
Di sisi lain, Nyonya Beckham dan Misha juga Nomnom yang baru saja masuk ke dalam vila ikut bingung melihat ekspresi Nyonya Beckham yang sedang menatap sebuah foto keluarga besar yang di pajang di dinding rumah.
Nyonya Beckham terlihat tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
Di foto keluarga besar itu, Nyonya Beckham melihat potret seorang anak gadis berusia 6 tahunan yang ikut berfoto dengan 2 sepasang suami istri dan satu anak laki-laki yang masih berusia 4 tahunan.
Bisa di simpulkan, jika gadis 6 tahun itu adalah ibu dari Ziga dan pria 4 tahun adalah paman dari Ziga.
Di sisi lain, Chana terlihat bingung bagaimana ia harus menjelaskan kepada Asdam yang terlihat menahan kesal kepadanya.
"Sekertaris Rein, tolong tinggalkan kamu sebentar," ujar Chana meminta agar Sekertaris Rein memberikan ruang kepada mereka berdua.
"Baik, Nona." jawab sekertaris Rein yang langsung turun ke bawah. Ketika sekertaris Rein menuruni anak tangga, Sekertaris Rein sangat terkejut ketika melihat sosok wanita yang tidak asing di matanya, ia adalah Nomnom.
Sekertaris Rein sangat terkejut karena ia sempat terlupa tentang Nomnom. Juga, sekertaris Rein tidak percaya jika Nomnom kini sudah menjelma menjadi wanita yang sangat cantik nan seksi. Segalanya terasa sangat asing bagi Sekertaris Rein.
Nomnom yang sedari tadi masih mengikuti Nyonya Beckham menyimak foto itu pun langsung memalingkan pandangannya dan menatap sekertaris Rein.
Nomnom merasa senang akhirnya dia bisa melihat pangerannya kembali hidup dan berdiri depan matanya. Tapi, ketika ia ingat jika Sekertaris Rein dengan tega meninggalkan dirinya begitu saja, Nomnom pun langsung kesal dan keluar dari Vila untuk menghindari Sekertaris Rein.
"Nom, mau kemana?" tanya Misha takut jika Nomnom akan pergi jauh. Sebab hari masih gelap di luar sana.
"Aku tunggu di luar." jawab Nomnom lirih kepada Misha.
Misha pun membiarkan Nomnom pergi, sebab di luar masih banyak polisi yang sedang mengepung villa itu untuk menyegelnya.
Sekertaris Rein yang melihat itu pun langsung berlari menyusul Nomnom. Entah mengapa, Sekertaris Rein merasa jika ia harus mengejar Nomnom dan menjelaskan kepadanya, jika ia tidak maksud melupakannya.
Di dalam kamar, terlihat Asdam dan Chana duduk bersama di tepi kasur. Chana dengan lembut memegang tangan Asdam.
"Asdam, maafkan aku, bukan maksud aku membela Ziga. Tetapi, aku tidak bisa membiarkan calon dari anakku ini menjadi pembunuh." ujar Chana menjelaskan.
"Kamu mencintainya?" tanya Asdam dengan lesu.
"Aku hanya menghargainya atas cinta yang di berikan padaku. Selamanya, kamu adalah cintaku." jawab Chana.
"Bagaimana bisa seperti itu?" Asdam masih tidak percaya. Bagaimana bisa dia percaya, dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, jika Chana dan Ziga saling berpelukan saat sedang tertidur.
"Asdam, percayalah, hanya kamu yang aku cintai. Malam ini adalah malam terakhir dia akan mengurungku di sini. Ziga berniat akan melepaskan aku besok. Semua ini karena cintaku padamu tidak akan pernah tergantikan. Ziga selama ini hanya ingin membuktikan jika dia lebih darimu, namun aku tetap tidak bisa berpaling darimu. Ziga tidak pernah kasar pada ku, dia bahkan menjagaku dengan baik, dia menjaga calon anak kita. Percayalah, tidak ada yang terjadi di antara kita. Aku mohon, mengertilah."
Asdam pun hanya terdiam. Dia tidak dapat mengerti sejuah ini. Selama ini dia hampir gila karena rasa khawatir kepada istrinya, tapi kenyataannya, istrinya justru malah meminta untuk mengerti.
Asdam pun berdiri dan tidak mengucapkan apapun. Seperti permintaan Chana, Asdam akan diam dan tidak akan melakukan apapun dan berkata apapun.
