Chana.
Ketika Asdam meletakkan Chana di sofa, dokter pun melihatnya dan bertanya, "loh, ini Nona Chana kenapa?" tanyanya.
"Cepat periksa dia!" titah Asdam tidak sabaran.
Dokter pun langsung mengangguk dan segera memeriksa Chana tanpa banyak bertanya lagi.
Setelah beberapa kali memeriksa, dokter sepertinya belum menemukan apa penyebab Chana pingsan.
"Tuan, sepertinya nona Chana hanya kelelahan saja. Kalian baru pulang dari perjalanan jauh, jadi bisa daya tubuh nona Chana melemah. Apa lagi cuaca yang berbeda di luar negeri dan di dalam negeri," jawab dokter ragu-ragu memberikan diagnosa.
"Benarkah?" tanya Asdam.
"Em, saya masih ragu, tetapi jika anda mau, anda bisa memeriksanya lebih lanjut ke rumah sakit," jawab dokter itu memberi saran.
"Kau ini dokter sungguhan atau bukan!? masak memeriksa pasien saja tidak bisa memastikan!" sentak Asdam semakin panik karena melihat sang istri tidak kunjung sadar.
__ADS_1
"Maaf, tuan, kami harus melakukan pemeriksaan dengan alat yang lengkap agar diagnosa dapat kami sampaikan dengan signifikan."
"Ya sudah, cepat kita bawa istri ku ke rumah sakit!" tegas Asdam.
Ketika Asdam akan membopong Chana, tiba-tiba saja Chana bangun dan terlihat Chana seperti ingin memuntahkan apa yang ada di dalam isi perutnya.
"Sayang, kamu sudah sadar?" tanya Asdam terlihat senang, namun belum juga tersenyum, Chana sudah berlari ke dapur dan memuntahkan isi di dalam perutnya.
"Howeeeek.... howeeeeek...!" suara Chana terlihat sangat tersiksa dengan apa yang sedang ia rasakan.
Asdam pun mengikuti chana dan berniat untuk membantunya, "sayang, kamu gak papa?" tanya Asdam mendekati istrinya.
Tetapi terlihat Chana memberi kepada Asdam agar tidak mendekatinya. "Jangan ke sini!" ujar Chana.
"Kenapa?" tanya Asdam heran.
"Ini sangat menjinakkan, aku tidak mau kamu melihatnya," jawab Chana yang langsung menyiram dan membersihkan mulutnya.
"Aku tidak tahu, perutku rasanya tiba-tiba saja terasa tidak nyaman. Mungkin aku masuk angin," jawab Chana yang juga merasa heran dengan dirinya sendiri.
"Kak, dokter ingin bicara sesuatu," ucap Alden yang masih dengan menggunakan bathrobe/handuk kimono.
Asdam pun menuntun Chana untuk kembali ke ruang depan untuk menemui dokter. Sebelum itu, Asdam pun berkata kepada Alden. "cepat salin bajumu, jangan sampai kamu juga sakit," ucap Asdam memperingati Alden. Alden pun hanya mengangguk kepada Asdam.
Ketika Asdam dan Chana berlalu, Alden menatap punggung Asdam dengan seksama. Membayangkan luka yang masih ada di sudut bibir Asdam, Alden pun semakin mengerti segalanya.
Sebenarnya, nyonya Beckham ikut pulang kerumah bersama dengan Asdam, itu karena nyonya Beckham ingin berbicara dengan Alden perihal keinginan Alden yang ingin menjadi seorang pianis.
Nyonya Beckham memberikan sebuah pemahaman kepada Alden yang cukup keras sehingga membuat Alden tidak berani berkutik lagi. Di tambah melihat luka di wajah Asdam, membuat Alden yakin ia sudah tak memiliki harapan lagi untuk bebas.
Di sisi lain, dokter terlihat tersenyum ketika Asdam dan Chana ada di depannya.
"Kenapa anda tersenyum? anda senang melihat istri saya sakit?" tanya Asdam merasa sangat terledek dengan senyuman sang dokter.
__ADS_1
"Oh, tidak tuan, justru saya ikut bahagia dengan kabar baik yang sedang anda dan nona Chana rasakan," jawab dokter.
"Bahagia katamu!?" tanya Asdam semakin kesal dengan ucapan sang dokter yang bertele-tele.
"Maaf tuan, sepertinya, Nona Chana sedang hamil muda. Ini baru dugaan saya saja, untuk memastikannya, mari kita kerumah sakit untuk melakukan USG," ujar dokter masih sangat sabar dengan sikap Asdam yang keras.
Asdam pun tidak dapat berkata-kata lagi ketika mendengar hal tersebut. "a-apakah kamu yakin? jika kamu sampai salah, aku pastikan kamu akan turun dari jawaban mu!" tegas Asdam.
"Asdam, kamu gak boleh seperti itu! kita ikuti saja apa katanya. Jika aku hamil, itu adalah sebuah anugrah, tetapi jika tidak, kamu gak boleh mengancam orang seperti itu!" sahut Chana menasehati suaminya.
"Ta-tapi?"
"Sudah-sudah, sekarang ayo kita ke rumah sakit aja!" sahut Chana yang sebenarnya merasa tidak sabaran.
"Ya sudah, aku ambil kunci mobil dulu," jawab Asdam yang langsung lari ke lantai dua untuk ambil kunci mobil.
Ketika sampai ke kamar, Asdam pun mengambil tas kecilnya untuk menyimpan handphone dan juga dompetnya. Ketika akan keluar, Asdam melihat handphone Chana yang masih ada di atas meja. Asdam pun ragu mengambilnya dan memasukannya ke dalam tas kecilnya.
"Ayo?" ucap Asdam ketika sudah sampai bawah sambil menuntun Chana dengan sangat hati-hati.
"Asdam, aku tidak apa-apa, aku sudah bisa jalan sendiri," ucap Chana menolak halus bantuan Asdam.
"Sudah tidak apa-apa, aku tidak ingin kamu terjatuh lagi kaya tadi?" tanya Asdam sambil membukakan pintu mobil untuk Chana..
Ketika mereka sudah di dalam mobil, Chana pun bertanya, "Loh, emangnya kamu tadi liat pas aku pingsan?" tanya Chana.
"Kebetulan aku sedang ada di balkon untuk menghirup udara pagi, tapi malah melihat kamu yang terlihat lemas dan pingsan. Teman kamu itu, aku kira dia akan berguna, tidak tahunya dia sama sekali tidak berguna untuk menjagamu. Aku akan pecat wanita itu sekarang juga!" ujar Asdam dengan mata yang berapi-api karena kesal dengan Nomnom yang terlihat asyik sendiri.
Mendengar hal tersebut, Chana pun langsung memohon agar Asdam tidak memecat Nomnom.
"Asdam, jangan begitu dong, namanya juga orang sedang joging, Nomnom pasti tidak akan menduga jika aku akan pingsan, karena memang aku tadi baik-baik saja, dan bisanya juga aku selalu kuat. Tapi dari tadi aku tidak melihat Nomnom!?" tanya Chana baru ingat jika ia sedari tadi setelah sadar tidak melihat Nomnom.
"Palingan masih memutari halaman belakang!" sahut Asdam dengan mimik wajah yang masih sangat kesal kepada Nomnom.
__ADS_1