__ADS_1
"Mari pulang." hanya itu yang keluar dari bibir Asdam sambil mengulurkan tangannya, namun tatapannya berpaling dari wajah sang istri.
Chana pun merasa sangat kecewa dengan ekspresi wajah Asdam. Rasanya ia ingin sekali menjelaskan kembali semuanya.
"Asdam?".Chana mencoba untuk berbicara.
"Aku tidak ingin mendengar apapun. Kita akan keluar dari sini dan membawamu ke rumah sakit untuk mengecek kandungan mu. Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan calon anak kita." ujar Asdam yang masih enggan untuk menatap wajah sang istri.
"Tidak, Asdam. Aku hanya ingin pulang. Kamu tidak perlu cemas dengan calon anak kita, selama ini Ziga menjaga kami dengan baik. Dia selalu memperhatikan vitamin dan juga makanan untuk kami," jawab Chana menjelaskan. Maksud Chana, agar Asdam tidak lagi salah paham dengan Ziga. Tetapi, beda kepala beda pula pemikirannya. Asdam mengira jika Chana sedang membanding-bandingkan dirinya dengan Ziga, seolah-oleh Ziga adalah pria yang lebih baik dari pada dirinya.
Asdam tidak mengucapkan apapun dan membawa Chana keluar dari kamar itu. Di sisi lain, Nyonya Beckham semakin dramatis ketika ia mengusap foto yang berada di bingkai tersebut..
Nyonya Beckham sangat yakin sekali jika ibunya Ziga adalah adiknya yang sudah hilang pada waktu itu.
"Tante, ada apa? apakah Tante mengenal mereka?" tanya Misha yang terlihat cemas dengan reaksi Nyonya Beckham yang terlihat aneh ketika melihat foto itu sejak mereka masuk ke dalam vila itu.
"Dia, dia adalah adikku." Nyonya Beckham mengelus wajah gadis kecil yang sangat mirip dengan adiknya itu.
"Apa? apa maksud Tante?" tanya Misha yang juga terkejut dengan jawaban Nyonya Beckham.
Belum juga menjelaskan, Asdam dan Chana turun dari tangga membuat Misha langsung menyusul adiknya.
"Chaanaaa!?" teriak Misha senang akhirnya dia dapat melihat adiknya lagi.
"Mishaaaa?" Chana pun merentangkan tangannya untuk menyambut kakaknya.
Chana pun menggelengkan kepalanya. " tidak Misha, ini aku jatoh dari motor. Aku diam-diam membawa motor dan akhirnya jatuh. Ziga tidak pernah berbuat kasar padaku. Dia menjagaku dengan baik," jawab Chana yang masih membela Ziga di depan Asdam membuat Asdam merasa terbakar oleh api cemburu.
"Sudah aku duga, Ziga tidak akan pernah menyakiti mu. Dia adalah pria baik yang tulus mencintai mu. Tapi tadi, dia?" Misha teringat keadaan Ziga waktu dia mau masuk ke dalam vila.
"Wajarlah, suami mana yang akan membiarkan orang lain menculik istrinya. Tapi mamah kecewa, kenapa lagi-lagi kamu berbuat kasar," sahut Nyonya Beckham.
Asdam pun semakin kesal karena semua orang terdengar sepertinya membela Ziga.
"Aku melakukan apa yang harus aku lakukan." jawab Asdam acuh tak acuh.
"Asdam, untung Ziga masih hidup, jika tidak, maka kamu sudah membunuh sepupumu sendiri!" sahut Nyonya Beckham membuat semua orang langsung melotot seketika.
"Apa maksud mamah!?" tanya Asdam tidak mengerti.
Nyonya Beckham pun mengambil ponselnya dan mencari sebuah foto. Ketika Nyonya Beckham menemukan foto adiknya ketika masih kecil, Nyonya Beckham membandingkan foto yang ada di dinding dan juga foto yang ada di handphonenya.
"Ternyata, ibunya Ziga adalah adiknya mamah yang selama ini hilang. Dia adalah Bianca, adik mamah, Dam!" jelas Nyonya Beckham dengan yakin.
__ADS_1
"Tidak, mah! Meraka hanya kebetulan mirip!" sahut Asdam yang tidak bisa menerima kenyataan ini.
"Mamah akan membuktikannya sendiri. Mamah sangat yakin jika dia adalah Bianca, adiknya mamah!" ujar Nyonya Beckham dengan sangat yakin..
Asdam yang sudah sangat jengah berada di villa itu tidak memperdulikan lagi ucapan ibunya. Asdam langsung membawa Chana pergi bersamanya.
"Asdam!?" panggil Nyonya Beckham meminta agar Asdam mau menunggunya.
Tetapi Asdam yang sudah terlanjur kesal, dia membawa Chana begitu saja dan memasukannya ke dalam mobil.
Nomnom yang melihat Chana masuk ke dalam mobil terlihat sangat senang. Nomnom yang sedang menghindari Sekertaris Rein pun berniat untuk menyusul Chana. Tapi, belum juga Nomnom mendekati mobil, Asdam sudah menancapkan gas mobil tanpa menghiraukan siapapun.
Asdam hanya membawa Chana bersamanya dan meninggalkan semua orang..
"Chanaaaa...!" teriak Nomnom. Chana yang yang mendengar suara Nomnom langsung melihat ke belakang. Chana sangat senang ketika melihat Nomnom dan melambai tangannya dan tersenyum.
"Duduklah dengan benar!" ujar Asdam memperingati Chana. Chana pun langsung duduk sesuai dengan perintah Asdam. Asdam pun langsung menutup jendela mobil rapat-rapat dan tidak menoleh ke kanan dan kiri lagi. Tatapannya lurus ke depan dan fokus pada jalanan yang sempit.
Chana hanya bisa berharap agar nanti Asdam dapat mendengar dirinya. Chana sebenarnya merasa sangat sedih kenapa bisa seperti ini. Harusnya ini adalah momen bahagianya karena akhirnya dia bisa bertemu dan melihat suaminya lagi yang sangat ia rindukan.
Nomnom merasa sangat kecewa dengan Chana yang tiba-tiba saja meninggalkan dirinya.
"Ih, kenapa Kok orang-orang senang banget ninggalin aku. apa kehadiran ku sudah tidak di inginkan lagi." gumam Nomnom merasa sangat sedih karena Chana tidak berhenti dan menemuinya.
"Itu karena suaminya sedang di landa api cemburu," sahut Sekertaris Rein yang mencoba untuk mendekati Nomnom. Sedari tadi, Nomnom selalu menghindari dirinya dan tidak mau mendengarkan penjelasannya.
"Aku tidak mau mendengar mu lagi!" sahut Nomnom kesal. Tetapi ia masih kepikiran dengan jawaban Sekertaris Rein. Bagaimana bisa Asdam terbakar oleh api cemburu.
"Nom, maafkan aku, aku benar-benar tidak ingat jika-"
"Sudahlah, aku juga bukan siapa-siapa untuk kamu ingat!" sahut Nomnom kesal dan berjalan meninggalkan Sekertaris Rein kembali. Nomnom masuk ke dalam dan menemui Nyonya Beckham dan Misha..
Misha yang awalnya ingin mengejar Chana harus tertahan karena Nyonya Beckham masih sangat penasaran dengan tempat ini. Nyonya Beckham ingin mencari bukti-bukti lainnya jika ibunya Ziga adalah Bianca, adiknya yang hilang.
"Kak, Misha, apa yang kalian cari?" tanya Nomnom melihat Nyonya Beckham yang mengobrak-abrik isi lemari.
"Entahlah, Tante Beckham ingin mencari bukti lebih banyak jika ibunya Ziga adalah saudari perempuannya yang hilang," jawab Misha menjelaskan.
"oh, my lady lady lady... jadi, Ziga dan Asdam adalah saudara?" tanya Nomnom yang juga terkejut mengetahui hal tersebut.
"Entahlah." jawab Misha yang tidak bisa memastikan.
Sekertaris Rein tidak berdaya. Bukan keahliannya untuk membujuk seorang wanita. Jadi dia hanya mematung di luar vila.
__ADS_1
Beberapa polisi masih berjaga-jaga di tempat tersebut. Sekertaris Rein merasa bersalah, tetapi dia juga tidak berdaya karena ia memang benar-benar lupa karena seisi mobil sangat panik dan tidak sabaran.
Beruntung ada mobil polisi yang menyusul. Mobil polisi pun sempat berhenti karena jalanan di tutup oleh Nomnom dengan kayu-kayu. Berkat para polisi, akhirnya Nomnom bisa selamat dari kesunyian di tengah hutan seorang diri.